
...Sembunyi, ku sembunyi.....
...Di bukit, bukan dikaki bukit.....
...Hanya kau yang merah melihatku...
...Disenja, diujung hari.....
...Cari aku, temukan aku.....
...Mata merah, ikuti aku....
...Temukan, temukan aku.....
...Atau aku kan mencarimu.....
...Sembunyi, ku sembunyi.....
...Dalam tirai, kau tak melihatku....
...Hanya bulan dan tetes hujan...
...Yang membuat kami pergi...
...Cari aku temukan aku.....
...Atau aku kan mencarimu.....
Seorang wanita paruh baya terus melantunkan lagu itu berulang- ulang. Sambil sesekali menatap jendela yang berkabut bekas hujan malam ini, selagi iya mengaduk sayuran di tungku masak.
"Nenek, berhentilah menyanyikan lagu itu. Nenek membuatku takut".
Protes seorang anak laki-laki bermata biru kepada neneknya.
Lalu nenek itu tersenyum,
"Apa yang harus kau takutkan dari sebuah lagu, cucuku? "
Ia berkata seraya menatap mata cucu kesayanganya.
"Apa nenek tidak tau mengenai cerita itu?" tanya anak berumur 7 tahun itu dengan tatapan serius.
Sang nenek berhenti mengaduk tungku masaknya. Memindahkan makanan ke dalam mangkuk besar, lalu menaruhnya di atas meja makan.
"Neneeekk.."
Protes anak laki-laki itu dengan nada setengah merengek karena neneknya tidak merespon.
"Kemarilah".
Iya memberi isyarat kepada cucunya untuk mendekat dengan gerakan tangannya.
Anak laki-laki itu mendekati meja makan yang terbuat dari kayu disebelah neneknya. Lalu iyapun menyeret kursi agar dapat duduk lebih dekat dengan neneknya, memasang wajah sangat antusias. Kemudian bertanya,
"Apa nenek mengetahui cerita dibalik lagu itu?"
Neneknya tersenyum kembali,
__ADS_1
"Tentu saja. Tapi nenek menyuruhmu kesini adalah untuk menghabiskan semangkuk sup ini"
Jawab neneknya sambil menuangkan beberapa sendok sayur ke dalam mangkuknya. Sengaja menggoda cucunya.
Anak laki-laki itu terlihat muram. Hilang sudah wajah penasarannya yang berseri-seri tadi. Ia mundur, bersandar sepenuhnya pada sandaran kursi kayu yang mulai rapuh dibelakangnya.
Sang nenek tidak terkejut melihat reaksi cucunya yang selalu sangat penasaran akan semua hal itu. Kemudian iya berkata dengan pelan,
"Mungkin aku akan menceritakannya sedikit".
Seketika wajah anak laki-laki tadi kembali berseri, menatap antusias. Lalu sambil menopangkan wajah imutnya di atas kedua tangannya, iya berkata,
"Aku menunggu"
Nenek itu tersenyum, lalu mulai bercerita:
"Dahulu sebelum para bangsa hidup berdampingan dengan damai seperti ini, ada satu bangsa lagi yang hidup ditengah-tengah kita. Mereka adalah para villagers. para bangsa yang tidak memiliki kekuatan spesial seperti bangsa lainnya. Mereka hanya penduduk biasa."
"Sampai suatu ketika, keberadaan mereka dianggap sebagai ancaman bagi bangsa lain. Mereka dapat lebih pemarah dari bangsa penyihir, lebih dingin dari pada werewolf, dapat lebih licik dan pintar dari para hunter, tapi hanya beberapa yang tau bahwa hati mereka bahkan lebih lembut dari pada healer."
"Mereka dijebak dalam kesalahan yang tidak mereka buat. Hingga mereka benar-benar murka. Pembantaian mereka lakukan besar-besaran. Mereka memberontak. Senjata-senjata yang mereka buat, adalah senjata penghancur terkuat yang pernah ada.
Perlawanan mereka pada semua bangsa berakhir, jumlah pasukan mereka berkurang drastis. Banyak yang gugur dalam penyerangan. Namun, hukuman menghadang mereka di akhir penyerangan itu. Sampai suatu ketika mereka dilenyapkan, menghilang."
Nenek berambut putih itu menyudahi cerita dengan membelai rambut cucunya dengan lembut. Seraya menambahkan,
"Tak ada yang perlu ditakutkan bukan?"
Anak laki-laki itu masih sangat serius. Lalu bertanya,
"Bagaimana mereka bisa menghilang nek? Bukankah tidak masuk akal mereka bisa menyerang ketujuh bangsa tanpa kekuatan apapun? Lalu mereka menghilangkan begitu saja? Dengan mudahnya?"
Lalu iya menambahkan,
"Ini jauh berbeda dengan yang diceritakan teman-temanku nek. Mereka bilang para villagers akan datang dan menculik para anak-anak untuk mengambil kekuatan kami."
