Mafia Tampan Itu Suamiku!

Mafia Tampan Itu Suamiku!
Hilangnya Keperawanan.


__ADS_3

Setelah mengirim pesan pada Leon satu jam yang lalu, saat ini Hari sedang menunggu di restoran tempat keduanya akan bertemu.


"Hai sayang," sapa seseorang dengan mengusap rambut Hari lalu duduk di depannya.


Tentunya Hari merasa risih dengan sikap Leon yang seperti ini.


"Ada apa sih ngajak aku ketemu, kamu kangen ya sama aku," goda Leon dengan memegang tangan Hari.


"Leon, aku mau kasih tau kamu sesuatu,"


"Iya sayang apa, kok serius banget sih,"


"Kamu tanya aku kenapa aku pindah kesini kan, sekarang aku jawab pertanyaan kamu, kamu liat cincin di jari manis ku," ucap Hari dengan mengulurkan tangannya kearah Leon.


"Jangan bilang kalo kamu..." ucapan Leon terpotong.


"Iya, aku udah nikah sama laki-laki yang waktu itu kamu bertemu dengan dia di rumah ku, nama dia Kevin kita menikah karena perjodohan dari orangtua kita," jelas Hari dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Kenapa kamu melakukan itu, kamu gak cinta sama aku Har, kita ini pacaran dan kamu menikah tanpa bilang sama aku," emosi Leon.


"Maaf Leon, tapi orangtua ku yang menginginkan pernikahan ini," tak terasa air mata menetes di pipinya.


Leon sangat kecewa dan membuang wajahnya ke arah lain, lalu Hari memegang tangan Leon.


"Aku harap kamu mengerti, kita harus putus karena kita gak berjodoh, aku yakin kamu pasti mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku," Hari masih memegang tangan Leon.


"Tapi aku maunya kamu Hari, aku selalu berdo'a sama Tuhan tentang pernikahan yang ingin aku lakukan hanya dengan kamu Har, kamu gak tau kalo aku akan melamar kamu secepatnya, tapi yang kamu lakukan sama aku itu jahat Hari," Leon menatap tajam.


Hari bangkit dari tempat duduknya lalu memeluk Leon.


"Maaf, kamu harus lupain aku," tentunya tidak mudah untuk Hari melakukan hal ini pada laki-laki yang sudah menemaninya beberapa tahun ini.


Hari tidak tau jika ada pasang mata yang sedang melihat dirinya memeluk Leon.


"Ternyata ini yang kamu lakukan di belakang aku Har," Kevin mengepalkan tangannya emosi.


Dengan amarah dan rasa kecewanya Kevin pergi ke tempat dimana masalah akan hilang dan melupakan kepenatan di dalam kepalanya.


Sudah larut malam namun Kevin belum juga pulang kerja, Hari sudah beberapa kali menghubungi Kevin namun tidak aktif, terdengar suara barang jatuh, dengan cepat Hari mendekat kearah suara yang terletak di ruang tamu, dilihatnya sang suami terjatuh membuat Hari kaget.


"Kakak kenapa?"


"Awas," Kevin menepis tangan Hari kasar.


"Kakak kemana aja? aku nungguin kakak dari tadi,"


"Dasar wanita tukang selingkuh, sana kamu pergi,"


Mencium aroma yang tidak enak dari mulut Kevin.


"Kakak mabuk ya, kenapa sih kakak ini," kesal Hari.


"Haha aku benci kamu dasar wanita selingkuh," Kevin tak hentinya berceloteh dengan sesekali tertawa karena efek dari alkohol yang diminumnya.


Hari merangkul Kevin dan membawanya ke kamar, tak lupa membuka sepatu dasi bersama kemeja yang Kevin pakai, Kevin terus saja berceloteh, saat Hari menyelimuti badan Kevin tiba-tiba tangannya di tarik sampai membuat dirinya terjatuh dipangkuan Kevin dan wajahnya yang dekat hampir seinci, deg. . Tiba-tiba jantung Hari berdetak lebih cepat, melihat wajah Kevin sedekat ini membuat Hari menelan air ludahnya sendiri, tangannya di pegang sangat erat sampai Hari susah untuk menjauh.

