Lima Pahlawan

Lima Pahlawan
1. Malam Berdarah


__ADS_3

Kala itu aku duduk sambil termenung menyaksikan bintang disalah satu kamar ku diistana kerajaan api, seperti biasa aku senang melihat bintang-bintang, seakan mereka melambai dan menyapa ku dari atas sana.


Nama ku Piter, putra mahkota dari kerajaan api, mengingat usia ku yang sekarang baru empat belas tahun aku tidak sabar menantikan saat usia ku mencapai tujuh belas tahun, karena saat itu ayah ku akan melatih ku secara langsung.


Aku selalu berhayal ketika aku akan menikmati semua kedamaian ini, tanpa aku sadari waktu telah menunjukan pukul sepuluh malam saatnya aku tidur.


Setelah aku berbaring, malam itu ntah mengapa aku merasa gelisah, seperti ada sesuatu didalam kegelapan yang merambat memasuki daerah sekitar istana.


Aku mencoba acuhkan semuanya, namun aku tetap tidak bisa menenangkan pikiran ku dan perlahan rasa takut ku muncul, aku merinding dengan keadaan itu.


Tok.tok.tok


Seseorang mengetuk pintu kamar ku, dengan panik, aku langsung bergegas membuka pintu kamar tersebut dan saat aku membukanya aku sedikit kaget ternyata itu adalah ibu.


"Piter segera ganti baju mu ayah memerintahkan semua keluarga bangsawan untuk berkumpul, sepertinya ada keadaan darurat!" dengan wajah sedikit pucat ibu berkata kepada ku.


"Baik bu, aku akan segera menganti baju ku", aku tidak perlu bertanya lebih jauh, dengan segera aku menganti pakaian ku, setelah itu aku dan ibu serta adik ku dengan cepat menuju ruangan singgasana,


Fikiran ku tak henti-hentinya berfikir keadaan darurat apa yang sebenarnya terjadi, apakan ada serangan dari kerajaan lain, atau ada sesuatu yang tertangkap menyelinap ke istana, mengingat tadi aku merasakan ada sesuatu yang menbuatku takut, rasa takut ku kembali saat aku mengingat itu. Namun dengan cepat aku meyakinkan diri ku untuk tetap tenang dan tidak merasa takut.


Saat aku, ibu dan adik ku sampai di ruangan singasana kami langsung duduk disamping raja begitu juga dengan bangsawan lain mereka langsung mengambil posisi masing-masing, saat raja mengangkat tangannya seketika itu ruang singasana hening.


"Saya merasa gelisah malam ini saat saya mencoba menenangkan diri saya, ketika saya melihat keluar jendela kamar saya tiba-tiba saya melihat suatu pergerakan mencurigakan, setelah saya amati lebih teliti ternyata itu adalah rombongan skeleton" raja menjelaskan alasan dia mengumpulkan semuanya.


Seorang bangsawan mengangkat tangan dan berbicara "Izinkan saya bertanya sedikit kepada baginda, apa yang membuat baginda panik melihat skeleton tersebut?"


"Mereka seperti bergerak mengikuti arahan seseorang dan perasaan saya tidak bisa tenang"


"Izinkan saya melapor baginda penjaga kita digerbang timur telah disergap skeleton dan ntah mengapa gerbang itu tiba-tiba terbuka sendiri"kata seorang prajurit penjaga gerbang yang lari terburu-buru.


Semua orang terkejut mendengar laporan nya, saat itu raja berkata "tenangkan diri kita dulu, berilaporan kepada seluruh prajutir untuk mengambil sikap tempur istana sedang diserang."


Saat mendengar itu duke Perdi berdiri dan segera berlari untuk mengumpulkan semua bawahannya, sesaat kemudia hirupikuk terjadi diruangan singasana


Namun itu tidak berlangsung lama karena raja dengan sigap mulai menenangkan suasana singasana, agar kepanikan tidak terjadi.


Saat suasana mulai kondusif tiba-tiba raja terhuyung dari singasananya karena saat itu tanpa sadar dia telah ditikam dari belakang oleh seorang yang tidak pernah disadari keberadaannya.


