Light In The Darkness

Light In The Darkness
DECISION


__ADS_3

Apa kau juga merasakan, bahwa waktu begitu cepat berlalu, saat hanya lambat yang sebenarnya kau inginkan. Apakah dunia memang seperti itu, memberikan manusia hal-hal yang sebenarnya bertentangan dengan keinginan. Ataukah sebenarnya ini salah satu cara semesta, untuk menunjukan kuasanya, bahwasannya itu sebuah jawaban atas apa yang manusia ragukan. - LIGHTINTHEDARKNESS


Petang sudah menguasai awan, saat Jiyong dan juga Youngbae keluar dari tempat pertemuan, kedua pria itu baru saja menghadiri sebuah meeting dan saat ini keduanya tengah berjalan beriringan menyusuri lorong yang tidak terlalu ramai.


“Apa lagi setelah ini?” Jiyong melirik sekilas sekertarisnya itu.


“Sudah cukup untuk hari ini, pertemuan yang seharusnya malam nanti sudah aku ganti lusa, sesuai keinganmu.” jawab Youngbae.


“Ji..” Youngbae melirik Jiyong ketika mereka berada di dalam lift


“Apa? ”


“Tuan Choi mengirimiku detailnya kemarin dan--” Youngbae ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


“Aku tau, lalu apa?” Jiyong melonggarkan dasi miliknya, ia merasa sangat penat sekarang.


“Kau sudah tau kan siapa salah satu kadidat saingannya.” Kata Youngbae akhirnya, ia lalau melirik dan mendapati Jiyong tengah memejamkan mata sejenak.


“Aku tau.” Jawab Jiyong datar.


“Bukan itu kan alasanmu menerima tawaran ini?”


“Kau sudah tau jawabanku. ” Jiyong menatap Youngbae sebentar sebelum kembali menekan tombol yang ada di lift. “Aku akan mengungkap betapa busuknya dia.” Kata Jiyong penuh penekanan.


Youngbae membasahi bibirnya sendiri, “Aku tidak membenarkan balas dendam Ji.” Ia mencoba memperingatkan pria yang sudah ia anggap seperti saudaranya itu.


“Aku tau, ibuku juga mengatakan hal yang sama.” sahut Jiyong acuh.


“Jangan melakukannya jika itu tujuan aslimu, kau bisa mengungkapkannya melalui hal lain, tidak perlu bermain-main seperti ini.” Seru Youngbae hati-hati.


“Biarkan seperti ini, aku masih belum bisa menghentikan diriku sendiri.”


“Tunggu saat ada orang lain yang dapat merubahmu, menyadarkanmu, dan membawamu kembali. ” Kalimat Youngbae membuat Jiyong tersenyum sinis, seolah menolak angan Youngbae.


“Aku tidak yakin untuk itu, aku tidak sedang menjadi orang lain Dong Youngbae” Balas Jiyong dengan nada jengah. Ntah sudah berapa kali Youngbae slalu mengatakan kalimat-kalimat yang merujuk pada berubahnya Jiyong, dan Jiyong sangat jengah untuk hal-hal semacam ini.


“Tunggu saja, kau akan paham nanti.” Youngbae kemudian keluar lebih dulu dari dalam lift yang baru saja terbuka, meninggalkan Jiyong yang masih terdiam mengamati punggungnya.


Top, Youngbae, Daesung, dan Seungri adalah keempat sahabat sekaligus orang yang bekerja dengan Jiyong, mereka tau tentang bagaimana Jiyong menjadi seperti ini, mereka berlima sudah bersama sejak sejak lama.


Jiyong memandang punggung Youngbae yang sudah sedikit berjarak dengannya kemudian mulai menyusul pria itu, Ia sudah sangat bosan untuk mencerna setiap kalimat yang Youngbae katakan, kalimat-kalimat yang merujuk pada perubahan dirinya, bukan saatnya memikirkan hal ini, yang harus Ia pikirkan adalah bagaimana berdiskusi dengan Dara malam ini. Detik berlalu begitu cepat, waktu  yang tidak bersahabat atau memang Jiyong saja yang lambat.


