
Rintik hujan pagi ini membuat Kania bermalas-malasan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Sejak lulus SMA Kania tidak berniat melanjutkan kuliah karna Nani ibunya sudah mulai sakit-sakitan. Kania tidak tega. Kania memilih membantu ibunya menjahit pakaian pesanan pelanggan ibunya. Atau kadang jika ada yang memesan kue,Kania juga membantu membuat kue.
Sebenarnya Nani tidak tega jika Kania tidak kuliah,Nani ingin Kania menuntut ilmu setinggi mungkin agar kelak jika ingin bekerja Kania bisa lebih mudah mencari pekerjaan. Tapi sifat ngeyel Kania lah yang akhirnya membiarkan putri kesayangannya itu tidak kuliah karna ingin membantunya.
"Ibu tenang aja,gak usah terlalu mikirin masa depan Kania,yang penting kan sekarang kesehatan ibu,Kania gak mau ibu kerja sendirian sedang kondisi ibu sakit-sakitan begini"kata Kania lembut berusaha meyakinkan ibunya.
"Tapi Nak,semua teman kamu pada lanjut kuliah lho,kamu gak nyesel?" tanya Nani seolah belum yakin dengan keputusan Kania.
"Enggak Bu,Kania yakin koq. Pokoknya yang penting sekarang ibu sehat dulu. Nanti gampang lah... Kania kan bisa nyusul kuliah nanti kalo ibu udah sehat,ya kan?" kata Kania lagi sambil memeluk ibunya dari belakang,tubuh Nani ibunya yang semakin lama semakin ripuh dan kurus.
"Iya sayang,ibu percaya sama anak ibu ini,yang penting jangan menyesal nanti jika kamu belum bisa kuliah tahun ini,pokoknya ibu yakin juga bisa lekas sembuh biar kamu bisa kuliah"Nani mengusap lembut lengan Kania yang memeluknya dari belakang.
"Iya Bu,Kania sayang banget sama ibu,Kania sedih liat ibu sekarang kurus begini... Andai aja ada ayah ya Bu,pasti nasib kita gak kaya gini banget kan,"Kania mendadak murung jika teringat cerita ibunya. Yang Kania tau ayahnya sudah meninggal dunia sejak Kania masih bayi.
"Sudahlah Nak,do'akan saja ayahmu bahagia di surga,ayah pasti bangga koq punya anak gadis yang sangat sayang sama ibu,"Nani menghibur dengan suara lembut,menahan tangis,menahan sakit yang selama ini dia pendam sendirian.
"Tuh kan ibu juga sedih kan kalo inget ayah?"Kania melepas pelukannya dan duduk di samping ibunya.
"Ibu gak sedih sayang,ibu cuma kasian sama kamu karna gak bisa lanjut kuliahnya,"Nani menghapus air matanya yang sudah mulai membasahi pipi.
"Ibu gak perlu sedih begitu,Kania ingin merawat ibu,Kania ingin membantu ibu,selama ini ibu merawat Kania sendirian kan? Kania belum bisa membalas apa yang ibu berikan selama ini."
"Itu sudah tanggung jawab ibu sebagai orangtuamu Nak,sudah selayaknya seorang ibu mengasuh dan membesarkan anaknya"
"Iya Bu,maafkan Kania yang selama ini kadang membuat ibu jengkel"
"Gak apa-apa Nak,namanya juga masih anak-anak,Ibu memakluminya koq,"
"Tapi Kania sekarang udah besar Bu,udah mulai beranjak dewasa..."kata Kania sambil cemberut.
"Bagi ibu kamu tetap anak kecil ibu yang lucu,"kata Nani sambil mencubit gemas hidung Kania yang mancung.
"Ahh ibu... selalu aja begitu,Kania kan udah besar Bu,udah mulai merasakan jatuh cinta... hehehe"
"Apa? anak gadis ibu udah pacaran?"tanya Nani menyelidik.
"Hehehe... belum sih Bu,tapi mau..."
