Lima Pahlawan

Lima Pahlawan
5. Pesta Ulang Tahun


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu sejak aku menyelsaikan latihan ku. Hari ini aku sadar sesuatu bahwa hari ini kelahiran ku, umur ku sudah mencapai lima belas tahun aku akan bangkit sepenuhnya, betapa senangnya aku hari ini


Namun kesenangan itu tidak berlangsung lama, tiba-tiba aku mengingat wajah kedua orang tua ku, bagaimana pun aku masih merindukan mereka, aku masih berharap dihari kebangkitan ku ini dirayakan bersama mereka.


Aku pejamkan mata ku, aku mendoakan kedua orang tua, dan adik, serta kakek ku. Aku berharap mereka disisi dewa dengan bahagia, setelah selesai mendoakan mereka aku menyeka air mata ku, lalu membaringkan tubuh ku kembali.


Hari ini aku tidak akan keluar dari kamar ku kecuali hanya untuk hal-hal penting, niat ku sudah bulat untuk mengurung diri didalam kamar ini.


Memang ada beberapa hal yang membuat ku malas untuk keluar, yang pertama aku masih sedih aku inggin hari ini aku habiskan untuk mengenang orang tua ku, kedua karena tidak akan ada pesta apapun dihari ini, dan alasan terakhir aku inggin beristirahat karena besok pagi-pagi kami sudah mulai melakukan rencana kedua yaitu memulau pertualangan kami untuk mengumpulkan dua pahlawan lainnya.


Aku baringkan tubuh ku dan memutarnya kearah kanan dan kiri, rasanya cukup malas aku untuk mengerjakan apapun hari ini.


Ketika hari sudah mulai siang tiba-tiba dari balik bayangan Nico muncul.


"Piter, bisa kau temani aku keluar sebentar?"


"Baik lah Nico"


Aku pun melangkah dengan sedikit malas untuk mempersiapkan diri ku, setelah aku selesai bersiap-siap kami pun keluar dari kamar dan melangkah untuk keluar istana.


"Selamat ulang tahun Piter", ketika itu aku terkejut mendengar suara Baginda Raja yang mengatakannya diikuti oleh suara beberapa rakyat kerajaan tanah.


Mereka semua bersorak untuk ku, Andre mulai menari dan membawakan sebuah lagu, begitu pun masyarakat yang lain mulai mengikutinya. Bahagia hanya itu yang aku rasakan saat ini, tanpa sadar aku peluk Nico yang ada disebelah ku.


Pesta itu terus berlangsung sampai hingga sore hari.

__ADS_1


Saat pesta ulang tahun ku selesai raja mengajak kami bertiga untuk mengikutinya kedalam istana, dia berkata sebelum besok kami pergi dia akan memberi sesuatu kepada kami.


Raja membawa kami kesebuah ruangan rahasia yang berada dibawah istananya, disana raja menunjukan sebuah tugu yang berbentuk persegi lima disana terukir lambang dan tulisan dari lima kerajaan.


Tugu itu sangat indah kupandangi karena perpaduan lima warna yang melambangkan lima kerajaan, merah untuk warna kerajaan api, hitam untuk kerajaan kegelapan, coklat untuk kerajaan tanah, hijau untuk warna kerajaan anggin, dan biru untuk kerajaan air.


"Saat ini kita sedang berada diruangan yang dulu digunakan para dewa untuk menjaga keamanan manusia, tugu itu adalah simbol perdamaian dari lima kerajaan" raja menjelaskan.


"Tugu itu dijaga langsung oleh dewa dia menciptakan lima ekor binatang yang melambangkan kerajaan masing-masing. tentu kalian sudah tau binatang itu karena ada pada lambang bendera setiap kerajaan", Andre menjelaskan.


"Sekarang waktunya piter, kita akan berbicara dengan binatang tersebut untuk meminta berkat dari binatang dewa tersebut".


Kami pun berjalan mendekati tugu itu secara bergantian, Andre memulai nya duluan karena Andre adalah orang yang paling tua diantara kami saat ini Andre sudah berumur dua puluh satu tahun.


Ketika Andre sampai didekat tugu tersebut dia meletakan perisainya dekat tugu tersebut pada bagian tugu yang berwarna coklat, beberapa saat kemudian seekor banteng yang sangat besar muncul didepan Andre, Andre pun bersimpuh


"Dewa juga memberi pesan kepada ku, sebagai pahlawan yang paling tua dan mengemban elemen tanah, kamu harus terus mengunakan kekuatan mu untuk melindungi semua mahluk hidup yang lemah".


