
"Dad, kau harus pergi?"tanya Stella. Ia sedari tadi memeluk ayahnya tanpa ingin melepaskannya.Kevin sudah menjelaskan kepada Stella berkali-kali kalau dia pergi karena masalah pekerjaan.
"Daddy hanya pergi selama dua hari." Kevin berusaha untuk menjelaskan kepada Stella, tetapi Stella malah mengeratkan pelukannya. Ia mendekatkan mukanya ke telinga Kevin lalu membisikkan satu kalimat.
"Aku takut dengan Ana."
Kevin menghela napasnya lalu melihat Anastasya yang sibuk memperhatikan handphonenya seakan tidak peduli dengan dirinya yang sebentar lagi akan pergi. Kimberly tidak ikut Kevin ke bandara karena harus mengurus anak kembar mereka dan juga keadaan dirinya yang sedang mengandung.
"Oh come on, sis. Dad hanya akan pergi selama dua hari. Kita bisa bermain game online selama seharian tanpa akan mendengar ocehannya." Arthur menepuk punggung Stella. Ia senang karena Kevin akan pergi kerja lagi karena tidak ada yang akan melarangnya bermain. Kimberly tidak akan mempermasalahkan hobinya.
"Kenapa kau lama sekali? Apa karena kau sudah tua makanya kau semakin lambat? Jim, lihatlah bosmu ini. Kita bisa saja terlambat karenanya." Michael tampak kesal karena Kevin masih saja berdiri di tempat yang sama selama hampir 30 menit.
Kevin menatap tajam Michael. Umurnya sudah tidak muda tapi dia tetap saja suka membuat orang kesal. Michael hanya menjulurkan lidahnya sambil memelototi Kevin. Ia sesekali berdecak kesal. Kevin terus berusaha untuk melepaskan pelukan Stella. Akhirnya, Stella melepaskan pelukannya dan Kevin langsung pergi bersama Michael, Jim, dan sekretaris Michael.
"Kita harus pulang secepatnya. Aku kasihan dengan mommy yang sendirian di rumah,"ucap Anastasya lalu pergi meninggalkan Stella juga Arthur sendiri. Arthur berdecak kesal lalu mengikuti Anastasya.
"Kenapa sikapnya tiba-tiba berubah? Dia menjadi sangat aneh akhir-akhir ini."
Stella hanya tersenyum sambil mengendikkan bahunya. Ia tau pasti apa yang membuat sikap Anastasya berubah. Ia hanya tidak ingin memberitahukan alasannya. Biarkan saja Stella dan kedua orang tuanya yang tau.
***
"Mom, we are home."Stella masuk kedalam rumah dan mencari keberadaan ibunya. Ia masuk kedalam kamar Kimberly tidak lupa untuk mengetuk pintu terlebih dahulu. Stella tidak melihat Kimberly di kamarnya tetapi twins berada di kasur sedang tertidur. Stella keluar kamar lalu menanyakan keberadaan ibunya kepada Arthur.
"Mommy ada di taman belakang."
"Dimana?"
__ADS_1
"Aku sudah bilang di taman belakang. Kenapa kau menanyakannya lagi?"
"Halaman belakang kita besar, Archie. Beritahu aku lebih detail."
Arthur terlihat kesal karena Kakaknya terus bertanya. Ia menunjuk rumah kaca yang berada di halaman belakang. "Mommy disana. Jangan panggil aku Archie. Namaku Arthur bukan Archie."
"Archie ataupun Arthur adalah hal yang sama. Jadi jangan protes. Anggap saja itu panggilan sayang dari kakakmu ini."
Arthur mengabaikan perkataan Stella lalu pergi ke kamarnya. Stella terkekeh pelan lalu berjalan menuju rumah kaca yang terletak tidak terlalu jauh dari pintu belakang. Walaupun cuaca sekarang sangat panas, tetapi dengan beberapa pohon yang tumbuh di halaman belakang mereka membuat udara menjadi sejuk. Ia masuk ke dalam rumah kaca dan melihat ibunya sedang memperhatikan bunga-bunga yang baru saja tumbuh.
"Mom, kau tidak lelah berdiri seperti itu?"
Kimberly membalikkan badannya dan melihat Stella sudah pulang. Ia tersenyum lalu menghampiri Stella. Kimberly memeluk Stella lalu mengucapkan kata maaf. Hal ini membuat Stella bingung. Ibunya tidak mempunyai salah apapun kenapa harus meminta maaf? Atau malah dia yang berbuat salah?