"Siapa kau,?" semua bertanya sambil kaget.


"Xixixixi, selamat malam rekan-rekan siap berpesta malam ini?" dia menjawab sambil melompat menikam adik ku, pisaunya menancap merobek tengorokan adik ku.


"Larilah baginda ratu bawa Piter jauh dari sini, saya mengenalnya dia adalah putra mahkota dari kerajaan kegelapan" seorang bagsawan berteriak dengan panik.


Ibu berusaha melarikan diri namun tanpa disadari salah seorang diruangan itu menikam perut ibu ku, dia adalah adik ayah ku Moris, belum sempat aku merasakan kesedihan yang mendalam Moris lari dan mengayunkan pedang ke arah ku.


Triiinnggg.


terdengar suara pedang yang beradu rupanya duke Perdi yang telah kembali melindungi ku "lari Piter", tanpa ragu aku pun berlari.


"aku merasa aku perlu mengejarnya Perdi, Piter adalah salah satu dari pangeran yang berperan penting seperti ramalan dewa, aku harus mengakhiri hidupnya sebelum usianya 15 tahun" kata Moris dengan senyum angkuh diwajahnya.


"Jangan mimpi Moris kau harus melangkahi mayat ku dulu sebelum kau menyentuh pangeran Piter" Perdi menjawab perkataan Moris


"Seakan-akan kau bisa mengalahkan ku Perdi, kau hanya antek-antek istana pesuruh raja, kau tidak lebih dari bawahan dimata ku".


Saat itu mereka langsung saling menerjang dan beradu pedang, aku masih terus berlari. Kemana aku akan pergi?, aku tidak tau kemana aku akan pergi, perasaan ku campur aduk saat ini aku bingung aku tidak tau kemana harus menetapkan emosi ku, melihat ayah ibu adik ku ditikam dan menyaksikan panam ku berhianat.


Saat aku hendak keluar dari istana ku, aku telah dihadang oleh segerombolan skeleton dan aku merasa waktunya aku berjumpa keluarga ku.


Bruk... sepertinya seseorang memukul ku dari belakang dan aku merasakan pandangan ku gelap saat itu.


Saat aku buka mata ku tanpa sadar aku sudah berada di ruangan rahasia istana yang mana pada ruangan ini terdapat sebuah pintu besar.


Aku mencoba memandang sekitar, kemudian mata ku tertuju kepada seorang yang tengah duduk disana, "kakek kenapa bisa kakek berada disini?" tanya ku.


"Aku yang tadi membuat mu pingsan piter dan membawa mu kemari"


"Kenapa kakek membuat ku pingsan?"


"Aku bertujuan agar kau tidak banyak tanya dan tidak susah membawa mu dalam keadaan pingsan" jelas kakek ku dengan nada ketus.


Kemudia dia melanjutkan penjelasannya "Aku sengaja membawa mu kesini karena mau tidak mau kamu harus mengetahui beberapa fakta"


"Fakta, tentang apa itu kek?"


"Pertama kamu harus siap menerima kenyataan kalau keluarga mu telah lengser dari tahta dan mereka telah tiada didunia ini."


Sebenarnya aku sudah tau bahwa mereka telah tiada karena aku menyaksikan sendiri dengan tragis keluarga ku telah dibantai diruang singgasana.


"Fakta kedua piter, kamu harus berusaha membalaskan dendam mu kepada paman mu, agar kamu bisa mengambil kembali tahta yang telah direbut saat ini."

__ADS_1


"Dan fakta terakhir kamu adalah salah satu anak yang diramalkan oleh dewa untuk mengakhiri semua pertikaian didunia ini"


Aku terkejut mendengar fakta yang terakhir, bahwa aku adalah anak yang diramalkan akan mengakhiri pertikaian didunia.


