Lilou Lililan - Red

Lilou Lililan - Red
The Hunter In Black


__ADS_3

^^^Dear para readers,^^^


^^^Jangan berhenti disini ya. Next chapter more interesting! ^-^^^^


Dalam kesunyian hutan yang gelap, sayup-sayup terdengar percakapan dari dalam bangunan tua yang kuno. Disekelilingnya beterbangan begitu banyak kunang-kunang. Antara pepohonan dan daun-daun yang lembab. Cahaya alam bertebaran dalam kegelapan. Di tempat pertemuan rahasia, kedua insan berbincang dengan cukup serius. Tak ada kehadiran orang lain selain mereka disana.


Nafas seorang pria terdengar tidak teratur. Ia terus mondar mandir sambil meremas-remas jarinya yang mulai berkeringat.


"Kita sudah terlalu jauh".


Ucap seorang pria kepada seorang didepannya yang terdengar begitu pelan, nyaris tak terdengar. Ia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya yang telah menguasai hati dan dirinya.


Pria bongsor itu sudah berdiri sejak tadi, menatap kosong dinding-dinding batu yang dingin dan lembab. Udara malam yang dingin, membuat perasaannya semakin tak karuan.


Seorang wanita cantik yang menjadi lawan bicaranya begitu tenang. Ia membuka matanya yang semula terpejam.


"Itu terdengar seperti lagu keputusasaanmu bagiku. "


balas wanita yang berdiri didepan pria itu dengan ketus. Ia sedikit kecewa, lantas ia mulai meyakinkan sosok pria yang berdiri di sudut ruangan itu.


"Kau tau? harus selalu ada pengorbanan. Untuk bisa mendapatkan hal yang juga sangat kau inginkan. Jangan lupakan itu!" tambah wanita bermata lebar itu dengan nada lebih tinggi.


"Tidakkah kau mengerti posisiku saat ini?"


Pria itu mengambil nafas panjang, lalu meneruskan ucapannya :


"Bagaimana kalau seseorang di antara kita berkhianat dan semuanya berantakan?"


"Lalu apa kata dewan tertinggi jika kita melakukan hal kotor seperti ini?"


Tanya pria itu dengan tatapan nanar.


Kesenduan yang tipis, samar terlihat diwajahnya. Ia mulai memijit-mijit dahinya yang sudah mulai keriput.


"Berhenti ketakutan seperti pengecut Willz! ". Wanita itu diam sejenak sambil memalingkan padangan dari Willz, sebelum meneruskan perkataannya :


"Kita memang menyingkirkan anak-anak itu, tapi bukan dengan tangan kita. Lagipula pada akhirnya mereka sendiri yang mengakhiri hidup mereka di tebing itu. Kau sudah mendengarnya bukan?"


"Kalau kau ingin hancur maka hancurlah. Namun jika kau ingin berhasil maka jangan setengah-setengah."


Ia kembali menatap Willz yang semula iya punggungi.


"Andai aku berada disana saat itu"

__ADS_1


Keluh willz sembari menunduk. "Andai kau tak memaksaku untuk..."


"Willz, jangan menguji kesabaranku!".


Wanita itu berteriak penuh frustasi kepada willz yang belum sempat meneruskan ucapannya tadi.


"Lantas apa kau ingin menghidupkan mereka kembali?!" tanya wanita itu dengan marah.


"Tidak ada yang bisa kau lakukan Willz. Ini sudah takdirmu, maka terimalah!"


"Setidaknya ceritakan padaku detailnya, agar aku juga mengetahui bagaimana mereka bisa tewas disana."


Pinta Willz kepada wanita itu.


"Baiklah, dengarkan aku baik-baik Willz. Jangan sampai ada perbedaan informasi antara yang aku tahu dengan yang kau tahu.."


Willz hanya balas mengangguk.


"Seperti yang kau tau, aku berusaha memojokkan mereka dengan mengutus beberapa orang kesana. Hari itu begitu bersalju, sehingga cuaca sangat dingin.."


wanita itu berhenti sejenak,


"Jauh lebih dingin dari malam ini."


"Sayang mereka kurang beruntung."


"Aku tidak pernah memerintahkan mereka untuk sejauh itu. Namun, seperti takdir yang sudah jelas arahnya kemana, tiba-tiba saja tanah tempat mereka berpijak jatuh longsor."


"Seperti yang kau tau, tak pernah ada yang selamat dari lonsor salju di daerah itu Willz. Jadi, itu murni kecelakaan." Pungkas wanita berkulit halus itu.


