
Louis lagi dan lagi berhenti ditengah-tengah hutan. Hujan turun deras yang membuatnya harus berhenti sejenak agar terhindar dari hal-hal yang tidak ia inginkan. Louis berhenti di satu pohon rindang, melipat kakinya dengan kedua tangannya, wajahnya ia sembunyikan dibalik lipatan kakinya. Ia menangis, berharap ada sebuah sisi terang untuknya.
Ia rindu adik-adiknya, ia rindu orangtua kandungnya. Semuanya ia rindukan, tetapi ini masih jauh, bisa saja mungkin ia akan semakin tersesat disini. Entahlah, tidak ada yang mengetahui hal itu.
Louis kini lapar, perutnya bergemuruh sedari tadi, ia juga kekurangan air putih, ditambah ia baru saja berlari dari kejaran pengawal kerajaan Liondardo. Ditengah-tengah hujan, Louis tertidur akibat kelelahan, ia nampak lelap.
Di dalam mimpinya, laki-laki itu bertemu dengan seorang remaja. Berusia sekitar 18 tahun. Lebih tua darinya. Lelaki itu mengulurkan tangannya mengajak Louis untuk beranjak dari duduknya. Louis tanpa ragu pun memberikan menjawab uluran tangan dari lelaki yang tak ia kenal nya itu.
"Aku tinggal disini" ucap lelaki itu padanya. Louis mengamati setiap sisi rumah tersebut. Rumah dengan nuansa tembok kayu, serta design yang sederhana membawa ciri khas sendiri. "Aku tinggal bersama dengan ibu ku. Dan aku juga bahagia disini" sambungnya dengan senyuman manisnya.
Louis dapat melihat jelas, bahwa sosok laki-laki itu sekilas mirip dengan adik kandungnya, yaitu Caesar. Matanya yang memiliki ciri khas berwarna merah membuat Louis bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah laki-laki ini benar Caesar dimasa depan? atau hanya bayangannya saja karena merindukan sosok adik kecilnya itu?
Louis tiba-tiba terbangun akibat petir yang tiba-tiba menggelegar kencang. Rupanya kini langit sudah gelap gulita. Ia tak ingin banyak gerak kali ini. Laki-laki itu memilih diam seraya membungkam mulutnya menggunakan tangan kecilnya. Ia tak ingin kejadian 5 bulan lalu terulang lagi. Bekas jahitannya kemarin saja terkadang masih terasa nyeri jika tersenggol sedikit.
Laki-laki itu ingin sekali tidur, tetapi rasa trauma seolah-olah tengah menghantuinya. Pandangannya gelap, ia seperti berada ditengah-tengah kegelapan yang buta. Laki-laki itu dengan perlahan mencoba untuk bangkit dari duduknya untuk melanjutkan perjalanannya kembali dengan berjalan santai. Ia berjalan seraya meraba-raba pepohonan yang ia harap dapat membawanya untuk pulang kerumahnya.
Dengan perlahan dan sangat pelan laki-laki itu menginjakkan kakinya diatas dedaunan yang rontok akibat dilanda hujan tadi. "Mama, papa, Louis kedinginan" gumamnya. Pada kenyataannya memang iya. Laki-laki itu kini tengah kedinginan akibat hujan yang mengguyur tadi. Baju nya yang basah benar-benar membuatnya menggigil tak karuan
__ADS_1
Disisi lain Ibunda Caesar serta Louis tengah menangis-nangis didalam kamarnya, ia stress tidak dapat menemukan kedua anak laki-lakinya yang ia sangat sayangi itu. Wanita itu sudah berkali-kali coba ditenangkan oleh sang suami, tetapi upayanya selalu gagal. Ia tetap menangis setiap malam akibat tak pernah menemukan anak-anaknya. Walaupun sudah 5 bulan, tetapi rasa rindunya kepada anak-anaknya yang hilang itu tak pernah hilang sama sekali.
"Bisakah kamu sekali saja tidak perlu menangis? mereka akan baik-baik saja, sayang" ucap Suaminya tersebut.
"Aku akan berhenti menangis seperti ini jika diantara mereka ditemukan, papa. Tolong, aku merindukan mereka berdua..." ucapan wanita itu tak luput disertakan dengan isak tangisnya yang masih belum berhenti.
