Luka Cinta Tuan Muda

Luka Cinta Tuan Muda
Chapter 01. Awal Baru


__ADS_3

...⚠18+ (Terdapat kata-kata kasar)...


Happy Reading 🌷


Helaan napas panjang terdengar sepanjang perjalanan dari kursi belakang yang tengah di tempati seorang perempuan dan laki-laki dengan mengenakan pakaian khas pengantin. Keduanya bungkam, tak ada satupun yang memulai pembicaraan.


Kedua tangan yang saling bertautan di atas pangkuan menandakan bahwa wanita itu tengah dilanda kegugupan. Berkali-kali wanita itu membasahi bibirnya yang terasa kering. Sungguh, suasana saat ini membuat dirinya sangat tak nyaman.


Sedangkan, pria yang mengenakan tuxedo hitam di sampingnya itu kini tengah fokus pada ponsel yang berada di genggaman. Sama sekali tak memperdulikan keberadaan dirinya, memilih acuh dan tetap diam.


"Tuan, kita sudah sampai," ujar seorang supir yang berada di balik kemudi. Ia mematikan mesin mobil ketika sudah berada di halaman parkir Apartemen yang menjadi tempat tinggal Radean.


Pria tua itu menoleh ke belakang tempat majikannya duduk bersama sang istri. Radean mengangkat kepalanya, lalu mengangguk kecil. Pria itu lalu keluar setelah mobil berhenti. Tanpa mengajak seorang wanita yang kini telah menjadi istrinya, Radean dengan acuhnya memilih pergi meninggalkan sosok perempuan yang kini tengah tertunduk sedih.


"Non Liana, biar saya saja yang bawa kopernya ke dalam."


Perempuan yang dipanggil Liana itu mengangguk pelan, mengiyakan tawaran sang supir karena dirinya sadar bahwa ia tidak akan bisa membawa koper besar dengan beban yang cukup berat.


Liana mengangkat sedikit ujung gaun pengantin yang masih melekat, lalu berjalan dengan pelan karena takut tersandung. Ia mengikuti langkah Radean yang terlihat sedang menunggu di depan lift apartemen yang akan mereka tinggali.


Ting!


Suara dentingan lift yang terbuka membuat kedua orang itu masuk bersama. Radean masih dengan rampang datarnya, sedangkan Liana dengan wajah gugup serta pucatnya. Hening kembali menyelimuti suasana. Radean menoleh sekilas ke arah Liana, lalu pria itu berdecih sinis. Tak menyangka wanita yang bekerja sebagai pelayan di mansion ayahnya itu, kini malah menjadi pasangan hidupnya.


Pintu lift terbuka, Radean melangkahkan kaki panjangnya menuju unit tempat tinggalnya berada, diikuti Liana yang mengejar dengan langkah cepat, takut tertinggal pria jangkung itu.


Setelah mengetikan pasword apartemennya, Radean beringsut masuk ke dalam lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang berada di sana. Liana memasuki kamar Apartemen Radean dengan wajah yang menampakan kekaguman.


Apartemen yang di tempati Radean berada di kawasan elite, hanya orang-orang yang ber-uang yang bisa menempatinya. Liana masuk sambil menggeret kopernya yang tadi di bawa oleh pak Amir, sopir pribadi keluarga Rajendra.


"Tuan sudah datang!"


Liana sontak menoleh saat sebuah seruan terdengar dari arah selatan, lokasi dapur di apartemen itu. Dari arah sana, seorang wanita yang masih Liana kenali berjalan dengan tergopoh menghampiri Tuan Muda mereka yang masih bersandar nyaman di sofa.


Radean membuka matanya lalu memandang pelayan yang bekerja di Apartemennya datar. Pria itu lantas berdiri lalu beranjak pergi dari sana, menaiki anak tangga menuju lantai atas di mana kamar pribadinya berada. Namun, saat pertengahan anak tangga yang ia pijak, pria itu berbalik dan mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Antarakan minuman ke kamarku, dan tunjukan kamar yang akan dia tempati," ujarnya sembari menunjuk Liana dengan dagu.


