
Kring Kring Kring
Alarm yang berbunyi tepat di pukul 6 pagi membuat yang si pemilik bangun dengan wajah yang cantik meski baru terbangun dari tidur. Tak menunggu lama setelah membereskan tempat tidur ia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah menyelesaikan aktifitas mandi ia membuat sarapan pagi susu dan roti bakar yang diolesi dengan selai buah cukup baginya.
Waktu telah menunjukan pukul 7 saatnya ia berangkat kerja dan ia mengunakan mobil sedan kecil yang tak seberapa mahal. Namun ini sudah cukup baginya, ia pergi meninggalkan apartemen kecil namun sangat nyaman baginya untuknya tinggal di sana.
Tak berapa lama ia sampai di salah satu anak cabang Bank tempat ia bekerja, kantor bank ini sangat besar karena ini adalah kantor cabang utama. Aluna yang berjalan dengan tegas membuat ia tambah elegan dengan pakaian kerja yang dia gunakan saat ini.
Wanita cantik berparas khas Asian dan berbadan ideal ini sangat lah ceria, sopan, dan sangat ramah terhadap orang yang bertatapan dengannya. Hari senin adalah hari yang menyibukkan baginya ia akan bekerja hingga jam 9 malam guna untuk menyelesaikan laporan keuangan hari itu.
Aluna merupakan gadis usia yang cukup dewasa untuk dikatakan mapan dalam segalanya. Ia merupakan anak tunggal dari keluarga kecil ayah dan ibunya namun naas takdir berkata lain, ia harus menjadi yatim piatu ketika masih berusia 9 tahun.
Saat ini ia telah tumbuh menjadi wanita kuat dan sangat cantik, Aluna Venna Anastasya ini lah gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita cantik pada umumnya namun ia lebih memiliki cantik khas. Saat Ia menjadi manager bank pada usia tergolong muda karena saat ini ia telah berusia 24 tahun. Menghabiskan bekerja itu sudah pasti karena dengan bekerja ia tak perlu repot meladeni pria yang datang hanya untuk basa basi saja.
Hari ia kembali bergelut dengan laporan yang masih menumpuk di meja kerja miliknya, Aluna sangatlah cekatan bahkan direktur cabang mengakui keahlianya dalam bekerja. Pukul sembilan itu artinya ia harus segera pulang karena hari telah malam, dengan singkat ia merapihkan meja kerja miliknya dan bergegas meraih jaket yang ia letakan di kursi kerja miliknya. Setelah selesai ia segera turun dari lantai dua dan menuju parkiran untuk segera pulang.
Aluna yang terbiasa mandiri ia sangat terbiasa dengan kehidupannya sampai saat ini. Bahkan ia pun belum memikirkan pernikahan, baginya pernikahan bisa dilakukan nanti saja.
🌿
"Selamat siang Bu Aluna, bu ada yang ingin bertemu ibu." sapa seorang resepsionis.
"Baiklah saya akan menemuinya?" singkat Aluna.
__ADS_1
Tak berapa lama tamu yang di maksud datang dengan sopan Aluna mempersilahkan kedua pasangan paruh baya ini duduk.
"Selamat siang pak bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Aluna dengan sopan.
"Cantik ya pak, cocok dia untuk Reino anak kita." ujar wanita paruh baya di bepan Aluna.
"Benar bu gak salah, bapak punya perjanjian sama Pramono." sambung lelaki stengah tua ini namun ia masih tampan.
Kata-kata kedua pasangan ini membuat Aluna merasa bingung dan tak paham apa yang di maksud oleh mereka. Aluna yang hanya tersenyum itu sesekali ia merasa canggung karena ini pertama kalinya ada yang datang tapi tak membicarakan perihal keuangan.
"Oh perkenalkan saya Prima Wiragunna dan ini istri saya Pamita Wiragunna, terimakasih telah memberikan kami waktu untuk bertemu dengan nak Aluna." ujar lelaki di hadapannya ini.
"Maaf pak bu anda tau saya, saya bingung soalnya," sambil tersenyum dan menggaruk lututnya padahal tak gatal.
Aluna yang tak percaya hanya mematung tak tau apa yang harus ia katakan, karena semua ini baginya tak jelas. Entah ada hubungan apa antara orang tuanya dengan kedua orang di hadapannya ini. Ia pun tak langsung mengiyakan yang di katakan oleh pak Wiragunna.
"Pak bu saya boleh meminta waktu untuk memikirkan ini semua, karna bagi saya ini terlalu cepat saya masih bingung harus berkata apa." singkat Aluna.
"Baiklah nak kami akan menunggu jawaban mu, ibu harap kamu bisa menjadi menantu saya." jawab wanita paruh baya namun masih terlihat sangat cantik.
"Ya sudah nak kami akan berpamitan, maaf kami telah mengganggu kerja nak Aluna." seraya berdiri di ikiti oleh istrinya dan Aluna pun ikut berdiri.
Pasangan ini pun meninggalkan Aluna, Aluna yang masih bingung hanya bisa mengelengkan kepala dan kembali duduk di sofa ruang kerja miliknya.
__ADS_1
🌿
Reino yang baru saja pulang ia heran dengan orang tuanya karena ia melihat beberapa foto rumah yang tergeletak di atas meja, ia mengambil salah satu foto rumah tersebut di bawahnya tertera lokasi serta nama negara.
"Mah ini rumah buat siapa kok banyak banget ." teriak Reino dengan heran.
"Oh itu mau beli rumah diluar negeri , papa sama mama mau pindah ke luar negeri nanti," jawab sang mamah dengan santai.
"Lah kenapa ma, disini masih muat nampung mama sama papa kenapa pindah ke luar negri?" seru Reino.
"Kebetulan kamu udh pulang papa mau bicara sama kamu?" ucap Wiragunna sambil duduk di sofa.
"Apa ini pah, bukanya dulu papa gak akan ikut campur lagi soal perusahaan,"
"Siapa yang ingin membahas perusahaan? Kamu papa jodohkan dengan anak almarhum teman papa. Dia dan papa dulu telah sepakat untuk memjodohkan anaknya dengan anak papa." jelas Wiragunna.
Reino yang mendengar ayahnya berbicara tentang perjodohan ia segera bangkit dari duduknya "Aku gak akan pernah mau di jodohkan." Reino yang menolak dengan lantang "Pah, mah aku punya kekasih. Ayolah sampai kapan mama sama papa masih tidak menerima Kimberly sebagai bagian keluarga kita." protes Reino.
Jelas jika Wiragunna tidak pernah menerima Kimberly, karena Wiragunna bukanlah orang bodoh dia hanya saja menutupi kebenaran jika memang Kimberly bukanlah wanita baik-baik, dia sudah mencari tau siapa Kimberly.
Kimberly merupakan model sekaligus aktris yang terkenal bahkan ia saat ini menjadi selebritis yang memiliki nama besar, tentu saja jika nama besar yang dia dapat saat ini di dapat karena hasil bantuan dari Reino. Nama besar dan sebagainya Reino lah yang membangun dari awal berapa banyak uang yang ia habiskan untuk mendukung karir Kimberly.
Tapi saat ini Kimberly selalu mengelak jika pembicaraan Reino sudah ke arah pernikahan bahkan ia kerap menolak. Bahkan alasannya hanya karir dan dan karir, ia tak mau redup setelah menikah, namun bagi Reino kebahagiaan Kimberly adalah hal yang utama baginya jadi ia sabar menunggu.
__ADS_1