
Pagi itu aku masih dalam keadaan tertidur saat sebuah suara yang mengelegar membangunkan ku dan membuat ku kaget, "Bangun sudah pagi" pekik Andre.
Bukan main kagetnya aku, dengan segera aku membasuh muka ku, Andre berdiri didepan pintu kamar ku seraya berkata "Piter aku beri kau waktu lima menit untuk bersiap-siap, aku dan Nico akan menunggu mu diruangan latihan dia berbicara seraya dia pergi meninggalkan ku".
Belum sempat aku membalasnya Andre telah menghilang, aku bergegas menganti pakaian dan mengambil pedang ku tanpa sadar aku sudah menghabiskan waktu tiga menit.
Aku berlari keluar namun betapa sialnya aku, saat aku telah berada diluar istana tidak ada seorangpun, tidak ada Andre ataupun Nico yang menunggu ku disana, "sial, apa mereka menguji ku?"
Aku berlari mencari dimana ruangan latihan itu namun tidak dapat aku jumpai, aku merasa aku sudah berputar-putar seperti orang bodoh, tiga puluh menit sudah waktu yang aku habiskan untuk mencari ruangan latihan.
Aku telah bertanya kepada prajurit namun mereka tidak tau, saat aku berfikir Andre dan Nico hanya mengerjai ku saat itu para prajurit menyuruh ku untuk terus mencari,
"Sial, apa ini termasuk kedalam latihan ku", gumam ku dalam hati karena aku sendiri sudah mulai kesal.
Akhirnya aku berusaha untuk tenang aku tarik nafas dalam-dalam, aku coba memfokuskan fikiran ku dan berkonsentrasi penuh.
Tanpa sadar aku dapat merasakan kehangatan jiwa mahluk hidup, jiwa itu seperti cahaya yang hangat, saat itu juga aku dapat melihat dua jiwa yang lebih terang dan lebih besar dari jiwa lain nya "itu pasti mereka", segera aku menuju ke lokasi mereka.
Langkah kaki ku berhenti disebuah pintu yang mana pintu itu terbuat dari batu, pintu itu cukup tinggi dan juga lebar, aku memperkirakan pintu itu cukup tebal.
Aku yakin ruangan latihan ini sama persis seperti rumah-rumah penduduk kerajaan tanah ini, berada didalam sebuah gunung yang dilubangi sehingga tercipta ruangan seperti gua.
Awalnya aku mencoba membuka pintu itu dengan normal tapi kekuatan fisik ku belum cukup kuat untuk mengerakan batu itu, aku berusaha dan gagal aku tau mereka didalam aku merasakan jiwa mereka yang begitu terang aku berani taruhan itu mereka.
Sesaat kemudia aku berfikir, 'jika Nico bisa masuk karena dia bisa menembus apa saja seperti hantu melalui perjalanan bayangannya, maka Andre bisa masuk karena akan sangat mustahil jika dia kalah oleh batu, tetapi aku?, tentu aku berbeda dengan mereka, apa yang bisa aku perbuat', aku berfikir dan bergumam dalam hatiku.
Akhirnya sebuah ide muncul dalam kepala ku, aku berencana menancapkan pedang ku disela-sela pintu tersebut, mengingat ketika berhadapan dengan Zeon saat aku menancapkan pedang ku secara tidak langsung letusan larva keluar dari dalam tanah.
Aku mengambil pedangku dan mengeluarkannya dari sarungnya saat aku mencabut aku melihat pedang itu sedikit lebih terkendali tidak lagi terbekar seperti saat aku pertama tiba disini.
Jleeebb....
Tanpa ragu aku tancapkan pedangku, secara tidak langsung aku menyaksikan cahaya merah berpijar mengikuti garis lurus celah pintu tersebut, saat garis merah itu mencapai puncak pintu saat itu juga aku menekan pedangku lebih dalam dan bilahnya mulai aku putar.
Bukannya patah atau bengkok pedang itu malah menciptakan banyak retakan dipintu itu dan semua retakan itu mengeluarkan cahaya merah yang berpijar, aku yakin cahaya itu pasti api.
Bruuukkkk.
Pintu itu hancur seketika, debu bertebaran dan percahan batu berhamburan, syukur pecahan itu tidak mengenaiku, sesaat kemudia saat suasana mulai tenang aku melihat Ande dan Nico yang tengah duduk santai menunggu ku.
"Segera masuk Piter kau terlambat lima puluh menit" Andre berkata dengan nada emosi.
Aku kesal melihat sikapnya, coba pikir bagaimana aku tidak terlambat, dia tidak memberitahu ku dimana ruangan latihan, tiga puluh menit aku seperti orang bodoh yang mondandar-mandir tidak jelas arah dan tujuan.
