Light In The Darkness

Light In The Darkness
THINK


__ADS_3

Tidak banyak yang Dara katakan setelah pertemuannya dengan Jiyong tadi siang. Gadis itu lebih banyak diam. Pikiran dan fokusnya tengah tersita oleh pria itu, bukan karena ketampanan atau kenyataan bahwa pria itu sangat terkenal di Korea, tapi kenyataan bahwa ibunya maupun ibu dari pria itu meminta kepastian lusa, kepastian tentang tawaran untuk menikah. Pernikahan seolah menjadi hal paling mudah untuk diputuskan.


Dara hanya mengaduk minuman yang diberikan Jo Won ketimbang menikmati minuman yang sudah lama menganggur di tangannya, kekosongan Dara terbaca oleh Jo Won yang tengah duduk di samping gadis itu. “Bohong sekali jika kau bilang tidak keberatan.”


Dara terkesiap sembari melirik sang Ibu yang tengah terlelap kemudian menatap Jo Won setenang mungkin “Apa?”


“Katakan padaku, apa yang membuatmu jadi pendiam, jangan memikirkannya sendiri.” Seru remaja itu dengan tenang.


“Aku? Tidak” Dara kembali mengelak dan menyimpan minumanya di atas meja.


“Dara, kau tidak pandai berbohong.” Jo Won masih berusaha membuat kakaknya untuk bersuara, ia tau betul bagaimana watak Dara. Gadis itu lupa jika Jo Won sudah sangat mengenalnya.


“Kau hanya menebak Jo.” Ia masih menyangkal.


“Kau lupa jika kita tumbuh bersama, astaga Darong.” Balas Jo Won serius.


Dara merubah posisi duduknya untuk menatap Jo Won “Apa?” Katanya lagi.


Jo Won menatap hazel milik Dara dalam. “Katakan padaku tentang kekwatiranmu, meskipun aku kurang mampu untuk membuatmu tenang, setidaknya aku bisa memahaminya setelah kau bercerita.”


Sungguh kalimat yang baru saja Jo Won katakan menyentuh hati Dara, kalimat yang baru saja keluar dari mulut Jo Won benar-benar terdengar sangat tulus dan dewasa, pemikiran bocah itu benar-benar membuat Dara kagum.


“Apa yang membuat Ibu begitu yakin?” Dara akhirnya bersuara.


“Jika yang kau pikirkan adalah penampilannya tadi, kau bermaksud membicarakan tatto yang ada di badannya bukan?” Jo Won mencoba menebak dan tebakan tersebut langsung ditanggapi anggukan cepat oleh Dara.


“Jika aku boleh memberi pendapat.” Kata Jo Wong hati-hati.


“Kau bisa melakukan itu Jo” Dara mempersilahkan.


“Aku pernah bertemu dengan dia sebelumnya.” Jo Won menerawang ke arah Dara, melihat ekspresi apa yang akan kakaknya itu tunjukan. Namun gadis itu hanya mengangguk kecil dalam diam, tidak ada ekspresi terkejut atau lainnya, Ntah karena beban yang benar-benar gadis itu rasakan hingga membuat Dara berekspresi datar atau memang seperti itu pembawaanya.


“Seperti yang bibi Gi katakan, Aku pernah bertemu dengan Hyung” Jo Won menggantungkan kalimat terakhirnya dengan nada canggung, ia kembali menatap Dara.


Kali ini gadis itu sedikit bereaksi, ia tersenyum hambar “Hyung?" Cibirnya.


Jo Won mengangguk ringan. “Pemotretan di Nanjing, malam harinya kami bertemu dan dinner bersama. Dia orang baik dan ramah, bukan karena dia kaya atau dia mengajakku selama dua hari disana tapi karena aku melihatnya dari bagaimana dia memperlakukanku. Dia tidak membuatku canggung saat pertama kali bertemu.” Jo Won mengingat bagaimana Jiyong dan satu temannya yang tidak salah bernama Youngbae mengajaknya berkeliling Nanjing saat itu, memperlakukan Jo Won dengan baik. “Meskipun penampilan luarnya seperti gangster” ia terkekeh pelan.


