
Liana mengangkat kepala, menatap Radean dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Entah mendapat keberanian dari mana, Liana akhirnya bertanya dengan suara bergetar.
"Apakah tadi Tuan melihat piring berisi rujak di atas meja?"
Radean mengerjapkan matanya, kemudian ia menjawab dengan polos tanpa beban.
"Oh aku melihatnya. Dan juga, aku sudah menghabiskannya."
...*****...
Liana menatap sosok pria di depannya dengan pandangan tak percaya. Radean, pria itu begitu santainya mengatakan sesuatu yang ternyata malah membuat mata Liana berlinang air mata.
"Ada apa denganmu?" tanya Radean dengan alis mengernyit bingung.
Liana menggeleng cepat, lalu tanpa kata wanita itu pergi dari hadapan Radean dan memasuki kamarnya. Bahkan wanita itu mengunci pintu dari dalam. Hal yang semakin membuat Radean bertanya-tanya.
Apakah dirinya telah melakukan kesalahan?
Mengendikan bahunya acuh, Radean memilih kembali ke kamarnya. Tadinya, ia ke dapur untuk mencari keberadaan Bi Amy, namun yang ia temukan malah tingkah aneh Liana ketika melihatnya.
Radean mendengus kesal dibuatnya. Ia kemudian mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasur, lalu menghubungi beberapa temannya untuk datang ke club malam ini. Ia butuh pelampiasan atas kekesalan yang tiba-tiba datang menyerang. Mungkin dengan meminum banyak alkohol dan bersenang-senang bersama para temannya bisa membuat dirinya melupakan kekesalan itu walaupun sejenak.
Radean tersenyum puas saat teman-temannya meng-iyakan ajakannya untuk pergi malam ini. Dengan segera ia mengganti pakaiannya dan mengambil kunci mobil serta ponsel dan segera pergi ke bawah.
Meninggalkan sosok Liana seorang diri, di dalam Apartemen.
...****...
Di dalam kamar, Liana tengah bersandar di sandaran ranjang dengan tangan memeluk lutut. Isak tangis terdengar lirih dari tempatnya saat ini. Perempuan itu masih begitu sakit hati atas perilaku Radean yang dengan seenaknya mengambil makanan yang sudah ia idam-idamkan sebelumnya.
Liana mengangkat kepala, saat telinganya mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Ia kemudian segera menghapus air buliran bening yang masih mengalir dengan punggung tangan.
"Masuk!" ujarnya dengan suara parau.
Derit pintu terdengar ketika daun pintu terbuka lebar. Di sana, Bi Amy tengah berdiri dengan sebuah nampan berisi sepiring kue basah dan segelas susu hangat. Wanita itu kemudian masuk dan duduk di tepi ranjang, sementara Liana masih memperhatikan Bi Amy di atas ranjangnya.
"Wanita hamil biasanya selalu ingin memakan camilan. Bibi bawakan kamu kue basah yang Bibi beli saat tadi keluar," ujar Bi Amy dengan tersenyum tulus.
Ia kemudian menaruhnya di atas nakas samping ranjang Liana. Bi Amy menatap lekat Liana yang nampak tidak baik. Ada jejak air mata yang membekas di pipi wanita itu, membuat Bi Amy curiga.
"Ada apa Liana? Sepertinya kamu habis menangis? Apakah ada yang menyakitimu?"
Liana menggelengkan kepala, lalu menunduk dalam untuk menghindari tatapan Bi Amy.
__ADS_1
"Apa ini gara-gara Tuan Radean?" tanya Bi Amy dengan raut wajah menyelidik.
Liana gelagapan, ia menggeleng cepat untuk membantah ucapan Bi Amy, walaupun sebenarnya itu memang kenyataan.
"A-aku tidak apa-apa Bi. Baru saja aku menonton drama menyedihkan, jadinya aku menangis tanpa bisa ditahan," balasnya dengan tersenyum kecil.
Bi Amy hanya mengangguk pelan, lalu tangannya mengelus lembut lengan Liana.
"Ya sudah, kalau begitu Bibi keluar dulu untuk memasak. Jangan sampai Tuan Radean pulang tetapi makanan belum juga di siapkan."
Liana mengernyit bingung mendengar pernyataan Bi Amy.
"Memangnya Tuan Radean kemana Bi?"
"Entahlah. Mungkin Tuan keluar untuk bertemu dengan teman-temannya."
Liana mengangguk kecil lalu kembali diam. Membiarkan Bi Amy keluar dari kamarnya, hingga kemudian ia menggerutu kesal tanpa bisa ditahan.
"Bukannya meminta maaf, dia malah pergi untuk bersenang-senang setelah menyakiti. Huh! Ayahmu memang sangat payah dalam soal mengerti perempuan," gumam Liana sembari membelai lembut permukaan perutnya yang masih rata.
...*****...
Hingar bingar suara DJ yang memainkan musik terdengar begitu memekakkan telinga. Beberapa pasang wanita dan pria tampak begitu antusiasnya berjoget dengan meliuk-liukkan tubuhnya di atas dance floor.
Keberadaan keempat pria tampan di club malam ini memang selalu berhasil menarik perhatian para pengunjung. Mereka sudah begitu mengenali keempat pria itu. Namun, malam ini mereka sedikit dikejutkan dengan tingkah salah seorang pria yang tengah duduk di sofa panjang dengan tangan yang membekap mulut.
Ketiga pria di sampingnya bahkan mengernyitkan alis secara bersamaan. Bagaimana tidak, salah satu temannya itu begitu aneh karena sedari tadi selalu menolak untuk menenggak minuman di sana, dan menolak untuk menikmati rokok yang tergeletak di meja.
