Lost Prince

Lost Prince
BAB 2. Louis & Caesar


__ADS_3

Sang dewi siang kembali terbit. Louis kini terbangun disebuah kamar tetapi ia tak ingat apa-apa. Tubuhnya lemas untuk bergerak. Sakit yang kini ia rasakan. Ingin menangis tapi rasanya sudah tak mampu. Ia merintih kesakitan saat ia mencoba untuk menggerakkan tangannya. Ia benar-benar seakan-akan tak ingat apapun. Ia juga tak tahu dimana ia sekarang. Tetapi tiba-tiba seorang wanita paruh baya berjalan menghampirinya seraya membawakannya susu hangat.


“Syukurlah kamu sudah sadar, nak” ucapnya.


“Aku dimana? Badanku sakit”


“Kamu di rumahku. Saya menemukanmu tergeletak di kebunku dengan bercucuran darah” jawab wanita tersebut. Louis hanya mengangguk, matanya berkeliaran mengamati sekitarnya, takut jika ada bahaya yang mengintainya.


“Kau ingat siapa namamu?” Laki-laki itu menggeleng.


“Asalmu? Atau mungkin rumahmu?” Louis tetap menggeleng.


“Yasudah, istirahatlah kembali, nanti saya bantu mengembalikan ingatanmu”


“Ah, kau tahu dimana adikku?” tanya Louis seketika yang membuat wanita itu terbingung.


“Siapa namanya?”


“Rion” percayalah, Louis hanya ingat bagian nama Rion, tak ingat nama Caesar-nya. “Saya tidak tahu, tetapi jika kamu sudah membaik mari kita cari bersama” jawab nya.


Raut wajah nya sudah menunjukkan sebuah kekecewaan, sejujurnya memang ia kecewa tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Setelah sesaat wanita itu pergi, tiba-tiba seorang pria datang membawa obat-obatan dan alat-alat yang akan digunakannya untuk mengobati tubuhnya yang robek akibat cakaran yang dalam disebabkan dari seekor beruang.


“Halo nak, saya suami dari wanita yang tadi memberikan mu susu hangat. Saya lihat saat kau belum sadar lukamu cukup dalam dan menyakitkan, darahmu berkurang cukup banyak namun bak sebuah mukjizat dirimu masih bisa hidup” ucapnya.


“Lukamu ada yang cukup dalam sehingga membutuhkan jahitan, boleh saya menjahit luka di tubuhmu?” Louis terbingung, walaupun ia tak pernah melakukan hal ini, tapi yang jelas akan sangat menyakitkan untuknya. “Jika kamu belum siap tak apa, ini memang menyakitkan, namun memerlukan jiwa yang rileks agar tak semakin merasa sakit” sambungnya saat tak mendapatkan jawaban dari anak laki-laki kecil itu.

__ADS_1


Louis akhirnya pun menjawab. Ia menghela nafasnya, “Mau” tegasnya. Pria itu tersenyum redup, “baiklah, tunggu sebentar ya, nak. Saya ambilkan obat yang kurang dahulu” ucapnya. Jujur saja rasanya Louis tak siap akan hal ini. Jantung laki-laki itu bergetar hebat saat ini saat menyepakati jawabannya, namun saat melihat luka di kakinya sedikit robek dan pada pundaknya yang cukup parah, membuatnya harus merasakan sakit yang cukup dasyat.


Pria dengan baju lusuh itu kembali membawa obat penghilang nyeri. Detak jantung louis kembali bergetar saat mendapati pria didepannya membawa obat tersebut untuknya. Louis diperintahkan untuk berbaring kembali. kakinya disuntikkan sebuah jarum yang sudah terisi obat bius. Kebetulan keluarga yang menemukannya adalah seseorang yang paham akan obat-obatan.


"Tenangkan lah detak jantungmu, nak. Ini tak akan lama jika kamu tak takut" ucapnya. Laki-laki kecil itu merintih saat sebuah jarum terasa menusuk menembus kulitnya. "Arghh!!"


"Siapa namamu, nak?" tanyanya yang membantu Louis tidak terlalu fokus kepada sakit yang dialami nya. "Aku lupa" Louis menjawab seperti itu.


"Apa kau lupa kejadian semalam juga?" tanya pria tua yang tengah terduduk di kursi dan sibuk menjahit bahunya. "Aku hanya ingat waktu dimana aku di terkam oleh sosok yang besar berbulu coklat, dengan kukunya yang panjang" Ya, benar, Louis hanya mengingat waktu itu, tak mengingat lainnya sebelum kejadian.