"Sayang,udah berkali-kali ibu bilang sama kamu,kalo ibu tidak mengizinkan kamu berpacaran..."
"Tapi Bu,cowok yang nembak Kania itu anaknya baik banget,gak pernah neko-neko..."
__ADS_1
"Stop Kania! gak ada tapi tapian,semua cowok itu sama aja,awalnya aja manis tapi selanjutnya bisa jadi buaya,pokoknya ibu gak merestui kamu berpacaran. Kamu baru boleh kenal cowok kalo kamu udah siap nikah. Titik!" Nani berkata dengan nada tegas. Ada benarnya memang jika Nani tidak mengizinkan Kania berpacaran. Karna dia takut nasib Kania bakalan tersakiti seperti dirinya.
"Kenapa sih Bu selalu menganggap cowok itu semua bersifat sama? Tapi menurutku Mas Abdi itu beda loh Bu,dia baik,sopan tutur katanya selalu lembut,dan dia juga pengen banget dikenalin sama ibu"
"Udah sayang ibu malas debat masalah kaya gini,nanti aja kalo ibu udah gak repot kita bicarakan lagi. Oke? Sekarang ibu mau mempersiapkan pesanan kue dari tetangga baru kita,nanti malam mau ada syukuran,sekarang tolong belikan bahan dulu di warung ujung sana yang bahan kuenya lengkap,ya Nak yaa..." Nani beranjak dari tempat duduknya hendak masuk kamar mengambil uang untuk membeli bahan-bahan kue yang dibutuhkan.
Kania manyun setiap kali si ibu diajak curhat masalah cowok selalu saja begitu. Ada aja alasan untuk menghindar. Entah sudah berapa cowok yang nembak dia selalu saja ditolak karena ibunya tidak setuju.
Kania bersiap mengendarai motornya menuju warung ujung di mana dia ingin membeli bahan-bahan kue yang dipesan oleh ibunya. Sampai di warung Kania langsung memesan beberapa bahan seperti tepung,gula,telur dan susu.
"Wah banyak amat neng,mau hajatan ya?"tanya bang Ujang si pedagang di warung.
"Biasa lah bang,orderan kuenya ibu, Alhamdulillah ada aja yang pesan,"jawab Kania sambil menerima sekantong besar belanjaan.
"Wah iya neng, bersyukur aja, dibantuin lah ibunya kasian kerja sendirian,"
"Iya bang makasih ya..."
Usai mengucapkan terima kasih Kania langsung pulang.
Sampai di rumah Kania melihat ada laki-laki sedang berbincang dengan ibunya di ruang tamu. Laki-laki itu tampak berusia sekitar 40tahun.
Laki-laki itu tiba-tiba menoleh ke arah Kania. Tapi Kania acuh saja melihat laki-laki melihat Kania dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Ohh... Kania kenalkan ini Om Darma,dia tetangga baru kita yang ibu bilang tadi pesan kue untuk acara syukuran nanti malam..."jelas Nani pada Kania seolah tau jika anak gadisnya bertanya siapakah laki-laki itu.
"Ohh iya... Om,saya Kania anaknya ibu Nani"kata Kania dengan sopan dia mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Ahhh iyyya... wahh... tetangga saya anak-ibu cantik-cantik yaa... hehehe"jawab Om Darma sambil tertawa genit menyambut uluran tangan Kania.
Om Darma tersenyum genit sambil meremas jemari tangan Kania ketika bersalaman. Kania agak terlihat kaget merasakan tangannya diremas oleh Om Darma. Dia menarik tangannya yang masih erat berjabat tangan dengan Om Darma.
"Eheheee... iiyyaa terima kasih Ommm..."kata Kania kikuk sambil menarik tangannya.
Om Darma seolah belum rela melepas jemari tangan Kania yang halus dan sama sekali belum pernah dipegang laki-laki.
"Om maaf Om... " Kania merasa tidak enak hati karena dari tadi ibunya juga melihat Kania terlalu lama bersalaman dengan Om Darma.
