
Sudah terbiasa dengan rutinitas kesehariannya di kantor, Kevin sedang sibuk dengan kertas-kertas di tangannya, terasa lega karena sudah melakukan meeting beberapa menit yang lalu. Terdengar suara langkah kaki masuk ke dalam ruangannya.
"Selamat siang pak Kevin," ucapnya tersenyum dengan mendekat.
"Hmm, Ina kamu ini selalu saja menggoda ku,"
"Haha, aku seneng liat kamu seperti biasa kamu melakukan meeting dengan baik," ia tersenyum dengan duduk di depan Kevin.
"Tapi aku kesel sama kamu Kev," lanjutnya.
Kevin mengangkat satu alisnya karena tidak paham dengan ucapan Ina barusan.
"Aku ini teman mu, kenapa kamu sembunyikan pernikahan mu?"
"Untuk itu aku minta maaf, semuanya sangat mendadak karena pilihan orangtua ku,"
Lalu Ina memegang tangan Kevin.
"Jadi, kamu di jodohin?"
Berjalan santai dengan sesekali tersenyum, hari ini aku ingin berjalan-jalan santai sekedar mencari angin, di siang yang cerah ini.
Melihat gadis disebrang sana sedang duduk santai dengan anjing lucu.
"Ahh, lucu sekali,"
Aku melanjutkan jalan ku, tiba-tiba ada seekor kucing mendekat dan kucing itu mengeong diantara kaki ku, terlihat tidak ada pemiliknya, aku melirik kearah sekelilingku siapa tau ada seseorang yang mencari kucingnya yang hilang.
"Sepertinya kamu kucing jalanan, tapi kamu lucu sekali,"
Aku meninggalkan kucing itu, namun aku merasa kasihan meninggalkannya sendirian disini, aku kembali dengan menggendong kucing bermotif putih hitam itu dengan bulunya yang cantik ini.
"Apa kamu mau ikut dengan ku,"
Malam ini tepat jam 7 malam, seperti biasa aku menunggu kepulangan suami ku dari kerja, duduk santai bersama kucing yang terlihat nyaman dan ikut duduk diatas sopa disamping ku, terdengar suara pintu terbuka, ternyata benar Kevin pulang.
"Kak, boleh gak aku melihara kucing, hmm... maksud ku kalo kakak gak ijinin juga gak apa-apa kok, aku hanya ...." ucapannya terpotong.
"Apa itu kucingnya?" Tunjuk Kevin kearah ruang tamu.
Hari mengangguk pelan dengan memperlihatkan kelucuannya di depan Kevin.
"Boleh, asal jangan pup sembarangan, jangan masuk kedalam kamar ku, apalagi makan makanan kita, kamu pahamkan,"
"Iya kak," Hari sangat senang.
"Oh iya, aku ijinkan kucing itu disini karena kamu di rumah sendirian, jadi aku tidak ingin kamu merasa bosan di rumah," lanjut Kevin lalu meninggalkan Hari.
"Kak," ucapan Hari membuat Kevin berhenti di atas tangga.
"Terimakasih," Hari tersenyum membuat kedua matanya menyipit.
Hampir seharian penuh Hari mengurus rumah, saat ini ia sedang ada di taman kecil yang ada di belakang rumah, menyiram dan sedikit memotong rumput yang terlihat memanjang. Teringat sesuatu ia pun segera bergegas keluar rumah untuk membeli makanan kucing.
Menaiki taksi karena ia tidak bisa menyetir, sampailah di tempat perlengkapan kucing, turun dari taksi setelah membayar. Memilih beberapa makanan, vitamin dan perlengkapan kucing lainnya.
"Sayang," panggilan itu, tiba-tiba tangan kekar memegang tangannya.
"Leon," Hari kanget bukan main.
"Sayang apa kabar? Aku kangen sama kamu, kenapa hp mu mati atau kamu ganti nomor baru ya," ucap laki-laki itu lagi.
Hari hanya diam dengan perasaan kagetnya, karena sudah dua bulan ini ia tidak bertemu dengan Leon, laki-laki ini adalah pacarnya, kuliah di tempat yang sama namun beda jurusan, setelah menikah dengan Kevin mereka sudah tidak kontekkan.
"Hari, jangan diem dong," Leon mengusap pipi Hari.
"Maaf Leon, aku...a..aku," ucapnya gugup.
"Kenapa kamu gak ngasih tau aku kalo kamu pindah kesini, bahkan orangtua mu bilang kalo kamu pindah rumah sendirian, di kampus pun sama, aku nyari kamu kemana-mana sayang," sekarang Leon memeluk erat.
Malam ini, membuka pintu lalu masuk kedalam, Hari terkejut saat melihat Kevin diam di ruang tamu dengan menatap tajam ke arahnya.
"Dari mana saja kamu?"
"A...aku udah beli perlengkapan Ruby kak," jawabnya.
"Ruby?"
"Iya, Ruby itu nama kucing ku,"
"Lalu mana makanan kucing yang sudah kamu beli?"
