Light In The Darkness

Light In The Darkness
DEE


__ADS_3

11.25Pm


“Kau gila Dee?” Boom tidak henti-hentinya meruntuki gadis mungil yang tengah meringkuk dibalik selimut tebal di atas ranjang kecil itu.


Dara tengah menikmati rasa sakit akibad pertemuan rindunya dengan cafein, pertemuan yang nyatanya menyakiti gadis yang jelas paham akan keadaan tubuhnya sendiri.


“Hei, aku menghubungimu tidak untuk ini.” Elaknya dengan suara yang lemah, gadis itu tengah menahan rasa perih dan panas di perut.


Sekitar setengah jam yang lalu Boom datang ke butik milik Dara, tentunya setelah Dara menghubungi dan mengabari jika magnya kambuh, Bom yang sangat kwatir segera buru-buru menghampiri gadis ceroboh itu, tanpa memperdulikan bagaimana dandananya sekarang, hanya setelan piyama pendek yang menjadi kostumnya saat ini.


“Apa jadinya jika pria itu tidak mengantarmu ha? Kenapa kau sangat bodoh Darong! Kau tau perutmu sudah antipati dengan cafein tapi kau malah meminumnya?!” Boom belum puas untuk memaki kecerobohan Dara, untuk itu akan ia cinir gadis itu sampe telingan Dara panas.


Boom sedikit bersyukur karena Jiyong yang dimaksud Dara sudah dengan baik hati mengantar sahabatnya itu sampai depan pintu butik, apa jadinya jika pria itu tidak peduli, ah setidaknya pria itu memiliki niai lebih di mata Boom sekarang “Ibumu tau?” Lanjutnya.


Dara menggeleng pelan “Aku bilang kau sedang ingin menginap di butik jadi aku tidak pulang.”


Boom mengangguk paham, kali ini Ia setuju dengan alasan Dara, Ia juga tidak keberatan dengan Dara yang menggunakan dirinya sebagai alasan, tidak mungkin memberitahu Kyung Ran jika putrinya yang bodoh itu tengah kesakitan karena kecerobohannya sendiri, lagipula Boom juga paham tentang kondisi Kyung Ran yang baru saja sembuh.


“Jo Won bersamannya-kan?”


“Hm, dia akan kembali besok malam. Mereka ada di apartemenku sekarang.”


Meskipun tinggal bersama dengan Kyung Ran, namun Dara juga memiliki apartemen di daerah Gangnam, tempatnya tidak jauh dari butik miliknya, apartemen yang slalu ia jadikan tempat singgah ketika jadwal kuliahnya padat, Kyung Ran sendiri lebih memilih tinggal di Busan, kota yang jauh dari hiruk pikuk keramaian Seoul.


“Ibu meminta pulang ke Busan besok.” Kata Dara lagi yang ditanggapi anggukan paham oleh Boom.


“Kau sudah minum obat kan?” Boom kembali memastikan sahabat bodohnya itu, Ia yang sedari tadi berdiri mulai duduk di tepian ranjang, membenahi selimut agar menutupi tubuh Dara sepenuhnya.


“Sudah, ini lebih baik.”


“Kau ingin makan lagi?”


“Tidak.”


“Tidurlah, biar aku kunci butik dulu” pamit Boom.


“Hm.”


.


.


“Iya, aku akan ke rumah bibi Gi siang ini.” Dara terdiam sejenak untuk sekedar mengamati Boom yang tengah sibuk menata sarapan di meja yang tidak jauh dari tempatnya duduk.


“Ibu tenang saja.” Lanjut gadis itu mencoba meyakinkan sang Ibu.


“Sudah.” Kode Boom dengan suara lirihnya namun masih sanggup di dengar Dara.


“Iya Bom masih ada disini, dia menyiapkan sarapan.” Seru Dara yang mulai beranjak dari sofa panjang miliknya, Ia berjalan menuju meja kecil yang tidak jauh dari tempatnya.


