Light In The Darkness

Light In The Darkness
FIRST


__ADS_3

Beberapa kali keadaan trus membuatku akan menyerah! Namun ketika aku diam dan menunduk, aku ingat jika Tuhan memiliki rencana yang luar biasa indah. Setidaknya aku kembali kuat! - Sandara Park.


POV SANDARA PARK


Bertahan, bertahan dan bertahan! hanya itu yang dapat kulakukan saat badai hidup kembali menyapaku, melihat wanita paruh baya itu tengah tergolek tidak berdaya diatas ranjang berwarna putih membuatku benar benar rapuh, hatiku hancur.


"Dara..." Aku menoleh karena panggilan lirih itu dan kudapati gadis cantik tengah berdiri di ambang sana.


"Boomie." Lirihku ketika tau itu dirinya.


"Kau baik baik saja ? bagaimana bisa ?" Suaranya terdengar sangat kwatir.


Ia menutup pintu dan berjalan cepat kearahku lalu memelukku erat sementara Aku hanya mengangguk kecil dalam rengkuhanya.


"Kenapa kau tidak menghubungiku?" Park Bom kembali menjadi dirinya,sungguh dia sahabatku yang paling cerewet.


"Aku tau kau sibuk dan aku tidak mau kau kwatir." jawabku.


Dia memutar bola mata bosan. "Ayolah Sandara, kau kira aku siapamu ? aku tambah kwatir jika kau tidak menghubungiku." jawabnya dari atas sofa ruang tamu yang ada didalam ruangan ini.


"Kau tidak ada jadwal hari ini?" ujarku seraya menyajikan satu cangkir teh diatas meja.


Dia menatapku kemudian tatapanya beralih pada ranjang yang tidak jauh dari posisi kami berada. "Kelas malam bukan ? bagaimana keadaan bibi ?"


Aku duduk disebelah Bom. "Lebih baik dari kemarin, Ibu sudah melewati masa kritisnya." Jawabku seraya menatap ranjang, tempat dimana orang yang kucintai itu tengah berbaring tak berdaya.


Gadis cantik itu kembali menatapku sendu. "Aku tau kau gadis kuat, tapi jangan memaksakan dirimu, aku ada, aku disini." ujarnya dengan suara lembut yang sangat kumengerti.


Aku menatapnya dan mengangguk pelan.


Aku sangat bersyukur Tuhan mengirimkan sahabat sepertimu Park Bom, gadis cerewet yang mampu memahami hidupku. Hidup yang cukup rumit ini.


*


*


POV AUTHOR


Helaan nafas panjang nan kasar memenuhi ruangan yang remang ini, ruangan tertutup yang sengaja disewa oleh dua pemuda yang masih rapi dalam balutan jas formal mereka.


"Ji, kau tidak bisa terus seperti ini." Nasihat salah satu pria yang tengah menemani temannya itu untuk minum.


"Seperti apa maksudmu?" Balasnya datar setelah meneguk satu gelas kecil wiskinya.


"Memaafkan memang sulit, namun setidaknya kau bisa berdamai dengan keadaan, tidakkah kau terlalu memaksa dirimu sendiri ?"


"Ntahlah, aku menjadi nyaman seperti ini." Mata kelamnya terus meyakinkan pada pria tampan yang duduk bersebrangan dengan dirinya itu, jika ia nyaman seperti ini!


"Akan ada yang mengembalikanmu suatu saat nanti, aku yakin. Habiskan minummu kita masih ada pekerjaan setelah ini." lanjut pria bermarga Dong itu, dia Dong Youngbae.


Kwon Jiyong kembali meneguk satu gelas minuman yang baru saja Youngbae tuangkan untuknya, ia bahkan tidak peduli dengan meeting yang akan ia hadiri setelah ini, baginya minum adalah obat paling mujarab saat ia sedang tidak baik-baik saja.


