Love And Pain

Love And Pain
4


__ADS_3

Anastasya sedang menelepon temannya yang mempunyai sebuah club untuk menjalankan aksinya.


"Raven, kau mau adikku bukan?"


"Tentu saja. Apa yang harus aku lakukan?"


"Kau hanya perlu membawanya ke club dan biarkan aku yang mengajaknya."


Setelah mengucapkan hal tersebut, Anastasya mematikan teleponnya lalu masuk kembali ke dalam rumah. Ia segera berjalan ke kamar Stella. Ia mengetuk pintu kamarnya lalu masuk begitu saja.


"Hey sis. Ada apa? Kenapa kau masuk ke kamarku?"tanya Stella.


"Aku hanya ingin meminta maaf kepadamu," Jawab Anastasya. Ia kemudian duduk di kasur Stella lalu memegang tangannya. "Kau mau ikut ke taman bersamaku?"


Tanpa pikir panjang, Stella mengangguk. Stella berganti baju sebentar. Tidak mungkin Ia pergi ke taman menggunakan baju tidur dan tanpa dalaman. Setelah selesai, mereka kemudian keluar kamar. Namun, Stella pergi ke kamar orang tuanya untuk meminta ijin terlebih dahulu.


"Kau tidak perlu minta ijin. Aku sudah meminta ijin terlebih dahulu pada daddy."


Stella mengangguk mengerti. Anastasya tersenyum licik. Lihatlah, adiknya sangat mudah dibohongi. Sepertinya rencana kali ini akan berjalan sangat lancar tanpa hambatan.


"Sis, apa yang kau tunggu?"


Ucapan Stella membuyarkan lamunan Anastasya. Wanita itu segera menyusul adiknya yang sudah berdiri di depan tangga.


...***...


Saat sudah sampai di club, Stella mengernyitkan dahinya. Mereka berada di club bukan di taman yang seperti dibilang oleh Anastasya. Sebelum Stella sempat bertanya, Anastasya sudah lebih dahulu menjawab pertanyaannya.


"Aku harus bertemu dengan teman terlebih dahulu,"ucap Anastasya. Ia melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu mobilnya. "Kau ikut saja denganku. Aku takut meninggalkanmu sendirian di mobil."


"Tapi aku masih dibawah umur."


"Tenang saja. Temanku pemilik club ini. Kau bisa masuk dengan mudah,"balas Anastasya. Stella masih terlihat ragu untuk ikut bersamanya. Anastasya menghela napas pelan.


"Sudah ikut saja."

__ADS_1


Anastasya kemudian keluar mobil dan menunggu Stella diluar. Stella memilih untuk mengikuti Anastasya. Ia tidak punya pilihan lain. Stella tidak mau membuat Anastasya benci lagi kepadanya.


Anastasya tersenyum lalu menggandeng Stella, mengajaknya masuk ke dalam club. Awalnya Stella dilarang masuk tapi karena penjelasan yang diberikan oleh Anastasya dan Raven yang menyambut mereka, akhirnya mereka diperbolehkan masuk.


Stella yang melihat Raven hanya diam dan berusaha untuk membuang muka. Ia melihat Raven belum menatapnya dan Ia tidak mau sampai harus bertatapan.


Saat Stella berjalan masuk, suara musik yang sangat keras dan bau alkohol langsung menyambutnya. Seketika, Ia menjadi sangat pusing. Anastasya yang tahu hal ini membawa Stella masuk ke ruangan VIP.


"Kau merasa lebih baik?"tanya Anastasya.


Stella mengangguk. Ia kemudian melihat ke sekeliling berusaha untuk beradaptasi. Bau alkohol masih tercium oleh hidungnya. Saat Ia melihat pintu, disaat yang bersamaan Raven masuk membawa minuman untuk mereka. Sesaat kemudian, mereka bertatapan. Raven tersenyum sementara Stella menunjukkan wajah datarnya.


"Ini minumanmu. Aku tahu kau tidak meminum alkohol. Jadi aku membawakanmu air mineral." Ucap Raven sambil memberikan botol air kepada Stella. Stella mengambilnya dengan ragu. Ia membuka tutupnya lalu meminumnya sedikit memastikan kalau itu benar air mineral. Setelah memastikan kalau itu benar-benar air mineral, Stella meneguknya hingga tersisa setengah.


"Ini obat pereda pusing,"ucap Anastasya. Ia memberikan satu butir obat kepada Stella. Anastasya melihat Raven. Mereka saling menatap dan menunjukan seringai jahatnya. Stella yang tidak menyadari langsung meminum obat tersebut yang merupakan sebuah obat perangsang.


Tidak butuh waktu lama hingga obat tersebut bekerja. Stella merasa panas seketika. Ia tiba-tiba mengungkap sebuah sentuhan.


"Obat apa itu?"tanya Stella.