*


*


*


“Hei Unnie, kau tidak di rumah sakit?” Pekik Jisoo saat Dara baru saja masuk dan menghampirinya yang tengah berdiri dibelakang mesin kasir.


“Ibuku sudah pulang.” Kata Dara sembari memberikan cup minuman pada Jisoo.


Dara sangat bersyukur hari ini, dokter yang menangani sang ibu mengatakan bahwa keadaan Kyung Ran sudah sangat stabil dan wanita paruh baya itu bisa pulang. Siang tadi sang Ibu dan juga Jo Won sudah kembali ke rumah mereka. Itulah alasan mengapa Dara bisa keluar lebih awal, keluar lebih awal sama artinya dengan menata kembali hati dan juga perasaannya, menata kalimat apa yang akan ia ucapkan nantinya.


“Syukurlah, tapi siapa yang menemani bibi?” Jisoo sangat bersyukur sekaligus bahagia mendengar berita itu, lihat bagaimana senyumnya yang mengembang dengan tulus.


“Jo Won pulang, dimana yang lain?” pandangan Dara menelisik seisi ruangan ini, sejak ia masuk dia tidak menemukan Lisa dan juga Hyoni di dalam butik.


“Hyoni Unnie sedang mengurus paket di atas dan Lisa, dia masih di kamar mandi”


Dara mengangguk mengerti “Bagaimana ujianmu Soo-yya?”


“Lancar Unnie.” Serunya sangat bersemangat.


Jisoo mengamati Dara yang tengah meletakan kotak berisi minuman ke atas meja sebelah kasir, Jisoo melihat ada yang berbeda dari gadis yang lebih tua darinya itu, ah ia menemukan hal itu. “Hei Unnie, kau akan kemana?” tidak biasanya Jisoo melihat Dara mengenakan dress seperti ini, biasanya bossnya itu lebih sering memakai kaos dan semacamnya, kenapa hari ini terlihat formal.


“Aku ingin keluar sebentar, nanti.”


Jisoo menggerling jahil setelah mendengar jawaban Dara, sebuah ide berlian muncul begitu saja dari otaknya. “Ah kau akan kencan ya?” Goda gadis muda itu sembari menyeringai, Jisoo hanya satu tahun lebih tua dari Lisa.


“Unnie kencan?” kini bertambah Lisa yang datang dan langsung  ikut bergabung dengan rencana Jisoo, lihat betapa kompaknya mereka.

__ADS_1


“Hei!” Dara dengan cepat mengoreksi dua gadisnya itu.


“Sudahlah Unnie, tidak masalah jika kau berkencan. ” timpal Hyoni yang ntah sejak kapan sudah bergabung dengan mereka.


“Sudah waktunya.” Lisa menambahi.


“Kenapa kalian menyebalkan?” Dara melirik ketiga gadis itu bergantian. Orang-orang yang slalu saja bersatu untuk memojokkanya.


“Karena kami bosan melihat gadis cantik sepertimu kesepian.” Jawab Jisoo dengan nada di buat-buat prihatin membuat kedua rekan jahilnya mengangguk setuju dan terkekeh puas.


Untung saja butik masih dalam keadaan sepi jadi tidak masalah jika keempat gadis itu saling serang dalam ocehan-ocehan ringan.


“Kalian akan tekejut saat aku tiba-tiba memilikinya nanti.” Seru Dara tidak mau kalah dari ketiga gadis itu. “Minum kopi kalian selagi panas.” Pintanya sebelum berlalu menuju lantai atas.


“Buat kami melakukan itu Unnie.” Lisa masih saja menyahut membuat Dara menoleh dan berdecak sebal.