Lantai empat, butik milik Dara memang di design khusus sebagai ruangan serba guna, tidak begitu luas namun tata ruang yang Dara aplikasikan cukup tepat hingga ruangan itu nampak multi fungsi, ruangan yang di set khusus untuk istirahat.


“Ibuku ingin bicara.” Dara memberikan ponselnya pada Boom setelah Kyung Ran mengintruksi ingin berbincang dengan sahabat Dara.

__ADS_1


“Bibi tidak perlu sungkan, Dara memang sedikit merepotkan.” Kekeh Boom senang.


Dara yang mendengar itu langsung melirik ke arah Boom yang nampak sumringah dengan candaanya, Kyung Ran memang sudah sangat dekat dengan Boom, jadi obrolan mereka tidak usah diragukan lagi.


“Makanlah dulu, aku masih ingin bicara dengan ibumu.” Setelah mengatakan itu pada Dara, Boom mulai bergegas menuju balkon, meninggalkan Dara yang menatapnya datar sedikit heran.


.


.


“Dara--”


Sandara menatap asing wanita yang baru saja menyapanya dengan hangat, darimana wanita itu tau namanya dan mengapa sikapnya begitu ramah, tatapan heran yang berusaha gadis itu cover dengan senyum hangat nyatanya sia-sia, ekspresi Dara sangatlah kontras. Dia keheranan.


“Dia Dami, kakak Jiyong.” Seru Gi Ran paham akan tatapan Dara.


Sekitar lima belas menit yang lalu, Dara dan Jiyong sampai di kediaman Gi Ran, Pria itu menjemput Dara pagi ini, dan ntah kemana perginya Jiyong sekarang, sejak mereka datang pria itu hilang ntah kemana, meninggakan Dara di dapur bersama Gi Ran.


“Unnie.” Dara menyambut rengkuhan Dami dengan hangat mencoba mengikis rasa canggung yang ada.


Untuk kali pertama, Dara merasa tidak asing dengan pelukan wanita yang baru saja Ia temui ini, apakah dia pernah bertemu dengan Dami sebelumnya. Namun kapan, anganya mencoba mengingat.


“Dimana Jiyong?” Tanya Dami setelah tidak menemukan adik laki-lakinya itu di dapur.


Dara yang tidak tau keberadaan pria itu hanya menggeleng kecil dengan wajah polosnya. Sementara Gi Ran yang masih sibuk memasak menjawab “Membawa Jenny ntah kemana.”


Dami tersenyum samar saat mendapati ekspresi polos yang di tunjukan Dara, tatapan wanita itu begitu penuh kasih pada Dara.


“Kau sudah masuk semester berapa nak?” Gi Ran mengamati Dara yang sudah berdiri di sampingnya, tengah membantunya memotong sayuran. Gadis itu sangat pintar dalam hal beradaptasi meskipun tidak jarang gelagat canggungnya masih kerap muncul.


Dami yang masih sibuk membongkar kulkas menyahut. “Kau masuk kuliah di umur berapa?” Dara masih terlihat begitu belia untuk duduk di semester lima dan itu membuat Dami heran.


“Sekolah menengah atas aku mendapat jalur aksel, yah seperti itulah” balas Dara malu-malu.


“Mengambil specialis apa?” Dami sudah berada disisi Dara sekarang.


“Aku mengambil umum Unnie." Balasnya.


Dara memang tengah mengambil studi kedokteran umum di Seoul National University dan sudah duduk di bangku semester lima sekarang, banyak yang heran karena usinya masih begitu belia, namun begituah adannya, kemampuan yang di anugerahkan Tuhan-lah yang membuatnya seperti ini.


“Woah, sedang libur?” ucap Dami kagum.


Gadis itu mengangguk sembari memberikan potongan kentang pada Gi Ran. “Libur dua minggu sebelum uts.” Kekehnya.


“Jadi lebih baik mempercepat resepsi pernikahan kalo begitu.” Sahut Gi Ran tiba-tiba dan hal itu langsung  mengentikan aktivitas tangan Dara yang tengah memotong wortel, gadis itu membeku dengan kalimat yang baru saja ia dengar, rangkaian kata milik Gi Ran langsung menghajar kestabilan pikirannya.