"Sudahlah Stella, biar aku bantu,"ucap Raven. Ia berpindah ke sebelah Stella. Ia mulai mencium leher Stella dan meraba pahanya yang masih tertutupi oleh celana jeans. Stella tidak bisa melawan dan hanya menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Raven. Stella tidak mau bilang kalau Ia menginginkan lebih dari ini. Otaknya penuh dengan Trevor. Ia tidak mau mengkhianati kekasihnya.


"ANA PULANG SEKARANG! DADDY TIDAK MAU TAHU."


...***...


Anastasya dan Stella sampai di pekarangan rumah. Stella sudah banjir air mata. Efek obat itu masih terasa di tubuhnya tetapi tidak sekuat dan separah tadi.


Di depan rumah, Kevin sudah menunggu kedatangan mereka. Mukanya tidak bersahabat saat melihat Anastasya. Stella turun dari mobil dan berlari memeluk Kevin. Tangisannya pecah dipelukan sang ayah. Kevin melihat leher Stella dipenuhi bercak kemerahan.


"Vin, jangan marah kepada mereka. Mungkin saja mereka hanya jalan-jalan,"ucap Kimberly. Ia berjalan menuju suaminya sambil mengikat kimono tidurnya.


"Jalan-jalan? Lihatlah keadaan Stella,"ucap Kevin tanpa mengalihkan pandangannya kepada Anastasya.


Kimberly terkejut melihat keadaan Stella. Lehernya dipenuhi bercak kemerahan dan pakaiannya menjadi kusut. Kimberly sontak menatap Anastasya yang keadaannya masih terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


"Kau masih menyuruhku untuk tidak marah?"tanya Kevin. Kimberly terdiam. Ia memutuskan untuk membawa Stella masuk ke dalam untuk menenangkannya dirinya dan meninggalkan Kevin dengan Anastasya.


"Ikut Daddy ke ruang kerja,"ucap Kevin. Ia kemudian berjalan meninggalkan Anastasya. "Tutup dan kunci pintu." Lanjutnya.


Saat di ruang kerja, Anastasya menutup pintu. Wajahnya datar sama dengan Kevin. Kevin berjalan kearah Anastasya lalu menamparnya.


"APA YANG KAU LAKUKAN KEPADA ADIKMU?!"teriak Kevin. Anastasya hanya diam. Ia tidak menangis ataupun marah. "JAWAB DADDY, ANASTASYA O'LEARY."


"Aku hanya memberinya obat perangsang,"jawab Anastasya enteng.


Kevin menahan dirinya agar tidak menampar Anastasya lagi. "Hanya? Kau sengaja membuatnya diperkosa?"


Anastasya mengangguk pelan sebagai jawaban. Kevin yang semakin emosi kemudian melempar vas bunga yang ada didekatnya.


"Mulai besok, kau jangan tinggal disini lagi,"ucap Kevin. Ia mengeratkan kepalan tangannya. "Saya menyesal mengadopsimu." Lanjutnya lalu meninggalkan Anastasya di ruangan kerjanya sendirian.


...***...


Kevin masuk ke kamarnya lalu membanting pintu kamarnya. Kimberly terperanjat kaget. Ia melihat Stella yang masih tertidur lelap sehabis mandi dan berganti baju. Mukanya masih merah karena hingga tertidur Ia tidak berhenti menangis.


"Jangan banting pintu. Stella sudah tertidur,"ucap Kimberly.


"Anastasya akan pindah besok. Ia tidak akan tinggal dengan kita lagi,"ucap Kevin. Ia duduk di sebelah Anastasya lalu mengusap kepalanya pelan. "Aku juga akan mengurus surat adopsinya. Aku tidak mau punya anak sepertinya."


"Kenapa? Kau bisa membicarakannya baik-baik. Jangan langsung mengusirnya seperti itu."


Kevin lalu bangkit dan menarik Kimberly hingga keluar kamar. Kimberly meringis kesakitan karena pergelangan tangannya digenggam sangat keras.


"DIA MEMBERIKAN OBAT PERANGSANG KEPADA ANAKMU DENGAN SENGAJA. ANA SENGAJA MEMBUAT STELLA DIPERKOSA,"teriak Kevin.


Kimberly terdiam. Ana-nya tidak mungkin melakukan hal itu. Ia tahu hubungan Anastasya dan Stella tidak baik. Tapi Ia juga tidak menyangka hal ini akan terjadi.


"Kau mau membela Ana silahkan. Tapi kita akan berpisah. Aku tidak mau anakku terluka hanya karena wanita itu,"ucap Kevin. Ia menatap Kimberly menunggu jawaban dari wanita itu. Bilanglah Ia kejam. Tapi untuk sekarang, kebahagiaan anaknya yang nomor satu.


"Terserah kau saja."

__ADS_1


Kevin tersenyum lalu mencium kening Kimberly singkat. Ia menyatukan dahinya dengan dahi Kimberly.


"Maafkan aku, tapi kebahagiaan anak-anakku nomor satu."


__ADS_2