__ADS_1


"Aku sayang sama kamu," ucapan itu keluar dari bibir Kevin.


Kevin melakukannya lebih dengan terus mencium Hari, sampai hal itu pun terjadi, tentunya Hari tidak bisa melawan karena Kevin terus menariknya.


..


Suara alarm di ponselnya membuat Kevin terbangun dan merasa pusing sekali, dilihatnya jam menunjukan pukul 7 pagi.


"Sialan, aku kesiangan," namun Kevin baru menyadari jika dirinya tak memakai baju dan ada seseorang yang menangis disampingnya.


Terkejutnya Kevin saat melihat Hari ada disampingnya dengan selimut tebal yang ia peluk untuk menutupi badannya.


"Ngapain kamu disini?"


Bukannya menjawab Hari terus menangis, Kevin mengingat-ingat kejadian apa yang membuat Hari ada dikamarnya.


"Hari, tolong kasih tau aku, apa yang udah kita lakukan semalam?" tanya Kevin dengan menggoyang-goyangkan pundak Hari.


"Semalam kakak maksa aku untuk melakukan itu dan sampai kita...." Hari terus menangis.


Melihat bajunya dan baju Hari berserakan di lantai memperkuat jika ucapan Hari itu benar.


"Maaf semalam aku mabuk, aku gak inget apa-apa," Kevin meratapi kesalahnnya dengan menarik rambutnya kasar.


"Jadi kamu gak inget, semalam kamu bilang sayang sama aku?" dengan cepat Kevin menatap Hari lalu menggeleng.


* * *


Memakai daster selutut karena Hari merasakan sakit dibagian badannya, berjalan kearah meja makan untuk sarapan bersama Kevin yang sudah menunggunya.


Terlihat sang istri mendekat namun Kevin bingung dengan cara jalan Hari yang pelan-pelan seperti menahan sakit.


"Aku sakit dan ini semua gara-gara kamu semalam," kesal Hari.


Memangnya itu membuat badan jadi sakit ya, perasaan Kevin biasa-biasa aja tidak merasakan sakit hanya merasakan sedikit pusing ulah mabuk tadi malam.


"Untuk kejadian semalam, aku benar-benar minta maaf karena aku gak sadar," ucap Kevin dengan wajah sedihnya.


"Kenapa juga sih kakak mabuk sampe lupa pulang?"


Kevin diam dan mengingat kejadian kemarin saat dirinya melihat Hari dan Leon pelukan, karena rasa kesalnya Kevin memilih untuk mabuk.


"Kamu gak perlu tau, yang jelas itu bukan urusan kamu,"


"Apa semalam kakak mabuk sama cewek?" tanya Hari sungguh-sungguh.


"Kenapa kamu nuduh aku jalan sama cewe lain, sorry ya, aku bukan kamu yang tukang selingkuh," kesal Kanglim lalu pergi berangkat kerja.


Hari kesal sekali kenapa jadi Kevin yang marah, harusnyakan Hari, karena ulah laki-laki ini semalam, Hari kehilangan sesuatu yang berharga dari tubuhnya, kalo pun Kevin suaminya namun rasanya Hari benci karena Kevin belum mencintainya.


..


Merasa tidak pokus kerja, Kevin merebahkan punggungnya untuk bersandar di sofa, kenapa harus memikirkan Hari dalam keadaan dirinya sedang di kantor ini sangat menganggu.


"Aaaaaaaahh," teriak Kevin.

__ADS_1


Terdengar suara langkah kaki yang masuk kedalam ruangannya siapa lagi kalo bukan Ina.


"Kamu kenapa Kev, apa kamu ada masalah sama istri kamu?"