"Baik Tuan."


Radean kembali menaiki undakan anak tangga. Liana yang masih berada di bawah terus memandang punggung Radean hingga akhirnya tubuh pria itu menghilang dari sana. Liana menghela napas panjang, entah mengapa dirinya kini nerasa sedih karena di acuhkan oleh seseorang yang sudah sah menjadi suaminya, dan Ayah dari anak yang tengah di kandungnya. Wanita itu mengelus perut datarnya sebentar, lalu kembali menggeret koper besar yang ia bawa, mengikuti langkah pelayan yang di perintahkan Radean tadi.


Liana berhenti di depan pintu kamar yang di tunjuk pelayan itu. Ia membuka kuncinya lalu merangsak masuk ke dalam. Pelayan tadi mengikuti langkah Liana memasuki kamar, lalu duduk di tepi ranjang tepat di sebelah Liana.


"Bibi tidak menyangka kamu akan tinggal di sini Ana, bersama Tuan Muda."


"Aku juga tidak menyangka Bi. Semuanya terjadi begitu saja tanpa Liana duga," ujar Liana sembari menundukan wajah.


Amy, nama pelayan yang berada di Apartemen Radean itu ikut menghela napas panjang. Ia sendiri tidak menyangka, bahwa gadis yang dulu sempat bekerja bersamanya di mansion Rajendra itu kini malah menjadi majikannya.


"Sudahlah Ana semuanya sudah terjadi. Tak ada yang harus disesalkan sekarang. Lebih baik kamu istirahat saja, pasti kamu sangat lelah setelah acara pernikahan tadi," ujar Bi Amy dengan senyum menenangkan. Bagaimana pun juga Liana pasti sangat terbebani dengan semua ini. Namun, takdir Tuhan sudah terjadi, tak ada yang bisa di rubah dan harus tetap dijalani.


Liana masih tertunduk sedih, membuat Bi Amy tak tega. Lantas wanita itu menarik tubuh Liana ke pelukannya. Menenangkan gadis yang kini malah menangis hingga tubuhnya bergetar. Walaupun tanpa isak tangis, namun tetap saja Bi Amy dapat merasakn kesedihan yang Liana alami.


"Sudah, jangan menangis lagi. Tidak baik untukmu dan bayimu."


"Tapi, Bibi bingung sekarang."


"Bingung kenapa Bi?" tanya Liana penasaran.


"Bibi bingung, apakah sekarang Bibi harus memanggilmu Nona atau Nyonya Muda?"


Liana tertawa kecil dengan pipi yang memerah mendengar penuturan Bi Amy.


"Jangan memanggilku seperti itu Bi. Aku tetaplah Liana, tidak akan berubah sama sekali. Aku masih tetap menjadi pelayan, hanya saja sekarang aku sedang mengandung bayi dari Tuan Muda."


Bi Amy hanya mengangguk kecil mendengarnya. Walaupun dirinya ingin sekali membantah Liana tentang ucapannya. Namun, saat ini lebih baik dirinya menuruti apapun yang Liana ucapkan.


"Baiklah. Kalau begitu Bibi akan keluar menyiapkan minuman untuk Tuan Muda. Apakah kamu ingin sesuatu? Biar Bibi buatkan sekalian."


Liana menggelengkan kepalanya pelan. Saat ini dirinya hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya saja.

__ADS_1


Bi Amy kembali mengangguk lalu beranjak keluar dari kamar Liana.


Liana naik ke atas ranjang, lalu perlahan membaringkan tubuhnya yang sangat lelah. Setelah melewati serangkaian acara pernikahan yang di gelar dengan sederhana, Liana tak diizinkan istirahat barang sejenak. Radean, Tuan Mudanyan itu langsung membawa dirinya pergi setelah berpamitan pada saudara dan ayahnya yang masih berada di Hotel tempat acara di gelar.


