
. . .
Aku tau setiap anak pasti ingin membahagiakan kedua orangtua, sama halnya dengan ku, Namun aku harus melakukan ini demi mereka.
Nama ku Hariana Michele, orang-orang memanggil ku Hari, umur ku 20 tahun, anak pertama dari dua bersaudara, oh iya, adik ku namanya Hara, dia duduk di bangku SMP.
Kemarin adalah hari pernikahan ku, tapi ini adalah hari yang paling aku benci, mungkin orang lain akan bahagia karena menikah, berbeda dengan ku yang sangat tertekan, semua ini aku lakukan demi mamah dan papah ku.
Aku di jodohkan dengan laki-laki yang sama sekali tidak aku kenal, bahkan baru bertemu beberapa minggu, orang tua ku langsung menikahkan ku dengan laki-laki itu.
Pernikahan yang membuat ku tidak bisa menolak, karena orang tua ku berteman dekat dengan orang tua laki-laki yang menikahi ku kemarin, namanya Kevin Andreas, umurnya 23 Tahun.
Aku harus membina rumah tangga dengan laki-laki yang irit bicara, sok cool, bahkan selama ini aku tidak pernah melihatnya tersenyum, apa dia bukan manusia ?
Ah.. kenapa aku berpikir seperti itu, aku sangat kesal sekali memangnya aku mau nikah sama dia.
Hari ini aku harus membereskan rumah baru, iya.. rumah yang ayah Kevin kasih untuk kita tempati, hanya berdua, katanya ini hadiah pernikahan ku dengan Kevin.
Aku harus membuang jauh-jauh masa depan yang sudah aku rencanakan, bahkan aku sedang kuliah di bidang kedokteran, namun papah bilang aku harus menikah dengan Kanglim, lalu aku pun berhenti kuliah.
Ini pemaksaan namanya, apa aku bisa bahagia dengan laki-laki yang baru aku kenal, bahkan aku pun punya pacar.
"Hari," teriaknya.
"Iya mas,"
Kevin mendekat dan menatap cuek.
"Jangan panggil Mas!" Tegasnya.
Hari mengangkat kedua alisnya bingung.
"Panggil nama aja," lanjut Kevin.
"Apa gak enak dan tidak sopan ya, kalo panggil nama, lagian kan kamu lebih tua dari ku," ucap Hari.
"Yaudah panggil kakak aja," ucap Kevin pergi.
Hari membuang nafasnya kasar, lalu kembali merapihkan baju-bajunya.
Cahaya matahari membuat Kevin membuka matanya pelan-pelan, terdengar suara gorden terbuka, Kevin sangat terkejut melihat Seseorang disana yang membelakanginya. Lalu Kevin duduk dengan menguap dan sesekali meregangkan tangan dan lehernya yang pegal.
"Aaaaaaaaaaa !" Teriak Hari.
"Hei, ngapain teriak!" ucap Kevin.
Hari menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Kenapa gak pake baju sih kak," ucapnya.
Kevin membuang nafasnya kesal lalu mendekat.
"Salah kamu sendiri, ngapain kamu masuk ke kamar aku," ucap Kevin mendekat.
Hari tak ingin membiarkan mata sucinya ternodai dengan melihat badan Kevin, lebih tepatnya dada bidang yang indah itu, ini rasanya memalukan.
"A..aa... aku cuma mau bangunin kakak aja, yaudah aku keluar sekarang, aku mau buat sarapan," Hari keluar dari kamar dengan berlari.
"Dasar bocah tengil," kesal Kevin.
Ya.. tentunya Hari dan Kevin tidur di kamar yang berbeda, karena mereka tidak mau tidur di kasur yang sama, membayangkannya saja membuat Hari ketakutan, lagian siapa juga yang mau tidur satu kamar dengan laki-laki asing,
ya... mereka memang sudah menjadi suami istri, namun mereka sangat tidak ingin jika harus tidur satu kamar.