Ketiga gadis itu slalu saja berhasil membuat Dara kesal sekaligus bahagia, ketiga orang yang sama-sama memiliki tujuan menggoda Dara.


*


*


*


9Pm


Jiyong lebih memilih untuk menyalakan lagi benda yang slalu ada dalam saku jasnya itu, pria itu tengah menunggu kedatangan Dara yang masih dalam perjalanan.


Sebuah private room yang di sediakan oleh restourant sudah Ia pesan khusus untuk pertemuannya malam ini. Tidak banyak hal yang pria itu persiapkan, karena pulang dari meeting Ia hanya mampir ke apartemen untuk sekedar membersihkan diri.


“Mr Kwon.” Dara menyapa dengan suara lirihnya.


Gadis itu baru saja masuk dengan seorang pelayan yang mengantar. “Terimakasih” ucapnya pada pelayan yang hendak kembali.


“Sama-sama nona” balas pelayan pria itu dan berlalu.


“Silahkan duduk.” Jiyong mempesilahkan.


“Kau tidak ingin duduk?”


Dara nampak terkesiap dengan pertanyaan itu. “Ya” jawab gadis itu pada akhirnya, iapun segera menghampiri Jiyong dan mulai duduk di kursi yang berhadapan dengan Pria itu, dengan perasaan yang sedikit cemas, ah benda sialan itu, pikirnya.


“Kau ingin pesan apa?” Jiyong mulai mematikan rokok miliknya dan membuang benda itu di asbak yang memang disediakan di atas meja.


“Minum saja.” Balas Dara, sungguh ia merasa lega karena pria itu mematikan putung rokoknya, meskipun bau menyengat masih bisa ia rasakan.


Jiyong hanya mengangguk kecil sembari memainkan tab yang berada digenggamannya “Kopi atau ?” ia melirik Dara sekilas.


“Americano” Jawab Dara membuat pria itu langsung menuliskan pesanan di tab yang memang di sediakan oleh pihak restourant untuk sistem pesan.


Jiyong memperhatikan Dara sekilas setelah selesai dengan pesananya, gadis yang tengah mengenakan dress hitam itu masih sibuk melepas coat dan menaruhnya di kursi sebelah. Jiyong merasa tidak asing dengan gadis yang baru saja ia temui kemarin, ntah apa, Ia merasa ada yang berbeda tapi Ia belum menemukan apa itu, sebelum Dara sadar jika Ia tengah di perhatikan, Jiyong segera memalingkan pandangannya ke arah lain.


“Kau sudah memiliki kekasih?”


Pertanyaan yang baru saja Jiyong katakan benar-benar membuat Dara terdiam, Jiyong benar-benar tipe yang to the poin.


“Belum, kenapa?” Balas Dara senormal mungkin. Ia harus cepat beradaptasi dengan pria dingin ini, sebelum canggung menguasai tempat ini dan membuat pikirannya bubar tak karuan.


“Tidak, hanya saja akan rumit jika kau sudah memiliki kekasih.” Jiyong dengan wajah datar menatap Dara. Gadis itu hanya mengangguk anggukan kepala.


“Aku menerima perjodohan ini.” Lanjut Jiyong.


Sungguh kalimat dengan nada datar yang baru saja keluar dari mulut Kwon Jiyong membuat mata Dara terbelalak, mengapa pria itu bahkan tidak mengatakan sesuatu terlebih dahulu. Wah Dara semakin yakin jika Jiyong bahkan tidak memiliki stock kata untuk sekedar basa-basi, pria itu benar-benar mengejutkan Dara.


“Apa kau tidak ingin mengatakan alasan atau bahkan hal apa yang akan kau lakukan jika menerima tawaran ini?” Balas Dara yang masih tidak percaya dengan kata-kata Jiyong.


“Apa yang harus aku katakan, bukankah tujuan kita bertemu untuk membahas ini?” Lagi-lagi dengan acuh Jiyong mengatakan kalimatnya.


