Luka Cinta Tuan Muda

Luka Cinta Tuan Muda
Chapter 02. Mengidam


__ADS_3

...Happy Reading Dear ❤...


Pagi hari datang dengan membawa mentari pagi yang menyorotkan cahaya hangat ke seluruh penjuru bumi. Burung-burung terdengar berkicauan serta lalu lalang orang-orang yang mulai terlihat di sepanjang jalan.


Seberkas cahaya masuk ke salah satu ruangan tempat seseorang yang tengah terlelap damai. Cahaya yang masuk ke sela-sela tirai yang terbuka sedikit mengusik kenyamanan pria yang masih bergelung dengan selimut tebalnya. Tak lama mata elang itu perlahan terbuka diikuti suara erangan khas orang bangun pagi.


Tangan kekarnya terangkat untuk menutupi sorot cahaya yang mengenai matanya. Lalu, pria itu bangkit dan menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Ia menguap lalu sesekali mengucek matanya yang masih lengket. Beberapa menit kemudian, ia beranjak dari kasurnya dan menyeret kakiknya memasuki kamar mandi.


Tak lama kamar mandi terbuka menampilkan sosok yang sudah segar dengan jejak air yang masih membasahi wajahnya. Ia kemudian mengambil selembar kaos di dalam lemari, lalu memakainya. Tatapannya beralih pada ponsel yang tergeletak di atas nakas, segera ia mengambil dan menyalakannya. Terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari teman-temannya, serta beberapa pesan yang berisikan ucapan selamat atas pernikahannya, yang membuat pria itu mendengus kesal.


Ia melempar ponselnya ke atas kasur, lalu beranjak keluar untuk ke dapur. Kaki panjangnya perlahan menuruni undakan anak tangga untuk ke bawah. Namun, baru saja langkah kakinya sampai di anak tangga terakhir, telinganya mendengar suara seseorang dari arah kamar yang di tempati Liana. Seperti seseorang yang tengah memuntahkan sesuatu.


Radean mengernyitkan alisnya ketika melihat sosok Bi Amy, wanita yang menjadi pelayan di Apartemennya tengah sibuk menyiapkan sesuatu di dapur. Lalu tak lama, wanita itu datang dengan sebuah nampan berisikan satu gelas teh hangat dan satu mangkuk bubur yang masih mengepulkan asap.


"Ada apa ini?"


Langkah Bi Amy terhenti setelah mendengar pertanyaan dari Tuan Mudanya yang entah kapan sudah berada di sana.


"Nona Liana sedari tadi terus muntah tuan. Saya menyiapkan teh hangat dan bubur untuknya," jawab Bi Amy dengan kepala tertunduk.


Radean mengangguk kecil dan kembali bertanya, "Memangnya ada apa dengan wanita itu?"


"Morning Sickness. Wanita hamil memang biasa mual dan muntah di Trimester pertama kehamilannya Tuan. Dan Nona Liana sepertinya mengalami hal itu."


Radean kembali menganggukan kepala, memilih acuh setelah mendengar kondisi wanita itu dan membiarkan pelayannya pergi ke kamar Liana. Pria itu melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk mengambil segelas jus dari lemari pendingin.


Radean duduk di salah satu kursi meja makan, lalu mulai menikmati sarapan yang berada di depannya. Namun, baru saja beberapa suap makanan itu masuk ke mulutnya, Radean kembali mendengar suara gaduh dari kamar Liana. Dengan perasaan geram Radean bangkit dari duduknya, lalu melangkahkan kaki menuju arah sumber suara.


Radean menghentikan langkahnya ketika melihat Liana yang tengah terduduk lemas di tepi ranjang dengan Bi Amy yang sedang mengusapkan minyak kayu putih pada tengkuk wanita itu. Radean tertegun sejenak, lalu pria itu menyandarkan tubuhnya di daun pintu sembari memperhatikan kedua wanita itu.


Diamatinya wajah Liana yang sangat pucat, lalu buliran keringat yang mengalir dari pelipis. Radean berdehem pelan, membuat kedua wanita itu menoleh cepat ke arahnya.


"Tuan!"


