Madu Beracun

Madu Beracun
Semakin Dekat


__ADS_3

Semakin hari Monika dan Bos Darwin semakin sering bertemu dan semakin dekat saja. Teman-teman kerja yang lain banyak mendukung jika mereka benar-benar jadian. Toh mereka sama-sama masih single juga. Jadi mereka cocok jika memang benar-benar ingin menikah.


Tetapi belum ada tanda-tanda jika hubungan mereka akan lebih serius lagi. Monika dan bos Darwin masih tampak malu-malu jika ketahuan sedang ngobrol berduaan. Sebenarnya dalam hati Darwin ingin sekali mengatakan yang sebenarnya jika dia sudah mulai jatuh cinta kepada Monika, tetapi perasaan itu dia pendam saja. Darwin merasa minder karena tak yakin Monika akan menerimanya. Usia Darwin terpaut lebih tua dari Monika. Monika baru berusia 24tahun, sedangkan Darwin sudah 35tahun, itulah yang membuat Darwin menahan keinginannya untuk menyatakan cinta pada Monika. Takut ditolak dan Darwin menyadari jika dia sudah tua. Mungkin saja Monika lebih tertarik pada laki-laki yang lebih muda dari Darwin. Meskipun kemungkinan ada peluang untuk mendapatkan hati Monika, karena akhir-akhir ini mereka begitu dekat dan sering mengobrol tapi Darwin tetap menahan perasaannya. Darwin tidak ingin terburu-buru menyatakan cinta. Dia juga takut jika gadis seusia Monika masih labil dan belum siap untuk menikah.


"Darwin, apa kamu sudah menemukan tambatan hati kamu nak? Mamah dengar kamu lagi dekat dengan salah satu karyawan kamu di toko? " tanya nyonya Fatma pada Darwin di sela-sela makan malam.


"Ahh mamah, siapa yang bilang sih? " Darwin malu-malu ketika ditanya soal itu oleh nyonya Fatma.


"Banyak yang bilang Darwin... Ayo siapa dia? Kenapa tidak kamu perkenalkan dia dengan mama? "


"Aduh mama,Darwin itu memang lagi dekat sama karyawan Darwin, tapi semuanya memang dekat ma, Darwin pikir sah-sah saja atasan dekat dengan karyawannya koq, "


"Tergantung dekatnya Darwin kalau dekatmu dengan salah satu karyawan itu dekat secara pribadi,bagaimana?" tanya nyonya Fatma lagi mencoba menggoda Darwin.


"Aduh mama... ada-ada saja... Ya kita lihat saja nanti ma, kalau memang Darwin sudah ketemu jodohnya pasti bakalan Darwin kenalkan pada mama, "


"Benar ya Darwin... jangan lama-lama, mama ingin segera menimang cucu darimu... "


"Iya mama sayang, Darwin janji... "


"Nah gitu donk... Jadi memang benar kamu lagi dekat sama karyawan kamu di toko? " tanya nyonya Fatma lagi mendesak.


"Hmmmm... Tak tau lah ma, Darwin masih ragu"


"Loh kenapa memangnya? Apa dia tidak cantik? Tidak sesuai dengan kriteria kamu? Apa dia... "


"Buka begitu ma, dia baik, cantik, ramah, supel... tapi dia masih sangat muda ma, Darwin tidak yakin dia mau sama Darwin yang sudah tua ini, " jelas Darwin lesu.


"Yaa Ampun sayang, kalau memang sudah jodoh usia itu tidak akan menjadi masalah nak, mama lihat kamu masih muda, gagah, ganteng koq, anak mama ini belum terlalu tua koq, justru usia cukup matang untuk berkeluarga. Mama yakin banyak gadis-gadis di luar sana yang tertarik ingin menjadi pendamping hidupmu, percayalah... "kata nyonya Fatma menenangkan anaknya.


