
Matahari kembali terbit, Louis sudah terbangun sejak 10 menit lalu akibat suara gaduh yang ada diluar rumah. Tubuhnya kini sudah membaik setelah 5 bulan dirawat oleh suami istri yang menemukannya. Louis benar-benar merasa berterimakasih banyak kepada mereka.
"Ah, rupanya kau sudah bangun. Bagaimana keadaanmu kali ini?" tanya pria tua yang tiba-tiba datang seraya membawa nampan berisi air hangat untuknya. Senyuman lebar terlukis jelas di wajah tampan anak laki-laki tersebut.
"Sudah membaik, ku rasa" jawab Louis dengan nada yang terdengar bahagia. Senyuman lebar Louis dibalas oleh pria tersebut. Tangannya terulur untuk mengusap pucuk kepala laki-laki yang 5 terakhir ini ia rawat dengan penuh kasih sayang. Mereka rasanya juga tidak siap untuk melepaskan anak itu begitu saja, tetapi ini merupakan hal yang terbaik untuk Louis.
"Bangunlah, lalu bersihkan tubuhmu. Setelah itu akan ku antar pergi ke kerajaan untuk menemui raja" perintahnya segera dijawab oleh anggukan dari kepala Louis.
Sejauh ini laki-laki itu sama sekali tidak pernah membuat sepasang suami istri itu keberatan akan keberadaannya, justru terkadang ia membantu membersihkan rumah, memasak, menemani mereka berjualan. Louis melakukannya dengan senang hati, ia justru bahagia karena diberikan tuhan cobaan seperti ini padanya. Percayalah, hidup mewah tetapi kurang kasih sayang itu tidak menyenangkan, malah hal itu sangat membosankan.
Louis bahagia, tetapi disisi lain ia juga sedih harus meninggalkan keluarga harmonis yang sudah menjaganya itu. Ia sudah terlanjur nyaman, tetapi ia juga harus kembali demi sang adik. Menjelaskan kronologi-kronologi bagaimana adiknya menghilang darinya begitu saja.
Louis mandi tidak begitu lama, hanya cukup 10 menit selesai. Aura nya yang tampan itu semakin keluar dari dirinya. Tanpa ragu Louis berjalan ke ruang makan untuk sarapan bersama. Setidaknya ia melahap satu potong roti agar tidak membuat perutnya sakit.
"Selamat pagi, Louis" sapa wanita yang tengah menyiapkan lauk pauk untuk dimakan bersama. Louis tersenyum bahagia, lalu sedikit membungkukkan badannya untuk menghormati wanita tersebut. Louis tidak begitu suka bermain tahta, walaupun kenyataannya memang ia harus seperti itu. Mau bagaimanapun namanya orang dewasa harus tetap dihormati, mau ia seorang warga biasa, pangeran atau siapapun itu.
"Apa kau sudah membaik?"
"Tentunya! Terimakasih atas semua kasih sayang yang kalian berikan. Entahlah, mungkin kalau bukan karena kalian, aku sudah mati di perkebunan hanya karena seekor beruang" Louis berkata benar-benar seperti dari lubuk hati terdalamnya. Entahlah, sudah berapa kali laki-laki itu berucap terimakasih kepada mereka.
__ADS_1
"Syukurlah jika begitu. Ayo kita sarapan dahulu" Laki-laki itu pun duduk di kursi yang sudah disiapkan. Wanita tersebut duduk di depannya, sedangkan suaminya duduk disamping sang istri. Menu sarapannya kali ini hanya roti lapis, walau hanya roti lapis tetapi rasanya sangat lezat. Louis sangat suka jika wanita itu membuat roti lapis. Ia pun juga tahu bahwa Louis menyukai roti lapis buatannya.
"Aku pasti akan sangat merindukan roti lapis buatan ibu" ujar Louis. Selama ini Louis memanggil wanita itu dengan sebutan ibu, sedangkan pria yang menjadi suami dari ibunya itu ia panggil ayah.
Ibunya hanya bisa menunjukkan senyuman manisnya tanpa menjawab sepatah kata dari ucapan Louis. Rasanya sangat pedih untuk mengingat sebentar lagi ia akan berpisah dengan anak angkat satu-satunya tersebut.
...****************...