Kita tidak pernah tahu, takdir konyol apa yang akan mempermainkan kita, Tuhan sudah mengatur semuanya, tidak ada yang tau dan tugas kita hanyalah berjalan sesuai apa yang telah digariskan. Tidak ada yang pasti dengan satu detik ke depan, yang pasti hanyalah apa yang terjadi saat ini juga.


*


*


Sang surya mulai kembali ke peradaban disambut oleh langit yang mulai menggelap. Hening, Hanya itu yang dirasakan Dara seusai Bom, sahabatnya pamit untuk pergi kuliah.


Tidak ada yang ia lakukan selain duduk diatas sofa dengan pandangan yang tidak teralihkan dari ranjang, tempat dimana ibunya tengah terlelap.


Banyak hal yang berkeliaran dalam otaknya, hal-hal yang seharusnya belum ia tanggung sendiri, sesuatu yang tidak seharusnya ia pikirkan diusianya yang masih belia, usianya bahkan belum genap 19 tahun.


Tatapan itu mulai hanyut dalam lamunan yang tidak berujung, hingga sebuah suara lirih mampu membuat tubuhnya terjingkat pelan.


"Dara.."


Suara yang sangat ia hafal, tatapan matanya seakan tau akan kemana harus memandang. "Ibu." Ia segera menghampiri ibunya yang baru siuman itu.


"Kau tidak kuliah nak?" suaranya masih sangat lemah.


"Hanya mengumpulkan tugas saja Bu, Boom tadi datang untuk membatu mengumpulkan tugasku" jelas Dara.


Lagipula bagaimana ia bisa masuk kuliah dengan keadaan ibunya sekarang ? satu-satunya orang yang bisa menjaga Ibunya saat ini adalah ia. Adik laki-lakinya masih dalam perjalan pulang.


"Ibu sudah boleh pulang?" Kyung Ran berusaha duduk namun Dara mencegahnya.


"Dokter belum memberi kabar lagi, biar Ibu sampai benar-benar pulih baru kita akan pulang. Jo Won sebentar lagi akan datang. "


Dara membatu Ibunya untuk membenarkan posisi berbaring.


"Dia pulang?"


"Iya, aku bilang untuk tetap tinggal tapi dia bilang ingin melihat Ibu, dia juga sedang libur beberapa hari."


"Pasti dia sangat marah." Pandangan Kyung Ran menerawang kosong.


"Ibu tidak perlu kwatir, aku yang akan menasihatinya." la mengambil posisi duduk dikursi yang berada tepat disamping ranjang.


"Ibu berencana akan menetap di Jepang saja setelah ini." Mata sayu itu tidak bisa lepas untuk memandang Dara.


Gadis cantik bersurai panjang itu menghela nafas berat. "Jangan memikirkan apapun saat ini, Ibu harus sembuh dan pulih dulu. Kita pikirkan itu nanti."


Hening karena dua wanita itu tengah terjerembab dalam pikirannya masing-masing, banyak hal yang mereka pertimbangkan. Dara yang mencoba mencari jalan keluar yang baik dan Kyung Ran yang berusaha agar kedua buah hatinya tidak lagi masuk dalam bayang-bayang masalah.


"Dara" suara itu memecah aura dingin yang ada diruangan ini.


"Wonnie, kau sudah sampai?" sambut Dara setelah remaja tampan nan cute itu masuk dengan tas punggung yang cukup besar.


"Kau pulang nak, sudah makan?" Suara Kyung Ran menghangat menyambut putra bungsunya.


"Bagaimana bisa aku tetap tinggal dengan keadaan Ibu yang seperti ini? Aku akan menghajar pelakunya." Balas Jo Won datar setelah menaruh tas ransel yang ia bawa kesembarang arah.


"Jo sudahlah bukan saatnya, aku sudah membeli makan tadi. Makanlah dan istirahat sebentar." Dara segera menengahi sangat adik yang terlihat berapi-api. Ia berdiri untuk mengampiri adik tampan yang dua tahun lebih muda darinya itu.