Dara berdecak sebal. “Jadi pria itu juga yang mengajakmu pergi ke Club ?” tanyanya penuh selidik.


Jo Won mengangguk mantap, tidak ada ketakutan untuk dimarahi atau lainnya karena memang ia sangat enjoy saat itu. Meskipun Jo Won tau Dara ataupun Ibunya akan marah jika mereka tau ia berkunjung ke tempat seperti itu. “Dia menjagaku Dara, dia dan temannya tidak memperbolehkanku minum, jika itu yang kau kwatirkan” Jo Won meluruskan pikiran buruk Dara.


“Jika kau tanya apa yang membuat Ibu yakin, kurasa karena Ibu sudah mengenal pria itu, kau tau Ibu tipe yang sangat selektif.” Pandangan Jo Won beralih pada ranjang dengan wanita paruh baya yang tengah berbaring disana. “Penampilannya mungkin bukan tipe Ibu tapi jika Ibu sudah memilih, berarti ada hal special yang kau ataupun aku tidak tau tentang pria tadi.” Lanjutnya sembari menepuk bahu Dara singkat.


Gadis itu tidak bereaksi apa-apa. Terdiam untuk memikirkan setiap kalimat yang Jo Won katakan.


“Kau butuh keluar, Dara.” Jo Won memberi ide.


“Kurasa, aku akan keluar sebentar dengan Bom.”


“Pergilah.”


“Waktunya Ibu minum obat?”


“Aku tau, pergilah! Aku akan mengurus Ibu.” Potong Jo Won cepat sebelum Dara menyelesaikan kalimatnya.


“Bom menjemputku, kunci mobil ada dinakas Jo, kau bisa pakai jika butuh.” Dara mulai bangkit untuk mengemas apa saja yang akan ia bawa.


“Aku tau, bergegaslah Dara. Hati-hati. ”


*


*


“Kau tau siapa dia, Dara.” Entah itu kalimat keberapa yang Boom ucapkan pada Dara. Apa yang baru saja Dara ceritakan benar-benar membuat Park Bom terheran-heran dan tidak percaya.

__ADS_1


“Berhenti memasang wajah seperti itu Bom! Aku tidak tau sedetail apa dirinya. Kau yang baru saja memberitahuku.” Balas Dara jengah. Sungguh  ekspresi berlebihan yang diperlihatkan Boom membuatnya kesal.


“Kau akan menikahi pengusaha muda kaya raya Dara, orang yang memiliki pengaruh cukup besar di Korea. Pemilik G-Dragon Group, kau bodoh jika tidak tau itu. ” Bom lagi-lagi menjelaskan siapa laki-laki yang baru saja Dara ceritakan. Boom tidak berhenti menatap Dara yang tengah sibuk di belakang meja kerjanya.


Sedangkan Dara hanya memutar bola mata bosan. “Bukan itu yang ingin aku tanyakan padamu, aku tidak terlalu tertarik dengan harta atau kekayaan yang pria itu milikki. Aku tanya, apa yang harus aku lakukan?” Balasanya dengan kalimat menekan. Dara terdiam kemudian ia menatap Boom yang duduk di sofa bersebrangan dengannya, dengan tatapan sendu ia berkata. “Kepalaku serasa ingin pecah."


“Masih ingin kan? Dan belum pecah.” Canda Boom membuat Dara melirik tajam kearahnya. “Sabar Dara.” Boom mengingatkan Dara yang terlihat akan meledak.


“Aku menyesal menemuimu.”Sungut Dara sembari menyimpan beberapa kertas yang baru saja keluar dari mesin print lalu mengecek kembali data-data yang baru saja ia cetak.