Tanpa menjawab perkataannya aku menyarungkan pedang ku kembali dan aku melangkah masuk kedalam ruangan tersebut.
Kini aku sudah benar-benar berada didalam ruangan tersebut tiba-tiba pintu yang tadi aku hancurkan mulai menyatukan diri lagi dengan sempurna, Itu pasti perbuatan Andre.
"Waktu mu menerima hukuman" dengan suara samar-samar Nico berkata.
BUUUKKK...
Perut ku mendapat pukulan telak, aku seakan mau pingsan menerima pukulan yang begitu kuat seperti ini. Ingin rasanya aku menangis tapi aku tidak akan lakukan itu, aku bukan lagi anak manja seperti saat diistana dulu.
"Sial kau Nico, ini sakit" aku berteriak karena emosi.
BUUKKK...
Kembali aku terhuyung, bekas luka ditangan kiri ku yang tertancap panah saat pertarungan ku dengan Moris kini dihantam oleh serpihan batu.
"Tenang Piter kami tidak akan membunuh mu, kau hanya perlu menangkis satu serangan kami, ini lah hukuman mu" Andre menjelaskan
__ADS_1
Dulu dikerajaan ku sebagai pewaris tahta yang sah. Ketika aku berusia sepuluh tahun aku sudah dilatih dasar-dasar bertarung, oleh Perdi.
Kemudia ayah akan melatih ku saat tujuh belas tahun, latihan dengan ayah tentunya untuk menajamkan ilmu yang telah aku terima dari Perdi.
Aku kesampingkan rasa perih yang ada pada tubuh ku dengan seksama aku perhatikan seluruh ruangan, aku pasang kuda-kuda bertahan ku.
Brakkkk....
Seperti melihat dunia berputar sembilan puluh derajat aku terhempas ketanah, 'sial, Nico bisa masuk kedalam bayangan', aku mengutuk kebodohan ku yang melupakan fakta itu.
Saat aku mencoba bangkit, dan berdiri lagi Plaaaak. Sebuah batu menghantam jidat ku, batu itu memang tidak besar hanya sebesar kacang namun kecepatan dari hantamannya ke kening ku membuat kening ku seakan berlubang, 'kali ini Andre yang menyerang'.
Aku sadar sekarang mereka pasti menyerang secara bergantian bagaimanapun ini bukan pertarungan ini hanya latihan, latihan ini pasti bertujuan supaya aku bisa bertahan dalam posisi sulit, aku berdiri dengan cepat aku pasang kuda-kuda ku.
"Kau bisa mengunakan pedang mu untuk saat ini" Teriak Andre kepada ku.
Aku cabut pedang ku dari sarung nya, seketika itu cahaya merah menyala keluar dari pedang ku, aku tarik nafas dalam-dalam baiklah Nico kali ini akan dari posisi mana kau menyerang ku, aku tidak lupa untuk terus memperhatikan sekitar ku, juga tidak lupa memperhatikan pergerakan bayangan, karena jika ada bayangan yabg bergerak maka itu adalah Nico.
Beberapa-berapa detik telah berlalu namun tidak ada pergerakan aneh, aku pejam mata ku, aku harus menyaksikan dimana jiwa Nico saat ini, dari bagian pungung ku aku melihat cahaya yang terang itu pasti jiwa Nico.
Dengan sigap aku melompat kedepan menjauhkan diri dari jangkauan serangnya dan secara perlahan aku mencoba mengayunkan pedang ku.
Syuuuut... Pedang ku mengeluarkan tebasan apinya seakan aku berhasil melukai Nico dan menebasnya, namun dengan cepat tubuh Nico yang hendak terkena serangan ku ditutupi oleh tulang.
Praakkk... Tulang itu retak dan Nico tersenyum lalu kembali keposisi dimana Andre berdiri, aku dengan sigap kembali memasang posisi siap tempur ku.
Andre menembakan satu peluru batunya, peluru itu tepat pengarah kebagian leher ku, namun aku berhasil menangkis peluru itu dengan pedang ku.
"Secara tidak langsung itu semua serangan kami, kau berhasil menangkisnya" ucap Andre kepada ku.
"Selamat Piter kau bisa membuat armor tengkorak ini retak", Nico bicara sambil tersenyum kepada ku.
"Hari ini kau akan latihan fisik Piter. Latihan fisik hari ini tidak sulit kau hanya perlu berlari mengitari ruangan ini" jelas Andre kepada ku.
Aku dari tadi tidak menyaksikan gua ini, setelah aku menyaksikan sekeliling akhirnya aku sadar kalau gua ini cukup lebar dan besar.
"Kau tidak boleh mengunakan pedang Piter, kau hanya perlu berlari tiga putaran dalam waktu empat puluh menit" Nico menjelaskan aturannya.