Aku memang sering mendengar ibu ku menceritakan sebuah legenda kepada ku yang mana legenda itu secara garis besar bercerita tentang saat dewa menciptakan dunia mereka menciptakan manusia didalamnya, dari manusia yang banyak jumlahnya ada beberapa manusia yang sengaja dipilih dan diberi kekuatan khusus dan senjata khusus oleh dewa, mereka berlima bertugas menjaga kesimbangan dunia.


"Kakek kau pasti bercanda"kata ku kepada nya


"Tidak piter aku tidak bercanda, buat apa aku bercanda dalam keadaan ini, saat ini asal kau tau Piter keadaan diluar sudah tidak kondusif sebagian bawahan ayah mu telah gugur, sebagian ada yang berkhianat dan memilih pihak musuh, kita hanya menunggu waktu sampai Zeon menemukan kita"


"Zeon, siapa dia?"


"Dia adalah raja baru kerajaan kegelapan, dia lah orang yang telah menikam ayah mu".


Untuk sekarang aku mencoba memahami sitausi dan sedikit heran mengingat kakek yang begitu banyak tau informasi, namun tidak bisa kupungkiri aku merasa frustasi dengan semua yang terjadi


Brrruukkkk....


Tiba-tiba sekelompok skeleton muncul mendobrak pintu ruangan rahasia ini.


Kakek ku langsung berdiri dan mengambil posisi siaga, "Piter buka pintu yang ada dibelakang mu dengan kekuatan api mu"


"Bagai mana bisa aku membuka pintu tersebut?"


"Cepat lakukan, fokuskan saja semua kekuatan mu pada telapak tangan mu"


Lalu aku menuruti perintah kakek ku


Aku mendekati pintu tersebut, namun masalah baru pun muncul kali ini, ada begitu banyak skeleton yang tiba-tiba sudah berada dibelakangku, aku pun kaget melihat mereka bisa berjalan dibalik bayang-bayang.


Saat skeleton itu muncul dan hendak menyerang ku namun saat itu juga mereka menjadi debu hitam dan aroma terbakar keluar dari tubuh mereka yang telat dilahap oleh api.


"Tetap fokus" kata kakek ku, sambil dia terus melindungi ku.


Aku letakan tanggan ku kedepan pintu tersebut saat aku memusatkan kekuatan ku padanya


Buuuuuzzzzzz....


Pintu itu terbuka perlahan-lahan.


Saat pintu itu terbuka semuanya aku bingung melikat seluruh ruangan itu seperti gunung merapi, panas dan tidak ada tempat berpijak karena larva memenuhi ruangan tersebut, hanya bagian tengah yang terdapat daratan dan disana ada sebuah pedang tertancap.


"Masuk dan ambil pedang itu Piter" pekik kakek kepada ku.


Tidak mungkin aku masuk kedalam sini apa kakek benar inggin membunuh ku, aku hanya diam menatap kedepan tanpa berkata dan berani melangkah.


"Piter ambil lah pedang itu, hanya itu yang bisa mengimbangi kekuatan Zeon saat ini"


"Mengimbangi apa mantan raja, Le" Suara Zeon mengetarkan diri ku, membangkitkan rasa takut ku.


Dengan cepat dia membangkitkan ribuan skeleton di sekitar kakek ku, seketika ruangan itu dipenuhi tengkorak hidup.


"Masuk dan tarik pedang itu Piter"


"Tapi kakek apa mungkin aku tidak menghiraukan kondisi mu, saat ini aku inggin bertarung bersama mu"


"Piter apa kamu kira aku lemah?, ambil senjata mu dan saat itu serang Zeon untuk ku"


Aku melangkahkan kaki ku untuk memasuki ruangan tersebut aku binggung apa mungkin aku bisa menginjak larva ini, mana mungkin ada manusia yang bertahan dengan panas yang mencapai seribu derajat celcius.


Saat aku akan memasukinya pungung ku terasa sejuk seperti terkena air, ketika aku menoleh kebelakang rupanya kakek ku tertusuk oleh pedang Zeon.


Apa yang terjadi, aku kaget dan terdiam menysksikan itu.


