Lost Prince

Lost Prince
BAB 1. Hilangnya 2 Pangeran


__ADS_3

Disebuah kerjaan yang jaya hiduplah seorang raja berserta istri nya yang tengah mengandung anak. Sudah ada 9 bulan ia mengandung dan hari ini adalah hari kelahiran anak ke 3 nya yang diberi nama Caesarion Haevardo Prince, atau akan di panggil Caesar.


"Sangat mirip kakak-kakaknya" ucap raja yang bernama Kaven Vyxov. Istrinya hanya terkekeh gemas menatap bayi nya yang masih nampak kemerahan, walau sudah dimandikan.


Kini kedua kakaknya Louis dan Ghavyna dengan antusias menghampiri adiknya yang kini tengah tertidur didalam gedongan sang ratu. "Namanya siapa, mama?" tanya Ghavyna sang anak kedua dengan antusias.


"Caesarion Haevardo Prince. Kalian bisa panggil Caesar" jawab ibu mereka. Kedua anak-anak itu hanya mengangguk mengerti seraya mengelus pucuk kepala adiknya dengan lembut.


"Lucu" gumam Louis yang membuat Ghavyna menyipitkan matanya menatap kakak pertamanya dengan tatapan tak sukanya. "Lebih lucu aku!" Ghavyna memang tak ingin kalah dari adiknya, ini yang membuat orang tuanya takut jika ia akan tetap seperti ini sampai mereka bertiga tumbuh dewasa.


"Itu kan beda, Ghavyna. Kamu kan adik perempuan aku, kalau Caesar adik laki-lakiku" jawab Louis yang mencoba untuk memberikan alasan kepada adik perempuannya. "Itu sama aja!" bantahnya tetap tak terima.


"Sudah-sudah. Kalian tetap lucu kok di mata papa dan mama" Haelda kini mencoba untuk menengahi perdebatan kecil mereka yang jika di biarkan akan menjadi pertarungan. Heilda Vyroxa adalah istri dari Kaven, sang raja dari kerajaannya sendiri, sekaligus ratu dari kerajaan Kaven.


"Kalian harus bisa berbagi ya sama adik kalian nanti" ucap sang papa menatap kedua anak-anaknya yang kini sudah cukup besar. Ghavyna hanya merotasi kan matanya menandakan bahwa ia tak suka. Kaven hanya bisa menghela nafas menatap gadis kecilnya yang cukup keras kepala.


"Raja, anda mendapat panggilan dari seseorang" ucap salah satu prajurit yang tiba-tiba datang begitu saja dengan membawa kabar yang penuh pertanyaan. "Sebentar ya, papa ke depan dulu"


Ghavyna berdecak kesal, lalu ikut meninggalkan kakak serta adik dan ibundanya bertiga di kamar untuk pergi ke kamarnya sendiri. Louis hanya menatap sang ibu kebingungan akan sikap Ghavyna.


"Louis, louis kan kakak tertua. Jangan asal puji Caesar ya, mama enggak ingin Caesar dan Ghavyna jadi tidak akur" ucap sang ibunda dengan tutur katanya yang selembut mungkin. Louis mengangguk paham. Walau umurnya baru saja menginjak umur 6 tahun tetapi laki-laki itu paham mana yang harus ia lakukan mana yang tidak perlu ia lakukan.

__ADS_1


Heilda hanya tersenyum menatap anak sulungnya yang masih berumur 6 tahun sudah harus merasakan beban hidupnya di usia yang masih terbilang balita. Tangannya mengulur mengusap pucuk kepala anak sulung kesayangannya dengan penuh kasih sayang.


"Mama tenang aja, Louis pasti selalu jaga Ghavyna sama Caesar kok. Mama enggak perlu khawatir sama mereka!" ucap Louis dengan nada yang tegas di akhir.


Heilda mengacungkan jari jempolnya. "Itu baru anak papa. Tegas, dan simpati terhadap sekitar". Louis berdiri tegap seperti ayahnya lakukan jika sedang memimpin sebuah upacara yang biasa di lakukan sebelum perjalanan pergi meninggalkan kerajaan. Wanita itu hanya terkekeh gemas melihat tingkah anak sulungnya.


...****************...


2 Tahun Kemudian


Kini umur Caesar sudah menginjak 2 tahun. Ia sudah bisa berjalan, tetapi belum bisa berbicara. Hanya bisa mama dan papa dan lainnya tak bisa. "Ghavyna, Caesar sini ikut kakak" Louis kini sudah berumur 8 tahun. Sudah cukup besar untuk dapat menjaga adik-adiknya, walaupun masih harus dalam pengawasan ibundanya ataupun baby sister nya.


"Jangan main jauh-jauh Louis!" ujar sang Ibunda memperingati anak sulungnya yang mulai tak terlihat di pandangannya. "Iya mama!!"


Ghavyna menatap Louis kebingungan, lalu menggeleng menjawab pertanyaannya. Louis kembali berputar, masih berusaha mencari-cari keberadaan adik laki-laki nya. "Ghavyna tunggu disini ya" ucap Louis yang langsung dianggukki oleh gadis kecil itu.


