
. . .
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pintu terdengar, Kevin yang sedang ada di dapur dengan cepat beranjak ke arah pintu.
"Suprise," seseorang memeluk Kevin
"Mamah, ayah," Kevin merasa kaget.
"Ah, mamah sama ayah kangen sama kamu Kev," mamah masih memeluk Kevin.
"Ayo masuk dulu," ajak Kevin.
"Mana istri kamu?" tanya Ayah.
"Ada di kamar, ayah sama mamah duduk dulu ya, aku mau kasih tau Hari dulu," Kevin terburu-buru menaiki anak tangga.
Hari yang hanya memakai handuk sangat kaget dengan kedatangan Kevin di kamarnya.
"Yak ...apa yang kakak lakukan disini, aku mau pake baju dulu!"
"Hari gawat, mamah sama ayah ada disini," ucap Kevin dengan memegang pundak Hari karena merasa bingung.
"Kok gak ngabarin dulu ya," tentunya Hari ikut cemas.
"Sekarang kamu bereskan semua barang-barang kamu terus masukkan ke kamar aku ya, jangan sampai orangtua ku tau kalo kita tidur di kamar yang beda, sekarang aku keluar dulu, takut mereka curiga," ucap Kevin pergi.
Dengan tergesa-gesa Hari membereskan semua barang-barangnya.
"Kok jadi gini ya," bingungnya.
..
Setelah Hari selesai masak, saat ini ayah mamah Kevin dan Hari sedang makan.
"Hari apa kamu sudah periksa ke bidan?" ucapan mamah membuat Hari melotot.
"Maksud mamah apa ya?" Kevin tak paham.
"Iya siapa tau Hari ini hamil," ucap mamah lagi.
Sekarang Kevin dan Hari bertatapan.
"Iya, ayah mau cucu dari kalian, untuk melanjutkan perusahan ayah juga," sekarang ayah bersuara.
"Hmm.. iya mah, yah, tapi kita lagi program kok, iya kan sayang," Kevin tersenyum dan memegang tangan Hari.
"Iya, kami sedang program," Senyum Hari.
'Kenapa juga sih kak Kevin megang tangan aku,' batin Hari.
Kevin memperlihatkan perhatiannya dengan merangkul dan mencium kening Hari di depan orangtuanya.
"Sayang, kamu mau nambah lagi makannya?" tanya Kevin.
"Aku udah kenyang kak," tolak Hari.
"Ah kalian ini so sweet sekali, bikin mamah iri tau gak," ucap mamah.
"Kevin kamu harus selalu seperti ini, perhatian sama Hari ya," ucap ayah.
Kevin hanya mengangguk.
"Kalian ini terlihat bahagia, sepertinya kita berhasil menjodohkan kalian, iya kan yah," mamah tersenyum senang.
"Iya mah, oh iya, kita mau bermalam disini untuk 2 hari," ucap ayah.
Kevin melirik Hari dan saling bertatapan bingung.
"Dua hari yah?" Kevin kaget.
"Kenapa? Kamu keberatan?" Ucap Ayah.
"Ya enggak dong, justru aku seneng kalo ayah sama mamah nginep disini, iya kan sayang," Kevin memasang ekspresi bahagianya dengan merangkul Hari.
• • •
Rasanya ingin merutuki kekesalannya, saat ini Hari sedang duduk di kasur, tak lama Kevin keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggangnya.
"Hei, ngapain kamu liatin aku kayak gitu!" ucap Kevin dengan menatap sinis.
"Apa sih, aku gak mau yah kita tidur di kamar yang sama," malas Hari.
"Siapa juga yang mau tidur sama kamu, tenang aja aku tidur di sofa," ucap Kevin dengan memakai baju kaosnya.
__ADS_1
Diambilnya bantal dan guling yang ada di samping Hari, tentunya Hari kesal dengan mengambil bantal dan guling itu kembali.
"Ini punya aku, kakak pake bantal sofa aja," malas Hari.
"Gak bisa gitu dong, ini kamar aku jadi ini semua milik ku," Kevin kembali mengambil bantal dan guling di pelukan Hari.
Keduanya masih sibuk berantem perihal kepemilikan bantal dan guling itu, keberisikan mereka membuat mamah dan ayah merasa terganggu.
"Apa yang kalian lakukan, ini sudah malam!" teriak mamah di balik pintu.
"Tuh kan, kamu sih," Hari menatap malas.
"I..iiya mah ini kita lagi mau tidur," jawab Kevin.
Ayah menarik tangan mamah untuk menjauh dari kamar Kevin.
"Udah mah, mereka pasti sedang,.." goda ayah dengan memainkan alisnya.
"Ah iya mamah lupa, ayo kita nonton tv yah," ajak mamah.
*MORNING*
Segarnya air mengguyur badannya, dirasanya sudah bersih sekarang Hari keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk sepaha di badannya, menyisir rambut yang basah dan sesekali bernyanyi, melakukan aktifitas itu membuatnya lupa jika ada seseorang yang sedang menatapnya sedari tadi.