Akhirnya latihan itu dimulai aku mulai berlari memutari gua ini, pada putaran pertama aku santai saja aku bisa menyelesaikannya kurang dari lima belas menit.
Namun pada putaran kedua aku memakan waktu sedikit lebih lama karena pandanganku sesekali kabur, 'apa mungkin aku kelelahan', pikir ku.
Pada putaran ketiga aku terjatuh sekali karena tanah yang aku pijak tiba-tiba bergetar, 'mereka masih saja memberi rintangan pada aku', gumam ku dalam hati. Aku tidak mengeluh dan hanya bertekat menyelesaikan semua ini.
Akhirnya aku menyelesaikan semuanya dengan catatan waktu tepat empat puluh menit, aku selamat pikir ku.
Andre memutuskan untuk istirhat, melihat kondisi ku yang sudah sangat-sangat lelah dan waktu juga hampir tengah hari, Nico memutuskan untuk pergi sebentar dia akan berburu dihutan dan Andre menganguk setuju.
Tepat tengah hari Nico datang membawa seekor rusa yang telah dibersihkan dan beberapa potong kayu, dengan sigap Andre membuat tungku dan mereka memandang ku, sesaat aku langsung mengerti aku tersenyum kepada mereka.
Nico menyusun kayu yang dibawanya, saat semua telah tersusun aku menyalakan api dan kami membakar rusa tersebut, dengan canda dan tawa kami bercengkrama.
kehangatan senyuman mereka berdua masih sama seperti pertama aku mengenal mereka namun saat latihan mereka seperti orang yang berbeda, walau serangan mereka tidak membunuh ku namun sakit yang kurasakan tidak lah tipuan perih akibat pukulan mereka itu merupakan rasa sakit yang nyata.
Kami pun menyantap daging rusa itu saat sudah matang, setelah itu Andre berkata "waktunya aku mencari air", kali ini Nico yang tinggal bersama ku, tidak butuh waktu lama Andre kembali dengan sekantung air kami menegak air itu secara bergantian, lalu beristirahat sebentar dan melanjutkan latihan ku.
Tidak banyak latihan ku setelah istirahat siang, hanya metode penguat fisik, pengokoh kuda-kuda ku, ketika waktu hampir sore mereka berkata latihan dihari ini selesai dan kami sama-sama kembali ke istana untuk makan malam dan istirahat.
Keesokan harinya aku kembali berlatih, hal itu terus kulakukan, semakin lama semakin panjang waktu latihan ku, aku merasa fisik ku mulai berkembang otot-otot ku mulai menunjukan kemajuan,
Semakin lama latihan itu juga semakin sulit kurasakan, namun aku tidak lagi merasa terbebani tubuh ku telah terbiasa, fisik ku sudah mencapai kapasitas dari kesulitan itu, setelah enam bulan berlalu akhirnya latihan fisik ku selesai.
__ADS_1
"Enam bulan kedepan kita akan melatih aura dan ilmu mengunakan senjata" Nico berkata.
Secara garis besar dan menurut legenda senjata yang diberikan oleh dewa kepada manusia terpilih itu berbeda-beda bahkan senjata kami bertiga pun berbeda.
Hal ini tentu menentukan cara bertarung dan menyerang juga posisi ternyaman untuk membuat serangan, karena perbedaan senjata akan mempengaruhi pertarungan.
Jika Nico memiliki senjata dewa berupa pedang yang terbuat dari tengkorak dan bewarna sedikit gelap seakan termakan usia, dan aku memiliki pedang yang mengobarkan cahaya merah seperti api dengan bilah sedikit tebal pikir ku, maka Andre memiliki senjata berupa perisai yang terbentuk dari tahan yang mengeras dan hampir bewarna seperti besi, senjata Andre unik.
Dengan fisik yang mendukung, dan jenis senjata yang sama dengan ku Nico mengajari ku dasar-dasar mengunakan pedang dan mengendalikan aura ku.
Sesekali kami melakukan meditasi juga untuk melatin fokus ku dan membuka aliran keseimbangan dalam tubuh ku, agar aura yang aku keluarkan dapat secara stabil ku kendalikan.
Hanya saja dalam latihan kali ini Nico tidak secara penuh melatih ku dia hanya sekali-sekali melatih ku, Dia berkata kepada kami kalau dia mulai kembali mengawasi kakaknya dari balik bayang-bayang.
Andre melatihku cara untuk menyerang dan bertahan, tidak jarang aku dan dia berlatih seakan-akan kami bertarung, dia selalu menyuruh ku untuk menjatuhkannya, namun tentu itu sulit.