Bi Amy segera berdiri dari duduknya, sedangkan Liana, wanita itu masih terduduk karena tubuhnya terasa sangat lemas. Radean menegakkan tubuh, lalu mengatakan sesuatu yang membuat Liana beserta Bi Amy terperangah mendengarnya.

__ADS_1


"Panggilkan Dokter jika keadaan dia semakin parah."


Setelah itu Radean berlalu meninggalkan keduanya yang masih terdiam. Bi Amy yang tersadar dahulu memekik kencang, menyadarkan Liana dari keterpukauannya.


"Bibi tidak menyangka Liana, Tuan Radean akan mengatakan itu."


Liana terdiam, namun pipinya yang memerah menandakan bahwa wanita itu sedang tersipu malu. Namun, lagi-lagi Liana menyangkalnya, mana mungkin Tuan Muda Radean mulai menyukainya bukan?


"Mungkin dia hanya tak ingin sesuatu terjadi, pada calon bayinya, Bi," ujar Liana sembari tersenyum sedih. Bi Amy mendekat, mengelus pundak Liana untuk memberikan kekuatan.


"Apapun alasannya, tetap saja Tuan Radean sudah mulai peduli padamu dan juga bayimu."


Liana kembali mengangguk lemah, memilih diam karena keadaan tubuhnya yang terasa semakin lemah dengan gejolak hebat yang membuat dirinya merasa sangat mual.


*****


Radean memasuki kawasan perusahaan milik ayahnya, yang mungkin sebentar lagi akan menjadi miliknya. Pria itu kemudian menaiki lift menuju ruang di mana sang ayah berada. Memang, sedari kemarin Tuan Rajendra, ayah Radean terus mendesak putranya agar ikut andil mengurus perusahaan. Apalagi sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah, bukan saatnya lagi ia hanya bersantai-santai dan menghambur-hamburkan uang.


Denting pintu lift terbuka membawa Radean ke tujuannya. Pria itu kemudian melangkah menghampiri sekretaris ayahnya yang berada di balik meja. Menyadari kehadiran seseorang, perempuan dengan rambut hitam itu kemudian mengangkat kepala untuk melihatnya. Sedetik kemudian, ia bangkit dari duduknya dan menunduk hormat pada Radean, yang merupakan putra dari atasannya itu.


"Tuan Radean, Tuan Rajendra sudah menunggu kedatangan anda."


Perempuan di depannya tiba-tiba salah tingkah setelah mendengar suara berat dari calon atasan barunya. Ia kemudian menunjuk ruangan tempat Tuan Rajendra berada sekarang.


Radean melenggang pergi dari hadapan sekretaris ayahnya, lalu meraih handle pintu dan membuka daun pintu hingga terbuka lebar.


Di sana, di meja kebesarannya Tuan Rajendra tengah duduk dengan berkas-berkas yang berada di depannya. Radean masuk ke dalam lalu menutup kembali pintu. Ia mendudukan tubuhnya di atas sofa besar milik ayahnya.


Tuan Rajendra yang menyadari kehadiran seseorang, mengangkat kepalanya. Senyuman tipis terbit di bibirnya ketika mendapati sang putra akhirnya datang ke perusahaan. Pria paruh baya itu beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Radean.


"Selamat datang di perusahaan, putraku."


*******


Langit senja mulai berpendar, menghantarkan suasana hangat dengan keberadaan matahari yang sedikit tertutupi awan putih. Hari telah menjelang sore ketika Radean baru saja sampai di Apartemennya.

__ADS_1


Pria itu memasuki lift menuju lantai atas, tempat unitnya berada. Di dalam, Radean menyandarkan tubuhnya ke dinding, lalu tangannya terangkat untuk sedikit memijat pelipisnya yang sedari terus berdenyut nyeri. Entah mengapa kondisi tubuhnya hari ini benar-benar berbeda. Radean sendiri tak tahu penyebabnya.


Keanehan pun terjadi ketika dirinya masih berada di perusahaan. Bagaimana tidak, ia mengalami mual dan muntah-muntah ketika mencium bau menyengat dari salah seorang staf kantor yang diperkenalkan ayahnya. Lalu ketika makan siang tiba, Radean tiba-tiba saja tak berselera untuk memakannya. Bahkan pria itu hanya memesan salad buah untuk mengisi perutnya.


