
Dear readers tercinta,
Jangan sungkan untuk kasih comment yaa (^-^)
...
El tampak sedikit resah dalam antrian, namun semangatnya untuk bersekolah dan tumbuh dewasa dengan lebih baik mengalahkan segalanya. Sesekali dilihatnya neneknya dibelakang. Tak begitu terlihat, namun ada kelegaan dihatinya ketika masih menemukan nenek disana.
Kini ia berada pada baris ke-2 setelah beberapa saat menunggu. Ia merogoh tas selempang miliknya, mengeluarkan personal cube yangg ada disana. Bersiap untuk gilirannya.
Anak perempuan didepannya melangkah maju, tentu saja karna pemeriksaan identitasnya sudah selesai. Kini giliran El.
"Personal Cube mu"
Tanya seorang pria bermantel bulu sambil mengulurkan tangannya.
"Ini".
Jawab El cepat sambil memberikan apa yang pria itu minta.
Hanya butuh beberapa detik ketika pria itu memasukan Personal Cube milik El ke dalam sebuah kotak dengan layar kecil yang ditempelkan di sisi gerbang utama. Lalu mengeluarkannya kembali ketika sebuah text muncul disana.
"Kelas pengenalan 3, sebelah utara, kelas no 2 dari kiri. Jika bingung silahkan bertanya pada para guide yang memakai baju merah", jelas pria bertubuh bongsor itu dingin.
"El tidak suka merah" gumam El pelan. Ia secepatnya maju memasuki Grandana Academy, ia tau masih banyak yang mengantri di belakang tubuh mungilnya.
Sekilas sebelum ia benar-benar tenggelam dalam keramaian di gerbang masuk, dilihatnya lagi kebelakang, neneknya masih berdiri disana. Meski samar El dapat melihat neneknya tengah menghapus air mata diwajah rentanya.
"Nenek pasti sedih", kata El dalam hatinya, sambil membalikkan badan dan melangkah maju.
Beberapa langkah memasuki Grandana Academy, El lantas menghentikan langkahnya ketika melihat apa yang ada didepannya. Seketika ia takjub.
Gedung megah Grandana Academy melingkar mengelilingi air mancur indah yang menjulang tinggi ditengah-tengah taman sekolahan itu. Tiang-tiang raksasa pada tiap bangunannya memberikan kesan klasik yang kental, dengan ukiran-ukiran yang menggambarkan kisah penuh nyawa di beberapa sisi bangunan.
El masih tertegun, sorot matanya masih menyala-nyala, mengisaratkan kekaguman yang membara. Sampai akhirnya suara dibelakangnya memecah konsentrasi El.
"Waaah, aku pasti sudah gila"
Seru seorang remaja dengan postur tubuh ramping itu, menyita perhatian El. Lantas El memalingkan pandangan padanya. Dilihatnya mulut remaja itu sedikit menganga dengan sorot kekaguman yang tidak kalah dalam dengan miliknya.
Merasa diperhatikan, remaja itu melempar pandangan pada El seketika itu juga. Lalu berkata,
"Tidak sopan melihatku seperti itu, pergi cari kelasmu sendiri". Remaja itu meninggalkan El dengan tatapan sinis.
Seketika El sadar bahwa ia harus segera menemukan kelasnya, iapun memantapkan diri untuk terus berjalan ke arah utara. El berjalan lurus dari arah pintu masuk, pikirnya agar tidak perlu melewati jalan memutar menuju utara.
Disekeliling gedung academy, beberapa orang dewasa dengan seragam merah terlihat sibuk menjawab pertanyaan beberapa siswa baru, El langsung paham bahwa merekalah yang disebut penjaga gerbang sebagai para guide.
Kaki mungil El terus menusuri taman-taman bunga, dengan kolam ikan yang mengelilinginya. Ia sudah benar-benar dekat dengan gedung paling utara. Lalu dihitungnya, kelas kedua dari kiri. Lantas ia memberanikan diri melangkah mendekati pintu kelas. Ada seorang guide menunggunya disana.
__ADS_1
"Hai anak manis, apa kau sudah menemukan kelasmu?"
