
Happy Reading
Pagi hari menyapa, cahaya matahari mulai muncul dari sela-sela tirai, hingga membangunkan seseorang yang masih terlelap di ranjang besarnya.
Radean mengerjapkan matanya pelan, lalu bangkit dan duduk sembari merenggangkan tubuhnya. Ia mengamati sekitar, lalu tatapannya terhenti saat melihat sebuah wadah berisi air dan selembar kain.
Mengapa benda itu ada di kamarnya?
Radean menggelengkan kepalanya pelan ketika rasa pusing itu kembali datang. Tangannya terulur untuk mengambil segelas air yang berada di sampingnya. Namun, ia tak berhasil mengambilnya dan malah menjatuhkannya. Hingga suara nyaring gelas yang pecah terdengar hingga keluar.
Tak lama suara seseorang mengetuk pintu terdengar dari luar. Derit pintu terbuka menampakan sosok wanita yang sangat Radean benci itu, Liana.
Liana datang dengan membawa secangkir teh di tangannya. Ia masuk dengan perasaan canggung, lalu meletakkan teh yang masih mengepulkan asap itu di atas nakas, mengabaikan tatapan Radean yang begitu intens.
"Apa yang kau lakukan di sini, di mana pelayanku?"
Tubuh Liana mematung saat mendengar suara berat Radean yang sedikit membentaknya. Ia menundukan kepala, dengan degup jantung yang berdetak kencang.
"B-bi Amy sedang pergi keluar, Tuan."
Radean mendengus saat mendengar suara Liana yang sedikit bergetar. Pria itu kemudian menyibak selimutnya kasar, lalu beranjak dari ranjang besarnya. Matanya menyipit ketika tak sengaja menemukan Liana yang masih berdiri tak jauh darinya, tengah memejamkan matanya erat.
Pandangan Radean kemudian beralih pada cermin yang menampilkan tubuhnya dengan bagian atas terbuka. Ia tersenyum miring sembari melangkahkan kakinya ke arah wanita itu.
Dengan sengaja ia berdiri dengan jarak begitu dekat, hingga ia bisa merasakan tubuh Liana yang bergetar.
"Apa kau sengaja masuk ke kamarku, untuk mengintip?" Bisik Radean tepat di telinga Liana.
Mata wanita yang sedari tadi terpejam itu seketika membulat. Dengan wajah yang terasa panas dan rasa malu yang mendera dengan tak sengaja Liana menjerit keras hingga membuat Radean menutup telinganya.
Setelah itu Liana segera melarikan diri dari kamar pria yang berstatus suaminya itu. Radean tertawa kecil melihat tingkah Liana, seperti anak kecil yang baru saja melihat sesuatu yang terlarang.
Namun, sedetik kemudia pria itu berhenti tertawa dan berdehem kecil. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
*****
Liana menutup pintu kamarnya kencang, dan menguncinya. Ia duduk di pinggir ranjangnya dengan tubuh yang terasa lemas. Jantungnya masih berdegup kencang dan wajahnya terasa panas.
Bagaimana bisa pria itu memamerkan tubuhnya dengan sengaja di depan Liana. Apakah dia tidak memiliki rasa malu? Memikirkannya saja membuat Liana malu sendiri.
Tentang Radean, Liana teringat kembali malam kemarin yang ia lalui dengan tertidur di pelukan pria itu. Tubuh kekar itu berhasil memberikan kehangatan pada Liana, hingga ia yang awalnya ingin pergi dari kamar, malah ikut tertidur dengan nyamannya.
Liana tak dapat memungkiri bahwa Radean adalah pria tertampan yang pernah ditemuinya. Mungkin, karena dirinya belum pernah melihat pria lain. Namun, melihat sendiri bagaimana sosok Radean dengan wajah yang terpahat sempurna, dan rahang yang tegas, membuat Liana seketika terpesona.
Namun, Liana juga menyadari statusnya. Ia di sini karena sebuah paksaan Tuan Rajendra dan juga bayi yang berada dalam kandungannya. Mungkin, setelah melahirkan nanti Liana akan pergi dari kehidupan pria itu, dan menjalani kehidupannya sendiri.
******
Liana masih duduk di kamarnya sembari menunggu Bi Amy pulang. Wanita paruh baya itu pergi untuk belanja bulanan tadi pagi.
Tadinya Liana berencana ikut, namun Bi Amy mencegahnya dengan alasan ia tak boleh kelelahan karena tengah hamil muda, dan juga ia belum mendapat izin Radean untuk keluar.
