
Setelah keluar dari kantor pengacara ayahnya Reino terlihat lemas karena ia tau tak ada jalan lain selain menikahi Aluna. Karena jika ia tak menuruti perkataan ayahnya ia akan kehilangan segalanya. Tapi jika ia menikahi Aluna maka ia sama saja berhianat dengen Kimberly, ini adalah pilihan sulit baginya.
Pikirannya prustasi kali ini sedang menyelimuti hatinya bahkan ia tak tau harus bicara apa kepada kekasihnya.
Ia meraih ponsel di saku jasnya dan menelepon seseorang.
"Andrew tolong cari informasi wanita yang ada di foto ini. Kukirimkan fotonya." ia langsung menutup sambungan telpon dan mengirim sebuah foto ke orang yang ia telpon tadi.
Ia hanya termenung memikirkan apa yang ayahnya perintahkan bahkan ia sangat frustrasi, bagaimana tidak ia bekerja dengan gigih dan ternyata apa yang ia kerjakan hilang dengan sekejap mata.
"Ahrkkkkk," ia memukul setir mobil di hadapannya.
"Dasar wanita sialan akan ku peritungkan segalanya nanti. Baiklah akan ku ikuti kemauan semua orang untuk menikahimu tapi jangan harap kebahagiaan yang kau dapat." sambil menyalakan mesin mobil dan melanjukannya entah kemana.
🌿
Sementara Aluna yang berdiam diri di apartemen miliknya hanya memandangi amplop coklat yang ia letakan di atas meja.
Ia berfikir akan membuat kesepakatan dengan putra tunggal Wiragunna baginya harta yang di berikan kepadanya sangat tidak masuk akal. Apalagi ia harus menikah dengan putranya, namun saat ini ia tak memiliki kontak apapun untuk menghubungi pemilik harta sebenarnya.
"Ini mau gw apain coba," frustasinya.
"Arrkkkkhhh."
Aluna hanya me ngacak rambutnya. "Sebenarnya ada perjanjian bodoh apa Daddy sama Mami dulu? Kenapa yang jadi korban gw, ahhhh...." kembali mengerutu sendiri di malam hari.
Memikirkan ini semua sudah melelahkan bagi Aluna karena ia sama sekali tak menemukan titik terang. Saat ini ia terlelap karena lelah berfikir.
Sampai hari yang sudah pagi pun tak ia sadari. Aluna yang melompat karena mendengar suara ponselnya berdering ia segera mengeser tombol hijau yang ada dilayar ponselnya.
"Hallo....,"
"Luna, tolonglah ini udah siang perawan. Cepet ke kantor ada orang yang udah nungguin lu nih." sapa wanita di balik ponsel.
__ADS_1
"Masih pagi ini, baiklah. Gw kek kantor ini." Aluna langsung bergegas merapihkan diri nya.
Tak berapa lama ia telah rapi dengan mengenakan baju formal berwarna hijau pastel yang cantik serta sepatu Haigh Hills berwarna hitam. Ia melangkah kaki menuju ke batsmen untuk mengambil mobil dan melaju ke kantor.
Selang 30 menit ia telah sampai dengan anggun ia melangkahkan kakinya ke dalam dan menyapa karyawan yang telah datang lebih awal.
"Pagi semua." sapa Aluna.
"Pagi bu Aluna." balas semua karyawan yang sedang bersiap.
Aluna menuju ke dalam ruangan kantor miliknya, ia terkejut dengan sesosok laki-laki yang tengah duduk di sofa. Pria pertama yang dia lihatnya sangat sempurna karena tak ada celah untuk menilai keburukan lelaki di hadapannya.
"Selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Aluna dengan sopan.
"Aluna Venna Anastasya, lumayan bagus jabatan anda. Tapi kenapa papa saya sangat mengagungkan anda?" sembur Reino seketika.
"Maaf anda siapa yaa???" tanya kembali Aluna.
"Tidak mengenal saya," menunjuk diri sendiri "sama sekali." heran Reino, siapa yang tak mengenal Reino. Dia selelu mondar mandir do layar televisi dan majalah bisnis namun Aluna tak mengenalnya.