Kevin melihat tangan Hari yang kosong tidak membawa apapun.
'Mampus, tadikan aku gak jadi beli makanan kucing, aku pergi pas ada Leon, bego banget sih kamu Hari,' batinnya.
"Hari, kamu gak bohongkan, kamu gak sembunyiin sesuatu dari aku?" Kevin merasa curiga.
"Ya ampun, aku lupa kereseknya ketinggalan, aku ambil dulu ya kak," Hari menepuk jidatnya sendiri.
"Gak usah, besok aja sekarang udah malam, ayo tidur,"
"Kak, maaf karena aku telat sampai rumah sebelum kakak pulang,"
"Iya Hari, kita punya kesibukan masing-masing, kalo bisa kamu telpon aku nanti aku jemput,"
__ADS_1
"Aku boleh tanya sesuatu sama kakak?"
"Hmm,, iya tentang apa?"
"Tentang wanita yang bernama Ina, apa kalian punya hubungan?"
Hari libur kerja, Kevin keluar dari kamar menuruni anak tangga, terlihat Hari asik nonton tv dengan cemilan di tangannya, Kevin mendekat lalu duduk di samping Hari.
"Ada hal yang tidak boleh kamu ketahui tentang ku,"
Tiba-tiba ucapan itu sedikit menyinggung perasaan Hari.
"Jangan ingin tau tentang masalah pribadi ku, kamu cukup nurut sama ucapan ku dan satu lagi, jangan sampai orangtua kita tau kalo pernikahan kita seperti ini, aku gak cinta sama kamu, aku melakukan pernikahan ini karena orangtua ku, kamu juga sama kan, jadi kita sama-sama melakukan tugas sebagai anak yang baik dan nurut sama keinginan orangtua, kita tinggal di rumah yang sama dan punya kesibukan yang beda,"
"Kalo itu memang keinginan kakak, baiklah," jawab Hari santai.
Kevin memainkan ponsel setelah mendengar ada notifikasi pesan.
"Hari aku mau pergi bersama teman ku Aska dan Ina,"
"Hmm.. pergilah dan hati-hati,"
**
Sampai di kafe tempat ketiganya bertemu siang ini.
"Kevin sini," panggil seseorang di meja sana.
"Kamu telat 5 menit," goda Ina.
"Sorry,"
Ketiganya asik makan dan sesekali bercerita.
"Kev, lo udah nikah," pertanyaan Aska membuat Kevin tersedak dengan minuman di mulutnya.
"Gue tau dari Ina, lo gak ngasih tau kita sih, tega banget lo," kesal Aska.
"Iya tapi kan gue gak cinta sama istri gue,"
"Iya, Kevin udah ceritain semuanya sama gue, lagiankan Kevin ganteng kenapa juga sih kamu mau nikah sama cewek itu, kaliankan gak saling kenal," kesal Ina karena cemburu.
"Udahlah gue mau santai sama kalian disini, jadi jangan bahas tentang itu,"
'Gue jadi penasaran sama si Hari itu, kayaknya gue harus kasih dia pelajaran, enak aja dia jadi istri Kevin cowok paling ganteng, cowok yang gue cintai selama ini, harusnya gue yang nikah sama Kevin bukan cewek itu,' batin Ina.
**
Mencium aroma makanan sampai masuk kedalam sela-sela hidungnya, ternyata banyak makanan di atas meja makan membuat perutnya terasa lapar.
"Ini kamu yang masak?" Lalu Hari mengangguk.
Kevin sedikit ragu dengan rasanya, karena teringat dengan kejadian waktu itu, masakan Hari tidak enak.
"Ayo coba dulu,"
Karena melihat Kevin yang hanya menatap makanan itu satu persatu, di ambilnya sendok lalu Hari menyuapi Kevin, membuat suaminya kaget.
"Gimana, enakkan?"
Kevin mengangguk cepat merasakan enaknya makanan itu, Baru kali ini Hari melihat Kevin tersenyum yang terlihat ganteng.
* * *
Seperti biasa Kevin sudah berangkat kerja pagi ini, Hari menyapu di ruang tamu, terdengar suara ketukan pintu lalu Hari mendekat.
Terlihat laki-laki sangat rapi dengan memakai jas.
"Siapa ya?" tanya Hari.
"Temennya Kevin, perkenalkan nama saya Aska,"
"Saya Hari," ucapnya membalas uluran tangan Aska.
"Boleh saya masuk,"
"Tapi kak Kevin udah berangkat kerja,"
"Saya tau, sayakan kerja di tempat yang sama dengan suami kamu," senyumnya.
Aska masuk kedalam melihat setiap sudut rumah ini.
"Saya ambilkan minum dulu kalau begitu,"
"Tidak usah," tolak Aska.
Sekarang Aska menatap wajah Hari, menatap dengan penuh tanda tanya dari ujung kaki sampai ujung kepala, Hari merasa takut dengan laki-laki ini, bahkan Aska mendekat semakin dekat.
