Lima Pahlawan

Lima Pahlawan
2. Kenangan Pahit


__ADS_3

Saat Nico mulai menjulurkan tangan nya kegelapan disekitar ku mulai menghilang sepertinya kami sampai disuatu tempat, terpaan cahaya matahari langsung menyinari wajah ku.


Mata ku mengamati daerah sekitar dengan sedikit silau karena perubahan cahaya yang intens, "Kita sampai Piter" ucap Nico kepada ku, sambil tersenyum.


Kami sampai disuatu kerajaan aku menatap sekitar ku dengan seksama dan memperhatian seluruh bangunan disini berada di dalam gua seperti mereka memang sengaja melubangi gunung untuk tempat tinggal.


Tiba-tiba seorang mendekati kami dan berkata "Hay Nico".


Nico menatap peria tersebut untuk beberapa saat lalu berkata.


"Hay Andre, lama tidak melihat mu", jawab Nico


"Hahaha Nico bagaimana aku bisa berjumpa dengan mu, sedangkan kau sendiri jarang berkunjung"


"Maaf andre, aku ada urusan akhir-akhir ini, aku merasa bersalah karena jarang berkunjung."


"Ya sudah Nico jangan merasa bersalah seperti itu."


"Maaf Nico bisa kau jelaskan siapa dia, jujur aku tidak nyaman melihat pedangnya yang mulai membakar daerah dibelakang nya"


Hah...


Tanpa sadar rupannya ujung pedangku telah membakar rumput disekitar kaki ku tapi kenapa aku tidak menyadari nya, aku berusaha memadamkan api tersebut namun api itu tidak juga padam.


"Hay kawan sebelum berkenalan bisa kau serahkan pedang mu kepada ku, aku inggin melihatnya," Andre berkata kepada ku.


Tanpa pikir panjang karena takut aku akan membakar daerah meraka aku menunjukan pedang ku kepada Andre, saat Andre megang pedang itu dia berteriak.


"Aaaaaahhhhhh, tangan ku terbakar bung," namun dengan cepat tangan Andre di tutupi oleh batu seperti sarung tangan, aku berfikir Andre akan marah namun dia hanya menyengir kepada ku.


"Nico mengapa kau tidak bilang pada ku bahwa dia sama dengan mu?"


"Kau tidak bertanya" jawab Nico.


Mendengar jawaban Nico Andre membalas dengan senyuman ramahnya.


"Andre bisa kau bawa aku berjumpa raja saat ini, ada hal penting yang aku harus bicarakan pada raja" Nico bicara dengan expresi serius kini.


Mendengar itu dengan cepat Andre mengangguk dan membawa kami berdua menuju bangunan yang mirip seperti gua yang besar.


"Hay bung aku Andre siapa nama mu?" Andre bertanya sambil mengulurkan tangannya kepada ku.


"Aku piter" jawab ku sambil membalas uluran tangan Andre dan kami berjabat tangan.


"Oke Piter boleh aku menyimpan pedang mu sementara waktu, ada hal yang harus aku lakukan."


Aku menatap Nico dan dia hanya mengangukan kepalanya saat itu juga aku mengangukan kepala ku dan berkata "baiklah Andre", dengan semangat Andre membawa pedang ku ke sebuah ruangan.


"Raja ada didalam, pagi ini dia masih belum sibuk, silahkan kalian berdua jumpai dia, aku ada urusan dengan pedang ini, dan Piter untuk rumput yang telah kamu bakar itu bukan masalah besar" Andre menjelaskan.


Piiikk, dia menjetikan jarinya lalu aku menyaksikan tanah yang rumputnya terbakar telah berputar berganti posisi dengan tanah baru dan benih rumput baru.


"Hahaha,,,,Tidak usah dipikirkan" katanya sambil menunjukan apa yag telah dilakukannya.


Nico dan aku masuk keruangan istana, berbeda dengan ku sepertinya Nico sudah pernah bahkan sering berkunjung kesini, hal ini dibuktikan saat dia dan Andre begitu dekat dan dia tau jalan menuju singasana raja, para penjaga istana juga tidak mengangapnya ancaman malah memandang dia dengan senyuman.


Aku dan Nico tiba diruangan singasana ruangan ini dipisahkan dengan pintu yang terbuat dari emas dan batu berlian, lalu Nico membuk pintu tersebut dan seorang yang berusia cukup tua, dengan tubuh besar serta kulit sedikit coklat sedang menatap kami dari singasananya, dia adalah Alex raja kerajaan tanah.