"Cepatlah piter kakek tidak bisa menahan pedang ini lebih lama"


"Hay orang sekarat jangan coba-coba melindunginya, karena aku Zeon sang raja kegelapan akan membunuhnya, akan aku musnahkan pahlawan dari dunia ini dan aku akan membuat dunia berada dalam kegelapan abadi".


Zeon mencabut pedangnya tanpa perlawanan, aku sadar kakek ku pun telah tiada saat ini, ketika bayangan menjalar dilantai aku tau itu Zeon yang bergerak dari bayangan dan gerombolan skeleton menerjang ke arah ku.


Tanpa berfikir panjang aku langsung masuk keruangan yang berisi larva tersebut, 'lebih baik aku mati terbekar dari pada aku harus mati terbunuh oleh mu'


Namun anehnya aku tidak merasakan apapun bahkan rasanya kekuatan ku terasa bangkit perlahan-lahan, larva ini tidak membakar ku dan menyakiti ku sama sekali, 'andai aku lebih cepat kakek ku mungkin bisa selamat', gumam ku dalam hati.


Saat aku lihat sekelompok sekeleton mencoba melangkahkan kaki mereka saat itu juga mereka terbakar hebat.


Sial... pekik Zeon dengan keras.


Aku melangkah terus untuk mengambil pedang yang ada ditengah-tengah ruangan tersebut ketika aku menyentuhnya dan saat itu aku melihat wajah Zeon pucat.


Dia mulai menciptakan skeleton berukuran besar, ada lusinan sekeleton berukuran besar yang telah diciptakannya.

__ADS_1


"Nah Piter, tunjukan pada ku kekuatan dari pedang dewa mu"


Aku hanya mematung di tengah ruangan tersebut aku sadar disini lah tempat teraman ku karena tidak satu pun yang bisa masuk selain aku


Namun Zeon menyadari niat ku lalu dia menunjuk mayat kakek ku dan saat itu beberapa skeleton bergerak seakan ingin memakan daging kakek ku.


Amarah ku meledak seketika menyaksikan itu, belum sempat mereka mendekat aku mengayunkan pedang ku. Zeeeeettt sabetan pedang ku langsung melayang bagaikan kobaran api yang langsung menyambar skeleton yang mendekati kakek ku.


Aku berlari kesetanan menerjang ke ribuan skeleton tersebut dan mengayunkan pedang ku secara membabi buta, terlalu banyak perasaan negatif yang ku punya, sedih, kesal, amarah, dendam dan kaget, semua perasaan itu telah mengambil alih tubuh ku.


Aku terus menjatuhkan skeleton tanpa aku sadar kekuatan ku sudah terkuras banyak, dengan kekuatan yang tersisa aku menacapkan pedang ku ketanah, saat itu tanah mulai merekah menegeluarkan larva panas seakan pedang itu telah memangil larva panas untuk keluar.


Bruuuukkkk....


Ribuan skeleton musnah seketika, akibat semburan larva panas yang keluar, sungguh kekuatan yang menegrikan.


Namun beberapa saat kemuadia aku hampir kehilangan kesadaran ku hanya ada aku dan Zeon di ruangan itu, sial dia berhasil selamat kutuk ku dalam hati


"Apa semua belum selesai pangeran Zeon?"


Aku mengenal suara itu, itu suara paman Moris, orang yang telah menikam ibu ku.


"Apa aku boleh bergabung sekarang?, urusan ku dengan bangsawan payah itu telah selesai"


"Baiklah Moris, walau ini tidak adil tapi anak ini cukup merepotkan ku, dan dia bisa menekan ku sejauh ini"


Berakhir sudah, dengan susah payah aku mencoba berdiri, betapa sialnya aku menghadapi semua ini.


Moris menarik panahnya dan mulai mengarahkan kepada ku, aku berhasil menangkis anak panahnya sebelum mengenai ku.


Moris tersenyum, lalu dia mengambil tiga anak panah, yang mana anak panah itu terbalut dengan api, kemudian dia menembakan anak panah itu kearah ku secara serentaka, aku tidak bisa menangkis semuanya ada satu anak panah yang gagal aku tangkis.