"Ibu tidak apa ? bagian mana yang sakit?" Layaknya debu yang diterpa angin, wajah datar remaja itu berubah kwatir saat menghampiri Ibunya dan mendapati wanita paruh baya itu terluka cukup banyak dibagian kaki.


Dara menoleh pada dua insan yang tengah saling pandang itu, tatapan yang sangat tidak bisa dijelaskan, perasaan campuraduk menguasai keduanya. Ia tau adiknya bukanlah berandal yang tidak tau aturan, dia bocah baik dan juga lembut namun suatu saat ketika Jo Won benar-benar marah dan tau seseorang yang ia sayangi terluka, ia akan sangat murka.


"Ibu baik-baik saja, makanlah. Nunamu sudah menunggu." Kyung Ran meraih tangan putranya itu dan mengusapnya lembut.


*


*


"Ji, bisa pulang lebih awal? Ke rumah Ibu."


"Aku masih ada meeting, sekitar jam sembilan aku pulang."


"Baiklah, langsung pulang saat urusanmu sudah selesai."


"Ya." Tidak ada kalimat lain yang keluar dari bibir pria yang tengah menatap kosong pemandangan kota dari atas rooftop kantornya.


"Hei, waktunya meeting." Suara berat yang sangat ia kenal memecah lamunanya.


"Hm, kenapa kau ke atas sementara rapat akan dimulai?" Ia mengoceh layaknya orang bodoh yang tidak tau alasan. Bagaimana bisa ia mengomeli Youngbae yang jelas-jelas mengingatkan jadwalnya.


"Ponselmu sibuk Tuan." Decih Youngbae sembari berbalik untuk jalan lebih dulu, meninggalkan tuannya yang tidak tau diri itu.


Kwon Jiyong, ia hanya melangkah dalam diam. Ia terlihat sangat dingin dan misterius bukan ? pria berusia 25 tahun dengan aura suram dan tatapan mata tajam.


*


*


"Wajar jika kau marah Jo, kita juga harus sabar untuk tau siapa pelakunya. Kau pulang untuk membuat Ibu cepat sembuh bukan ? dan tidak untuk menambah kekwatiranya-kan ?" Dara berujar dengan hati-hati. Ia dan adiknya tengah mengobrol diluar ruangan tempat Ibunya dirawat.


"Tidakkah kau yakin tentang pelakuknya ? aku sangat yakin bajingan itu pelakunya! Dara, kau tau Ibu masih sangat berpengaruh pada kariernya." balas Jo, ia sangat yakin akan pelaku yang membuat Ibunya seperti ini.

__ADS_1


Terkadang ia memang seperti itu, memanggil kakaknya dengan sesuka hati. Biarkanlah Dara menerima itu.


"Meskipun kau atau aku sangat yakin, setidaknya biarkan Ibu pulih dan aman." Ia benar-benar memohon pada adiknya itu agar tetap tenang dan tidak gegabah.


"Yeah... " Kata Jo Won malas.


"Malam akhir pekan, kau tidak ingin pergi ke Gereja? Didepan rumah sakit ini ada Gereja." Tangan Dara terulur untuk mengusap kepala adiknya yang sudah tumbuh melebihi postur tingginya itu.


Ya, Jo Won tumbuh melebihi Dara sekarang.


"Aku akan mandi dan pergi." jawab Jo Wong singkat.


"Besok pagi ganti, kau yang mejaga Ibu dan aku pergi ke Gereja"


"Ya, aku mandi dulu" jawab Jo Won sembari mulai meninggalkan Dara sendirian.


Kita juga tidak pernah tau bukan, kesabaran mana yang akan membuat Tuhan percaya dan mengambil semua masalah kita ? Dara sangat yakin akan hal itu, tidak peduli sehebat apa badai akan mengobrak-abrik pertahananya. Ia percaya satu hal, Tuhan slalu ada untuknya slama ia terus berdoa dan berusaha, pelajaran yang slalu Ibunya tanamkan sejak dini, tepatnya sejak semua rintangan mulai hadir dalam hidupnya!


