
Seharian ini Kaven dan Heilda mencari-cari anak-anaknya yang hilang bak ditelan bumi. Heilda menangis saat masih saja belum menemukan keberadaan anak laki-lakinya yang sangat dijaganya. "Tenanglah Heilda" Kaven meraih punggung tangan wanita itu, mencoba menenangkannya.
"Aku yakin, mereka pasti akan ditemukan oleh seseorang yang baik, menjaga nya, mereka tak akan mungkin diterkam beruang ataupun mati kelaparan disini" sambungnya.
Pria itu meninggalkan kembali Istrinya bersama dengan 3 prajurit yang diperintahnya untuk menjaga istrinya. Sedangkan yang lain masuk kembali ke dalam untuk melanjutkan pencarian anak-anaknya yang hilang. "Tuan, ini sudah melewati batas kekuasaan. Apa tidak bahaya untuk kita?" ucap dari salah satu prajurit nya.
Kaven terdiam. Benar, ini sudah melewati batas kekuasaan ia, jika dirinya melewati batas ini, akan ada keributan setelah itu jika diketahui oleh raja dari kerajaan yang memiliki hak atas kekuasaannya kini. Pria itu mengangguk, "Baiklah, kita kembali saja." balasnya yang segera memutar balik arah kudanya berjalan.
"Sayang, maafkan aku, aku belum bisa menemukan anak-anak kita" gumamnya didalam benaknya. Ia sangat merasa bersalah karena kelalaiannya dalam menjaga anak-anaknya.
...----------------...
Di sisi lain kini Caesar sedang bermain dengan adonan roti milik wanita yang menemukan. Wanita itu benar-benar menjaga Caesar hingga dirinya bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan baru nya.
Jeff adalah nama panggilan Caesar dari wanita yang menemukannya di dalam lemari. "Tolong adukkan ya, Jeff! aku akan mengambil telur sebentar!" ucapnya. Caesar itu pintar, jika sudah diperintahkan seperti itu ia akan diam dan hanya melakukan apa yang diperintahkan.
Bisa dilihat senyum manis anak itu terlukis di wajah tampannya. Caesar sibuk menepuk-nepuk adonan yang tinggal panggang itu saja, sembari menunggu wanita yang bernama Felcyia datang.
__ADS_1
"Bisa ku ambil adonannya? Sepertinya ini sudah jadi" ujar Felcyia yang meminta izin kepada anak laki-laki itu sebelum mengambilnya. Caesar mengangguk. Percayalah, ia mengerti bahasa manusia, tetapi ia hanya tak bisa mengucapkan kalimatnya.
"Nanti akan ku ajarkan kamu berbicara. Tunggu disini, jangan terlalu banyak bergerak, nanti jatuh" Felcyia mengambil adonan itu dari hadapan Caesar.
Caesar hanya diam, memperhatikan pergerakan Felcyia yang pergi meninggalkan untuk memanggang adonan roti yang dibuatnya. Namun di lain hal, wanita itu masih ingin tau, siapa Caesar sebenarnya, bisa-bisanya ia berada di toko nya dan masuk ke dalam lemari nya. Sungguh tidak masuk akal untuknya.
Felcyia kembali setelah memasukkan adonan rotinya ke dalam pemanggangan. Wanita itu memilih untuk berdalih ke kasir. Hari sudah mulai siang, dan mulai banyak pembeli yang datang ke toko rotinya. Caesar diperintahnya untuk diam saja di lantai sembari bermain dengan mainan yang sudah di siapkan oleh wanita itu. Syukurnya semua pembelinya tidak ada yang mendapati keberadaan Caesar. Laki-laki itu nampak asyik sendiri dengan dunianya, membuat wanita itu merasa lega.
Hari semakin lama semakin gelap, waktu berjalan seolah-olah begitu cepat. Caesar kini sudah berada di rumah Felcyia, wanita yang menemukannya. Perempuan itu nampak telaten dan penuh kasih sayang saat menjaga Caesar. Caesar yang tak banyak bertingkah serta tak mudah rewel membuat wanita itu lebih mudah mengurusnya.
Anak balita itu kini sedang makan disuapi oleh sang ibu angkatnya saat ini. Karena ia masih belum bisa makan sendiri, mau tak mau Felcyia harus membantunya makan, sembari ia juga ikut makan malam. Di suapan terakhir Caesar meminta sudah, perutnya sudah penuh, seakan-akan tidak bisa menampung makanan lagi.