" Iya ma, tapi nyatanya dulu juga ada saja yang mengkhianati cinta Darwin, berarti tidak semua perempuan berhati baik ma... "


"Sudah cukup Darwin jangan bahas yang lalu biarlah berlalu, anggap saja itu hanya mimpi buruk saja tidak perlu diingat-ingat lagi. Pikirkan masa depanmu jangan pikirkan masa lalu. "


"Iya mamaku sayang... Darwin sudah bangkit dari keterpurukan koq ma, Darwin sudah melupakan masa lalu Darwin. Do'akan saja semoga Darwin segera bertemu dengan jodoh Darwin, jodoh yang baik untuk Darwin, "


"Iya sayang, mama selalu mendoakan Darwin setiap hari... "


"Iya terimakasih ma... "


Nyonya Fatma turut bahagia melihat Darwin tampak ceria lagi. Kini Darwin tak lagi mengurung diri di dalam kamar, Darwin lebih sering melakukan berbagai aktifitas di luar dan lebih sering mengunjungi toko. Itu tandanya Darwin sudah mulai bersemangat lagi. Badannya sudah mulai berisi lagi dan tidak sekurus kemarin ketika masih murung.


***


Seperti biasa Monika selalu membersihkan dan merapikan ruang kerja bos Darwin sebelum melakukan aktifitas lainnya. Nadia yang melihat itu senyum-senyum sendiri. Dia sepertinya mengerti jika sahabatnya itu sebenarnya sama-sama suka dengan bos Darwin. Tapi memang mereka sama-sama masih menutupi perasaan masing-masing.


"Rajin sekali sih sekarang yaa...? " ledek Nadia ketika melihat Monika selesai membersihkan ruang kerja bos Darwin dan sudah keluar dari ruangan itu.


"Yaa Ampun Nad, itu kan sudah menjadi tugas karyawan... hmmmm... kamu ini mikirnya kenapa sih...? " kata Monika agak malu-malu.


"Romannya ehemmm ada tanda-tanda jelas tuh" timpal Windi ikut nimbrung menggoda Monika.


"Iya Windi, kita do'akan saja yaa teman kita yang jomblo akut ini segera bertemu jodohnya... Syukur-syukur jodohnya bos kita sendiri, ya kan? "


"Aamiin, " jawab Windi sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Aduh apa-apaan sih kalian ini masih lagi udah pada ngigau nggak jelas, "


"Yaa sebagai sahabat kita hanya bisa mendo'akan dan ngasih dukungan yang terbaik untukmu, " kata Nadia sambil tersenyum.


"Wah ada apa ini sepertinya ada yang lagi seru dibicarakan nih. " Tiba-tiba saja bos Darwin sudah ada di belakang mereka tanpa ada yang menyadari sejak kapan bos Darwin datang.


"Emhhhh anu pak, kita lagi bahas lucu-lucuan aja sih pak... ehehee maaf pak, saya permisi masih ada kerjaan di sana... permisi pak, " kata Nadia gelagapan karena malu, lalu dia melipir pergi begitu saja sebelum bosnya bersuara lagi.


"Hihii saya juga pak permisi mau bantuin Nadia " kata Windi juga berlari kecil mengikuti Nadia.


Sementara Monika masih diam terpaku di tempat. Dia bingung sekaligus malu karena tadi ketahuan sedang membicarakan kedekatannya dengan bos Darwin. Ketika sedang ingin membalikkan badan tiba-tiba lengan Monika dicekal tangan kekar bos Darwin.


"Hey mau kemana kamu? Mau ikut pura-pura sibuk dengan teman-temanmu?? " tanya bos Darwin sambil mendelik lucu.


"Hemmmm eh iya pak, apa ada tugas untuk saya? "tanya Monika agak grogi.


"Kewajibanmu setiap pagi adalah menemaniku sarapan, apa kamu sudah lupa? "


"Oh ya pak, saya tidak lupa... Sebentar ya saya buatkan kopi untuk bapak, "


"Baiklah, cepat yaa jangan biarkan saya lama menunggu"

__ADS_1


"Iya Pak... "


Monika segera menuju ke dapur untuk membuatkan kopi. Sedangkan bos Darwin menuju ruang kerjanya.


Tak berapa lama Monika sudah masuk ke ruangan bos Darwin dengan membawa kopi panas untuk bos Darwin.


"Tumben cepat sekali? "


"Iya Pak, tadi saya sudah menyiapkan air panas terlebih dahulu, "jawab Monika sambil tersenyum.