Nico berjalan mendekatinya, saat hampir mendekati singasana, Nico membungkuk, aku pun malakukan hal yang sama, tentu itu adalah cara menghormati seorang raja.


Nico berkata "Raja, ada kudeta yang sudah terjadi dikerajaan api tadi malam, pelaku kudeta itu tidak lain adalah kakak ku Zeon dia bekerja sama dengan Moris".


Saat itu raja yang duduk dari singah sananya mulai terlihat gelisah.

__ADS_1


Nico lanjut menjelaskan kejadian tadi malam dan dia mulai membahas ramalan empat belas tahun yang lalu saat suara dewa terdengar dari langit, memberi isyarat kepada manusia dari lima kerajaan bahwa lahirnya pahlawan legenda telah lengkap dan kerusakan dunia beberapa tahun lagi akan dihentikan.


Raja menganganguk dan memegang jangotnya sambil mendengar penjelasan Nico, setelah itu dia berdiri dan berkata, "apa kalian sudah berjumpa Andre?"


"Sudah baginda" jawab kami serentak.


"Nico, Piter, siang nanti datang lah keruangan istana dan ajak Andre untuk ikut". pinta raja kepada kami.


"Baik lah baginda raja" ucap kami.


"Untuk saat ini pengawal tunjukan mereka kamar mereka dan beristirahat lah kalian".


Kami dibawa kesebuah ruangan oleh seorang prajurit seperti yang diperintahkan raja dia menunjukan kamar untuk kami, saat aku membaringkan tubuh ku diatas tempat tidur aku mulai ngantuk, wajar bagi ku karena rasa lelah dan sedih ku tentunya belum hilang mengingat kejadian tadi malam.


"Apa kau tidak tidur Nico?" aku bertanya kepada nya


"Belum Piter, aku masih ada urusan penting yang harus aku kerjakan" ujar Nico kepada ku, setelah itu dia menghilang dibalik bayangan-bayang meningalkan aku sendiri dalam kesunyian yang mulai membuat kantuk ku bertambah, tanpa sadar akhirnya aku tertidur.


Sementara itu Nico yang keluar dari istana dengan kekuatan bayangannya menghampiri Andre diruangan pandai besi milik Andre, "Permisi Andre boleh aku masuk?"


"Oh apakah itu kau Nico, silahkan masuk Nico" Andre mambalas perkataan Nico.


Didalam ruangan itu Andre tengah asik membuat sesuatu, Nico tau apa yang dikerjakan Andre dia juga pernah melakukan hal yang sama untuk dirinya.


Waktu itu Nico berumur sepuluh tahun dia mencabut sebuah pedang yang dijumpainya tidak jauh dari istananya namun hal itu membuat dia lepas kendali.


Setengah dari dunia seperti merasa kegelapan abadi akan muncul dengan sigap ayah Nico membuat Nico pingsan, ayahnya menyadari penyebab Nico lepas kendali adalah pedang dewa kematian tersebut.


Kemudian ayahnya membawa dia dan pedang tersebut kekerajaan tanah, mengingat pada saat itu Andre merupakan anak mudah yang memegang senjata dewa berupa perisai.


Sarung dari senjata dewa memang hanya dibuat oleh mereka yang memegang senjata perisai karena hanya serpihan perisai dewa yang sanggup menahan kekuatan senjata dewa tersebut.


Saat itu Andre berusia tiga belas tahun, melihat pedang yang dibawa oleh raja kegelapan, dengan cepat Andre membuatkan sarung pedang untuk pedang yang dicabut oleh Nico tersebut.


Karena kejadian itu lah Nico dekat dengan kerajaan tanah, namun itu hanya cerita masa lalu saat ini raja baru kerajaan kegelapan yaitu kakaknya sendiri kini telah mengulingkan ayahnya dengan cara yang sama yang telah dilakukan Moris kepada saudaranya.


Namun saat Nico kembali kekerajaannya dia melihat banyak mayat bergeletakan ditanah, dengan sedikit panik dia berlari menuju istana dan dia menyaksikan bahwa orang tua dia telah dibantai dia hanya melihat kakaknya menangis memeluk jasad kedua orang tuanya sambil berumuran darah.


"Apa yang terjadi kak?" tanya Nico dengan suara bergetar.


"Oh adik ku, dari mana saja adik ku?, saat kau pergi keluarga kita diserang oleh prajurit kerajaan api"


Mendengar perkataan kakaknya seketika itu juga Nico murka, kegelapan keluar dari tubuhnya ribuan mahluk dari dunia bawah muncul mulai dari skeleton berukuran besar hingga kecil, zombie, mayat hidup, dan seekor Cerberus.