“Ibu membuatnya terkejut.” Dami merangkul bahu Dara “Kita bicarakan lagi.” lanjutnya membuat gadis itu sedikit tenang.


Masih dengan pikiran yang bergelung Dara mengangguk pelan, Ia bahkan belum membicarakan tentang persetujuan tawaran pernikahan namun Gi Ran sudah menyebut acara resepsi yang artinya meskipun Dara belum memberitahu jawabanya, wanita paruh baya itu sudah bisa menebak jawaban Dara, dan mengapa mereka sangat buru-buru dalam hal ini, adakah sesuatu yang Dara tidak tau namun Jiyong tau, ah Dara harus bertanya pada pria itu nantinya.


“Maafkan bibi Dee.” Ujar Gi Ran tulus dan sialnya membuat Dara heran, kini karena panggilan yang baru saja mampir di rungu Dara,  gadis itu dibuat kembali bertanya-tanya dalam diam, bagaimana bisa teman ibunya yang bahkan baru kemarin ia temui bisa memanggilnya dengan Dee, panggilan yang hanya orang diketahui orang terdekatnya saja.


Dara menjadi terlihat dungu sekarang, apa keadaan sedang mempermainkannya saat ini, mengapa orang-orang yang baru saja ia temui ini seakan sudah sangat lama mengenalnya, jika mengenal Kyung Ran mungkin saja, Gi Ran memang teman baik Kyung Ran, setidaknya itu yang Dara tau, tapi dia sendiri baru bertemu dua wanita ini dan keduanya sudah terlihat sangat mengenalnya, siapa yang sedang bermasalah disini.

__ADS_1


*


*


*


Dara baru saja melajukan mobil range rover merah miliknya keluar dari exit bandara, Ia dan sang ibu baru saja mengantarkan Jo Won untuk bertolak menuju Japan, bocah itu harus pergi sekolah besok.


Kini saatnya mengantar sang Ibu ke Busan, Ia harus kembali fokus sekarang, masih ada setidaknya 330 km yang harus di tempuhnya untuk perjalanan kali ini, dan pikirannya haruslah jernih untuk mengemudi sejauh itu.


Kyung Ran sendiri masih membenahi seat belt pada kursinya sedangkan sang putri sudah berfokus pada jalan raya, ya meskipun perbincangannya dengan Jiyong siang lalu masih terngiang samar di otaknya, hal yang terkadang mengganggu kesembilan fokusnya.


“Granny menghubungiku tadi siang, dia memarahiku habis-habisan karena tau keadaan ibu dari Jo Won yang tidak sengaja bicara.” Keluh Dara, ia ingat betul bagaimana kakek dan neneknya itu membombardirnya dengan ratusan pertanyaan.


Kyung Ran hanya terkekeh kecil menanggapi itu, seolah bukan hal besar yang membuat Dara mencebik kesal. “Ibu sudah menjelaskan semuanya setelah ayah menelponmu tadi”


“Tapi tetap saja aku yang di omeli” rajuk Dara. “Bocah itu juga tidak banyak membantu dan malah mentertawaiku” lanjut Dara, ia sangat ingat respon Jo Won yang begitu senang saat Dara menelponya agar adiknya itu membantu menjelaskan keadaan sebenarnya pada orang tua Kyung Ran.


“Dee.” Suara tulus Kyung Ran langsung merubah ekspresi Dara, Gadis itu memutar memori saat Gi Ran juga memanggilnya seperti itu, mengapa tiba-tiba seperti ini. Bahkan akal sehatnya belum benar-benar kembali.


“Aku sangat bersyukur, Ibu pulih begitu cepat, Aku akan tinggal di Busan selama liburan ini.” Ungkap Dara sebelum sang Ibu memulai topik pembicaraan yang sebenarnya.