"Yak,, keluar dari kamar ku," teriak Hari menutup dadanya dengan kedua tangannya.
"Ini kamar ku, kalo kamu mau pake baju ya pake aja sekarang," Santainya Kevin dengan bersiul bahkan menatap Hari.
"Disini? Di depan kakak?" lalu Kevin mengangguk.
"Dasar mesum, ayo keluar dari kamar ku, aku mau pake baju," teriak Hari dengan melempar bantal ke arah Kevin.
"Iya iya, santai dong, siapa juga yang mau lama-lama disini," ucap Kevin beranjak pergi dari kamar.
Dengan cepat Hari menutup pintu dan membuang nafasnya kasar, memakai baju lalu keluar dari kamar dengan menuruni anak tangga, terlihat mamah ayah dan Kevin sedang menunggunya di meja makan dengan banyaknya makanan membuat Hari merasa bersalah.
"Maaf ya mah, aku kesiangan," ucapnya dengan duduk disamping Kevin.
"Iya gak apa-apa, ayo kita makan," senyum mamah yang seolah paham dengan mengingat kejadian semalam.
"Rencananya hari ini kita mau pulang," ucap ayah.
• • •
Main ps di ruang tamu, libur kerja membuat Kevin memilih untuk istirahat di rumah, dirinya saat ini hanya sendiri karena Hari sedang keluar untuk membeli perlengkapan Ruby kucing kesayangan Hari. Tak berselang lama terdengar ketukan pintu dan sesekali terdengar seseorang memanggil nama Hari diluar rumah, saat pintu terbuka terlihat sosok laki-laki menatapnya dengan bingung.
"Saya Leon, mana Hari?" jawab laki-laki ini dengan masuk kedalam rumah.
"Hei, lo gak sopan ya masuk ke rumah orang tanpa diperintah," sekarang Kevin menarik baju Leon kasar.
"Gue pacarnya Hari, lo siapa hah? Lo ngapain di rumah pacar gue?" bentak Leon dengan tatapan tajamnya.
Mendengar pernyataan itu membuat Kevin tersenyum dengan menampilkan smirknya.
"Lo cuma pacarnya kan, asal lo tau ya gue suami Hari," ucap Kevin penuh penekanan.
"Suami? Lo bilang suami, gak mungkin Hari udah nikah tanpa sepengetahuan dari gue karena gue pacarnya," ucap Leon tak percaya.
"Terserah lo mau percaya apa enggak, yang jelas lo harus pergi dari rumah gue atau sekarang gue teriak kalo ada maling di rumah gue," Kevin menarik kerah baju Leon.
Dengan rasa tak percayanya Leon keluar dari rumah dan pergi bahkan menatap tajam kearah Kevin.
..
Lumayan lelah juga setelah belanja seharian dengan panasnya matahari siang ini, setelah memberi makan Ruby, saat ini Hari sedang membuat teh hangat untuk Kevin, dilihatnya sang suami sedang duduk di kursi dengan menatap kolam renang, Hari mendekat lalu duduk disamping Kevin dan menyimpan minuman bersama cemilan diatas meja.
"Ini kak teh nya," senyum Hari.
"Makasih ya,"
Lalu keheningan diantara keduanya, Kevin menatap Hari dengan memikirkan kejadian tadi.
"Kamu gak bilang kalo kamu punya pacar," ucapan Kevin membuat Hari menatapnya dengan cepat.
"Tadi pacar kamu namanya Leon kesini," lanjut Kevin.
'Ngapain Leon kesini,' batin Hari.
"Jadi kamu sering bawa pacar mu kesini disaat aku kerja," ucap Kevin dengan menikmati teh hangat di tangannya.
"Enggak kak, dia kesini sekali dan aku gak tau kalo Leon tau rumah aku dari siapa, bahkan aku baru bertemu dengannya setelah kita menikah," Hari berusaha menjelaskan.
"Tidak masalah, jika kalian saling cinta lanjutkan saja hubungan kalian," Kevin pergi meninggalkan Hari.
"Kak aku janji aku akan putusin Leon," teriakan Hari membuat Kevin berhenti lalu menatap Hari.
__ADS_1
"Terserah kamu," ucap Kevin kembali pergi.
Hari membuang nafasnya kasar dan mengepalkan tangannya emosi.
Entah sengaja atau tidak seseorang menyalakan klakson mobil di depan rumah membuat kebisingan menganggu Hari yang sedang membuat susu untuk Ruby kucingnya, karena Kevin sudah berangkat kerja beberapa menit yang lalu.
Keluar rumah untuk melihat siapa si penganggu itu, terlihat mobil merah di halaman rumah membuat Hari mengerutkan keningnya bingung karena tidak tau siapa pemilik mobil ini, tak lama keluar seseorang dari mobil, Hari merasa tau dengan wanita yang berdiri di depannya saat ini.