"Dee, dimana Wonnie?"


Baru saja gadis itu keluar dari kamar mandi dan sang ibu sudah menyerbunya dengan pertanyaan.


"Baru saja berangkat ke gereja." Balas Dara, ia baru saja selesai mandi.


"Besok,teman ibu ingin datang."


"Tentu, Oh ya nanti jam delapan dokter bilang, Ibu harus melakukan X-ray."


"Ibu merasa sedikit pusing saat duduk." Keluh Kyung Ran


"Aku sudah bilang keluhan yang ibu alami pada Dr.Pyo, nanti aku tanyakan lagi."


Dara mengambil posisi duduk diatas sofa untuk melanjutkan aktifitas mengeringkan rambut yang masih setengah basah.


Hening beberapa saat hingga Kyung Ran tiba-tiba berujar sebuah kalimat. Kalimat yang membuat Dara menatap wanita paruh baya itu serius.


"Ibu punya satu permintaan Dee."


"Ibu jangan menatapku seperti itu, apa keinginan Ibu?" Ia hanya


tidak bisa ditatap memohon seperti itu.


"Ibu ingin melihat kau menikah." Ungkap Kyung Ran.


Bak petir disiang hari, Dara membeku, kalimat yang baru saja ia dengar benar-benar membuat semua syarafnya seakan berhenti berfungsi. Ia bahkan menatap ibunya dengan membelalakan mata.


"Jangan berfikir macam-macam. Ibu hanya ingin ada yang melindungimu. Ibu berniat akan tinggal di Jepang bersama Jo, setidaknya itu akan merubah sedikit keadaan, kita akan tentram, walaupun sedikit." Wanita paruh baya itu mencoba mengutarakan alasannya.


Masih diam, gadis yang biasa disapa Dee itu layaknya orang dungu sekarang, tiba-tiba gadis itu kehilangan konsentrasinya.


"Ibu tidak akan memaksamu, besok teman Ibu akan datang bersama putranya. Kau bisa memikirkannya setelah melihat dia besok, jangan menjadikannya beban." Lanjut wanita itu seakan tau apa yang menjadi pikiran putrinya.


"Bu, meskipun aku setuju, bukankah Ibu juga harus meminta persetujuan dari putra teman Ibu juga?" Dara mencoba bersuara ditengah pikirannya yang kacau.


"Iya, Ibu hanya ingin berbicara ini. Agar kau tidak terkejut, jangan terlalu dijadikan beban. Kau sudah makan?"


Bohong jika kalimat seperti itu tidak mengejutkan, buktinya kalimat tersebut berhasil membuat jantung Dara berdetak lebih kencang sekarang.


"Sudah, Ibu ingin sesuatu?"


"Air mineral."


Dalam diamnya mengambil air minum untuk Kyung Ran, kalimat yang baru saja ibunya ucapkan kembali terngiang, namun ia tidak boleh terlihat berfikir meskipun otaknya berusaha keras memikirkan apa yang harus ia berbuat, saat ini Dara hanya ingin terlihat biasa saja sembari menata pikirannya yang masih kacau, ia akan memikirkannya nanti setelah Jo Won datang dan menggantikanya menjaga Ibu, setidaknya ucapan Kyung Ran agar memikirkannya lagi setelah bertemu laki-laki itu , membuat Dara sedikit tenang.


*


*


\=\=\=Another Place\=\=\=


Malam terus saja merayap, gelap dan dingin semakin terasa nyata. Angin yang tidak terlalu kencang, namun sanggup membuat mahkota pria yang sedang berjalan itu menari dengan bebas, Kwon Jiyong baru saja sampai dirumah Ibunya. Permintaan dari sang Ibu untuk pulang lebih awal ia kabulkan. Pria itu baru akan masuk ke dalam rumah namun sudah banyak assisten rumah yang menyapanya.