Andai kalian tau di dalam lubuk hati paling dalam, Dara tidak henti-hentinya mengucap syukur, Kyung Ran yang pulih dan stabil begitu cepat setelah mengalami koma membuat Dara begitu takjub dengan kuasa Tuhannya, padahal melihat keadaan Kyung Ran yang begitu parah saat itu membuat Dara takut, walaupun hanya sekedar berharap, namun nyatanya Tuhan sangatlah baik denganya, Kyung Ran sudah berada disampingnya sekarang.


Kyung Ran yang mendengar itu merasa tersentuh, Ia segera meraih sebelah tangan mungil putrinya yang masih menganggur. “Ibu juga sangat besyukur dan terimaksih banyak Dee, Ibu sudah mendengar berita baik dari Gi Ran” seru wanita paruh banya itu.


Lihat bagaimana senyum bahagia terukir sangat indah di bibir Kyung Ran, itu bukti dari rasa bahagianya yang membuncah. Sang putri memang belum membahas soal tawaran itu namun jangan lupakan Gi Ran yang begitu antusias mengabari Kyung Ran siang tadi.


Dara tersenyum simpul, apalah arti dari apa yang ia rasakan sekarang jika senyum dari malaikatnya mampu menumbuhkan rasa senangnya, terlepas dari kebingungan yang terjebak dalam syaraf kognitifnya. “Kami akan berdiskusi lagi bu.” Tambahnya sembari membalas genggaman tangan Kyung Ran, sangat erat hingga afeksi sayang tersalur disana.


Kyung Ran mengangguk paham. “Kau bisa langsung kembali ke Seoul besok, ibu tidak apa. Ada Min yang menemani Ibu”


“Aku ingin menemani Ibu, jangan mengusirku.” Protes Dara pura-pura sedih.


“Bagaimana kalian akan berdiskusi jika kau berada di Busan.”


“Ayolah bu, kami bisa berbicara lewat ponsel.”


“I know Dee, kau akan sibuk dengan uts setelah libur? ”


Dara mengangguk tanda ia mengiyakan. “Dan mencari tempat magang bu” Lanjutnya memberi tahu.


Kyung Ran terdiam sesaat untuk sekedar memperhatikan gadisnya itu. “Jika ibu boleh memberi saran, acara pernikahannya saat liburmu dua minggu itu dan setelahnya kau bisa fokus pada kesibukanmu tanpa terganggu oleh acara in. " Nasihat Kyung Ran hati-hati.


Untuk kesekian kalinya dalam hari ini Dara kembali terpojok dengan ungkapan seperti yang baru saja Kyung Ran katakan. Pernyataan yang baru saja ia dengar begitu persis dengan apa yang Gi Ran katakan, apa memang mereka berdua bernegosiasi untuk mengatakan hal yang sama.


Secara spontan kalimat yang Jiyong katakan saat mengantarnya kembali ke apartemen berputar dengan otomatis, sebuah kalimat yang mulai ia pahami maksudnya.


“Akan dilangsungkan nanti atau bahkan secepatnya akan sama saja, yang mereka inginkan adalah menikah. Akhir dari apa yang ingin mereka lihat adalah upacara pernikahan, mungkin secepatnya lebih baik, agar kita bisa fokus pada lainnya, kau bisa kembali pada duniamu dan aku juga.”


Dara masih ingat betul kalimat itu yang Jiyong katakan di dalam mobil saat mengantarnya ke apartemen, kalimat yang pria itu ucapkan tanpa ekpresi maupun intonasi. Datar, mengalir begitu saja.


Pada akhirnya mau tidak mau Dara harus mengiyakan dan membenarkan ucapan-ucapan mereka bertiga, garis besarnya ialah lebih cepat lebih baik, agar ia juga bisa fokus pada dunianya.

__ADS_1


Namun bagaimana dengan meyakinkan hati dan perasaanya, menyelaraskan semua hal dengan pikirannya. Dunia benar-benar tidak pernah berhenti mengejutkannya.


TBC.


__ADS_2