"Iya, aku kesel karena dia masih ketemu sama pacarnya,"


Melihat kekesalan dari wajah Kevin, tentunya Ina menahan emosinya pada Hari.


"Bisa-bisanya ya istri kamu melakukan itu, harusnya kamu tegas Kev,"


"Maksud kamu?"


"Iya, kalo aku jadi kamu pasti aku akan ambil tindakan yang serius, Kev kamu tuh harusnya bahagia bukan seperti ini," Ina memegang tangan Kevin.


"Iya, tapi kan ini keinginan orangtua aku, mana mungkin aku nolak," Kevin dengan raut wajah sedihnya.


"Yaudah nanti malam kamu datang ya ke apartemen ku, kamu harus tenangkan diri kamu," senyum Ina.


Sudah jam 12 malam tapi Kevin belum pulang, sepertinya aku harus nonton tv agar kejenuhan ku hilang, bahkan cemilan ditangan ku sudah habis bersama dengan segelas kopi supaya aku tidak tidur saat Kevin pulang, aku sudah menelponnya beberapa kali aku juga mengirim beberapa pesan untuk menanyakan sedang dimana Kevin sekarang, namun tidak ada jawaban membuat aku semakin cemas takut terjadi apa-apa dengannya, lebih baik aku tidur di ruang tamu siapa tau Kevin pulang sebentar lagi.


Karena merasa haus, aku terbangun dan melirik kearah jam dinding yang menunjukan pukul 2 dini hari, kemana Kevin pergi, kenapa ia tidak pulang atau sekedar mengirim pesan pada ku, agar aku tak cemas dan mengkhawatirkannya.


Pagi ini aku terbangun dan mengingat kalo semalam aku menunggu Kevin pulang, terdengar suara pintu kamar yang tertutup, aku yakin Kevin sudah pulang dan masuk ke dalam kamarnya, aku beranjak dari sofa dan berjalan ke arah kamar.


Masuk ke dalam, ternyata benar Kevin sudah pulang, aku tersenyum saat melihat ia sedang membuka kemejanya.


"Kak," ucapan ku membuatnya menatap kearah ku dengan cepat.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Kevin seperti tidak menginginkan kehadiran ku di kamarnya.


"Semalam kakak kemana? Aku nungguin kakak, kenapa kakak gak telpon aku, kakak gak mabuk lagi kan,"


"Udah nanya nya? aku nginep di rumah Aska, sekarang kamu keluar dari kamar ku!" ucap Kevin dengan menatap tajam.


"Tapi kak, aku cuma..." dengan cepat Kevin menarik tangan ku kasar dan sedikit mendorong ku keluar dari kamar.


"Aku bilang keluar!"


"Kenapa kakak kasar," tak terasa air mata ku menetes.


"Siapa suruh ngeyel," Kevin masuk kedalam kamar dengan menutup pintu kasar.


Tentunya aku sangat terkejut dengan sikap Kevin.


"Apa salah ku, aku hanya bertanya,"


..


Sengaja aku membuat sarapan walaupun hanya roti dan selai, tak lupa aku membuatkan susu hangat kesukaan Kevin, terlihat Kanglim menuruni anak tangga dan sudah rapi dengan setelan jasnya.


"Ayo kak sarapan dulu," ajak ku tersenyum.


"Aku bisa sarapan di luar," Kevin cuek lalu pergi tanpa menatap ku.


Aku duduk dengan menangis, merasakan sakit sekali dada ku, karena Kevin marah dan kasar.

__ADS_1


Saat aku menangis, kucing ku mendekat dan mengeong seperti paham dengan apa yang sedang aku rasakan.


"Sini sayang, mami gak apa-apa kok," aku berusaha tersenyum dan mengusap air mata ku, lalu aku peluk Ruby rasanya hanya kucing ini yang paham dengan kesakitan hati ku.


__ADS_2