
“Ibu tidak sedang bercanda-kan??” Jo Won menatap sang ibu intens, sungguh expresi remaja itu tidak dapat di jelaskan. Kyung Ran baru saja membicarakan perihal perjodohan Dara pada Jo Won.
“Ibu tidak bercanda, kakakmu yang akan menentukan dan akan menjadi kesepakatan mereka berdua jika setuju, Ibu tidak akan memaksa mereka jika tidak mau” Kyung Ran menjelaskan sebelum sang putra salah paham.
“Ibu mengenal calon Dara? Em.. maksudku apa pria itu baik?” Jo Won benar-benar masih tidak percaya akan apa yang di ucapkan ibunya. Dara yang di jodohkan ? bahkan setau Jo Won, Nunanya itu belum pernah pacaran dan tiba-tiba ? Ah ntahlah.
“Tentu saja baik, Ibu kenal dekat dengan keluarga mereka.” Kyung Ran meyakinkan.
Jo Won terdiam di tempatnya duduk di pandanginya jarum infus yang masih menancap ditangan sang ibu. “Apa aku harus mendukung perjodohan ini Bu?” tanya remaja itu dengan polos membuat sang ibu tertawa kecil, sungguh putranya satu itu.
“Seharusnya iya, karena ini salah satu keinginan Ibu” Kyung Ran tersenyum hangat pada JonWon yang akhirnya mengangguk ringan.
“Kapan nunamu kembali ? sudah hampir jam sembilan.”
“Mungkin setelah ini Bu.”
“Kau sudah mandi kan Jo?” Kyung Ran menatap Jo Won penuh selidik.
Jo Won memutar bola mata bosan.“Sudah Bu, aku hanya malas memakai celana panjang.” Dalihnya.
“Ibu tau.”
“Tapi Ibu menanyakan itu.” Jo Won mendengus.
“Kau makin tampan, Ibu dengar ada yang menawarimu menjadi model.” Kyung Ran ingat betul beberapa waktu lalu Dara memberitahunya soal Jo Won mendapatkan tawaran menjadi model.
Remaja tampan itu tersenyum kikuk. “Dara benar-benar.” Gerutunya sangat lirih namun Kyung Ran masih mendengar itu.
“Tidak berniat bercerita pada Ibu?”
Jo Won memandang Kyung Ran sebentar. “Ibu benar, sekitar dua minggu lalu aku mendapat tawaran tersebut dan aku bicara pada Dara mengenai hal ini.” Remaja tampan itu mengawali ceritanya. “Dara bilang, jika aku ingin mengambil sesuatu yang berbeda selain olahraga dan hal tersebut membuatku nyaman serta tidak membebaniku maka tidak masalah untuk mengambilnya.” Ia menjeda untuk menatap ekspresi yang ditunjukan sang Ibu.
Kyung Ran mengangguk-anggukan kepalanya, ia paham arah pembicaraan yang Jo Won katakan, ia memberi kode agar putranya itu melanjutkan ceritanya yang sempat terhenti.
“Aku sempat bilang pada Dara jika aku menolak tawaran tersebut, Dara tidak memberikan respon apapun, dia menghargai keputusanku. Hingga keesokan harinya orang dari perusahaan tersebut kembali menghubungiku, aku kembali bicara pada Dara, Ibu tau aku sangat bergantung pada pemikiran gadis cerewet itu.” Jo Won terkekeh pelan membuat Kyung Ran larut dalam suasana tersebut. Sungguh wanita paruh baya itu sangat bersyukur melihat kedekatan kedua buah hatinya, terlepas dari semua masalah yang tengah terjadi, ia juga tidak masalah jika Jo Won lebih melilih bercerita pada Dara, remaja tampan itu mungkin lebih enjoy karena hampir sepantaran. Lagipula Dara juga slalu bercerita pada Kyung Ran setelahnya, em jadi sama saja kan.
“Dara sedang sibuk mengurus tokonya saat itu dan dia hanya bilang. Jika yang kau takutkan adalah tidak nyaman, kau belum mencobanya Jo, coba rasakan dulu dan tanya pada dirimu, kau nyaman atau tidak.” Jo Won benar-benar menirukan nasihat Dara beberapa minggu lalu, remaja itu ingat betul bagaimana Dara bicara dengan nada yang jengah namun masih terdengar sangat tulus.
Kyung Ran tertawa kecil “Lalu?”
“Aku menerimanya Bu, gadis itu benar-benar mempengaruhi pikiranku. Aku berangkat ke China karena memang pemotretanya di daerah Nanjing, Aku mengambil izin sekolah 3 hari”
Kyung Ran benar-benar terkesima dengan putranya ini, ia sebenarnya sudah tau semuanya dari Dara, ia hanya ingin mendengar hal yang membuat Kyung Ran bangga itu dari empunya langsung “Ibu mendukung apapun yang membuatmu dan juga Dara nyaman selama hal tersebut tidak mengganggu fokus utama pendidikan kalian. Ibu bangga padamu, lalu kapan fotonya rilis?” Kyung Ran meraih tangan sang putra yang bermain diselimut yang menutupi tubuh wanita paruh baya itu, mengusapnya hangat.