Turun dari tangga dengan merapihkan jas dibadannya, saat melihat Hari di meja makan, membuat Kevin menggeleng mengingat kejadian tadi.
Hari melayani suaminya sebelum berangkat kerja dengan baik, mengambilkan roti dan selai bersama segelas air putih, segelas kopi, segelas susu dan segelas teh hangat.
"Kenapa banyak sekali minuman disini ?" Tanya Kevin bingung.
"Aku gak tau kakak suka minuman apa, jadi aku buatkan kopi susu teh untuk kakak,"
Kevin menghela nafasnya pelan lalu melanjutkan makannya.
__ADS_1
"Kamu cukup buatkan saya, teh dan air putih kalo pagi," lalu Hari mengangguk paham.
Dirasanya sudah kenyang, Kevin berangkat meninggalkan istrinya di meja makan.
"Kak," panggilan Hari membuat Kevin menatapnya dengan cepat.
"Apa?"
Hari mendekat dengan sedikit gugup.
"Hmm.. maaf kak kalo gak sopan, itu dasinya miring, aku rapihin ya,"
Hari merapihkan Dasi dan mengusap-ngusap jas Kevin pelan.
"Udah kak," senyum Hari.
"Hari, kalo kamu bosan di rumah kamu bisa jalan-jalan keluar, oh iya sebentar,"
Diambilnya sesuatu di dalam tasnya.
"Ini uang buat kamu shopping, untuk keperluan rumah nanti saya belikan," ucapnya dengan menyimpan uang di tangan Hari lalu pergi.
Melihat banyak uang ditangannya membuat Hari sangat bingung.
"Uang sebanyak ini buat apa?"
Rasa lelah setelah masak satu jam lamanya, baru kali ini Hari masak bahkan hanya mengandalkan youtube. 'Mudah-mudahan rasanya enak,'
Malam ini Hari menunggu kepulangan Kevin dengan duduk di ruang tamu dan menonton tv.
Tak terasa pernikahannya sudah satu minggu, namun tetap saja Hari belum melihat Kevin tersenyum, bahkan untuk bicara pun hanya seperlunya, sangat irit bicara, bertemu hanya pagi saat Kevin berangkat kerja dan malam saat kepulangannya dari kerja, tentunya Hari hanya masak dan menyiapkan keperluan suaminya ini, seperti pembantu saja, Hari hanya diam di rumah sangat membosankan.
Ketukan pintu terdengar, Hari berdiri dan mendekat ke arah pintu, dilihatnya Kevin yang pulang.
"Makan dulu ya kak, aku udah masak," ucapnya tersenyum.
Hari hanya berdehem, membuka jas dan membuka kancing kemejanya yang terasa sesak lalu berjalan ke arah meja makan.
Banyak sekali makanan di meja sampai bingung mau makan yang mana.
"Aku masak kak," jawabnya.
"Yaudah ayo makan,"
Kevin makan namun baru suapan pertama membuat Kevin menatap Hari dengan cepat, ekspresi wajahnya pun berubah, di ambilnya tisue lalu memuntahkan semua makanan itu.
"Ini rasanya aneh sekali, pahit dan tidak enak, kalo kamu gak bisa masak lebih baik kamu beli aja keluar," ucapnya biasa namun tidak membentak.
Hari merasa sakit hati, bahkan makanan ini dia masak untuk Kevin.
"Maaf," Hari menundukan wajahnya.
"Yaudah gak apa-apa, sekarang aku mau mandi dulu," Kevin pergi.
Hari jadi merasa bersalah karena Kevin pulang tapi Hari tidak bisa masak makanan kesukaan suaminya ini.
...
Pagi ini Kevin mengetuk pintu kamar Hari, di lihatnya sang istri sedang duduk di kursi riasnya.
"Hari," ucapnya mendekat.
"Iya kak, apa kakak butuh sesuatu biar aku ambilkan?"