" Baguslah kalau begitu, jadi saya tidak perlu menunggu lama-lama "


"Kan hanya kopi pak, tidak lama lho... "


"Yaa sudahlah tidak perlu memperdebatkan kopi... Mari kita sarapan dulu, " ajak Darwin sambil membuka bungkusan makanan yang dia bawa tadi.


"Ohh iya, hari ini saya bawa masakan spesial buatan mama saya, kamu cobain yaa, rasanya pasti enak, karena mama saya yang masak" kata Darwin sambil menyendok nasi serta rendang daging hendak menyuapi Monika.


"Emhhh saya makan sendiri saja pak, masa mau disuapin... " kata Monika malu-malu.


"Sudah lah aaa buka mulutmu saja, lagipula saya hanya membawa satu sendok saja untuk makan." kata Darwin setengah memaksa.


"Kalau begitu saya ambil sendok lagi aja pak di dapur ada koq sendok, "


"Nggak perlu Monika, sudahlah ini saja,"


"Baiklah pak, bapak makan dulu aja kalau gitu nanti bapak selesai makan baru saya yang makan" Monika kembali berusaha menolak dengan halus.


"Ahh sudahlah cepat buka mulutmu mumpung ini masih hangat masih enak, ayo... aaa" Darwin memaksa Monika untuk membuka mulutnya dengan mendekatkan sendok di depan bibir Monika yang masih tertutup rapat.


Akhirnya mau tak mau Monika pun membuka mulutnya menerima suapan dari bos Darwin. Monika mengunyah suapan nasi dan rendang daging. Darwin tersenyum puas melihat Monika mengunyah makanan dan tidak bisa menutupi raut wajahnya yang terlihat merona mungkin karena malu.


"Enak kan? " tanya bos Darwin sambil tersenyum.


"He'em... " jawab Monika sambil menganggukkan kepalanya.


"Benar kan? masakan mama saya itu memang paling enak,"kata bos Darwin sambil menyuapkan sendiri nasi ke dalam mulutnya sendiri.


Sarapan selesai Monika segera membereskan bekas sarapan dan membersihkan meja. Darwin tak berkedip terus-terusan memandang wajah cantiknya Monika. Gadis itu memang benar-benar perempuan idaman. Cantik, putih, seksi baik juga ramah. Darwin memperhatikan setiap gerak Monika tanpa berkedip membuat Monika grogi merasa diperhatikan dengan begitu dekatnya.


" Iya pak ada apa? "tanya Monika menghentikan langkahnya yang hendak keluar ruangan.


" Duduk dulu sebentar... saya masih ingin melihatmu di sini, "


Monika menurut saja duduk di kursi di depan bosnya.


"Iya Pak, "


"Oh ya boleh saya tanya sesuatu?? "


"Iya Pak mau tanya apa silahkan"


"Tadi ngomongin apa sih sama teman-teman kamu? " tanya Darwin menyelidiki rasa ingin tahu.


"Ahh tidak ada Pak, tadi itu hanya bercanda saja koq Pak tidak ada hal yang aerisuo, biasa saja kita kalau lagi bareng pasti ya cuma ngobrol saja" jawab Monika agak gugup.


"Yang benar? Tadi aku mendengar semuanya loh... "


Monika menunduk karena malu.


"Bagaimana menurut pendapat teman-teman kamu tentang kedekatan kita selama ini? "


"Iyaa biasa saja sih Pak... " jawab Monika agak kebingungan.


"Apa mereka mendukung kita? "


"Aduh mendukung soal apa ya Pak, saya tidak mengerti, " kata Monika lagi pura-pura tidak faham padahal jantungnya sudah mulai berdebar-debar.


"Yaa tentang kedekatan kita, masak kamu tidak faham juga sih? "


Monika hanya menggelengkan kepalanya lalu menunduk lagi.


"Saya punya satu keinginan... "


"Iya apa Pak? "


"Jangan panggil saya Pak lagi, apa kamu bersedia mengikuti? "

__ADS_1


"Lalu saya harus panggil apa? "


"Kamu boleh panggil saya Darwin saja"


Monika membelalakkan matanya seperti tak percaya.


"Apa tidak keterlaluan itu Pak, ehh... "


"Atau mas Darwin saja lah, kamu panggil saya Pak sepertinya saya terlalu tua saja yaa"


"Heheee... Yaa tidak juga sih Pak, masih terlihat muda koq... Hmmmm... "


"Yaa sudah panggil saja saya mas Darwin yaa, jangan Pak lagi, biar enak ngobrolnya tidak terlalu kaku... "


"Iya mas Darwin... Hmmmm... " jawab Monika akhirnya.