“Mereka memberitahu, pertengahan bulan ini. Detail tanggalnya akan mereka kabari lagi. Team mereka sangat ramah dan malam harinya aku bertemu dengan Ceo mereka, kami dinner bersama. Orang-orang baik yang kutemi. ” Terlihat jelas senyum mengembang diwajah Jo Won. Senyum yang sangat manis. Entah untuk kali berapa Kyung Ran tersenyum penuh bangga.
“Kau sepertinya menikmati nak.”
__ADS_1
Jo Won tersenyum simpul “Aku belum terlalu memikirkannya lagi Bu, lagipula baru pertama kali aku melakukan itu.” Ia terdiam sejenak “Dan temanku bilang, jika aku nyaman, setidaknya harus ada agency yang menaungiku agar aku bisa benar-benar mendapat banyak tawaran. Haha, bahkan aku belum berfikir sampai kesana”
“Kita lihat hasilnya dulu Bu” lanjut remaja itu lagi dan ditanggapi anggukan paham oleh Kyung Ran.
Setelah perbincangan ringan nanti hangat bersama Jo Won Wanita paruh baya itu kembali melirik jam yang terpajang rapi diruangan ini, tepat jam sembilan pagi namun Dara tidak kunjung kembali. Apakah putrinya itu mencoba menghindar, tapi Dara yang Kyung Ran kenal tidak seperti itu.
“Dia akan kembali Bu.” Jo Won tau betul kekwatiran sangat ibu setelah melihat wanita itu beberapa kali melirik jam dinding dengan cemas.
Tidak berselang lama bel pintu ruangan Kyung Ran berbunyi, tanda seseorang yang mungkin saja mereka tunggu sudah datang, tidak mungkin bukan jika itu Dara, pasti gadis itu akan langsung masuk ke dalam tanpa alih-alih menekal bel terlebih dulu.
Jo Won menatap ke arah pintu sekilas kemudian ia menatap sang Ibu yang tengah duduk itu. “Aku buka dulu.” Sahutnya sambil berdiri.
Kyung Ran mengangguk sembari menatap Jo Won yang berjalan kearah pintu, melihat punggung Jo Won dan postur tubuhnya membuat Kyung Ran tersadar, putranya sudah tumbuh besar.
“Jo Won.” Sapa wanita paruh baya yang berada dibalik pintu itu setelah tau siapa yang membuka pintu tersebut.
Jo Won yang tidak terlalu ingat atau lebih tepatnya belum tau hanya mengangguk sembari tersenyum “Ibu ada di dalam, silahkan masuk” Ia segera mempersilahkan wanita yang jika dilihat seumuran dengan Kyung Ran tersebut dengan ramah.
“Kau tumbuh dengan baik.” Tepukan tangan Gi Ran mendarat ringan di pundak Jo Won.
“Gi Ran, kau datang sendiri?” Kyung Ran segera menyapa sahabatnya itu ketika masuk ke dalam ruangan. Sedangkan Jo Won masih menunggu di ambang pintu karena seorang pria masih berdiri sedikit jauh dari tempatnya, sedang menerima telepon. Jo Won yakin itu Pria itulah yang akan di kenalkan dengan Dara.
“Dia masih menerima telepon di luar. Bagaimana keadaanmu?” Gi Ran duduk dikursi yang tadi Jo Won tempati.
“Sangat baik.”
“Masih di Gereja, sebentar lagi pasti kembali.” Jawab Kyung Ran.
“Jo Won tidak mengenaliku, aku rasa sudah sangat lama aku tidak bertemu mereka saat sudah dewasa.” Aku Gi Ran, ia sangat ingat betapa dulu ia sering mengunjungi Kyung Ran dan dua buah hati wanita itu.
Kyung Ran tertawa kecil. “Itu sudah sangat lama Gi sejak terakhir kali kau bertemu mereka, sebelum dua anakku harus tinggal ditempat berbeda” Ia melirik Gi Ran sebentar. “Dan setelah itu, kau dan aku hanya bertemu berdua tanpa anak-anak.” Tandas Kyung Ran.
“Kau benar, senang melihat Jo Won tumbuh dengan baik, dia sangat tampan.” Kagumnya.
Disisi lain Jo Won masih setia berdiri di ambang pintu sembari menyandarkan tubuh pada salah satu sisi pintu dengan tangan terlipat dan pandangan ke arah dua orang yang saling berbicara dan tertawa itu, pemandangan yang sudah lama tidak ia jumpai membuatnya senang. Sedikit terlena hingga sebuah langkah kaki yang mendekat membuat kesadarannya kembali, manik legamnya mendapati seseorang yang ia tunggu sejak tadi tengah berjalan kearahnya.
