
"Apa aku harus segera menggugat dan mengurus surat perceraian ya bu? Setelah itu aku akan menikahi Selly secara hukum. Bagaimana menurut ibu?."
"Ide bagus,lebih cepat lebih baik. Ibu juga udah muak sama menantu satu itu,gak ada gunanya." Celoteh bu Heni.
#
Sesampai nya di rumah Selly,mas Ibram di sambut hangat oleh istri siri nya itu.
Bagaimana tidak?setelah mereka menikah Selly semakin manja, seperti tak mau lepas dari Ibram.
"Sayang,aku mau ngomong sesuatu." Ujar Ibram.
"Ngomong aja sayang,mau ngomong apa sih?. " Tanya Selly sambil memainkan dada bidang milik Ibram.
"Gini sayang,emm kamu keberatan gak kalo nanti mas cerai sama Risa,mas tinggal di rumah kamu?." Tanya Ibram penuh ragu.
"Maksud kamu mas?." Tanya Selly tak paham.
"Rencana nya,mas mau cerai sama Risa. Biar kita bisa nikah secara hukum. Tapi,kalau mas cerai sama Risa,mas boleh ya tinggal di sini?. Ucap Ibram penuh harap.
"Gak mas,enggak ! Enak aja kamu mau tinggal di sini. Ya kalau kamu cerai sama Risa,kenapa gak kita aja yang tinggal di sana? Secara,itu rumah kamu kan mas? Lagian rumah ini kecil banget,rumah kamu kan lebih luas,kenapa kamu malah mau tinggal di sini sih mas?." Tolak Selly dengan berbagai pertanyaan.
Ibram menelan saliva nya dengan susah payah. Dia lupa,kalau dia berbohong perihal rumah dan mobil. Memang,dia mengaku bahwa itu semua milik nya, Risa hanya menumpang.
Sekian menit hening , Selly membuka percakapan.
"Gimana kalo aku aja yang pindah ke sana mas?. Kita usir deh istri kamu yang mandul itu." Ucap Selly terkekeh.
"Ja-jangan, Risa belum tau perihal pernikahan kita." Kini Ibram buka suara.
"Ya biar sekalian dia tau mas,kita gak perlu cape main sembunyi-sembunyi kaya gini." Selly mulai cemberut.
"Jangan sayang,nanti kita tunggu waktu yang pas saja ya." Ucap Ibram,sembari mengecup pucuk kening sang istri kedua.
Selly pun luluh,dan menenggelamkan muka nya ke dada bidang sang suami.
#
Di tempat lain,di kediaman Risa..
Brakkk
Brakk
Brakk
"Risa ! Keluar kamu !!." Terdengar suara gebrakan pintu dan suara cempreng khas milik ibu mertua. Risa hafal betul suara itu.
__ADS_1
Dengan malas Risa membuka kan pintu.
"Lama amat sih bukain mertua pintu !! Harus nunggu di gebrak dulu baru mau di buka? Begitu.??" Ucap ibu mertua dengan suara lantang.
Risa memutar bola mata nya malas.
"Ada apa bu? Ibu ke sini mau marahin Risa doang?."
"Heh!! Gak sopan kamu ya sama orang tua !!."
"Ibu aja datang kerumah saya dengan cara gak sopan, gimana dong?."
"Mulai kurang ajar kamu ya sama orang tua,mau saya bilangin ke Ibram kamu ha??."
"Terus kalau udah di bilang ke mas Ibram dia mau ngapain? Mau ngusir saya dari rumah saya sendiri?."
Degghh
"Bukan kah aku datang kesini untuk membahas hal itu, bagaimana dia bisa tau?." Ucap Bu Heni dalam hati.
"Kenapa diam bu?." Tanya Risa tersenyum sinis.
"Heh menantu mandul !! Jangan sok-sok an berani kamu yaa,paling sebentar lagi kamu bakalan angkat kaki dari rumah ini !!." Jawab Bu Heni geram.
Risa tersenyum getir.
"Saya memang tidak punya hak,tetapi anak saya punya hak atas rumah ini."