Tidak ada jawaban dari pria dingin itu, langkahnya hanya terus berpijak menuju dapur.


"Sudah makan Ji?" Sambut wanita paruh baya itu saat pria yang kerap disapa Jiyong itu masuk kedalam dapur.


"Belum." Singkatnya sembari duduk disalah satu kursi yang melingkari meja makan.


"Ayo makan, Ibu sudah memasak. Youngbae tidak ikut?"


"Dia menggantikanku untuk pertemuan hari ini." Balas pria itu saat wanita yang ia sapa Ibu, meracik makanan untuknya.


"Pekerjaanmu belum selesai?"


"Hanya pertemuan biasa, ada partai politik yang meminta bantuan dana."


"Partai yang kemarin?"


"Beda lagi."


"Makanlah dan mandi setelah ini." pinta Ibunya penuh kehangatan.


"Ibu ingin membicarakan soal kemarin ?"


"Makanlah dulu."


Satu piring berisi nasi dan juga lauk sudah terhidang dihadapan Jiyong, namun mata kelam laki-laki itu masih terpaku pada Gi Ran, Ibunya itu kembali diseat dapur ntah untuk meracik apa lagi.


"Ayo makan bersama." Seru Jiyong


"Ibu sudah makan."


"Dami Nuna tadi pagi menghubungiku, Ibu sudah membicarakan semua denganya?"


"Jauh sebelum Ibu berbicara denganmu, Kakakmu dan Ibu sudah mengenal gadis itu." Gi Ran memandang putranya penuh harap.


Tidak ada jawaban dari pria itu, Jiyong terlalu sibuk dengan pikiranya.


"Seseorang berhak bahagia Kwon, termasuk dirimu. Semesta memiliki ribuan bahkan jutaan cara yang tersembunyi untuk mengubah keadaan manusia." lanjut Gi Ran saat putranya itu hanya diam.


Ia tau betul anak bungsunya itu tengah larut dalam pikiran yang berasal dari masa lalu.


"Tidak ada yang bisa menggantikan posisi seseorang Bu. Aku bahagia dengan diriku saat ini."


"Bukan bahagia, hanya terlihat bahagia." Gi Ran memandang Jiyong dalam. "Ibu hanya ingin ada seseorang yang mendampingimu, bahkan mengembalikanmu. Tidak sepenuhnya bisa mengembalikanmu hanya membuatmu bisa berdamai dengan semuanya."


"Aku nyaman seperti ini." Jiyong masih kekeh dengan pendiriannya.


"Tidak seperti itu kenyataannya." Gi Ran berkata dengan yakin.


"Bagaimana jika aku malah melukai gadis itu?"


"Kau tidak seburuk itu Kwon."


"Ibu punya tujuan lain membuatku menikah dengannya?" Kening Jiyong berkerut samar saat menanyakan itu, ia hanya berfikir dibalik Gi Ran yang tidak gentar membujuknya ada maksud lain yang tersembunyi.


"Kau tidak akan selamanya sendirian, kau juga tidak akan selamanya menjadi orang lain. Sedikit banyak Ibu tau bagaimana dirimu, kau hanya terlena dan jatuh terlalu dalam pada masa lalu, kau tidak berniat mencari seseorang yang bisa menyembuhkanmu. Ibu hanya berusaha mengembalikan putra ibu. Hanya itu Ji." Gi Ran duduk disebelah putranya sembari mengusap punggung Jiyong lembut membuat pria itu mengurut keningnya sendiri.


"Makanlah, Kau boleh memilih jalanmu sendiri setelah melihat gadis itu. Itu pilihan Ibu dan juga Dami." Lanjut wanita paruh baya itu sembari tersenyum hangat.


"Ibu juga harus ikut makan denganku." balasnya


"Baiklah."