Boom yang memperhatikan Dara hanya tersenyum simpul, ia mengerti tentang apa yang tengah sahabatnya itu rasakan, Boom lalu meneguk kembali kopi dingin yang beberapa waktu lalu mereka beli kemudian menghampiri Dara yang tidak jauh darinya.


“Itu keputusan bersama Dara, kau bisa membicarakannya dengan pria itu. ” Tangan Boom terulur untuk mengusap pundak Dara, nada bicara gadis cantik itu juga merendah. “Jika itu lusa, maka kau perlu mencari keputusanmu sendiri hari ini, mantapkan hatimu dan bicaralah pada pria itu esok, Aku kira pria itu juga tengah memikirkan hal yang sama denganmu.” Lanjut Bom lagi sembari mengambil alih kertas yang ada di tangan Dara. “Dan berhenti mengerjakan ini, kau punya karyawan untuk melakukan hal ini. ” Dengus Bom kesal.


Sekitar tiga jam yang lalu, setelah Bom menjemput Dara di rumah sakit. Dara memutuskan untuk mengajak sahabatnya itu ke butik milik Dara. Boom mengiyakan begitu saja tanpa mendebat karena Boom kira Dara ingin benar-benar bercerita tentang apapun di tempat yang benar-benar nyaman dan sepi, namun kenyataanya Dara memang bercerita tapi selebihnya gadis itu malah bekerja dan menyibukkan diri. Bom juga tidak habis pikir dengan apa yang tengah Dara lakukan, gadis itu memiliki beberapa karyawan untuk mengerjakan peng-handle-an barang tapi Dara malah menghandlenya sendiri. Gadis keras kepala.


“Mereka sedang libur Boom.” Balas Dara mengambil kembali kertas yang direbut Boom.


Dara memiliki sebuah usaha kecil yang ia rintis sejak berada di bangku sekolah menengah atas. Sebuah butik yang tidak terlalu besar namun juga tidak kecil di kawasan elit Gangnam, tepatnya di daerah Garosugil. Usaha yang sudah berjalan cukup lancar itu di handle Dara bersama tiga karyawannya. Namun bukan Dara jika langsung lepas tangan dari usaha yang ditekuninya itu, gadis mungil itu masih sering ikut andil mengerjakan pekerjaan rumit sekalipun sudah memiliki pekerja. Gadis itu lebih memilih untuk mengepak barang-barang yang hendak dikirim dibanding tidak meliburkan karyawannya yang sedang ujian, Dara sepolos itu untuk membuat Boom geleng kepala.


“Kau membayar mereka untuk libur Dara?” Kata Boom tak mau kalah.


“Hyoni sedang pulang ke Busan, kakak pertamanya menikah. Jisoo dan Lisa sedang ujian akhir, biarlah lagipula hanya dua hari mereka libur.” Balas Dara lagi, jemarinya yang terampil mulai membungkus setiap pakaian kedalam kotak.


Bom berdecak pelan, gadis itu kemudian kembali duduk di sofa. “Berapa paket lagi yang harus kau bungkus?”


“Sekitar lima, kenapa?”


“Kau tidak lapar?”


Dara menatap Bom sekilas sebelum kembali pada kesibukkanya. “Sedikit, kau lapar? ?”


“Hm, aku lapar.”


“Setelah ini kita pergi makan atau ingin pesan delivery saja?”


Hening untuk beberapa saat, Bom tengah sibuk pada ponsel miliknya sedangkan Dara sedang sibuk membungkus paket yang berada di meja tempatnya bekerja.


“Kapan kau ingin bicara padanya?" Boom tiba-tiba bersuara pelan dan hati-hati.


Dara mengangkat kepala untuk menatap ke arah Boom, pandangan mereka bertemu “Aku belum tau. ”


“Kalian sudah bertukar nomor kan?” Seru Boom dengan tatapan memastikan.


Dara kembali memutar bola mata bosan. “Aku sudah mengatakanya tadi Boom, jika kau lupa.” Balasnya acuh dan kembali pada satu paket terakhir yang harus ia selesaikan.