Setelah itu hewan itu menghilang Andre pun berjalan menjauh meninggalkan tugu tersebut.


Sekarang giliran Nico yang mendekati tugu tersebut, Nico melakukan hal yang sama dia meletakan pedangnya yang menyeramkan tersebut kesalah satu bagian tugu yang bewarna hitam.


Setelah itu seekor naga bewarna hitam dengan sayap yang sangat menyeramkan keluar dari tugu tersebut


"Nico..." suara naga itu membuat ku takut dan gemetar.

__ADS_1


"Kau akan mendapat kekuatan yang bisa menyesatkan, keuatan itu bisa kau gunakan untuk membuat pihak lawan untuk berhianat mengikuti mu hanya dari kata-kata mu".


"Dewa menitipkan sebuah pesan kepada ku, kau ditugaskan untuk mencegah Zeon dan Moris mengunakan mahluk dunia bawah, karena itu akan mengakibatkan kebangkitan jutaan bahkan milyaran mahluk dunia bawah, jika itu terjadi maka kepanikan akan tidak terkendalikan."


Setelah mengatakan itu semua, naga itu menghilang, Nico pun meningalkan tugu itu dan aku pun maju mendekati tugu tersebut, setelah itu aku pun melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Andre dan Nico


Tidak lama setelah itu sebuah cahaya berwarna merah terang muncul, perlahan-lahan cahaya itu mulai membentuk sesuatau namun bukan binatang yang terbentuk melaikan sosok lain.


Semua yang ada diruangan tersebut termasuk diri ku langsung bersujut ketika cahaya itu membentuk sepenuhnya sosok Dewa Amun-Ra yang tidak lain adalah Dewa tertinggi. Dewa itu mengendarai seekor burung Phoenix.


"Piter selamat atas ulang tahun mu, saat ini kau akan bangkit seutuhnya", setelah mengatakan hal tersebut Dewa Amun-Ra memberiku sebuah api bewarna putih.


"Jaga api tersebut", setelah dia ngatakan itu sebuah cahaya merah terang bersinar kembali dan beberapa detik kemuadia Dewa tersebut telah pergi.


Aku panik saat aku lihat api pemberian dewa tersebut menghilang dari tanggan ku, seketika wajah ku pucat, namun saat aku melihat pedang ku, aku merasa ada sebuah hal yang aneh pada pedang ku.


Sebuah cahaya putih terlihat samar-samar dari balik bilah pedang bewarna merah, aku dekati pedang ku dan mengambilnya.


Betapa terkejutnya aku saat aku sadar bahwa pedang ku sudah menjadi dua, pedang itu tidak patah dia membelah diri dengan sempurna, jika dulu pedang ku sedikit tebal dan berat maka saat ini dia sudah lebih pipih dan ringan tentunya.


Rupanya pedang ku adalah pedang kembar yang mana satu bagian bewarna merah pekat seperti magma yang bergejolak, dan bilah yang lainya bewarna putih kemerahan.


Aku akhrinya juga sadar bahwa api putih pemberian Dewa Amun-Ra secara tidak langsung telah bergabung dengan pedangku dan api putih tersebut telah memicu perubahan pada pedangku membuatnya menjadi pedang kembar, aku tidak menyimpulkan ini hal secara sembarangan namun setelah aku berfikir kemana lagi lerginya api putih tersebut saat ini juga aku merasa seperti menyentuh pemberian Dewa Amun-Ra, saat aku memegang pedang ku.


Kami pun beranjak meningalkan tempat tersebut, lalu raja membawa kami keruangan singgasana nya, disana dia memberikan doa keselamatan dan perlindungan kepada kami dan dia juga memberi kan kami sebuah kotak kecil untuk perjalanan kami.

__ADS_1


Akhirnya setelah menerima pemberian Dewa dan menerima pemberian Raja kami bertiga memutuskan istirahat dan pada malam itu Nico juga tidur bersama kami.


Petualangan baru kami akan dimulai besok pagi. Kami akan meninggalkan kerajaan ini dan bergegas menuju kerajaan lainnya agar dua pahlawan lainnya bisa kami temukan sebelum waktunya dan tentu bersama-sama kami akan menghentikan kekacauan didunia yang saat ini sedang terjadi.


__ADS_2