Love And Pain

Love And Pain
6


__ADS_3

Anastasya yang baru saja sampai ke apartemennya langsung membanting kopernya keatas kasur. Ia tidur disebelah kopernya sambil melihat handphonenya. Anastasya melihat Raven yang sedang online. Karena penasaran, Anastasya iseng mengirim pesan kepada Raven untuk datang ke apartemennya. Tanpa disangka, Raven malah meneleponnya.


"Kau tidak sekolah?"tanya Anastasya.


"Bolos. Kau ada dimana? Kau mau aku datang? Aku masih kesal karena kejadian kemarin."


"Datanglah ke apartemenku."


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Anastasya mematikan teleponnya lalu mulai membereskan baju-bajunya. Ia melipat bajunya asal dan memasukannya ke dalam lemari. Setelah selesai, Anastasya memilih untuk pergi mandi.


Saat ingin keramas, Anastasya menyadari ada seseorang dibelakangnya. Sontak Ia menengok kebelakang dan melihat Raven yang sudah bertelanjang dada.


"Kau sudah datang? Cepat sekali,"ucap Anastasya tidak memedulikan keadaan mereka saat ini. Raven tidak menjawab. Ia memeluk Anastasya lalu menghirup aroma bunga mawar yang berasal dari sabun Anastasya. Anastasya membalikan badannya. Ia dan Raven saling memandang dengan lekat.


"Kita harus buat rencana baru."


"Sebelum itu, bukankah ada yang harus kita tuntaskan terlebih dahulu?"


Anastasya tersenyum. Ia dengan berani mencium Raven duluan. Mereka mulai melakukan kegiatan panas mereka di kamar mandi. Tentu saja hal ini bukan kali pertama bagi mereka.


...***...


"Aku sudah bilang kalau aku tidak mau mempunyai anak lagi. Anak kembarmu lagi sangat aktif. Aku bisa kewalahan."


"Pertama-tama, anak kembar kita. Bukan hanya anak-anakku saja tetapi anak-anak kita dan bukankah kau harusnya senang? Lihatlah muka Stella. Ia sangat senang mendapat adik lagi."


Kimberly melihat Stella. Anaknya tersenyum lebar sambil menatapnya. Kimberly ikut tersenyum. Biarlah anaknya senang karena hal ini.


"Aku yang akan memberikan nama untuknya. Aku sudah memikirkan beberapa nama,"ucap Stella.


Kevin berdecak kesal mendengar anaknya. "Itu anak daddy bukan anakmu. Tentu saja daddy yang harus menamainya."


"Itu adikku."


"Itu anakku."

__ADS_1


"Adikku. Lagipula daddy sudah memberi nama semua anak daddy. Biarlah aku yang memberinya nama. Aku jamin namanya tidak akan kalah bagus dengan yang lain."


"Biarkan saja dia,"ucap Kimberly. Kevin mendengus lalu mengangguk. Kimberly kemudian melanjutkan ucapannya. "Aku ingin memakan sesuatu yang pedas."


"Kau lupa dengan peraturan-peraturan yang sudah kubuat? Kau mau aku mengulangnya kembali?"tanya Kevin. Muka kesalnya membuat Kimberly ingin mencubit pipinya.


"Sudahlah mom, biarkan saja daddy. Nanti kita akan makan makanan pedas diam-diam. Daddy tidak akan tahu."


"Jangan sampai daddy menghukummu."


Stella terkekeh. Ia memeluk Kevin lalu mencium pipinya. "Aku hanya bercanda dad. Lagipula kau tau kalau aku tidak terlalu suka makanan pedas. Tapi kalau mommy memaksa, aku bisa apa."


"Sudah-sudah, aku tidak menginginkan makanan pedas lagi,"ujar Kimberly menengahi mereka. "Lebih baik kita makan kue saja. Aku tahu toko kue yang baru saja buka."


"Baiklah, jika anak kita maunya itu."


Saat mereka berjalan menuju toko kue, Stella tidak sengaja menabrak seseorang. Stella yang menyadari akan hal itu langsung meminta maaf.


"Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Apa kau baik-baik saja? Ada yang terluka?"


"Aku tidak terjatuh nona. Tentu saja aku baik-baik saja. Jangan khawatir,"ucapnya. Ia kemudian berpamitan dengan Stella karena ada urusan yang mendesak.


"Lain kali berhati-hatilah, princess,"ucap Kevin yang hanya dibalas dengan kekehan Stella.


...***...


"Raven, aku sudah lelah. Sudah cukup,"ucap Anastasya. Mereka baru saja menyelesaikan kegiatan panasnya dan berakhir di ranjang. Raven kemudian membiarkan Anastasya tidur di dadanya.


"Kau ingin tidur atau melanjutkan pembicaraan tadi?"tanya Raven. ia juga sudah sama lelahnya dengan Anastasya. Tapi Raven akan melakukan semuanya yang Ia bisa demi Stella.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin kembali ke rumah itu."


Setelah mengucapkan kalimat itu, keadaan menjadi hening. Mereka berdua sama-sama berpikir untuk mencari solusinya. Banyak yang terlintas di kepala mereka berdua namun mereka sadar ide itu sangat mustahil.


"Bagaimana kalau kita melakukan hal yang sama tetapi kepada Trevor?"tanya Raven.

__ADS_1


"Memberikannya obat perangsang? Dia berbeda dengan Stella. Aku tidak bisa mengajaknya langsung."


"Kau bisa serahkan hal itu kepadaku."


"Biarkan aku tau rencanamu."


Raven terkekeh lalu mulai menjelaskan rencananya. Anastasya mendengar secara seksama supaya Ia tidak membuat kesalahan. Awalnya Anastasya sedikit meragukan rencana Raven. Namun semakin Ia memikirkan hal tersebut, semakin tertarik pula Anastasya.


"Bagaimana? Apa kau tertarik?"tanya Raven.


Anastasya mengangguk. "Aku tidak sabar melihat reaksi Stella dan kedua orang tua itu."


"Kau harus memberikanku hadiah karena telah membantumu memikirkan hal ini,"ucap Raven. Tangannya mulai meraba perut Anastasya dan terus bergerak hingga bagian intim.


"Mesum."


********************************************


Anastasya O'Leary



Albert Raven Uzkiel



Auristella Giselle O'Leary



Yang ditabrak Stella



HAI SEMUA!! Maaf ya author jarang update hehe. Bisa tebak gak siapa yang ditabrak Stella? Btw, Raven ganteng juga ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2