Dara ingat betul bagaimana pertemuannya dengan Jiyong, pria dingin itu tidak banyak bicara, hanya mengatakan beberapa kalimat saja dan yang paling penting, Pria dingin itu tidak berekspresi sama sekali, wajah datarnya yang mendominasi selama mereka keluar bersama. Keadaan yang membuat canggung Dara itu kembali terlintas membuat gadis itu otomatis menggelengkan kepala. Boom yang melihatnya segera bersuara.


“Kepalamu kenapa?” Ucap Bom yang tengah memperhatikan Dara.


Dara nampak gelagapan, tidak mungkin bukan ia bercerita tentang pertemuannya dengan Jiyong yang sudah seperti orang bisu itu, yang ada Boom akan menterwainya.


“Pegal.” Dusta Dara akhirnya.


Boom mengangguk paham sementara Dara tengah menyiapkan kalimat untuk ia sampaikan pada sahabatnya itu.


“Aku akan mencari kemantapan hatiku hari ini, jika aku memilih hal yang kurang tepat--” Dara terdiam dan itu membuat Bom menatapnya penasaran. “Aku masih bisa menemuimu untuk mengeluh semauku kan?” Lanjut Dara, hazel itu terlihat ragu dan sedikit basah.


Boom mengangguk cepat sembari menghampiri gadis itu. “Kau bisa mengeluh kapanpun semaumu, ada aku. Jika kau lupa.” Katanya lalu merengkuh tubuh mungil Dara.


Sedikit banyak Boom tau bagaimana kehidupan Dara, bagaimana tidak, sejak sekolah dasar mereka sudah bersama, kehidupan Dara yang tidak bisa dibilang mudah sudah Boom ketahui sejak dulu. Boom memahami itu dan berjanji pada dirinya sendiri untuk slalu ada disamping Dara, menganggap Dara sebagai saudara kandungnya.


*


*

__ADS_1


9Pm


“Kau melihat Top Hyung?”


Youngbae yang masih sibuk dengan laporan yang ada di tab hanya mengangguk kecil tanpa melihat siapa yang bertanya.


“Ada di bawah, ingin aku panggilkan?”


Jiyong yang tengah duduk berhadapan dengan Youngbae mengangguk kecil. “Ingin minum bersama?”


Youngbae menatap Jiyong heran “Ada apa denganmu?” Ia tersenyum penuh arti, seakan tau teman kecil yang juga bosnya itu tengah menghadapi masalah.


“Hanya letih. ”


“Kau terlihat sangat tidak fokus saat meeting tadi siang.” Kata Youngbae kembali pada pekerjaanya. “Besok jadwalmu full." Tandasnya.


Jiyong mengangguk paham, sedari tadi jemarinya tidak berhenti mengetik pesan di ponsel pintar, Jiyong tengah menulis sesuatu untuk seseorang “Kosongkan jadwalku untuk lusa, aku ke bawah dulu, Hyung sudah menungguku.” Jiyong lalu bangkit dari posisinya dan menatap Youngbae lagi. “Benar kau tidak ingin ikut?” Ia hanya mencoba memastikan.


Pria itu menatap Jiyong yang tengah berdiri di ambang pintu. “Kau akan kelabakan jika aku ikut, presentasimu akan hancur besok. ” Ucapan sakartis Youngbae membuat Jiyong terkekeh pelan.


“Baiklah, aku pergi dulu.” Pamit Jiyong lalu meninggalkan Youngbae sendirian diruang kerjanya.


Youngbae hanya mengamati punggung Jiyong yang semakin menghilang dari padanganya dan menggeleng pelan sembari mencibir singkat. “Kwon Jiyong.”


*


*


\=\=\= Another Place \=\=\=


“Ini yang membuatmu mengajakku minum?” Komentar Choi Seunghyun dengan ekspresi mengejek. Pria yang biasa disapa Top itu kemudian terkekeh pelan setelah membuang asap rokok dari mulutnya.