Caesar merengek-rengek saat minumnya tak kunjung diberikan, ia memanggil nama 'mama' karena baru kalimat itu saja yang ia bisa lontarkan. "Iya, tunggu sebentar, Jeff" ucap wanita itu. Caesar kembali diam dengan perlahan, balita itu mengerti syukurnya.
Tak lama kemudian Felcyia membawakannya satu gelas air putih untuk Caesar. Dengan antusias balita itu segera menyeruput nya perlahan. Wanita itu hanya tersenyum tipi menatap Caesar sendu.
"Ibu kandungmu pasti mencari mu, nak"
__ADS_1
...----------------...
Disisi lain Louis kini tengah makan malam di bantu oleh pria tua yang mengobatinya tadi. Tubuhnya rasanya ingin patah saat ia menggerakkannya. "Perlahan saja, mengunyahnya. Tidak akan ada orang yang meminta nya" ucap pria tua tersebut dengan nadanya yang lembut.
"Setelah aku sembuh, bisakah aku pergi kembali mencari adikku?" tanya Louis ragu-ragu.
Pria yang terduduk didepan Louis mengangguk kecil, dengan senyumnya yang tipis. "Boleh, tetapi jangan sekali-kali menyusuri hutan kembali. Jika kamu masih belum menemukannya, kembali ke rumah, ya" Louis mengangguk paham dengan ekspresinya yang bahagia. Dapat dilihat jelas pria tua yang kini berada tak jauh darinya turut tersenyum saat melihat Louis tersenyum bahagia.
"Jadi, apakah kamu ingat darimana asalmu?" tanya pria itu lagi. Louis terdiam sejenak, otaknya mencoba berpikir darimana asalnya. Ini bukan bodoh, ia benar-benar lupa darimana asalnya. Rasanya ia seperti amnesia.
"Sesuai ingatanku, aku anak kerajaan, dan adikku juga. Kita sama-sama dipisahkan oleh hutan" jawab Louis ragu-ragu. Pria itu mengangguk paham, tak ada raut wajah terkejut diwajahnya, karena ia sudah menebak diawal. Aura Louis yang nampak gagah dan pemberani, serta ketampanannya melebihi batas seorang warga biasa, sangat menunjukkan ciri-ciri anak bangsawan di masa itu.
"Baiklah, akan ku jelaskan. Kamu kini berada di kerajaan Liondardo, dengan nama raja Liondardo serta istrinya bernama Nathania. Jika kau sudah benar-benar membaik dan pulih, kamu akan ku serahkan pada raja, agar diberi izin untuk mencari asal kerajaanmu, Louis" jelasnya yang dianggukki oleh Louis.
"Apakah aku bisa kesini sesekali saat aku sudah kembali ke kerajaan ku?" Laki-laki itu bertanya dengan nada ragu-ragu serta lirih. Maksudnya berkata seperti itu, walaupun ia nanti akan berpisah dari keluarga ini, Louis ingin berterimakasih kepada mereka karena sudah mengobatinya saat dirinya sedang seperti tidak ada harapan hidup lagi, atau sekarat.
"Entahlah, Louis. Hukum kerajaan akan berbeda-beda setiap berganti raja. Tetapi ku harap jadilah seorang pemimpin yang baik kepada masyarakatnya, agar mereka juga menyayangimu" jawabnya seraya mengusap lembut rambut pirang laki-laki muda didepannya itu.
__ADS_1
"Terimakasih sudah menjaga dan mengobati ku" Louis kali ini serius. Walaupun belum lama ia disini, tetapi rasanya laki-laki itu sangat membebani keluarga pria yang sama sekali tak ia kenalnya itu.
"Tidak perlu berterima kasih. Itu kewajiban kami. Kami menemukanmu, sama saja kami harus merawat mu juga. Beristirahatlah, sudah malam" Louis lagi-lagi hanya bisa mengangguk mengerti. Pria yang tadi membantu menyuapinya kini kembali pergi meninggalkan Louis seorang diri dikamar tersebut. Louis dengan perlahan membenarkan posisi tidurnya, lalu tak lama berselang ia pun terlelap dalam mimpi nya.