Liana menatap sekeliling kamarnya, yang berukuran cukup luas. Bahkan lebih luas dari kamarnya saat dulu berada di Mansion tuan Rajendra, ayah Radean.
Liana tak pernah menyangka, takdir membawanya pada kehidupan yang lebih baik. Dulu ia hanyalah seorang anak yang berasal dari panti asuhan, yang di adopsi oleh keluarga kaya yang belum mempunyai keturunan.
Namun, setelah mengandung dan melahirkan bayi laki-laki, mereka malah membuangnya ke tengah hutan, dimana tak ada tempat tinggal atau manusia di sana. Hingga ia bertemu dengan tuan Rajendra yang tengah berburu, dan dengan belas kasihnya Tuan Rajendra membawanya ke mansion.
Liana masih bersyukur, walaupun dirinya hanya dijadikan pelayan, ia tetap dapat hidup dengan baik. Tanpa takut oleh ancaman manusia dan hewan buas di hutan.
Mata Liana berkaca-kaca, entah bagaimana nasibnya dulu jika tak ditemukan oleh tuan Rajendra. Mungkin ia akan menjadi gelandangan di luar sana.
Liana tersentak kaget saat terdengar derit pintu terbuka. Ia segera menghapus air mata yang terjatuh tanpa di sadari. Menghela napas panjang, ia kemudian beranjak dari kamarnya dan berjalan menuju dapur.
Liana tersenyum semringah saat melihat kedatangan Bi Amy. Dengan segera ia berjalan cepat menghampirinya.
"Bibi, kau sudah pulang?"
__ADS_1
Bi Amy menoleh saat mendengar suara Liana. Wanita paruh baya itu mengangguk sembari mengeluarkan barang-barang yang telah dibeli.
"Ini, susu untuk ibu hamil dan biskuit untuk camilanmu. Kau sekarang tengah mengandung, jadi harus banyak makan makanan sehat untuk kesahatan bayimu," ujar Bi Amy sembari menyerahkan kantong berisi susu ibu hamil dan biskuit dengan berbagai rasa.
"Apa, Tuan Radean tidak akan marah, Bi?"
Bi Amy tersenyum, ia mengelus puncak rambut Liana yang sudah ia anggap sebagai anakanya sendiri.
"Justru bibi membeli ini karena perintah Tuan Radean. Dia mengatakan untuk membeli semua kebutuhanmu selama hamil, dan juga membawamu ke dokter untuk diperiksa."
Liana terdiam mendengar penuturan Bi Amy. Ia tak menyangka bahwa Tuan Radean yang terkenal kejam itu bisa bersikap baik.
"Sudah, jangan berpikir terlalu berat. Lebih baik bantu bibi memasak sekarang," ujar Bi Amy yang diangguki Liana dengan cepat.
Pagi itu, mereka memasak sambil sesekali tertawa. Bi Amy merasa bahagia bahwa kini ia mempunyai teman mengobrol di Apartemen seluas ini. Terlebih orang itu adalah Liana. Seseorang yang sangat di sayanginya.
******
Radean keluar dari kamarnya dengan setelan kantornya. Jas yang terpasang rapi semakin menambah kesan maskulin. Ia menatap kedua wanita yang tengah menata makanan di meja.
Ia berdehem pelan, menyadarkan Liana dan Bi Amy akan keberadaan Tuan muda mereka.
Setelah menyajikan sarapan untuk Radean, Bi Amy kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan Liana masih berdiri hingga dengan raut wajah seperti menahan sesuatu.
Tak lama wanita muda itu berlari ke dapur, di susul dengan suara seseorang yang sedang muntah.
"Apa yang terjadi?" tanya Radean pada Bi Amy yang tengah menuangkan air putih ke dalam gelasnya.
"Nona Liana tengah mengalami morning sickness Tuan. Itu biasa terjadi pada wanita hamil."
Radean hanya menganggukan kepala lalu kembali menikmati sarapannya. Ia tak peduli apapun yang terjadi pada Liana, karena pada dasarnya mereka tak memiliki hubungan apapun selain karena pertanggung jawabannya pada bayi yang sialnya adalah anak kandungnya.
Bersambung.
__ADS_1
Alo, ada yang nungguin cerita ini? Hehe, makasih atas dukungan kalian. Semoga nggak pada bosen ya😁❤️
See you next part