Otak Jo Won berputar cepat berfikir sangat keras, ia tidak asing dengan pria yang berada dalam jangkauan pandang itu, tapi siapa? Ia tidak asing dengan wajah dan juga dandanan itu. Ia yakin ia pernah bertemu pria itu sebelumnya, tapi siapa dan dimana? Mengapa Ingatanya sangat buruk.
*
*
Masih banyak hal yang berkeliaran di pikiran Dara, gadis itu tengah berjalan diantara kerumunan orang yang menyebrang jalan. Dengan pikiran kacau yang ntah kemana membuat gadis itu tidak sadar jika langkah kaki sudah membawanya masuk kedalam lingkungan rumah sakit. Dering ponsel berbunyi dibarengi dengan satu pesan singkat yang berhasil menyadarkan gadis itu untuk terjaga dari kekalutan pikirannya sendiri.
From : Jo Won Park
Cepat kembali Dara, apa kau tidur disana?
__ADS_1
Dara berdecak pelan, sungguh adik laki-lakinya itu. Tarik nafas dan atur pikiranmu Dara, semua hal akan baik-baik saja, pikir gadis itu.
*
*
Banyak persimpangan jalan yang bisa kau ambil, tentukan jalanmu dan temukan tujuanmu.
“Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?” Seru Gi Ran setelah pengakuan mengejutkan Jo Won. Remaja itu sudah mengingat wajah Jiyong.
“Iya bi.” Jo Won mengangguk ringan.
“Dunia benar-benar sempit.” Timpal Kyung Ran sembari menatap Jo Won dan Jiyong bergantian. "Apa kabar nak?" Ia bertanya pada pria yang menyimpan tubuhnya di sebelah Jo Won.
Jiyong yang merasa terpanggil langsung menoleh dan tersenyum simpul “Baik.” Jawabnya sesingkat mungkin.
“Senang bisa melihatmu lagi setelah sekian lama.” Kyung Ran kembali menatap pria dalam balutan kemeja hitam dan juga celana yang senada itu. Jiyong hanya tersenyum menanggapinya.
“Bagaimana sekolahmu?” Jiyong menoleh sebentar pada Jo Won, membuat remaja itu ikut menatapnya.
“Berjalan seperti biasa.” Jawabnya, ntahlah ia masih sedikit canggung meskipun pertemuan mereka berdua di Nanjing begitu nyaman. Mungkin kenyataan bahwa Jiyong akan di jodohkan dengan Dara membuat sedikit perubahan.
“Ibu.” Derap langkah Dara terhenti saat hazel miliknya menangkap sesuatu yang sejak tadi ia pikiran lalu langkahnya membeku di ambang pintu.
“Dara.” Gi Ran buru-buru menyapa gadis itu dengan hangat.
Jiyong menoleh sebentar karena suara Dara begitu khas lalu ia perhatikan gadis yang ternyata memakai pakaian dengan warna senada dengannya. Sedangkan Dara masih berusaha merasionalkan pikirannya ia segera membungkuk pada Gi Ran lalu menutup pintu dan berjalan ke arah Ibunya.
“Kau tumbuh dengan baik Dara, kau sangat cantik” Puji Gi Ran yang kemudian merengkuh Dara ke dalam pelukkanya.
“Ah ne, terimakasih bibi.” Dara membalas pelukan Gi Ran dengan persaan tak menentu.
“Sapa yang lain, Dee.” Pinta Kyung Ran setelah Gi Ran melepaskan tubuh Dara.
Jiyong yang mengamati perlakukan Gi Ran segera tesadar lalu ia palingkan pandanganya kesembarang arah. Jiyong tidak ingin terlihat memperhatikan moment tadi, jujur saja moment yang baru saja Jiyong saksikan adalah moment langka, sudah sangat lama ia tidak melihat Gi Ran begitu nyaman dengan orang lain. Perlakuan Gi Ran pada Dara begitu sama saat wanita paruh baya itu memeluk Dami dan Jenny. Ntahlah.
Dara membalikan badan kemudian berjalan pelan ke arah Jo Won dan juga seseorang yang masih asing di benaknya. Perasaan canggung berusaha Dara sembunyikan dalam balutan langkah tenang dan juga wajah sumringahnya.
“Ji, kau tidak akan menyapa?” Gi Ran menegur sangat putra yang tidak kunjung bereaksi ketika Dara sudah hampir mencapai tempat duduknya.
Dara mengulurkan tangan kanannya pada Jiyong, dan tidak lama kemudian Pria itu berdiri untuk menjabat tangan Dara.
“Sandara. "
"Jiyong."
To Be Continue.
__ADS_1