"Raja, ada seseorang yang ingin bertemu" ucap seorang pengawal kerajaan Liondardo. Dengan cepat, sang tuannya itupun mengangguk, mengizinkan seseorang yang ingin bertemu dengannya untuk masuk.
Louis serta kedua orang tua angkatnya melangkahkan kakinya untuk memasuki area singgasana raja Liondardo tersebut. Kepala mereka menunduk, sedikit ragu untuk menatap sang raja. Keadaan ruangan seketika hening, masih belum ada yang berani berucap, hingga akhirnya raja Liondardo yang memulai terlebih dahulu.
"Dan siapa anak laki-laki itu?" Liondardo menyambungkan pertanyaannya. Louis mengangkat kepalanya, sedikit mencuri pandang kearah raja Liondardo yang usianya terlihat sudah 50 tahun.
"Saya menemukan anak ini diperkebunan saya. Entah datang dari mana anak ini. Saya ingin meminta izin untuk mengembalikan anak ini ke orangtuanya yang katanya tinggal di kerajaan lain" jelas ayah angkatnya. Jika ia tidak izin kepada sang raja, keluarganya bisa saja habis ditangan raja yang terkenal sedikit kejam itu.
Liondardo menaikkan sebelah alisnya. "Dari kerajaan mana kamu, nak?" Pertanyaan itu di jawab gelengan dari Louis, membuat pria yang duduk di singgasananya itu terbingung.
"Keluar kalian berdua, biarkan saya berbicara dengan anak ini" Liondardo memerintahkan kedua orangtua angkat Louis untuk keluar. Badan anak laki-laki itu bergetar ketakutan. Ia sangat takut terjadi apa-apa pada dirinya.
__ADS_1
"Baik, raja"
Liondardo beranjak dari singgasananya, pria itu menuruni beberapa anak tangga untuk menghampiri anak laki-laki yang kini berada didepannya. Pria itu menyeringai, menatap Louis dengan tatapan yang menyeramkan.
"Berapa usia mu?"
"8 tahun" Louis hanya bisa menjawab dengan nada yang lirih serta sedikit bergetar.
"Bagaimana bisa kau memasuki kerajaan ku? Untuk apa kau berada disini?" Pria itu bertanya dengan nada yang tegas dan menjadi sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Louis yang sudah ketakutan itu dibuat semakin ketakutan.
"JAWAB!" Bentakan keras itu berhasil membuat Louis terkejut setengah mati.
Louis pun akhirnya mencoba untuk kembali mengeluarkan suaranya. "Aku Louis. Aku sungguh tak tahu jika aku sudah memasuki kerajaan lain. Aku mencari adikku yang hilang. Aku diterkam beruang saat sampai diperkebunan sepasang suami istri itu. Ingatanku memudar, aku hanya ingat, aku bukan tinggal di kerajaan ini. Aku ingin pulang" ucapnya dengan nadanya yang terbata-bata, dan sedikit gemetar.
Pria itu seketika tertawa kencang mendengar jawaban Louis. "Aku tahu siapa kau, tetapi aku tidak ingin mengembalikan mu ke keluargamu" ucapan yang ditekankan itu membuat Louis terbingung akan maksud ucapan pria itu. Bagaimana ia tau dimana dirinya berasal? Bagaimana caranya?
"Tolong masukkan anak ini ke penjara" Louis membelakkan matanya. Tidak! Ini bukan yang ia ingin kan. Siapapun tolong dirinya sekarang! Ia ingin mencari adiknya, bukan ingin diperlakukan seperti ini.
"Tuan! Bagaimana dengan adikku?! Aku ingin bertemu dengannya! Tolong!!" Louis memberontak habis-habisan. Tenaganya yang masih anak-anak serta keahliannya dalam bidang bela diri membuatnya berhasil berlari pergi begitu saja. Ia akan pergi menyusuri hutan kembali tanpa orangtua angkatnya mengetahui bahwa ia sudah pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
Louis berlari lincah, Beberapa pengawal berlari mengejarnya. Walau hanya anak kecil, tetapi Louis berhasil berlari lebih jauh dari pengawal-pengawal itu berada. Hingga akhirnya laki-laki itu kembali memasuki hutan-hutan lagi. Tanpa rasa takut ia tetap mengikuti nalurinya lagi