"Aku juga merindukan pangeran kita, sayang"
Tiba-tiba saja Ghavyna datang membuka pintu kamar orangtuanya. Gadis itu tampak habis menangis membuat kedua orangtuanya kebingungan dengan anak gadisnya tersebut. "Ada apa, sayang" tanya sang ayah khawatir.
"Aku rindu kakak, aku rindu Caesar" rengeknya. Sungguh, semua orang di kerajaannya juga merindukan dua bersaudara itu. Bahkan warga-warga pun turut membantunya dalam pencarian Louis dan Caesar. "Iya. Besok akan papa cari kembali" Pria itu mencoba untuk menenangkan kedua perempuan yang disayanginya. Ia juga bingung harus berbuat apa. Sudah 5 bulan Louis hilang tetapi masih belum ada titik terang dari laki-laki itu.
Setelah kedua perempuan pujaannya Kaven keluar dari kamarnya untuk menuju ruang pribadinya. Lorong kerajaan yang sepi dan gelap gulita tidak membuat nyalinya ciut. Hingga akhirnya ia sampai di ruangannya bersama dengan 7 prajurit yang akan membantunya dalam pencarian Louis esok hari.
Ia tahu ini sudah sangat telat untuk mencari laki-laki itu, tetapi ia tak peduli. Kaven tetap akan mencoba kembali. Entah ini sudah pencarian Louis dan Caesar yang ke berapa kalinya, ia tak peduli, yang penting anak-anaknya bisa ditemukan dan masuk ke dalam dekapannya kembali. Kaven juga sering merasa sangat bersalah akibat melalaikan anak-anaknya. Tetapi lama kelamaan ia harus belajar menerima kenyataan ini. Kenyataan yang pahit untuk diterima dirinya.
"Kemarin kita baru mencari di satu titik. Esok mari kita mencari dengan cara berpencar. 3 prajurit mengikuti ku dan sisanya berpencar. Aku akan membawa lebih banyak prajurit agar kalian tidak harus mencari sendiri-sendiri. Sebagai waspada jika ada yang menyerang kalian. Mengerti?" ucap Kaven yang segera dianggukki oleh prajurit-prajurit kebanggaan nya.
__ADS_1
"Ini sudah ada 5 bulan dari hilang nya kedua anak-anak tuan, apakah tuan yakin akan menemukannya?" tanya salah satunya.
Kaven termenung. "Setidaknya satu dari mereka bisa saya temukan. Walaupun hati saya tetap merasa sakit akibat satu dari mereka tidak kita temukan" jawabnya dengan nada yang bergetar menahan tangisannya
...----------------...
Pagi kembali terbit menusuk masuk melewati gorden kamarnya yang berwarna kuning keemasan itu. Kaven beranjak terlebih dahulu, sedangkan istrinya masih tidur seraya memeluk gadis kecilnya. Pria itu pergi memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum melakukan misi pencarian Louis dan Caesar kembali. Ia mandi tidak membutuhkan waktu lama, hanya 7 menit saja ia sudah selesai.
Kaven sudah rapih dengan baju kerajaannya. Pria itu pergi keluar kamarnya untuk menemui prajurit-prajurit nya. Sebelum pergi meninggalkan kerajaan kembali, pria itu menitipkan pesan kepada pelayannya jika istrinya mencari jawab saja sedang berada diluar.
"Selamat pagi, tuan!" ucapnya tegas dari salah satu pemimpin prajuritnya.
"Selamat pagi kembali. Bagaimana, semua sudah siap?" tanya Kaven yang memastikan kembali kondisi dan persiapan prajuritnya untuk mencari anak-anaknya yang hilang bak ditelan bumi.
"Siap seluruhnya"
"Bagus. Bantu saya mempersiapkan prajurit yang akan kita kerahkan untuk mencari anak saya. Saya tinggal dahulu untuk mengambil kuda" ucap Kaven.
__ADS_1
"Baik tuan! Dimengerti!"
Kaven pun kini pergi menuju kandang kudanya untuk membawanya dalam pencarian Louis dan Caesar. Ia harap kali ini, dirinya bisa menemukan setidaknya satu dari mereka. Walaupun tetap masih ada rasa rindu yang menyelimutinya.