"Mengapa kamu bisa berada di tengah hutan yang sangat rentan dengan beruang Grizzly?"


"Aku mencari adikku, yang bernama Rion. Apakah anda tau?" Pria tua itu berpikir sejenak dengan pertanyaan Louis, lalu menggeleng. "Usia berapa tahun? ciri-cirinya bagaimana?"


"Sungguh sangat dini. Apa adikmu menghilang ditengah hutan?"


"Kurasa sepertinya iya"


"Baiklah, dari mana asalmu?"


"Aku tak ingat. Aku hanya ingat, aku kehutan untuk mencari adikku yang hilang sekejap mata dariku saat aku bermain dengannya"


Tanpa terasa rupanya tak lama lagi jahitannya akan selesai, namun tetap saja rasa perih itu tetap membekas di pundaknya. "Oke, sudah selesai. Tetapi tetap saja kamu jangan terlalu banyak bergerak" ucap pria itu yang langsung dipahami oleh sang anak laki-laki berusia 8 tahun itu.


"Saya tinggal terlebih dahulu, jika butuh bantuan cukup panggil saya atau istri saya ya, nak. Beristirahatlah agar cepat pulih" Pria itu kembali meninggalkan Louis seorang diri di sebuah kamar yang cukup redup akan penerangan. Hanya bermodalkan lampu Dian.

__ADS_1


"Caesar..." gumam Louis yang masih tetap sempat-sempatnya memikirkan adik laki-laki kesayangannya tersebut yang kini masih menghilang tanpa jejak. Air mata yang dibendungnya kini pecah membasahi pipi mulusnya, mata nya sedikit memerah.


Laki-laki itu menekuk kakinya perlahan, lalu memeluknya. Meletakkan kepala diatas lutut kakinya seraya menangis bingung memikirkan nasib sang adik. "Maaf, mama, papa" gumamnya.


Jujur saja, rasanya ia nanti malam ingin sekali pergi melarikan diri dari rumah ini, mencari adiknya kembali memasuki hutan-hutan, tetapi ia masih merasa trauma serta sakit yang sangat dalam pada tubuhnya. Hingga sekarang saja tubuhnya lemas, bagaimana nanti jika ia diterkam beruang lagi, bisa-bisa ia sudah mati terlebih dahulu.


Hujan tiba-tiba turun membasahi kerajaan yang tak ia ketahui namanya. Tapi ia sadar bahwa ini bukan tempat tinggalnya, lingkungannya tak seperti ini, lingkungan warga di kerjaannya lebih kejam dari sini.


Tetapi tunggu, Louis rasa ingatannya mulai kembali, tetapi ia tak ingat ia dari kerajaan apa. Ia hanya ingat ia anak seorang raja dan ratu. Louis sangat ingin memberitahukan kepada orang tua yang membantu mengevakuasi nya tadi, tetapi ia merasa tidak enak. Dan kembali memilih untuk diam saja


...----------------...


Caesar tengah menangis-nangis, meraung-raung dibalik lemari tua yang menjebaknya. Suara tangisan itu cukup kencang tetapi tak ada seorangpun yang sadar akan tangisannya.


Toko roti itu kembali buka, sang pemilik yang baru saja sampai sontak terbingung dengan suara tangisan seorang bayi yang masih tak ia ketahui dari mana suara bayi itu berasal. Wanita itu membuka-buka lemari nya satu persatu mencari dimana bayi itu berada.


Ia terbelalak dan terkejut setengah mati saat mengetahui ada seorang anak kecil duduk menangis di lemari yang ia isi stock tepung-tepung untuk membuat rotinya. "YA TUHAN NAK!" ucapnya yang langsung menggendong Caesar keluar untuk menenangkannya.


"Astaga, apa yang terjadi denganmu??! Bayi siapa kamu?!" wanita itu benar-benar khawatir tak bisa berpikir apapun, jika ada seorang bayi disini pasti orang-orang akan menganggapnya habis mencuri seorang bayi karena ia sendiri belum menikah.


"Apa kamu baik-baik saja? ya tuhan, maafkan aku" wanita itu bergumam


"Jangan menangis, aku ada disini... apa kau haus? Ah, tunggu sebentar, akan ku buatkan kamu susu, aku memiliki beberapa susu siap minum di kulkas. Untuk sementara minum itu dulu ya, nak" wanita itu meninggalkan Caesar sebentar untuk membawakannya susu, pasti anak itu sangat haus.


Setelah membuatkannya susu. "Ayo keruangan ku dahulu. Aku akan menemanimu" ucapnya

__ADS_1


__ADS_2