"Sekarang giliran saya yang mau bertanya? Dia merubah posisi duduknya, tepat menghadap ke arah Aluna yang sibuk mengecek kertas di tangannya. " Cantik, natural, apa adanya, sepertinya dia memang cerdas." sampai lamunannya tersadarkan.
" Silahkan ___!"
" Apa rencanamu setelah perjodohan ini? saya jujur sudah memiliki kekasih." dengan nada lantang dia bertanya tanpa menoleh kembali ke arah Aluna.
" molla.. " (dalam bahasa korea) Aluna yang santai menjawab.
"Hahhh, apa barusan tadi kamu jawab?" Reino yang tak terlalu mendengar perkataan Aluna.
Sedangkan Aluna yang menyadari jika pria yang di hadapannya ini menyebut perjodohan ia langsung terbangun dan menoleh ke arah Reino.
"Maaf bilang apa tadi, perjodohan? Aaaaa, akhirnya kita bertemu." seru Aluna.
__ADS_1
"Iya perjodohan, kita di jodohkan. Wahhh anda selain katrok ternyata pikun juga ya..?" celetuk Reino.
"Seolma dangsin-eun, Aaaaaah," Aluna langsung paham.
Sambil menyipitkan mata Reino memperhatikan dan menilai setiap gerakan wanita di hadapannya. "Dia smart dan hebat," jauh berbeda pastinya dengan Kimberly ia hanya mengandalkan uang dari Reino.
"Akhirnya kita bertemu," Aluna langsung beranjak dari kursi dan duduk di kursi kerja miliknya. "Let's explain what happened it's all?" dia memperbaiki duduknya.
"hahaha, klo saya pribadi menolak perjodohan konyol ini. Dan tapi kenapa papa kasih semua harta itu sampai ke tangan anda!" nada kesal sedikit terdengar dari mulut Reino.
"Nah itu saya tidak tau, silahkan tanya ke orang tua anda." Aluna menjawab dengan santai.
Setelah Aluna melontarkan perkataan tadi hanya suasana hening lah yang terasa diantara mereka. Aluna yang msih acuh dengan bekas di tangannya ia tetap tak menghiraukan.
Tak banyak yang mereka bicarakan bahkan solusi pun tak mereka dapakan sementara pernikahan hanya menyisakan 2 hari lagi. Namun mereka tak menemukan apa yang harus mereka lakukan kedepannya.
Reino yang pergi keluar kota memilih menjauh dari segala rutinitasnya. Ia memilih menyendiri di villa milik nya, bahkan di vila ini lah ia menenangkan diri. Hanya asisten dan orang kepercayaan pribadinya lah yang tau tempat ini.
Bahkan ia tak pernah membawa Kimberly ke vila miliknya ini. Ia hanya termenung di samping kolam renang, ia memikirkan apa yang akan dia lakukan nantinya.
Jika ia tidak menikahi Aluna maka ia kan kehilangan semua harta kekayaan yang ada ditangan Aluna. Tapi bagaimana dengan Kimberly wanita yang amat ia cintai? Frustrasi jelas ia akn bagaimana ini yang ada dihatinya.
Reino yang teringat Aluna ia merasa penasaran dengan wanita yang tak mengetahui sama sekali siapa dia. Bahkan ia diam saja ketika ia melontarkan kata katrok .
"Andrew, coba kamu cari tau secara detail siapa Aluna? Dan pastikan semua identitas yang ia miliki itu benar dan terjamin sumber informasi yang di dapat. Jangan lewatkan sedikit saja!" perintah Reino.
Padahal sebelumnya iya belum pernah mencari tau siapa pun itu, termasuk kekasih hati nya. Dengan Kimberly ia selalu percaya dan tak mempermasalah kan dia sedang apa.
Sementara Aluna yang sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk ia seolah melupakan apa saja yang akan terjadi kedepannya. Bahkan sampai saat ini dia melupakan makan siangnya dan tak menghiraukan suara ponsel yang berdering.
________________________
Catatan 📝
__ADS_1
몰라. (molla)
설마 당신은? (Seolma dangsin-eun)