Tanya guide itu dengan ramah.
"El rasa sudah. Ini.. Kalau benar ini kelas pengenalan 3 bu". jawab El gugup.
"Selamat datang. Kami menunggumu. Ikuti aku", pinta seorang guide pada
El sembari memasuki ruang kelas. Sementara El mengikuti dari belakang dengan langkah kikuk.
Suasana kelas yang riuh sedikit mereda begitu guide berdiri ditengah-tengah ruang kelas. Kursi-kursi disusun dengan formasi leter U. Sehingga setiap siswa bisa melihat satu sama lain dengan jelas. Sekitar 19 siswa ada didalam ruang kelas yang sama dengan El.
Elpun segera mendekati tempat duduk di kursi yang ditunjuk oleh sang guide.
"Silahkan duduk sayang".
Pintanya pada El. Lalu ia melanjutkan,
"Baiklah kelas kita sudah terpenuhi kuotanya, Itu artinya kelas dapat dimulai sesegera mungkin", sang guide menyerukan kalimat tersebut kepada seluruh siswa. Pandangannya menyapu para siswa satu persatu.
"Selamat datang dikelas pengenalan, kelas ini adalah kelas acak yang akan kalian tempati selama 3 hari kedepan". Jelas sang guide Kepada para siswa. Ia diam sejenak, memperhatikan apakah para siswa mendengarkan dengan baik atau tidak. Lalu ia kembali melanjutkan,
"Dalam 2 hari setelah hari ini, kalian akan mengikuti tes seleksi kelas. Hasil tes akan sangat memengaruhi penempatan kelas kalian. Jadi ikuti dengan baik setiap tes yang diberikan pada kalian". Penjelasan guide kali ini terdengar lebih serius. Namun, konsentrasinya terpecah karena benda yang menempel ditangannya terus berkedip.
"Baiklah, sepertinya tugasku disini harus menunggu. Ada rekan yang membutuhkan bantuanku. Pengajar kalian akan segera tiba dikelas ini. Kuharap tidak ada yang keluar kelas sebelum waktu istirahat". Jelasnya buru-buru, lalu berlari kecil meninggalkan kelas.
"Urusan kita belum selesai!" gebrak seorang remaja wanita pada meja disamping El. Menyita perhatian siswa yang lain.
Gadis dibalik meja itu tersenyum licik. Lalu berkata, "Aku tidak ingin bertengkar denganmu adik kecil".
Gadis kecil yang memulai keributanpun tidak terima dengan panggilan rivalnya itu terhadapnya.
"Cih. Bajumu begitu lusuh, tidak pantas sombong. Orang tuamu pasti sangat miskin". Gadis berambut pirang itu melontarkan ejekan yang tidak dapat ia tanggung konsekuensinya.
Seketika hawa disekitar memanas. El merasa tidak ingin memcampuri urusan kedua gadis yang ada didekatnya, namun situasi menjadi benar-benar tidak terduga.
"Hina aku, jangan orang tuaku! " Bentak gadis bermata gelap pada lawan bicaranya.
Gadis dibalik meja yang semula duduk tenang dikursinya kini menggertakkan giginya. Mengepalkan kedua tangannya. Sorot matanya berubah garang. Seketika gadis berambut hitam itu bertransformasi menjadi serigala. Meja didepannya terhempas. Semua murid berteriak, berusaha menjauh.
Tanpa persiapan apapun, gadis berambut pirang terjatuh karna dorongan sang gadis serigala. Ia ketakutan.
El sangat syok. Belum pernah menghadapi situasi seperti ini. Tangannya dingin. Namun ia memberanikan diri. Lantas ia berusaha bertindak.
"Kak tolong panggilkan guide diluar. Cepat kak". El meminta pertolongan pada anak laki-laki yang terlihat lebih dewasa dari dirinya. Lalu ia mendekati gadis serigala.
"Kak tolong berhenti, kakak itu bisa terluka, transformasi tidak boleh didalam kelas kak!" Teriak El.