"Ada apa dengannya?" tanya salah seorang dari mereka, yang hanya dibalas gelengan oleh keduanya.
Mereka kembali menatap Radean yang terlihat tengah memijit pelan pelipisnya yang sedari tadi berdenyut nyeri. Radean bahkan harus menahan mual karena aroma alkohol yang menyengat. Memang, sesaat setelah mereka memasuki club malam untuk bersenang-senang, Radean sudah merasakan mual tak tertahankan. Rasanya ia ingin pergi saja dari tempat itu, namun dirinya merasa tak enak hati pada ketiga sahabatnya yang datang bersama.
Jadilah ia hanya duduk dengan tak nyaman sambil sesekali menahan mual dan memijat pelipisnya. Ia bahkan tak berselera untuk menenggak wine di hadapannya, atau bahkan sekedar untuk menikmati kepulan asap rokok yang malah membuat dadanya sesak.
"Are you ok?"
Radean mengangkat kepala, menatap pria di sampingnya dengan alis mengkerut.
"Hmm, hanya sedikit pusing saja," jawabnya pelan.
Ketiga pria itu semakin curiga dengan tingkah Radean yang semakin aneh. Lalu sedetik kemudian mata mereka terbelalak terkejut saat melihat Radean yang memuntah seluruh isi perutnya di hadapan mereka. Bahkan para wanita yang sedari tadi berada di sana, menjerit kaget hingga menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
"Deon, Alvin, lebih baik kita bawa dia pulang saja. Sepertinya Radean sedang tidak baik-baik saja." kedua pria yang di sebut hanya mengangguk kecil sembari bangkit berdiri untuk memapah tubuh Radean yang terlihat sangat lemas.
__ADS_1
Keduanya membawa Radean keluar club untuk mengantarnya pulang ke Apartemen pria itu. Alvin, pria itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sedangkan Deon berada di samping pria itu dan Galih yang berada di bangku belakang untuk menjaga tubuh Radean agar tetap terjaga.
Mobil sport hitam itu berhenti di tempat parkir halaman Apartemen. Mereka kembali memapah tubuh Radean dan membawanya ke unit milik pria itu.
Tok! Tok! Tok
Alvin dengan tidak sabarannya mengetuk pintu Apartemen Radean. Ia menggerutu kesal saat pintu di depannya belum juga terbuka. Dengan kesabaran di ambang batas, ia kemudian mengetuk kembali, atau mungkin menggedornya dengan keras. Hingga daun pintu terbuka menampilkan sosok perempuan muda yang membuat tubuh pria mematung dengan tangan yang masih terangkat di udara.
Liana mengernyit heran saat pria di hadapannya itu malah diam ketika pintu sudah terbuka. Ia berdehem pelan, mengembalikan kesadaran Alvin yang masih terpaku saat matanya menatap lekat wajah manis Liana.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
Alvin tersenyum kikuk, lalu seketika ia tersadar bahwa di belakangnya masih ada sosok Radean yang terkulai lemas sambil ditopang kedua sahabatnya.
"Ah ya, e-eum kami mau mengantar Radean ke kamarnya."
"Tuan Radean!?" Liana membeo. Lalu menatanya menoleh pada sosok pria yang masih terkulai lemas. Matanya membulat seketika, lalu dengan cepat Liana menyingkir dari hadapan Alvin. Mempersilahkan ketiga pria itu mengantarkan Radean ke kamarnya.
"Bisakah kau menyiapkan air hangat?"
Liana mengangguk cepat, lalu segera pergi ke dapur. Ia sekalian membawakan ketiga pria itu minuman segar. Ketiga pria itu telah kembali setelah membaringkan tubuh Radean di ranjang.
Ketiga pria itu, Alvin, Deon, Dan Galih serempak menatap sosok wanita mungil yang tengah menaruh minuman untuk ketiganya.
"Terima kasih," ujar Alvin sambil menatap lekat Liana. Yang dibalas senyuman kecil wanita itu.
Setelah mengistirahatkan tubuh mereka sejenak, ketiga pria itu lalu berpamitan pada Liana untuk pulang. Liana hanya mengangguk kecil dan mempersilahkan ketiganya pergi. Setelah itu ia kembali mengunci pintu dan beranjak pergi ke kamar Radean dengan membawa segelas air hangat.
Derit pintu kamar terbuka sedikit mengusik Radean yang masih berbaring di ranjangnya dengan peluh yang membasahi tubuh pria itu. Liana kemudian duduk di tepi ranjang, tangannya terulur untuk menyentuh kening Radean yang ternyata sangat panas. Pria itu mengalami demam.
Liana khawatir seketika. Wanita itu kemudian bangkit berdiri, berniat mengambil air hangat untuk mengompres tubuh Radean yang terasa menyengat. Namun, baru saja kakinya akan melangkah, tiba-tiba saja tubuh Liana oleng saat tangan Radean mencekal pergelangan tangan Liana, dan membawa tubuh wanita itu masuk ke dalam dekapan.
Liana memekik kaget, ia berusaha melindungi perutnya agar tidak terhimpit. Jantung Liana rasanya seperti berhenti berdetak, kala lengan kekar Radean melingkari pinggangnya.
Radean memeluk wanita itu dengan sangat erat. Ia menyembunyikan wajahnya di helaian rambut Liana yang mengeluarkan aroma yang menenangkan Radean seketika. Ia mengeratkan dekapannya, lalu tertidur pulas tanpa tahu, Liana yang masih terjaga karena tak bisa menetralkan jantungnya yang terus berdetak kencang, akibat perlakuan pria itu.
...******...
...Bersambung...
...Semoga suka di part ini. Maaf baru update soalnya kondisi tubuh masih drop 🙏...
...See you next part ya 🤗...
__ADS_1