*


*


\=\=\= Hospital \=\=\=

__ADS_1


"Minumlah." Suara berat itu benar-benar membuat Dara tersadar dari pikirannya. Gadis itu tengah duduk melamun diatas sofa diruangan dimana Ibunya dirawat.


"Kau sudah kembali." Balasnya sembari menerima cup berisi minuman yang dibawakan adik bungsunya itu.


Jo Won baru saja kembali dari gereja, tidak lupa remaja tampan itu membawa minuman dan juga makanan untuk kakaknya. "Ibu tidur dari tadi?" ia melirik ranjang dimana Ibunya sudah terlelap.


"Baru saja, kau sudah makan?" Balas Dara, ia tengah menikmati coklat dingin yang diberikan Jo Won.


"Sudah, bagaimana hasil X-Raynya?"


"Tidak ada yang perlu dikwatirkan, kita hanya perlu merawat ibu. Hanya pemulihan."


"Syukurlah. Bagaimana kuliahmu?"


"Aku sudah mulai libur besok, hari ini masuk terakhir"


"Kau bilang ada turnamen di China Jo?" Dara ingat sesuatu saat memperhatikan Jo Won yang tengah lahab memakan kentang goreng yang ia bawa tadi.


"Ya, tiga hari lagi." Remaja itu nampak menghentikan kegiatan makannya dan menatap ragu Dara.


"Ntahlah aku tidak percaya diri." Lanjut bocah tampan yang duduk disamping Dara itu.


"Fokus pada turnamenmu, tidak ada yang perlu dikwatirkan, Ibu sudah baik-baik saja. Focus saja pada sekolahmu." Dara menghadap Jo Won sepenuhnya.


Tidak ada yang dikatakan Jo Won untuk membalas kalimat kakaknya, bocah itu hanya diam sembari memainkan jemarinya sendiri.


"Hei, jangan mengkwatirkan apapun." Ia meraih tangan Jo Won dan mengusapnya pelan.


"Ini mungkin yang terakhir untukku diam. Aku tidak berharap hal seperti ini akan terjadi pada siapapun, hanya saja jika hal semacam ini harus terulang, aku tidak akan tinggal diam. Ntah itu kau, Ibu, Grandpa maupun Grany yang memintaku tenang, aku akan tetap menghajar siapa saja pelakunya. " Jo Won menatap Dara serius, bocah remaja itu sedang mengungkapkan kekesalan hatinya.


"Hal semacam ini tidak akan terjadi dan kau boleh melakukan apa yang kau katakan. Sudah malam, istirahatlah." Tangan putih Dara terulur untuk mengusap pelan kepala Jo Won.


"Hm."


Dara tidak berharap malam akan cepat berlalu, ia hanya tidak ingin menyambut mentari dengan pikiran yang belum benar-benar yakin. Esok adalah awal dimana keputusan yang ia buat mungkin saja dapat merubah keadaan, bukan keadaanya sebenarnya, mengubah kenyamanan dan ketenangan ibunya. Saat ini tidak ada yang gadis itu lakukan, hanya diam dibalik selimut tebal yang menutupi tubuhnya diatas sofa, ia lalu menatap Jo Won yang sudah terlelap diatas ranjang bersama Ibunya, dua orang yang menjadi alasan ia tidak boleh menyerah ataupun marah pada keadaan berada disana. Ia hanya bimbang saat ini, akankah keputusannya esok akan benar-benar merubah sgalanya, atau malah keputusan yang ia ambil akan menambah beban hidupnya. Yang ia tau, ia hanya kenal dengan teman ibunya tidak dengan putra mereka. Dara hanya berharap, saat pagi tiba, saat ia berkunjung dirumah Tuhan, ada jawaban yang menjawab pertanyaannya malam ini, bukan sesuatu yang besar, hanya keyakinan yang membuatnya tetap yakin dan menerima.