Dan sekarang Radean merasakan pahit yang teramat ketika dirinya mencecap. Seharian ini dirinya tidak merokok karena tak tahan dengan asapnya, dan juga ia tidak menenggak sedikitpun minuman beralkohol yang sudah biasa untuknya, karena aroma yang kembali membuat kepalanya pusing.


Saat ini, dirinya menginginkan sesuatu yang bisa menghilangkan rasa pahit dan mual. Ia ingin sesuatu yang asam agar bisa menyegarkan kembali mulutnya. Pintu lift terbuka menyadarkan Radean dari lamunannya. Pria itu berjalan dengan gontai karena merasa tubuhnya sangatlah lemas. Tentu saja, seharian bekerja perutnya hanya diisi dengan salad buah yang bahkan tak mengenyangkan.


Radean membuka pintu unitnya yang tak dikunci. Pria itu melangkahkan kaki menuju dapur untuk mengambil air dingin. Namun, baru saja kakinya menapaki lantai dapur, Radean melihat susuatu yang berada di atas meja makan yang cukup menarik perhatiannya.


Lalu pria itu kembali berjalan ke arah meja makan. Alisnya berkerut heran saat mendapati satu piring buah-buahan segar, tak lupa dengan bumbu rujak yang berasa di mangkuk kecil. Radean dengan segala rasa penasarannya kemudian mengambil satu potong buah mangga muda, lalu mencelupkannya ke mangkuk bumbu rujak.


Bagai mendapat sebuah berlian, Radean tiba-tiba merasakan kenikmatan ketika menyantapnya. Walaupun rasanya sangat asam dan pedas dari bumbu rujak, namun tak pelak membuat dirinya ketagihan. Dengan tak berdosanya pria itu kembali menyantap potongan buah dengan keringat yang mulai bercucuran. Tentu saja, dirinya sangat tidak bisa menikmati makanan pedas, namun sekarang dirinya malah tengah menikmati rujak pedas itu dengan lahap.


*****


Liana membuka pintu kamarnya, lalu melangkah keluar. Ia kemudian berjalan menuju arah dapur untuk dapat segera menikmati rujak pedas yang tadi ia pesan pada Bi Amy. Dengan langkah riang sembari bersenandung pelan, Liana mempercepat langkahnya. Bayangan dimana buah-buahan segar yang berkolaborasi dengan bumbu rujak yang pedas membuat air liurnya bahkan hampir menetes.


Wanita itu kemudian berjalan menuju meja makan. Bi Amy tadi mengatakan padanya, bahwa pesanannya sudah datang dan di taruh di atas meja makan. Namun, alis wanita itu berkerut heran. Ketika tak mendapati makanan yang diidam-idamkannya. Ia kemudian mengitari seluruh dapur untuk menemukannya. Ia berpikir mungkin Bi Amy menyimpannya terlebih dahulu.


Namun, Liana kini mendesah kecewa ketika tak menemukannya. Raut wajahnya berubah murung bahkan hampir menangis. Entahlah, rasanya ia ingin menangis saja sekarang.


Liana menolehkan kepala ketika mendapati keberadaan Radean yang baru saja datang. Pakaian pria itu sudah berganti dengan kos santai dan celana pendek. Radean menatal Liana yang masih saja tertunduk sedih, entah apa penyebabnya.


"Ada apa?" Radean kemudian bertanya, masih dengan nada ketusnya.


Liana mengangkat kepala, menatap Radean dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Entah mendapat keberanian dari mana, Liana akhirnya bertanya dengan suara bergetar.


"Apakah tadi Tuan melihat piring berisi rujak di atas meja?"


Radean mengerjapkan matanya, kemudian ia menjawab dengan polos tanpa beban.


"Oh aku melihatnya. Dan juga, aku sudah menghabiskannya."


...Bersambung...

__ADS_1


...Tandai author jika ada typo yang mengganggu 😉...


...Ada yang masih menunggu kelanjutan cerita Tuan Radean ini? See you 😘...


__ADS_2