Dara tau Jiyong benar, bahwa tujuan mereka bertemu adalah untuk memberitahu keputusan satu sama lain, tapi mendengar Jiyong yang begitu cepat merespon membuat Dara sedikit tidak terima, gadis itu setidaknya ingin tau alasan Jiyong. 


“Maksudku, tidak adakah perjanjian yang akan kita bahas untuk hal ini?” Dara masih mencoba untuk mencari jawaban yang ia inginkan.

__ADS_1


“Bisa kita bicarakan itu nanti. Lalu apa jawabanmu?”


“Aku?” dengan bodohnya Dara bertanya, wajah gadis itu sudah terlampau polos sekarang.


“Siapa lagi yang sedang dijodohkan denganku.” Kata Jiyong malas.


Dara terdiam sesaat kenapa ia menjadi bodoh, pandangan gadis itu turun mengarah pada meja, saatnya mengatakan keputusan yang ia buat, ia mencoba menenangkan detak jantung yang tidak karuan akibad perasaannya yang berantakan, ia ******* bibirnya sendiri sebelum menjawab. “Aku juga menerima ini” katanya sembari menatap Jiyong.


Tidak ada ekpresi sama sekali yang ditunjukan pria itu, apa yang sebenarnya Jiyong inginkan, Dara benar-benar tidak bisa menebak.


“Kau masih sekolah?” Pertanyaan Jiyong hanya ditanggapi anggukan oleh Dara.


Perbincangan mereka harus terjeda oleh seorang pelayan yang mengantarkan pesanan


“Terimakasih.” kata Dara setelah pelayan itu selesai menghidangkan minuman yang mereka pesan.


Pelayan wanita itu tersenyum hangat dan mengangguk sebelum berlalu meninggalkkan dua orang yang masih belum selesai dengan urusan mereka.


“Ibuku memintamu datang ke rumah besok, Kau ada jadwal sekolah?”


“Kuliahku sedang libur, aku akan kesana besok.” Jawab Dara setelah meneguk kopi miliknya.


“Mengenai kesepakatan yang mungkin saja akan Kau ajukan, Kau bisa memikirkannya dan memberitahuku. ” Jiyong mengambil gelas berisi wine yang ia pesan kemudian meneguknya.


“Iya.” Kata Dara sebelum kembali menikmati kopi yang sudah sangat lama tidak bisa Ia nikmati karena sakit lambung yang Ia derita. Begitu nikmatnya cafein yang slalu saja membuatnya ketagihan, Dara hanya berharap bahwa lambungnya akan bersahabat hari ini.


Dara kira pertemuan yang sangat ia jadikan beban akan memakan waktu yang lama, dengan diskusi-diskusi yang rumit, namun nyatanya semua itu tidak terjadi, Jiyong dengan gampang mengiyakan tawaran sang Ibu, dan kesepakatan antara merekapun terjadi.


Bukankah beban-beban yang kita pikirkan tidak selamanya benar, maksudku bahwa angan yang slalu menakuti langkah kita untuk mulai berjalan lebih jauh tidaklah nyata, itu hanya kekwatiran yang akan membuat kita mundur sebelum memijakkan kaki.


Jiyong juga tidak mengerti, mengapa dirinya dengan begitu saja menerima tawaran Gi Ran, yang Pria itu tau, hatinya sedikit tergerak setelah menyaksikan sang Ibu yang begitu tulus merengkuh Dara tempo hari, ketulusan merengkuh orang lain yang sudah sangat lama tidak Jiyong lihat pada diri sang ibu, sikap hangat  Gi Ran pada orang lain sedikit luntur setelah kejadian pilu beberapa taun lalu. Jadi melihat Gi Ran kembali, membuat hati Jiyong sedikit tergerak, dan mengiyakan tawaran begitu saja. Alih-alih takdir yang ikut campur, siapa yang tau.