Jleb...


Aku merasa sakit yang begitu luar biasa di bagian lengan kiri ku yang tertancap panah Moris, itu seakan membakar kulit ku, aku berusaha mencabut panah tersebut namun sialnya tanpa aku sadar saat itu sebuah pedang berbentuk tulang muncul dari bayangan kaki ku.


"Hay kak Zeon"


Aku terperanga menyaksikan apa yang terjadi dia menghentikan serangan Zeon yang hanya berapa senti lagi menyentuh ku


"Sial, Nico"


Pemuda yang usianya lebih tua dari ku tersebut tersenyum saat namanya dipanggil.


"Jadi teman, butuh bantuan?"


Aku angukkan kepala ku, saat itu Nico menatap Zeon dan Moris dengan tatapan dinggin aku pun merasa takut melihatnya, suasana diruangan itu berubah lebih menekan dan mencekam seakan-akan kegelapan sedang bergerak mendekati kami.


Aku menatap dua orang tersebut saat aku tahu rupanya mereka juga pucat, 'begitu hebat kekuatan pemuda ini', batin ku berkata.


Bagai mana tidak, hanya aura yang dilepasnya namun suasana di ruangan ini sudah seperti mengahadapi dewa kematian itu sendiri, seakan-akan semua kegelapan dan kematian tersebut menari-nari disekitar kami bertiga, menunggu kapan Nico memberi perintah untuk mencabut nyawa kami, tidak ada yang tidak takut dengan keadaan saat ini.


Hanya Zeon yang mencoba melawan karena di mulai memangil beberapa skeleton namun usahanya sia-sia, semua skeleton yang dipangilnya langsung jatuh dan hancur karena kehilangan nyawa.


"Sudah lah kak usaha mu tetap akan sia-sia, kau tidak akan pernah menang melawan ku"


"Sial kau Nico mengapa kau menganggu ku?"


"Kakak maafkan aku, namun dunia ini tidak bisa jatuh kedalam kegelapan seutuhnya, aku dipihak anak ini sekarang, karena secara tidak langsung aku dan dia terhubung"


Aku tidak mengerti mendengar ucapan Nico, namun aku mulai berfikir maksud dari perkataan Nico tersebut, akhirnya aku mengerti, mengerti bahwa Nico adalah anak yang ditakdirkan dari kerajaan kegelapan dia sama seperti ku, aku tidak heran kalau aura Nico bisa semenakutkan ini.


Sesaat kemuadia Nico mencabut pedang tengkorak dari pingang nya berbeda dengan pedang Zeon, pedang Nico sangat gelap seakan termakan usia, ruangan tersebut semakin mencekam.


"Oke Nico aku akan pulang untuk duduk disingasana ku dan kamu Nico bukan lagi penghuni kerajaan ku karena penghianatan yang telah kau lakukan ini suatu saat kau akan membayarnya" Zeon berkata dengan suara lantang dan terdengar sedikit marah.


Nico hanya membalas dengan tersenyum


"Pangeran Zeon, bukankah kita berencana untuk membunuh Piter saat ini." Moris melirik Zeon.


Namun tanpa berkata Zeon menjetikan jarinya lalu menghilang dibalik bayang-bayang.


Saat itu juga Nico menarik ku dan berkata "Ayo pergi Piter," aku dan Nico masuk kedalam bayangan.


Berakhir sudah semuanya malam ini, kakek, ayah, ibu, dan adik ku telah dibunuh secara tragis malam ini dan aku secara tidak langsung menyaksikan pelakunya, yang tidak lain adalah paman ku sendiri.


Dengan kesedihan mendalam tanpa sadar air mata ku jatuh, aku hanya bisa mengenang kenangan indah dan sedikit kebingungan.


"Akan kemana kita?" aku bertanya kepada Nico dengan nada gemetar.


"Kau akan tau pada waktunya, saat ini tenang lah Piter, aku turut bersimpati pada mu atas apa yang telah terjadi"

__ADS_1


Aku tidak menjawab dan hanya mengangukan kepala ku.


__ADS_2