"Tidak, aku kepikiran dengan ucapan ku semalam, tidak ada niatan untuk nyakitin kamu, tapi semalam makanannya tidak enak, aku cuma mau minta maaf kalo kamu sakit hati,"
Tentunya Hari tersenyum dan merasa lega, sedari tadi Hari memikirkan ini dan merasa tidak enak pada Kevin.
"Iya kak, gak apa-apa kok, justru aku yang mau minta maaf karena aku, kakak gak bisa makan,"
"Yaudah kalo gitu, aku berangkat kerja dulu," pamitnya keluar dari kamar Hari.
"Gak makan dulu?"
__ADS_1
"Nanti aja di jalan, hari ini ada meeting takut kesiangan,"
Hanya sesingkat itu percakapannya dengan Kevin, suara mobil terdengar keluar dari halaman rumah, Hari hanya menatap dari jendela kamarnya.
HARA call📲
"Hallo kak,"
"Hara, kakak kangen,"
"Aku juga kak, kapan kakak main kesini?"
"Nanti ya kalo libur,"
"Apa kakak bahagia disana?"
".... ..."
"Hallo kak, kenapa diam?"
"Eh iya Har, kakak bahagia kok,"
"Syukurlah, yaudah aku berangkat sekolah dulu,"
Sambungan telpon terputus, aku sangat menyesal sudah bohong karena disini aku sama sekali tidak bahagia. 'Maaf Har, kakak udah bohong,' batinnya.
"Ayo siap-siap," ajak Kevin dengan merapihkan jaket hitam di badannya.
"Uhh, mau kemana kak?"
"Kita belanja bulanan,"
^^^
Memilih barang-barang belanjaan dan di masukkan kedalam keranjang, tiba-tiba ada seseorang merangkul tangan Kevin erat.
"Hai, kita ketemu disini ya Kev,"
"Ina ngapain kamu disini?"
Hari merasa tidak nyaman dengan keadaan ini, bahkan keduanya terlihat sangat dekat.
"Kak aku cari perlengkapan yang lain disana ya," Hari pergi dengan mengambil keranjang ditangan Kevin.
"Jangan kayak gini, malu diliatin orang lain," Kevin melepaskan tangan Ina dari tangannya.
"Itu siapa Kev?"
"Dia istri ku,"
"Kamu bercanda kan! Kenapa kamu gak ngasih tau aku, kita sering ketemu loh Kev,"
"Sekarang kan kamu udah tau, yaudah aku duluan ya,"
Melihat kepergian Kevin dengan mengepalkan tangannya emosi, tentunya Ina benci dengan sosok wanita yang menjadi istri Kevin, karena sudah sejak lama Ina mencintai Kevin, lalu sekarang tiba-tiba Laki-laki yang dicintai nya itu sudah menikah, ini seperti mimpi buruk.
"Wanita perebut, liat aja nanti apa yang akan gue lakuin sama lo," emosinya.
Dirasanya sudah cukup, Kevin membayar semua belanjaannya di kasir. Dalam perjalanan pulang terasa sepi, Kevin pokus menyetir sedangkan Hari hanya diam dan menatap ke arah samping melihat bangunan yang seperti bergerak. Tak terasa sudah sampai di rumah, Hari masuk kedalam rumah diikuti Kevin karena merasa perubahan dari sikap Hari.
"Hari, yang tadi itu temen ku, namanya Ina, maaf kalo aku tidak menceritakannya pada mu,"
"Iya kak aku paham kok," Hari tersenyum lalu masuk kedalam kamarnya.
Yang aku khawatirkan sampai kapan pernikahan ku dengan Kevin seperti ini, aku sama sekali tidak ingin ada diposisi ini.
Ponselnya berdering seperti ada notifikasi pesan dari seseorang.
📩📩
"Sayang apa kabar? Aku kangen,"
Hari menyimpan ponselnya dengan cepat dan sangat kaget.
__ADS_1
"Leon,"
_Bersambung_