“Aku sering mengajakmu minum Hyung.” Balas Jiyong cepat. “Hanya saja ini bertepatan dengan hal ini." Lanjutnya kemudian meneguk satu gelas kecil wiski yang mereka pesan.


Top mengangguk paham, pria tampan itu kemudian menatap Jiyong. “Kau bisa menerima itu jika kau mau, sudah waktunya untukmu kembali.” Nasihat pria itu tulus.


“Kembali apa maksudmu?” Jiyong tidak mengerti.


“Menjadi Jiyong yang ku kenal.” Seunghyun meneguk wiskinya.


“Jadi kau tidak mengenalku Hyung?” Jiyong menggeleng pelan, sebenarnya apa yang Top dan orang sekitarnya katakan. Jiyong tidak berubah, hanya saja sikap seperti ini yang dapat membuat Jiyong nyaman, untuk saat ini setelah semua hal yang terjadi.


Top berdecak pelan. “Hanya sebagian kecil yang ku kenal. ”


“Lagipula jika aku menikah, tidak akan ada yang berubah. Mungkin tetap pribadi ini yang akan kau temui. Lagipula aku tidak berubah. ” Jiyong kembali menghisap rokok yang ia apit disela jarinya, menyesap benda itu dan membuang asapnya.


Top terdiam untuk menatap intens pria yang berada di hadapannya itu, teman sekaligus boss yang sudah ia anggap seperti adik sendiri. Setelah mendengar pernyataan Jiyong jika Pria itu akan menikah, ada banyak hal yang berkecambuk dalam pikiranya. Jiyong tidak mengatakan alasannya dan Top juga tidak ingin tau sedetail itu, bukan karena tidak peduli Top menghargai privasi bossnya itu.


“Kau dan orang-orang yang mengatakan aku berubah, aku tidak sama sekali” Untuk kesekian kalinya Jiyong mengelak dan meyakinkan orang-orang yang berbicara tentang sikapnya yang sekarang, jika ia tidak berubah.


“Akan ada saatnya kau sadar dan kembali, Ji. Kau akan merasa sudah jauh dari dirimu sendiri saat kau menemukan kembali alasan mengapa kau harus menjadi dirimu sendiri. Saat itu tiba--” Top membasahi bibirnya sendiri. “Sudah ada orang lain yang menggantikannya. ” Lanjutnya.


Jiyong menghela nafas kasar, pandangan matanya menerawang kosong ke arah meja. “Tidak ada yang bisa menggantikan sesuatu yang hilang, selain sesuatu itu sendiri” Tegasnya.


“Kau hanya tidak mau mencari lagi, kau tau? Yang hilang bukan dia tapi dirimu sendiri. Ketika semesta sudah memiliki keputusan untuk menghilangkan sesuatu, bisa jadi itu yang terbaik.” Top mengacak rambutnya sendiri pelan, terkadang ia sangat jengah menghadapi sikap Jiyong yang ini.


Tangan Jiyong memainkan gelas kecil yang ia pegang. “Aku tidak percaya itu, semesta mengambil semuanya bersamaan untuk menghancurkanku bukan membuatku lebih baik. ” ia tertawa masam “Ntahlah” lirihnya.


Top kembali meneguk minumannya, kini langsung dari botol wiskinya. “Jawaban ada pada dirimu, kau hanya perlu mencoba. Semesta tidak sejahat itu. ”


Jiyong hanya menanggapi kalimat Top dengan senyum hambar sembari mengangkat kembali botol wiski miliknya dan meneguk minumantitu kasar.


Merekapun larut pada suasana malam yang gelap, dengan botol-botol yang bertambah, obrolan-obrolan ringan yang ntah mengarah kemana.


Itulah versi Jiyong kini, yang lari pada apapun yang dapat membuatnya tenang, ntah itu baik ataupun berdampak buruk pada kesehatanya. Jiyong yang mereka bilang kehilangan ‘dirinya sendiri’.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2