Neneknya kembai tersenyum, kali ini senyumnya tidak mengisaratkan kebahagiaan. Namun menahan sesuatu. Ia pun menjelaskan kembali,
"Sebenarnya kemarahan mereka bukan pada ketujuh bangsa. Namun hanya pada satu bangsa. Namun karna bangsa lain hanya diam saja, maka mereka semakin murka. Lalu setiap mereka menusukkan pedang mereka berkata,
..."Aku mengambil kekuatan yang kau sombongkan itu. "...
Mereka dihukum karena menjatuhkan banyak nyawa. Juga karena kerusakan yang mereka buat. Aku juga sudah mengatakan senjata yang mereka miliki adalah senjata penghancur yang paling mematikan yang bahkan tak bisa kau bayangkan, cucuku."
Anak laki-laki itu semakin penasaran. Lantas iya bertanya kembali,
"Lalu apakah mereka akan kembali nek? Apakah mereka akan mengambil kekuatanku juga? Dan apakah nenek tau bagaimana kisah sebelum mereka benar-benar dilenyapkan? "
Pertanyaan yang tidak ada putusnya, menghujam hati nenek berkulit pucat itu.
"Nenek bilang akan menceritakannya sedikit, itu berarti tidak banyak sayang."
Jawabannya mengakhiri kisah yang iya bagi pada cucunya. Lalu iya meneruskan,
"Dan debu kematian mereka akan benar-benar datang menjemputmu, jika tak kau habiskan sup itu" pungkas neneknya diikuti suara tawa yang renyah.
Pandangan protes jelas terlihat dari sorot mata anak laki-laki itu, lalu iya menyendok mangkuk supnya hingga bagian dasar dan memasukan seluruh isi yang dapat di sendoknya kedalam mulut mungilnya dengan cepat.
__ADS_1
Sang nenek mendekatkan wajahnya, lalu berbisik sembari menyodorkan jari kelingkingnya,
"Namun berjanjilah cerita ini hanya kita yang tahu.."
Perkataan ini membuat cucunya menyerngitkan dahinya.
"Kenapa aku harus merahasiakannya nek?"
"..."
Neneknya terdiam sejenak.
"Karna, tak akan ada yang percaya."
"Lalu aku akan menceritakan lebih suatu saat ketika kau berhasil menjaga cerita ini untuk kita. Maka berjanjilah pada nenek."
"Baiklah nek, janji."
jawab el sambil mengait jari kelingking milik neneknya. Ia tak banyak bertanya karna jarang sekali neneknya serius seperti ini. Artinya, pasti ada maksud tertentu dari neneknya. Dalam hatinya ia malah semakin penasaran. Namun, ia harus menahannya dan menjaga informasi ini dari siapapun sampai nenek mau bercerita lebih padanya.
Makan malam sederhana yang panjang di rumah kayu mungil yang tengah basah atapnya karena hujan malam ini.
Malam ini belum akan berakhir, namun sudah cukup larut. Sang nenek mengantar cucunya tidur dikamar kecil miliknya. Lalu menyelimutinya, mencium keningnya.
Sepasang mata biru yang indah milik anak laki-laki itu terpejam, lalu akhirnya terbuka lagi. Neneknya masih disana, menunggunya terlelap.
"Nek, darimana nenek mendengar kisah itu?"
Ia menatap neneknya dengan tatapan sayup.
"Kau tumbuh besar dengan cerdas rupanya". Iya tersenyum,
"Karena nenek juga sepertimu dulu, jadi nenek rasa, kau tau jawabannya".
Anak laki-laki itu hanya berkedip. Lalu sang nenek membelai lembut cucunya yang hitam. Mencium keningnya sekali lagi,
"Meskipun debu kematian para villagers datang kepadamu. Nenek berani bertaruh, bahwa mereka tak akan menyakitimu. Tak akan bisa. Percayalah".
Sang nenek menyentuh telapak tangan anak laki-laki itu dengan lembut, lalu memberi tanda untuk menyambut apa yang dia berikan. Anak laki-laki itu kemudian membuka kedua tangannya. Memejamkan mata, bersamaan dengan sang nenek yang melepas genggaman pada salah satu telapaknya.
Anak laki-laki itu merasakan kekuatan yang berputar, yang seakan mampu meledakkan seluruh dimensi ini.
...
...
...o(〃^▽^〃)o...
Perlahan iya meredakan energi itu. Lalu membuka matanya kembali. Ia akhirnya tersenyum. Seperti mengerti apa maksud perkataan neneknya. Ia berkata dengan suara mengantuk yang serak,
"Baiklah nek, aku bisa tidur nyenyak malam ini"
"Kalau begitu nenek akan menyanyikan lagu itu, agar kau bisa menceritakannya kepada cucumu kelak" tanpa jeda sang nenek melanjutkan, "Sembunyi, ku sembunyi..
Cucunya seketika menutup telinganya dengan kedua tangan. Lalu protes pada neneknya,
"Ayolah nek, tanpa menghafalnya aku sudah tau lagu itu diluar kepala, karna nenek selalu menyanyikannya."
__ADS_1
Dengan kesal iya menarik selimut sampai ke ujung kepalanya.
Sang nenekpun tertawa melihat tingkah cucunya itu. Malam itu menjadi saksi dihantarkannya sepotong kisah penuh teka-teki kepada penerus bangsa cuber yang tersisa.