"Mommy tau kau tidak nyaman dengan Anastasya. Saat malam itu, mommy sedikit membela Ana padahal tau kalau dia yang salah."
Mereka berpelukkan selama beberapa saat hingga akhirnya melepaskan pelukan mereka. Kimberly kemudian mengajak Stella untuk menanam bunga bersamanya. Kimberly sesekali bercerita tentang masa kecil mereka. Ketika mereka masih polos dan belum mengerti tentang dunia percintaan.
Kegiatan mereka dilihat oleh Anastasya. Ia hanya berdecak kesal lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Kimberly dan Stella. Ia tidak tertarik untuk bergabung dan mendengarkan cerita masa kecil mereka. Lebih baik Ia menelepon Raven sambil membicarakan rencana selanjutnya yang harus mereka lakukan.
"Setelah aku hamil, apa yang harus aku lakukan?"
"Kau harus membuat Trevor mengakui kandunganmu karena Ia pasti tidak mau mengakuinya. Lebih baik kau menunggu hingga nanti tiga bulan lalu kau tes DNA. Lakukanlah saat makan malam keluarga supaya lebih seru. Aku yakin adikmu juga akan pingsan saat itu juga."
"Rencana yang sempurna. Sekarang lebih baik aku cepat hamil saja. Aku sudah tidak tahan dengan anak itu yang selalu mendapatkan segalanya,"ucap Anastasya kemudian mematikan teleponnya. Ia tersenyum lalu masuk ke dalam rumah. Ia melihat Molly yang sedang tidur kemudian menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Hanya kau satu-satunya teman yang aku punya, Molly."
__ADS_1
***
"Jim, kau menyadari bukan kalau dia akhir-akhir ini sangat emosian. Aku tau kalau dia emosian tapi kali ini dia sangat sering marah. Apa dia mau cepat tua? Dia mau cepat menjadi seorang kakek sepertinya,"ucap Michael sambil menyenggol lengan Jim. Jim hanya tersenyum dan tidak membalas apapun. Ia sudah bisa merasakan hawa yang tidak enak dari bosnya.
"Lebih baik kau tutup mulut, Michael,"desis Kevin.
"Aku hanya membicarakan hal yang benar. Kalau kau mau menjadi seorang kakek, suruh anak pertamamu untuk menikah. Jangan menjadi pemarah seperti ini."
Kevin emosi mendengar nama Anastasya yang tidak ingin dia dengar malah diucapkan oleh Michael. Ia mengambil pulpennya lalu melemparkannya kearah Michael hingga hampir terkena kepalanya jika saja pria itu tidak menghindar.
"Untung saja aku sudah terlatih untuk menghindari pulpen mematikanmu itu." Michael mengambil pulpen tersebut dilantai lalu melemparnya balik kearah Kevin. Michael melihat Kevin menghela napas lalu menatap jendela seperti orang yang patah hati.
"Apa yang terjadi? Kau bisa menceritakannya kepada kita bertiga. Aku bisa jamin kalau sekretarisku adalah orang yang bisa menjaga rahasia dengan baik."
"Ana suka dengan Trevor. Gadis itu bahkan memberikan obat perangsang untuk menjebak Stella. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan sekarang."
Michael terdiam mendengar penjelasan singkat Kevin. Ia tidak tau harus melakukan apa ataupun memberikan nasehat apa kepada temannya. Ia tau kalau Kevin sangat menyayangi kedua putrinya bahkan mungkin melebihi Ia menyayangi Kimberly.
Keadaan menjadi hening untuk beberapa saat hingga mereka menyadari ada sesuatu yang salah dari pesawat mereka. Kevin melihat jendela dan menyadari kalau ada asap yang muncul dari pesawat mereka.
"Vin, asap itu normal kan?"tanya Michael yang ikut menyadari kejanggalan yang terjadi. Sontak semua orang menatap kearah jendela lalu panik. Tidak berselang lama hingga muncul api yang membuat semua orang bertambah panik.
Para pramugara dan pramugari memberitahu mereka untuk tetap tenang karena pilot sedang memutarbalikkan pesawat menuju bandara yang tadi menjadi landasan mereka untuk take off. Semua orang memakai seatbelt mereka. Ada beberapa berdoa untuk keselamatan mereka dan juga ada yang menangis.
"Selamat tinggal, Vin."
"Jangan bicara hal yang gila, Michael."
__ADS_1