Risa hanya bingung, bagaimana bisa mertua nya berbicara seperti itu. Entah kesambet setan apa bu Heni itu.
"Coba saja ibu usir saya dari sini,anak ibu juga yang akan menderita."
"Kamu tunggu saja surat gugatan perceraian dari anak saya."
"Kenapa?kenapa mas Ibram tidak membicarakan ini kepada ku dulu? Kenapa harus mertua yang galak ini yang memberitahu berita tak mengenakkan ini?." Risa membatin.
"Kenapa?kaget ya? Sebentar lagi bakalan jadi janda." Ujar Bu Heni mengejek.
"Gak kok Bu, silahkan saja jika anak ibu ingin menceraikan saya. Saya tunggu surat gugatan nya ya. Beruntung lah saya gak perlu cape-cape ngurusin berkas-berkas. Makasih banget ya,bilang ke calon mantan suami saya!! . ucap Risa dengan menekan kata mantan calon suami.
Risa tak bersedih jika harus bercerai dengan mas Ibram,tapi Risa sedih karena nasib nya sangat memprihatinkan. Hidup sebatang kara di ibu kota,berharap keluarga suami bisa menjadi keluarga seutuhnya,malah seperti musuh bebuyutan.
Tak lama Bu Heni pergi, Risa kembali ke sofa tempat semula dia menonton televisi sejak tadi.
Dia masih memikirkan ucapan ibu mertua nya itu,apakah benar mas Ibram ingin menggugat ku?. Apa karena pertengkaran tadi malam? Dimana letak kesalahannya nya?se salah itu kah bertanya pada suami sendiri?. Pertanyaan-pertanyaan itu lah yang menghantui pikiran Risa.
Perut Risa keroncongan,karena memang sedari tadi ia belum makan apapun.
__ADS_1
Kemudian ia berjalan ke dapur untuk membuat makanan instan.
Tak berselang lama,mas Ibram datang dengan muka ceria.
Yang membuat Risa heran adalah,ketika tadi ibu mertua membawa berita buruk,kini justru mas Ibram datang dengan senyum bahagia. Aneh bukann?.
"Darimana saja kamu mas?."
Tanya Risa datar.
"Rumah temen,kamu masak apa.?" Tanya nya sambil melirik masakan Risa.
"Kamu mau?masak sendiri ya mas!."
"Kok kamu gitu sama suami kamu Ris?."
"CALON MANTAN SUAMI mas!!,ingat ya CALON MANTAN SUAMI!!."
Degh
"Kenapa Risa berbicara seperti itu?apa dia tau aku akan menceraikannya?." Batin Ibram.
"Ma-maksud kamu apa Ris?."
"Kamu mau menceraikan ku kan mas?." Tanya Risa dengan penuh selidik.
Mas Ibram meneguk saliva nya kasar.
"Siapa yang bilang begitu?."
"Siapa lagi kalau bukan ibu kesayangan mu itu!! Kalau bisa secepatnya ya mas,biar aku bisa hidup tenang." Ucap Risa santai sambil memakan makanan nya.
"Astaga ibu,kenapa tidak sabar sekali.'
Batin Ibram.
"Gak ris,bu-bukan maksud mas seperti itu sayang." Ibram coba menenangkan.
Risa hanya berlalu mencuci piring di wastafel,langsung berjalan menuju kamar nya.
Bohong jika dia tak kecewa,karena sejatinya dia juga manusia biasa. Tapi,dia harus kelihatan tegar. Depan lelaki yang sebentar lagi menjadi mantan suaminya itu.
"Sayang,maafin mas ya. Bukan maksud mas ingin menceraikan mu,ibu saja yang salah paham." Ucap Ibram meyakinkan.
Jujur dalam hati nya,ia memang tak rela jika harus melepaskan Risa.
Tapi,dia juga tak mau kehilangan cinta pertama nya. Yaitu,istri siri nya yang sekarang.
__ADS_1
"Kenapa sejak beristri dua,hidup ku jadi lebih berantakan?. Bukan nya lebih bahagia di urus dua orang istri. Huh nasib nasib." Batin Ibram seraya membaringkan diri di sofa depan Tv.