Apa dunia memiliki alasan untuk menjelaskan mengapa mereka sangat mengejutkan manusia, tidak ada alasan atau jawaban yang tepat, hanya saja, yang manusia tau, hal-hal mengejutkan sudah tertulis rapi jauh sebelum mereka terlahir.


*


*


5Am


Potongan demi potongan kejadian yang gelap terputar layaknya sebuah film yang mengerikan, tidak ada yang jelas dari wajah sang pelaku, hanya perlakuan kasar pada gadis kecil yang tengah mendekap bocah laki-laki yang lebih muda darinya, pukulan yang tidak henti terus menghujam punggungnya dibarengi dengan teriakan histeris dari wanita yang tengah tersungkur diatas lantai.


"Dara, HEI... "


Suara lirih Jo Won bak pertolongan bagi Dara, gadis itu segera terjaga dengan nafas yang memburu dan dahi yang basah akan keringat.


"Jo..." Ia segera berhambur memeluk sang adik.


"Kau mimpi buruk lagi?" Jo Won mengusap punggung kakanya yang nampak gelisah dan sukar bernafas itu.


"Kau mau kemana?" Tidak menjawab, gadis itu malah bertanya pertanyaan lain. Padahal Jo Won menyaksikan bagaimana hampir sepuluh menit gadis itu bergerak gelisah dalam tidurnya, Jo Won juga merasakan sulitnya membangunkan sang kakak yang tengah bermimpi buruk itu.


"Jangan coba menghindari pertanyaanku." Ujar Jo Won, masih dengan mengusap punggung Dara.


"Pikiranku hanya sedang tidak baik-baik saja. Ibu sudah bangun?" Gadis itu melepas pelukkanya untuk melihat ranjang, ternyata sang Ibu masih terlelap.


"Mandilah, biar aku yang beli sarapan. hari ini ada misa dan jam tujuh sudah mulai." Jo Won berdiri lalu meyahut jaket yang tersampir disenderan sofa.


"Waktunya mencuci rambut Dee." Godanya sebelum menghilang di balik pintu.


Dara dibuat tercengang sekaligus kesal dengan kejahilan Jo Won. "Awas kau" desisnya.


*


*


"Jangan melamun." Suara Dami membuat Jiyong yang sedang membaca koran terjingkat pelan.


"Aku tidak melamun." Balasnya datar kemudian perhatiannya kembali pada kertas berisi tulisan ini.


"Jenny belum bangun?" Sahut Gi Ran yang baru saja selesai memasak.


"Belum, dia terjaga tadi malam bu dan kembali tidur dini hari tadi." Jawab Dami, wanita cantik itu tengah mengambil air mineral didalam kulkas.


"Ibu sudah bicara dengannya?" lirih Dami menyanding pada sang ibu yang sibuk menata makanan.


"Sudah, dia ikut Ibu. Kau juga mau ikut sekalian?"


"Jenny les piano hari ini, Ibu yakinkan dia." Seru Dami yang kemudian berjalan keluar seat dapur


"Uncle..."


Focus Jiyong teralihkan pada suara khas milik bocah kecil yang sudah berada disampingnya duduk, tangan bocah berusia sekitar empat tahun itu bergelayut dikakinya. "Hei, already up?" Ia langsung membawa bocah cantik itu keatas pangkuannya.


"Jenny turun dengan siapa?" Dami buru-buru mengampiri putrinya itu dengan sedikit panic.


Alone. " Jawab bocah itu dengan polosnya.


Jiyong mengusap surai panjang milik keponakannya itu penuh kasih sedangkan sang pemilik bocah kecil itu hanya tenganga tak percaya, sang putri yang turun tangga sendiri, sedangkan kamar bocah cantik itu berada dilantai tiga, padahal ia slalu membiasakan jika naik turun tangga harus ada yang menemani. Pukulan halus bagi Dami pagi ini.


"Dia turun sendiri?" Tambah Gi Ran yang tengah menata makanan dimeja.