Darwin lagi-lagi tersenyum puas, pagi ini sudah cukup berhasil membuat Monika terlihat grogi. Wajahnya yang cantik m begitu menggemaskan ketika terlihat merah merona menahan kegrogiannya.


"Oh iya, apakah kamu sudah pernah memiliki pacar? Saya tidak pernah melihat kamu diantar atau dijemput pacar kamu? Selalu sendirian, bahaya lho perempuan cantik sepertimu mengendarai motor sendirian"


"Ahh tidak Pak, eh Mas... Insya Allah aman koq meskipun setiap hari saya pulang pergi kerja naik motor"


"Awas ada begal lohh"


"Ahh nggak adalah begal di sini kan tempat ramai"


"Dihh jangan kepedean kamu begal itu tidak mengenal tempat dan waktu loh"


"Yaa semoga aman-aman saja sih, toh selama ini juga aman-aman saja koq, tidak ada begal"


"Tapi saya tidak tega melihat kamu naik sendirian, itu pasti melelahkan"


"Tidak koq mas, biasa saja..."


"Yang bener? "


"Iya benar... "


"Koq pertanyaan saya tadi belum dijawab? "


"Pertanyaan yang mana ya mas? "


"Apa kamu belum pernah pacaran? "


"Ohh itu... "


"Iya... Apa jawabannya? "


"Saya belum pernah berpacaran Mas, " jawab Monika tersipu malu.


"Ahh masak perempuan secantik kamu tidak ada yang naksir sih??" tanya Darwin lagi-lagi dengan nada menyelidik.


"Sumpah Mas beneran saya belum pernah berpacaran, karena saya masih ingin fokus bekerja, saya masih ingin menjaga dan merawat ibu saya sebaik mungkin. Karna ayah saya sudah meninggal sejak saya masih SMA, jadi yang berkewajiban menjaga ibu ya hanya saya, makanya saya tidak pernah berpikiran untuk berpacaran," kata Monika menjelaskan sambil tersenyum.


"Ohh begitu... tapi kalau misalnya ada yang ingin menikahimu bagaimana? "


"Yaa kalau untuk menikah mungkin bisa dipertimbangkan lagi Mas, itu tandanya lebih serius, beda lagi kalau hanya untuk sekedar mengajak berpacaran... "


"Jadi bagaimana pendapat mu sekarang jika ada laki-laki yang ingin segera menikahimu sekarang? "


"Iya kalau untuk segera menikah saya harus mikir dulu Mas, "


"Loh katamu tadi kalau laki-laki yang mengajak menikah itu tandanya serius, koq kamu masih ingin mikir-mikir lagi? "


"Iya kan masalahnya belum ada yang ngajak saya menikah Mas, kalau hanya sekedar ngajak pacaran banyak... hehehee"


"Aduh koq malah bercanda, saya serius lho... "


"Hmmmmm... iya Pak maaf... "


"Iya dimaafkan... "


Sesaat mereka berdua terdiam. Darwin masih sibuk menikmati wajah cantik Monika dengan tatapan tajamnya. Sementara Monika hanya diam menunduk malu diperhatikan sedemikian rupa oleh bosnya.


Tak terasa hari sudah mulai beranjak siang, pengunjung toko sudah mulai ramai. Ada alasan Monika keluar dari ruangan Darwin beralasan ingin membantu temannya melayani pelanggan yang ingin berbelanja. Sedangkan Darwin masih seperti biasa, dia selalu setia memantau gerak-gerik karyawannya melalui rekaman CCTV-nya. Terlebih lagi Darwin sangat memperhatikan gerak-gerik Monika ketika sedang melayani pembeli. Darwin selalu mengagumi sosok Monika, biarpun usianya masih tergolong muda, tapi Monika sudah cukup dewasa dalam berpikir. Dalam hati Darwin berharap, semoga kelak dia bisa memiliki hati Monika seutuhnya. Semoga saja Tuhan mengabulkan niat baik Darwin.


***BERSAMBUNG***

__ADS_1


__ADS_2