"Ohh ya yaa... maaf Kania saya sangat kagum dengan kecantikanmu,"Om Darma pun melepas tangannya.
"Ehmm... Nak kamu masuk aja ya,tolong siapkan oven yang mau ibu pakai untuk memanggang kue."kata Nani berusaha menyelamatkan anak gadisnya dari pandangan sang tamu.
__ADS_1
"Iya Bu"Kania buru-buru pergi ke dapur untuk menyiapkan oven.
"Wah kalo gitu saya juga pamit Bu Nani,semua sudah beres kan yaa... sudah saya bayar lunas ya Bu,biar enak nanti ibu tinggal antarkan pesanan saya sebelum jam 7 malam,"kata Om Darma akhirnya berpamitan.
"Ohh ya sebaiknya begitu"ucap Nani lirih nyaris tak terdengar oleh Om Darma.
"Iya bagaimana Bu?"tanya Om Darma meyakinkan.
"Ohh gak apa-apa pak Darma,nanti saya usahakan kuenya selesai tepat waktu dan akan saya antar ke rumah bapak"jawab Nani sambil tersenyum canggung.
"Baiklah saya pamit,oh iya sekalian saya undang ibu dan dik Kania nanti malam ikut sekalian di acara syukuran kami,"
"Insya Allah ya pak"
"Ahh masa tetangga baru gak dateng? biar kenal juga lho kita sama tetangga di komplek ini,"
"Iya pak nanti saya usahakan"
"Baik terima kasih saya pamit Bu Nani,sampaikan salam saya untuk dik Kania,"
"Iya pak sama-sama"
Om Darma pamit pergi. Nani buru-buru menutup pintu pagar rumahnya. Sambil mengelus dada dan geleng-geleng kepala Nani kembali masuk ke dalam rumah.
"Ada apa Bu? Koq ekspresi ibu gitu banget sih?" tanya Kania menyelidiki ibunya yang tampak menampakkan raut wajah bete.
"Duh nak kamu hati-hati ya sama itu Om Darma, genit banget sama kamu, laki-laki sudah beristri koq genit liat gadis muda"jawab Nani sekaligus mewanti-wanti agar anaknya tidak dekat dengan Om Darma si tetangga baru.
"Duh ibu koq mikirnya kaya gitu sih... Gak lah Bu,gak mungkin Om Darma kaya gitu,mungkin karena kita belum begitu kenal dia jadi ya kesannya masih kaya gitu..."ujar Kania sambil tersenyum ke arah ibunya.
"Iya tapi ibu yakin, Om Darma itu orangnya genit,ibu liat tadi pas salaman sama kamu aja lama banget,iya kan?"
"Hehehe iya sih Bu... ya udahlah... gak usah mikirin Om Darma,mending kita cepet-cepet bikin kuenya biar selesai tepat waktu"
"Iya oke,tolong bantu ibu ya Nak..."
Mereka berdua pun akhirnya asyik membuat kue pesanan Om Darma. Hingga tak terasa hari sudah mulai petang. Semua kue pesanan Om Darma sudah selesai dibuat tinggal mengantar saja ke rumah Om Darma.
Nani tidak mengizinkan Kania ikut mengantar kue ke rumah Om Darma,karna Nani tidak ingin Kania terus-terusan dipandang oleh Om Darma. Kania menurut saja untuk tinggal di rumah sementara ibunya sendirian mengantar kue. Kania juga merasa tak enak hati jika laki-laki beristri itu memandang wajahnya yang memang cantik. Hidungnya yang mancung,matanya yang lebar dengan alis tebal dan bulu mata yang lentik tak bosan-bosan siapapun yang memandangnya. Apalagi Kania yang ramah dan selalu tersenyum kepada siapapun itu yang membuat orang-orang banyak yang menyukainya meskipun belum begitu kenal dengan Kania.
#Bersambung
__ADS_1