Liana perlahan memejamkan matanya, lalu tak lama terdengar dengkuran halus yang berasal dari bibir wanita itu, menandakan bahwa wanita itu sudah memasuki alam mimpinya, dan terlelap dengan nyaman.


*********


Aroma alkohol yang menyengat dengan kepulan asap rokok menguar di semua sudut ruang kamar yang bernuansa hitam itu. Terdapat tuxedo hitam dan sepatu yang tergeletak di lantai. Tak jauh dari sana seorang pria terlihat sedang menikmati sebatang rokok yang menyelip di antara jari dan segelas wine yang berada di genggaman.


Haris sudah beranjak malam ketika dirinya sampai di Apartemen. Pria itu duduk di sofa yang menghadap ke arah balkon kamarnya. Pemandangan kota di malam hari tersuguhkan di depan mata. Namun, pria itu tak begitu menikmati pemandangan yang berada di depannya, ia malah sibuk melamun dengan pikiran yang kusut.


Tak pernah terbayang bahwa dirinya akan menikah di usia yang terbilang masih muda. Apalagi menjadi seorang ayah dari bayi yang sama sekali tak ia harapkan keberadaannya. Baginya, keberadaan bayi dan wanita itu hanya akan menjadi kesialan panjang yang akan di alaminya.


Jujur saja, dirinya begitu ingin sekali menghancurkan atau menghilangkan wanita itu di kehidupannya. Wanita yang begitu bodohnya meminta pertanggung jawaban padanya hanya karena seorang janin yang bisa saja dimusnahkan. Radean kembali berdecih sinis, menganggap takdir Tuhan kali ini tak memihak diirnya sama sekali.


Radean teringat kembali kejadian yang ia alami, penyebab datangnya wanita itu ke dalam kehidupannya.


Sebelum kejadian itu Radean masih ingat, dirinya tengah berada di sebuah club malam bersama rekan dan teman-temannya untuk merayakan hari ulang tahun salah seorang di antara mereka. Party yang diadakan begitu meriah dengan berbagai wanita seksi sebagai penghibur, lalu berbagai jenis minuman beralkohol terdapat di sana.


Puncaknya saat tengah malam tiba, Radean merasa suhu tubuhnya berubah setelah menenggak satu gelas wine yang disodorkan salah satu temannya. Diirinya yang saat itu tengah mabuk berat tanpa pikir panjang mengambil dan segera meminumnya.


Radean merasa tubuhnya bereaksi aneh, dan ia tahu penyebabnya. Ia telah dijebak dengan segelas wine yang dibubuhi obat perangsang. Radean saat itu ingin sekali mengamuk, menghajar temannya yang malah tertawa di saat dirinya berusaha mengendalikan tubuhnya.


Namun, karena reaksi yang terus berlanjut, Radean memilih untuk pulang ke Apartemennya. Tetapi, entah kesialan apa yang tengah menimpanya, mobil yang di kendarai Radean tanpa sadar malah berbelok ke arah di mana mansion sang ayah berada.


Dan di saat dirinya masuk ke dalam mansion dalam keadaan mabuk dan juga terangsang, Radean melihat seorang gadis tengah membereskan sesuatu di ruang tamu. Tanpa pikir panjang, Radean dengan bersusah payah menyeret tubuh gadis itu menuju salah satu kamar yang tak jauh dari sana.


Dan setelah itu ia tak lagi mengingat apapun. Hanya keadaan kamar yang kacau saat terbangun di pagi hari membuat Radean menerka-nerka apa yang terjadi. Dan kejadian itu pula lah yang menyeretnya masuk ke dalam kehidupannya yang baru. Dengan status baru sebagai seorang suami dan ayah dari bayi yang tengah di kandung wanita itu.


Radean mengusap wajahnya kasar, mengerang frustasi dan terus merutuki tindakan yang ia lakukan malam itu.


"Berengsek!"


...Bersambung....

__ADS_1


...Tandai author jika kalian menemukan typo yang menganggu 😉...


__ADS_2