Diantara kami bertiga Andre memiliki kuda-kuda yang paling kokoh tidak gampang menjatuhkan Andre dan membuatnya menerima pukulan dia selalu dengan sigap memblok semua serangan.
Tanpa terasa lima bulan telah berlalu dan aku belum bisa membuat Andre terdesak, begitupun dengan Nico. Saat aku berlatih tanding dengan Nico aku tidak bisa mengimbangi kecepatan berpedangnya.
Namun perlahan seiring berjalannya waktu perubahan itu mulai terasa, jika diawal dulu aku tidak dapat mengimbangi kecepatan berpedang Nico maka diakhir" ini aku sudah mengimbangi kecepatan berpedangnya
Sejak saat itu Nico semakin jarang melatih ku, selain alasannya mengawasi kakaknya dia juga datang hanya untuk melihat-lihat. Andre berkata kepada ku kalau latihan dari Nico selesai, hal itu dikarenakan aku sudah bisa mengimbangi kecepatannya dalam berpedang.
Jika syarat latihan dengan Nico hanya sebatas aku mengimbanginya, maka hal itu berbeda dengan Andre, dia bersikeras latihan ku tidak akan selesai sebelum aku bisa mendaratkan pukulan telak ku kepadanya, dia bahka berencana menambah waktu latihan ku.
Sekarang adalah awal bulan keenam, sejak aku mulai berlatih mengunakan aura dan senjata ku, jika dalam bulan ini aku belum bisa mencapai syarat yang diberikan Andre kepada ku maka waktu latihan ku akan ditambah dua bulan hal itu tentu akan menghambat langkah kami untuk pergi.
Aku, Andre dan Nico pagi itu kembali kedalam gua tempat kami berlatih, berbeda dari sebelumnya tidak ada latihan yang diberikan kepada ku hari ini, karena hari ini adalah penentuan ku, apakah latihan ku akan ditambah atau tiga hari lagi kami akan memulai perjalan kami.
Ujian ku dimulai, sedari awal sejak ujian ini dimulai Andre sudah mengambil posisi bertahannya dengan sempurna, untuk sesaat aku mengamatinya dan akhinya aku menerjang kearah depan dengan ayunan pedang ku yang mengobarkan api.
Namun dengan sigap Andre memblok serangan itu dan dia mulai mengepal tinjunya membuat batu yang ada dipijakan kakinya mengeras mencengkram tanah lebih erat, membuat kuda-kudanya semakin kokoh.
Kemudian beberapa butir batu melayang kearah ku, aku langsung menghindar dengan cara melompat kebelakang, setelah itu kembali aku maju menyerang Andre.
Hari ini aku berfikir aku bisa melakukannya aku akan bangkit dengan sempurna saat usia ku lima belas tahun, yang mana itu hanya tinggal tiga hari lagi.
Aku mengeluarkan aura ku, aku mulai merasakan api mulai membaluti tubuhku, dan udara disekitar gua mulai terasa panas, cahaya merah berpijar disekitar ku.
Aku maju menerjang ke arah Andre secara lurus ku arah kan pedang ku, megincar bagian perut Andre, namun dengan sigap perisainya memblok serangan itu.
Praakkk... Bunyi Senjata kami beradu.
Dengan cepat aku ayunkan kaki ku mengarahkan tendangan ku kearah samping perutnya namun tendangan itu berhasil lagi diblok kemabli oleh Andre, dia menciptakan diding tanah.
Aku mundur beberapa senti darinya lalu mengayunkan pedangku, gerakanku seakan menebas lehernya ketika ayunan itu hapir mengenai perisainya aku ubah arah ayunan pedang ku.
Kini pedang ku mengincar perutnya, dalam situasi yang tidak menguntangkan itu Andre melepas cengkraman kakinya yang telah dikuatkannya tadi, dia melompat kebelakang.
Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan cepat aku berlari dan memberinya tendangan tepat dikakinya sehingga Andre kehilanga keseimbangan dan mendarat dengan keadakan kaki yang tidak menapak sempurna.
BRUKK..
Andre terjatuh dengan posisi terlentang dan aku melompat menduduki tubuh Andre.
"Selamat Piter latihan ini selesai pada waktunya" Andre tersenyum begitupun Nico yang menyaksikan, mereka memberiku tepuk tangan dan beberapa pujian, akupun tersipu malu.
Aku senang dengan hasilku, aku telah menyelesaikan latihan yang terbilang tidak mudah, dalam waktu satu tahun kurang tiga hari, ada kebangaan tersendiri dalam diriku.
Kami pun beranjak meninggalkan gua tersebut, perjalanan kami akan segera dimulai, kami akan segera melakukan rencana kami selanjutnya yaitu mengumpulkan dua pahlawan lainnya.
__ADS_1