Louis tanpa berpikir matang-matang ia masuk kedalam hutan yang berada tak jauh dari tempatnya bermain bersama adik-adiknya. Meninggalkan Ghavyna seorang diri bermain tanah. Ia berteriak-teriak memanggil nama Caesar, tetapi tak menemukan apapun. Ia tak pernah memasuki hutan dan ini lah intinya, ia tersesat, mungkin bersama dengan Caesar.


"Caesarr!!" Louis kini benar-benar panik tak karuan. Ia tetap berusaha mencari hingga ia benar-benar jauh dari kerajaannya. Hingga ia pun menyerah. Laki-laki itu duduk lalu menyandarkam tubuhmu di dahan pohon yang sudah tumbang. Memeluk kakinya ketakutan, seraya menangis dalam diam, menyesali perbuatannya yang sangat ceroboh.


Hingga matahari terbenam. Laki-laki itu masih menangis. “Caesar…” suaranya bergetar hebat saat ia memanggil nama adiknya. Louis pun kembali beranjak, walau kakinya lemas untuk berjalan tetapi ia tetap mencoba untuk kembali mencari adiknya yang hilang entah kemana. “Caesar, ini kakak. Kamu dimana” panggilnya.

__ADS_1


Langkahnya kembali terhenti saat ia menemukan mainan adiknya yang tadi di mainkannya sebelum hilang. Louis yakin pasti adiknya berada tak jauh dari sini. “Caesar!!” Louis kembali berteriak, hingga ia mendengar suara tangisan dari seorang bayi yang ia yakini itu adalah adiknya. Louis berlari kecil di atas rerumputan seraya berteriak memanggil nama adiknya. Dan ya, ternyata dugaannya salah, itu bukan adiknya, tetapi tipuan semata dari seseorang yang jahil.


Hari semakin gelap, laki-laki itu mengistirahatkan tubuhnya sejenak, ia tak tahu arah jalan pulang, dan terpaksa mau tak mau harus hidup seperti ini terlebih dahulu. Ia mengambil kayu-kayu untuk membuat sebuah api unggun karena hawa yang dingin. Percayalah ia sudah diajari hidup mandiri, bahkan dalam hal bertarung, walaupun masih sepenuhnya bisa ia kuasai dengan benar-benar mahir.


Ia meringkuk, menyamar dibawah dedaunan agar tak ada yang tahu bahwa ada seseorang didalam hutan ini. “Dingin” gumamnya lirih. Seraya meringkuk ketakutan.


\=\=\=\=


Kini kedua orang tua Louis kini tengah sangat mengkhawatirkan anak sulung serta bungsunya yang masih kecil tersebut. Heilda menangis sedari tadi di kamarnya. Kaven mencoba untuk menenangkannya, namun tampaknya hal itu tak berarti apapun untuknya.


“Kaven, aku rindu Caesar dan juga Louis. Dimana mereka, dunia sangat berbahaya untuk mereka, Kaven…”


“Mereka tak apa, Heilda. Esok kita cari. Ini sudah larut malam, sebaiknya kamu tidur saja” jawab sang raja yang lalu memeluk tubuh sang istri dengan penuh kasih sayang terhadapnya.


Disisi lain kini Louis terbangun dari tidurnya yang kurang pulas. Laki-laki itu terbangun akibat suara gemuruh dari sesuatu. Ia sadar, bahwa dirinya sedang dalam bahaya yang menyebabkan dirinya harus segera pergi mencari tempat aman. Ia mengambil kayu yang cukup panjang dan juga tebal, lalu memberikannya sebuah api agar dapat menerangi pandangannya saat pergi meninggalkan tempat itu.


Laki-laki itu melangkahkan kakinya perlahan meninggalkan tempatnya dengan sedikit ragu-ragu. Ia mencoba untuk tak berlari karena pasti akan mengakibatkan bahaya yang fatal untuknya. Ia hanya sedikit lebih mempercepat langkahnya. “Apa disini ada seekor beruang? harimau?” gumamnya yang masih bingung dari mana asal suara gemericik yang sedikit mengganggunya tadi.


Kini malam benar-benar gelap tak ada pencahayaan satupun yang dapat mempersulit langkahnya dalam berjalan. Dari arah kanannya ia mendengar sebuah ranting yang terinjak membuatnya merinding ketakutan. Ia tak membawa apapun selain obor, perutnya bergemuruh kelaparan serta kehausan, ia hanya bisa menghemat sedikit energi.


“Siapa kau!” ucap Louis yang sudah benar-benar takut akan keadaannya kini. Beruang coklat yang besar, kukunya yang besar dan tajam, kini siap menjadikan Louis sebagai santapan malamnya. Kaki Louis melemas saat ada seorang beruang coklat berdiri dihadapannya. Laki-laki itu hanya bisa diam mematung dan berpasrah terhadap keadaan. Ia diterkam oleh beruang coklat itu.

__ADS_1


Sesaat tiba-tiba ada seekor burung elang datang menyelamatkan Louis dari beruang itu. Hewan bertubuh besar tadi berlari pergi saat diganggu oleh elang tersebut, tetapi tetap saja Louis kini tak bisa berbuat apa-apa. Anak kecil yang baru berusia 8 tahun itu, hanya bisa terbaring lemah, berharap ada seseorang atau bahkan ayahnya yang dapat menyelamatkan nyawanya saat ini.


“Mama, papa, tolong Louis…” ucapnya sebelum pada akhirnya tak sadarkan diri.


__ADS_2