Dara baru saja menghabiskan setengah gelas minuman yang ia pesan, Ia kembali mengamati Pria yang nampak lebih tua darinya itu, terbesit sebuah pertanyaan dalam dirinya sendiri, dia harus memanggil Kwon Jiyong apa, Mr Kwon. Ah ia tidak mau seperti sekertaris yang memanggil bosnya.


“Kau bisa memanggil namaku saja, tidak usah marga. ” Kata Jiyong tiba-tiba. Dara yang mendengar itu mengercap tidak percaya, bagaimana bisa pria itu. Sudahlah.


“Jiyong, boleh seperti itu? ” sahut Dara cepat, yang terbesit dalam pikiran gadis itu terucap begitu saja.


“Terserahmu.” Balas Jiyong datar.


Jiyong sebenarnya sedikit heran, gadis lugu yang jelas-jelas lebih muda darinya itu dengan percaya diri mengajukan panggilan tanpa embel-embel lebih tua dan untuk pertama kalinya juga Jiyong tidak mempermasalahkan hal itu, Jiyong juga tidak tau mengapa, padahal biasanya ia akan sangat tidak terkontrol pada orang-orang yang tidak menghormatinya sebagai yang lebih tua, tapi. Ah ntahlah, Jiyong juga tidak paham.


Dara hendak menanyakan hal lainnya pada Jiyong, namun tiba-tiba ia merasa ada yang salah pada tubuhnya, perutnya terasa sakit, dadanya panas dan sesak. Ah sial mengapa asam lambung begitu cepat naik, magnya kumat. Gadis itu refleks menunduk, mengigit bibir bagian bawah miliknya untuk meredam rasa perih yang terasa tidak karuan, tenang Dara, pikirnya.


Jiyong yang baru saja menghabiskan wine miliknya tidak sengaja melirik Dara yang tengah menundukkan kepala, Jiyong tak begitu saja mengalihkan pandangan, ia memperhatikan Dara cukup lama, apa yang gadis itu lakukan.


“Hei Dara...”


“Hm..” Suara Dara sedikit bergetar dan hal itu tertangkap jelas di indra pendengaran Jiyong.


“Kau menangis?” Sambar Jiyong cepat.


Dara terlihat menggeleng dengan lemah, kemudian disela rasa sakit yang ia rasa ia mulai mengangkat kepala, menatap Jiyong “Aku ingin pulang. ” Katanya pelan.


Jiyong meyadari perubahan wajah Dara, gadis itu pucat “Kau sakit?”


“No, Aku pulang dulu.” Pamit Dara sembari membereskan tas dan juga coat miliknya, namun rasa sakit nyatanya begitu kuat dan menang atas Dara, tubuh mungilnya kembali terhempas dengan lemas dia atas kursi. Sial batinnya !


“Kemarikan kunci mobil milikmu. Aku antar! ” Sahut Jiyong cepat, Ia tidak bisa melihat seorang wanita dengan keadaan lemah seperti ini mengemudi sendiri. Nuraninya masih berfungsi dengan baik.


“Aku masih bisa pulang sendiri.” Dara mencoba meyakinkan, rasa sungkannya begitu mengusai, Lagipula ia juga masih yakin jika tubuhnya masih mampu mengatasi ini.


“Aku tidak suka dibantah sekaligus di tolak! ” Tegas Jiyong yang langsung berdiri meyahut tas milik Dara yang kebetulan masih berada di atas meja.


Dara yang mendengar dan melihat itu hanya terdiam sekaligus pasrah, nyatanya rasa sakit benar-benar membuat dirinya tidak bisa apa-apa, mungkin benar ia harus menerima bantuan Jiyong.


Sebelum membantu Dara untuk berdiri, Jiyong mengubungi seseorang dari ponsel miliknya.


“Seungri, ambil mobilku di restourant biasanya.” Pintanya pada seseorang di sebrang.


TBC....

__ADS_1


__ADS_2