Sementara siswa yang lain hanya menonton, salah seorang dari mereka maju, berusaha membantu gadis berambut pirang berdiri. Dengan keraguan ia menghalangi tubuh gadis berambut pirang dengan tubuhnya. Ia menatap serigala hitam didepannya dengan tenang. Serigala itu mengerang. Namun tidak mendekat.
__ADS_1
Tanpa diketahui, gadis berambut pirang memungut potongan kayu dari meja yang terpental didepannya. Lantas ia menyerobot tubuh anak laki-laki yang berusaha melindunginya. Lalu melompat ke arah serigala didepannya. Melewatinya, dengan cepat memegangi tubuh serigala dibagian punggung. Berusaha menusukkan potongan kayu itu pada mata serigala hitam yang sedang mengamuk itu dari belakang. Keduanya bergulat tanpa memikirkan keberadaan siswa lain.
Tubuh gadis berambut pirang telah terluka, dan kini akhirnya ia berhasil menusukkan potongan kayu pada mata kanan srigala hitam sekali. Sang serigala mengeram kesakitan. Tubuhnya menggeliat keras, membuat gadis berambut merah terlempar keras. Seisi kelas kembali berteriak. Beberapa siswa berusaha melerai, tapi tak mampu.
El panik, tidak tau apa yang harus dia lakukan. Namun ia merasa terdesak. Ia memejamkan mata, berlari ketengah-tengah kedua gadis itu. Direntangkan kedua tangannya.
Seketika dua blok pelindung membentang di tengah kelas. Memisahkan keberadaan kedua kubu dikelas itu. Keduanya terlempar ke sisi yang berbeda. El membuka matanya. Lalu menyerukan dengan keras,
"Jangan saling melukai didepan El!"
Seluruh kelas hening. Gadis berambut pirang bangkit, ia tak cukup puas hanya melihat serigala kesakitan seperti itu. Serigala hitam menatap tajam pada musuhnya, lalu ia hendak melompat menyambut gadis berambut pirang yang mendekatinya. Namun, keduanya terbentur blok penghalang. Tak ada yang bisa melewati dinding transparan kebiruan itu.
"Cih.."
"Kau cuber harusnya kau lindungi saja dirimu sendiri. Ku dengar kaummu hampir punah". Seru gadis berambut pirang dingin, lalu tertawa renyah. Beberapa murid lain kelihatan kebingungan, terlebih lagi El. Hatinya bertanya-tanya. Namun itu tidaklah penting baginya sekarang.
Dari sudut mata El, ia menangkap kehadiran dua orang dewasa dan seorang siswa yang muncul dari pintu kelas. Ia lantas melenyapkan blok pelindung yang ia tahan sedari tadi.
"Apa yang kalian perbuat?! " Teriakan pengajar kelas menggelegar sampai ke tiap sudut ruangan. Gadis serigala berubah menjadi manusia kembali seketika. Gadis berambut pirang menjatuhkan potongan kayu ditangannya, lantas menundukkan kepalanya.
Mengetahui siapa pembuat onar dikelasnya, sang pengajar berkata ketus, "Kalian berdua, ikuti nyonya Clara ke ruang konseling!". Keduanya lantas mengikuti perintah itu dengan pasrah. Gadis berambut hitam memegangi sebelah matanya yang terluka sambil mengekor dibelakang.
Sang pengajar berkaca mata lantas menghampiri El. Wajahnya terlihat khawatir. Ia lantas duduk berlutut, mengimbangi tinggi badan El. Diusap-usapnya bahu El.
"Kau tidak apa-apa? " Tanya pria berambut hitam legam itu.
" El baik-baik saja pak".
Jawab El kebingungan.
"Siapa namamu nak? "
Tanya pria itu sekali lagi.
"El pak, nama saya El. El Lilou."
Jawab el sedikit terbata-bata.
Pria itu menatap El dalam-dalam. Menelanjangi mata biru milik El. Lantas berkata,
"Terimakasih El Lilou". Lalu iapun tersenyum.
...- \= (^-^) \= -...
Gimana readers? Apa kalian suka dengan chapter ini?
Boleh banget di VOTE kalau kalian suka ^-^..
See you di next chapter ya readers. Babay..
__ADS_1