"Tapi orang-orangmu juga disana, bagaimana dengan mereka?" Tanya Willz.


"Aah mereka.. mereka ditakdirkan untuk menjalankan misi terakhir mereka disana."


Jawabnya datar.


"Kau sangat dingin dan tidak berperasaan. Jika saja aku tidak mencintaimu mungkin kau sudah kuhabisi malam ini." Willz berkata dengan setengah berbisik.


"Aku bisa mendengarmu Willz. Aku mendengarmu." tatapnya tajam kepada Willz.


Ia mendekat ke arah Willz,


"Aku tau kau begitu tergila-gila padaku hingga rela melakukan apapun untukku, bukan begitu?" tanyanya dengan gerakan tangan yang lembut, mengusap dada Willz.

__ADS_1


Willz menahan diri, perasaannya melayang ke udara. Tidak pernah ia sedekat ini dengan wanita yang dicintainya itu. Ingin sekali ia menyentuhnya. Namun, Willz tak punya cukup keberanian untuk melakukannya. Terakhir kali ia mencoba, ia kehilangan kuku jari kelingkingnya.


"..."


Willz hanya terdiam.


"Mungkin jika kau melakukan sekali lagi hal besar untukku, aku akan benar-benar membukakakan hati untukmu Willz." Rayu wanita itu pada Willz. Ia sengaja menempelkan wajahnya pada dada bidang milik Willz.


"Aku mendengar detak jantungmu disana.."


Lalu ia kembali menatap Willz dengan senyuman. Lalu berkata,


"Aku akan membuatnya berhenti berdetak kalau kau melakukan kesalahan Willz."


Mendengar hal itu, Willz menjauhkan diri dari wanita gila dihadapannya. Ia tau bahwa wanita ini akan melakukan segalanya untuk mencapai tujuan yang telah ia tentukan.


"Kalau kau mencoba menjebakku, aku yang akan memastikan kau mendapat hukuman yang setimpal!" Jelas willz tegas.


"Maksudmu jika aku sengaja menempatkanmu dalam kesalahan, begitu?" protes wanita itu.


"..."


Willz tak menjawab, memilih memalingkan pandangannya ke bebatuan di sudut ruangan itu.


"Kalau begitu kau tak cukup mengenalku Willz. Aku mungkin gila, tapi padamu.. kau.. kau setidaknya sudah melakukan banyak hal untukku. Kau.. Aarghh sudahlah!" wanita itu berkata dengan terbata-bata namun enggan menyelesaikan perkataannya, ia malah memilih untuk menunjukan kekesalannya pada Willz. Lalu dengan tatapan tidak sabar iya bergegas,


"Benahi jubahmu, sudah tiba waktunya! " perintah wanita itu sambil berlalu menuju pintu keluar.


"Ya, pada akhirnya ini kemenanganmu Liz Carlo" jawab Willz pelan. Lantas ia membenahi posisi jubah agar menutupi kembali kepala bagian belakangnya.


Langkah kaki Liz terhenti, Ia berbalik dan berkata :


"Bukan aku, tapi kita. Jadi cepatlah ikuti aku."


jawab liz dengan senyum licik tanpa berbalik. Kemudian Liz mencabut obor disamping jalan keluar sebelum benar-benar menghilang dari pandangan willz. Suara langkah kakinya terdengar menggema, menginsyaratkan lorong yang dilaluinya cukup panjang dan sunyi.


Willz masih berdiri ditempat yang sama. memegangi dahinya yang terasa makin berkerut. Meski ragu, Iapun tersenyum tipis. mencoba menenangkan diri sendiri. Lalu Ia melangkah menuju jalan keluar dari tempat gelap itu.


Seketika itu juga perdebatan singkat itu berakhir. ruang-ruang gelap yang lembab dan dingin menjadi saksi atas perbincangan rahasia antara Willz dan Liz malam ini.


Hanya tersisa keheningan malam yang semakin sunyi tanpa percakapan mereka. Namun sesuatu yang besar telah menanti Willz dan Liz malam ini.


Nb :

__ADS_1


Gaya penulisan saya emang gini ya ka. Akan terkesan kaku dan terlalu formal untuk kalian yang lebih suka gaya bahasa santai. Mungkin karena lebih sering baca novel terjemahan -_- pengaruh. Tapi, alur ceritanya pasti seru kok. Bakal ada bumbu romancenya juga. Tapi ini masih terlalu awal. Ditunggu ya ^-^


__ADS_2