Nico siap melakukan serangan balasan, kakanya hanya bisa menyaksikan kekuatan Nico tidak ada satu pun dari istana kegelapan yang bisa mengalahkan kekuatan Dewa kematian miliknya,


Namun karena Nico adalah manusia khusus yang mengemban tugas menciptakan kedamaian dia tentu memiliki kekuatan yang besar dan juga hati yang lebih mulia dari manusuia lainnya.


"Semua ini salah, aaaaaagggggggggrrrrrhhhhhh" dengan kesal dan emosi Nico berteriak


Buuuummmmmm....


Suasana berubah menjadi gelap seperti malam seketika.


Namun kejadian itu tidak berlangsung lama Nico mulai tenang, mahluk hidup dari dunia bawah mulai menghilang dari pandangan Zeon, dan kegelapan yang terjadi mulai menghilang secara perlahan.


"Maafkan aku Nico aku tidak bisa melindungi orang tua kita" ucap Zeon.


Nico hanya diam dan menghilang dari hadapan Zeon dalam pikirannya Nico harus membunuh orang yang telah melakukan hal keji tersebut kepada orang tuanya, nyawa harus dibalas dengan nyawa.


Namun saat Nico hendak sampai di kerajaan api seorang ntah dari mana menarik tanganya, "Nico tenang lah sedikit belum tentu yang kau lakukan ini benar"


Nico meronta dan melawan namun sia-sia seakan dia terhimpit sebuah batu besar dia merasa beban yang berat, "Siapa kau?, lepaskan aku, apa urusan mu?"

__ADS_1


"Ini aku Nico Andre teman mu, sahabat baik mu"


Mendengar itu Nico berhenti melawan dan dia mulai menangis, "Andre teman ku, keluarga ku telah dibunuh bagai mana aku bisa tenang?"


"Aku tau Nico aku menyaksikan dari dalam tanah dan mendengar percakapan mu dengan Zeon dari getaran tanah, saat aku merasa kau melepas kekuatan mu aku segera berlari mengikuti mu" Andre menjelaskan kepada Nico.


"Baik Andre aku akui tadi aku lepas kendali untuk sesaat, namun saat ini aku tengah dalam kendali diri penuh aku akan membunuh raja tersebut dari balik bayang-bayang tidak akan ada yang sadar" ujar Nico.


"Nico jangan gegabah dulu, coba lah kau bertanya pada arwah apa yang terjadi, karena aku tau arwah tidak pernah berbohong pada mu" Andre mengusulkan


Mendengar itu awalnya Nico menentang ide Andre, karena itu akan menguras banyak tenaganya, namun akhirnya dia setuju.


Dia mulai memangil arwah orang tuanya, tak lama kemudia arwah mereka pun muncul.


"Ayah ibu apa yang terjadi??" Nico bertanya sambil menangis.


Andre melihat dua kabut putih terbang disekitar Nico namun tidak ada yang dapat Andre dengarkan hanya suara siulan.


Namun berbeda dengan Nico tentunya dia bisa berinteraksi dengan mereka.


"Nico kakak mu Zeon telah merancanakan suatu untuk mengulingkan aku dari singgasana ku"


"Dia memang bekerja sama dengan Moris adik raja kerajaan api, tetapi raja api tidak mengetahuinya" ibu Nico menimpali.


"Sepertinya dia berusaha merencanakan agar pangeran yang baru berusia sebelas tahun yaitu pangeran Piter untuk dibunuh oleh mu" jelas ibunya


"Mengapa kakak melakukan itu, alasan dia mengulingkan ayah untuk singasana aku bisa memaklumi dari remaja kakak sudah menunjukan sikap yang begitu buruk, dia adalah orang yang gila akan kekuasaan".


"Nico, Andre dan Piter adalah manusia pilihan Dewa, ingat kah kamu saat usia mu tiga tahun saat kau mendengar dewa berkata bahhwa anak yang ditakdirkan mengakhiri kekacauan dunia telah lahir, semuanya, itu bertepatan dengan hari lahirnya Piter", ayahnya menjelaskan kepada nya.


Nico terkejut ternyata kakaknya secara tidak langsung ingin mengulingkan semua kerajaan dengan membunuh semua manusia terpilih, tapi kenapa dia tidak membunuh ku waktu aku kecil?, dengan heran Nico memandang orang tuanya.