"Jadi kamu istrinya Kevin," goda Aska.
"Maaf kak, jika tidak ada kepentingan, lebih baik kakak pulang, lagian kak Kevinnya juga gak ada di rumah,"
"Oh jadi, kamu ngusir saya,"
Sekarang Aska memegang tangan Hari, mengusap rambut Hari, bahkan Aska mencium tangan Hari membuat Hari terkejut.
__ADS_1
"Saya bilang pergi," bentak Hari.
Aska tersenyum dan merapihkan jasnya sendiri, mendekatkan wajahnya di depan Hari dan berbisik.
"Kamu cantik, kalo Kevin gak cinta sama kamu lebih baik kamu sama saya saja, kalo kamu mau kasih tau saya ya," dengan senyuman liciknya.
Hari menatap tajam laki-laki itu, Aska melangkahkan kakinya pergi dan menatap Hari di ambang pintu.
"Nomor hp saya ada di atas meja, telpon saya ya, saya tunggu,"
Hari memegang dadanya yang berdetak lebih cepat karena merasa takut dengan Aska.
Siang ini Hari keluar dan ingin bertemu dengan sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu, di apartemen sahabatnya tinggal disini.
"Hari gue kangen sama lo," peluk Ghea.
"Gue juga Ghea,"
Masuk kedalam, duduk bersampingan sekarang Hari menceritakan kepindahannya disini bersama Kevin suaminya.
"Pantesan aja lo tiba-tiba gak ada kabar, terus sekarang lo cinta sama Kevin?"
**
Hari masuk kedalam kamar Kevin, terlihat suaminya sedang duduk di atas kasur.
"Kak aku mau cerita sama kakak,"
Hari mendekat lalu duduk di samping Kevin.
"Ini soal temen kakak namanya Aska,"
"Kamu kenal sama Aska?"
"Kak aku takut, tadi dia datang kesini terus dia bilang katanya aku harus ninggalin kakak,"
"Kamu ini ngomong apa sih, jangan aneh-aneh, Aska sahabat aku, dia gak mungkin kayak gitu," Kevin tak percaya dengan ucapan Hari.
"Plis kak, percaya sama aku bahkan tadi dia mau...."
"Keluar," bentak Kevin.
Setelah kejadian saat aku menceritakan tentang sikap tidak sopannya Aska pada ku, Kevin berubah dan tidak percaya bahkan ia sering marah. Aku mencoba untuk bicara lagi dan ia masih marah.
Saat ini aku mengetuk pintu kamar Kevin, tak
lama ia keluar dengan pakaian kerjanya, aku mengikuti dia dari belakang.
"Ayo kak makan dulu,"
"Tidak perlu repot-repot masak, karena saya tidak akan makan,"
"Kak, kenapa sih kakak kayak gini, kenapa kakak gak percaya sama aku?" ucap Hari dengan nada tinggi.
Kevin berhenti dan menatap Hari.
"Kamu yang bikin saya gak percaya, Aska sahabat saya dia gak mungkin sejahat itu," ucapnya lalu pergi meninggalkan Hari.
Sementara itu Hari mematung.
"Gak ada yang percaya sama gue," tangis Hari.
Jika seperti ini rasanya Hari ingin pulang ke rumah orangtuanya. Disaat merasakan kesedihannya ketukan pintu terdengar, Hari menghapus air matanya dan beranjak ke arah pintu. Melihat seseorang di balik pintu ternyata yang datang.
"Leon kamu ngapain disini, tau rumah aku dari siapa?" kaget Hari.
"Aku tanya sama orang-orang," senyum Leon.
"Aku boleh masuk kan?" ucapnya lagi.
Masuk kedalam dengan melirik sekeliling sudut ruangan ini, Hari mengambil minuman di dapur lalu Leon duduk di sofa.
"Kamu tinggal sendirian Har?" tanya Leon saat Hari kembali dengan membawa nampan di tangannya.
"Hmm,, sebenernya aku..."
"Har, aku bingung sama hubungan kita, apa kita masih pacaran, Jujur aku kangen sama kita yang dulu," sekarang Leon memegang tangan Hari.
'Aku juga sayang sama kamu Leon, cuma kamu yang perhatian sama aku,' batinnya.
Melihat Hari terlihat murung membuat Leon khawatir, mengusap pipinya dan sesekali mengusap rambut Hari.
"Kamu lagi sakit? Kamu pucat banget loh,"
"Nggak, maaf Leon lebih baik sekarang kamu pulang ya,"
"Kenapa, Kamu gak suka kalo aku ada disini, kita udah lama juga kan gak kayak gini,"
Hari menepis tangan Leon dan sedikit menjauh.
"Baik lah kalo gitu, aku pulang, kamu hati-hati ya, kalo kamu kenapa-kenapa kasih tau aku,"
Leon keluar dari rumah lalu menaiki motor gedenya, sebelum pulang Leon menatap rumah Hari.
"Kamu berubah Har, apa salah ku atau kamu punya pacar baru,"
__ADS_1
_Bersambung_