"Iya " jawab Dami sembari kembali membatu Ibunya itu menata makanan, sementara sang putri sudah asik dengan Jiyong.


"Ibu, aku ada meeting penting hari ini. Youngbae bilang tidak bisa aku wakilkan. Bisakah nanti kita pulang sebelum jam dua belas ?" Jiyong menoleh pada sang Ibu yang kebetulan berada disampingnya.


Wanita paruh baya itu mengangguk mantap. "Iya, kita berangkat setelah sarapan jika begitu."


*


*


Pagi tidak menjanjikan apapun selain harapan baru pada insan yang yakin pada doanya dan optimis pada usahanya. Angin berhembus cukup kencang diluar sana, menggugurkan daun yang sudah menguning warnanya, Dara nampak mantap dalam setiap langkah kecilnya menuju sebuah tempat yang ia yakini akan bisa meyakinkan jawaban, meyakinkan hatinya akan hal yang ia bimbangkan kemarin. Langkah kecil yang kemudian mengantarkan Dara pada pintu gereja yang sudah terbuka, nampak beberapa orang tengah berdoa dalam heningnya keadaanya, gadis itu pikir dia yang pertama namun nyatanya, sudah ada yang lebih aw mencari kemantapan hati di tempat ini.


Sandara mengambil posisi dibaris paling depan dari deret kursi kayu itu, ia menatap yakin ornament salib yang ada di altar, sungguh hatinya mulai tenang saat ini.


"Nuna..."


Tiba-tiba ada seorang bocah tampan yang berdiri didepannya, membuat Dara mengalihkan pandangan lalu ia tersenyum hangat pada bocah kecil itu. "Hai."


Bocah berusia kisaran lima tahun itu meraih tangan Dara yang terpaku diatas lututnya, mengusap tangan Dara dan berujar dengan nada cadelnya. "Everyhting be fine, Nuna bisa menikah dan bahagia."


Kalimat yang membuat Dara terdiam, ia benar-benar membeku saat ini, sungguh ini terlalu singkron dengan keadaanya dan bagaimana bocah kecil yang tidak pernah ia kenal tiba-tiba berkata demikian.


"Dongie, kamu apakan nuna ini?" Seorang wanita paruh baya membuat kesadaran Dara kembali, gadis itu tersenyum lalu memberi salam pada wanita yang mengampiri dirinya itu.


"Nona ini sedang ada masalah bu." Lanjut bocah manis itu dengan polosnya.


Dara tersenyum menanggapi perkataan bocah yang masih menggenggam erat tanganya, bagaimana bocah ini tau.


"Dia menghibur saya bi, siapa namamu ?" Ia kembali pada bocah di hadapannya.


"Shin Dong Hee" jawabnya.


"Dongie memang suka berbicara seperti itu, maaf ya nak jika itu menganggumu." Wanita paruh baya itu kemudian ikut duduk disamping Dara sedangkan bocah kecil itu masih bergelayut pada Dara yang kebetulan juga sangat suka dengan anak-anak.


Dara menggeleng pelan, tanda ia tidak mempermasalahkan apa yang dikatakan bocah menggemaskan itu, pipinya yang putih berisi benar-benar membuat siapapun yang melihat ingin menggigitnya. "Tidak masalah bi, dia sangat menggemaskan. " Lanjut Dara sembari mencubit pipi gembal itu pelan.


"Siapa namamu nak?"


"Sandara Park."


Pada akhirnya Dara tidak langsung berdoa, perhatianya teralih pada obrolan ringan dengan Ibu Dong Hee, hanya beberapa menit saja, karena bocah kecil itu tiba-tiba pamit untuk pergi kesuatu tempat.


Dara kembali sendiri, pandanganya kembali terarah pada altar, ia mulai berdoa setelah menyatukan tangan dan menundukkan kepala. Hikmat dalam pejaman mata sementara hatinya tengah berkomunikasi pada Tuhan, semoga apa yang ia inginkan lekas dikabulkan.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2