Seakan tau maksud Nico, kedua orang tuanya berkata "Nico waktu kau kecil kakak mu belum cukup usia dan kekuatan untuk melawan ayah mu, dan saat itu dia juga belum memiliki niat serakah, keserakahan kakak mu mulai terlihat saat dia berlatih dengan guru yang mengajarkan nya pemangilan skeleton, tanpa kami sadar kakak mu dapat memangil Reya, Reya adalah salah satu skeleton yang memiliki kesadaran diri, dan kepintaran dia mulai menghasut kakak mu untuk menguasai seluruh dunia, itu lah kecerobohan kami, tolong selamatkan kakak mu Nico"


Nico hanya menangis mendengar semuanya lalu Andre berusaha menenangkannya dengan mengelus pundaknya, meski dia tidak mendengar apapun selalin suara siulan anggin namun dia dapat merasakan kesedihan dari raut wajah Nico.


"Nico dunia akan dilanda kegelapan, beberapa waktu lagi, maka jaga lah tiga orang pahlawan selain kau dan Andre, selamatkan kakak mu, dan jangan biarkan Zeon meruntuhkan kerajaan api". Seperti mendapat beban berat dari orang tuanya Nico diberi tugas yang amat sangat berat.


Manjaga pahlawan yang lainnya dari niat jahat kakaknya membunuh mereka, membuat kakakanya Zeon sadar kembali dan tidak tertelan kegelapanagi, dan mencegah kehancuran kerajaan api.


Tidak lama setelah itu arawah orang tuanya menghilang dari pandangan Nico, sejak awal memang mereka tidak bisa bertahan lama karena itu hanya arwah, 'semoga kalian diterima disisi dewa', Nico mendoakan kedua orang tuanya.


Nico menyeka air matanya mengiklaskan kepergian orang tuanya, dia bertekan akan mengawasi kakaknya dan menjalankan amanah orang tuanya.


"Aku akan kembali Andre ada hal yang akan aku lakukan" Nico berkata.


"Syukurlah kau sudah tenang Nico, kalau butuh bantuan sampaikan pada ku" andre menjawab.


Mereka berpisah, sejak saat itu baik Andre dan Nico hanya berjumpa beberapa kali mereka bertemu hanya untuk membahas sesuatu, Nico selama ini hanya mengawasi kakaknya dari balik bayang-bayang dan tentu kakaknya tidak bisa menyadarinya.


Mengingat kenangan itu tanpa dia sadar air matanya jatuh kejadian itu terasa baru baginya apa lagi ketia dia menyaksikan betapa tragisnya keluarga Piter dibunuh, dia secara langsung gagal menjalankan salah satu tugasnya, hal ini membuat kesedihanya makin meingkat, namun dia bertekat didalam hatinya agar tidak boleh gagal lagi.


"Selesai sudah" teriak Andre


"Hahaha sekarang senjata ini tidak akan membakar apapun lagi" Andre berkata dengan bangga tanpa dia sadar Nico meneteskan air matanya.


"Maaf Nico aku tidak sadar kau sedih, jangan mengingat kejadian itu lagi aku turut prihatin mengigat kau dan Piter telah mengalami tragedi seperti itu dan aku tidak dapat membayangkan jika itu terjadi kepada ku juga" Andre berkata sambil memeluk Nico.


Siapa yang tidak akan teringat kejadian itu saudaranya Zeon memisahkan dia dengan ayah dan ibunya, lalu kembali dia membuka kenangan pahit itu ketika dia membunuh orang tua Piter, dia gagal menjalankan tugas orang tuanya.


"Tidak apa Andre aku sudah bisa menerima semuanya, sebenarnya aku kesini karena ada urusan lain Andre". Nico berkata.


Sebenarnya Nico tidak menangis tersedu-sedua dia hanya meneteskan air mata namun tetap saja bagi Andre temannya menangis.

__ADS_1


"Baik Nico aku sudah mengetahuinya aku tanpa sengaja menguping dari sini melalui getaran tahan bahwa raja mengajak kita berjumpa karena hal penting telah terjadi, sejujurnya aku sudah merasa hal yang tidak baik saat kau membawa Piter sang pangeran api kesini", Andre menjawab kepada Nico.


Lalu mereka bersiap untuk menemui raja, karena aku masih tertidur mereka berdua mengunjungi kamar ku untuk membangunkan ku agar aku bersiap juga, karena sangat tidak mungkin membuat raja menunggu kami tiba.


__ADS_2