'Bukankah wanita ini temannya kak Kevin,' batin Hari.
"Hai senang bertemu dengan mu wanita perebut," ucap wanita itu tersenyum dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Maaf ya, kakak ini siapa, kenapa kakak menyalakan klakson itu beberapa kali?" ucap Hari sopan.
"Kamu tanya saya siapa? Bukankah kamu tau kalo saya ini wanita spesial dari suami kamu," ucap wanita ini lagi.
"Apa maksud kakak?" tentunya Hari tidak paham dengan ucapan wanita ini.
"Nama saya Ina, kamu harus tau satu hal kalo Kevin itu milik saya dan kamu yang udah rebut Kevin dari saya, harusnya kamu sadar diri!" Ina emosi dengan menatap tajam.
"Tapi kak, aku ini istrinya kak Kevin kenapa kakak bicara seperti itu," ucap Hari.
Ina semakin dekat dengan menarik rambut Hari kasar tentunya membuat Hari terkejut.
"Kamu harus pisah dengan Kevin," ancam Ina
"Gak, saya tidak akan pernah berpisah dengan Kevin," lalu Hari sedikit menjauh.
"Saya kasih kamu kesempatan untuk berpikir, tinggalkan Kevin atau hidup kamu tidak aman," tentunya ucapan Ina tak main-main.
"Tapi kenapa kakak melakukan ini sama saya?" ucap Hari dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Ya tentunya karena saya cinta sama Kevin udah lama dan kamu merebutnya, pikirkan kembali ucapan saya dan satu lagi jangan sampai Kevin tau tentang ini!" ancam Ina lalu memakai kacamatanya dan masuk kedalam mobil untuk pergi.
Hari masih berdiri dengan melihat kepergian Ina dari halaman rumahnya.
"Gak mungkin, aku gak bisa tinggalin kak Kevin gitu aja, pernikahan ini ada karena orangtua kita," sedih Hari.
..
Kevin menatap Hari yang hanya diam sedari tadi saat dirinya pulang kerja, bahkan Hari irit bicara.
"Har kamu ada masalah apa sampe kamu diemin aku seperti ini?" tanya Kevin dengan duduk disamping Hari.
Hari hanya tersenyum enggan untuk menjawab.
"Apa kamu marah sama aku karena kemarin aku gak sengaja nendang Ruby, tapi aku beneran gak sengaja Har, aku udah minta maaf kan sama kamu sama kucing kamu juga," sedih Kevin.
. . .
Kevin mengetuk pintu kamar Hari beberapa kali, setelah terdengar ucapan 'masuk aja' dengan cepat Kevin masuk kedalam, terlihat sang istri sedang duduk di meja riasnya dengan menatap pantulan dirinya di cermin.
"Aku punya sesuatu untuk kamu," ucap Kevin dengan memegang sesuatu di belakang punggungnya.
"Apa kak?" penasaran Hari.
Kotak merah berbetuk love itu terlihat indah, saat Hari membuka kotak itu di dalamnya terlihat kalung putih dan gelang yang sangat bagus sampai membuat bibirnya tersenyum.
"Apa kamu suka?" tanya Kevin saat melihat perubahan ekspresi Hari.
"Aku suka kak, kalung sama gelangnya bagus banget," Hari mengangguk dengan cepat.
"Yaudah, aku pasangin ya," senyum Kevin.
Dengan perhatiannya, Kevin memasangkan kalung di leher istrinya yang putih itu lalu setelah itu memasangkan gelang di tangan Hari.
"Ini hadiah untuk kamu, maaf ya aku cuma bisa kasih ini," sekarang Hari menatap Kevin dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Makasih ya kak, ini udah lebih dari cukup kok, kakak udah bikin aku bahagia," ucap Hari dengan rasa senangnya.
"Betulkah begitu, tadinya aku sedikit ragu takutnya kamu gak suka," ucap Kevin.
Lalu Kevin memeluk erat Hari membuat Hari kaget tentunya.
'Aku janji kak, aku gak akan nuntut kakak lebih, aku akan bikin kakak jatuh cinta sama aku sampai wanita yang bernama Ina itu jauhin kakak, karena aku sudah mulai cinta sama kakak, telah ku berikan hati ku untuk mencintai kakak dan masalah hubunganku dengan Leon aku akan menyelesaikannya secepatnya,' batin Hari.
Melihat Hari yang tersenyum dengan sedikit melamun, Kevin mengerutkan keningnya bingung.
"Ada apa? Jangan ngelamun dong,"
"Iya kak, aku seneng banget," senyum Hari.
"Yaudah sekarang aku berangkat kerja dulu ya, kamu baik baik aja kan ditinggal di rumah sendirian?"
"Tentunya aku baik dan harus baik bukan," goda Hari.
__ADS_1
Tingkah dan kepolosan Hari membuat Kevin senyum-senyum sendiri, merasa aneh dengan dirinya sendiri kenapa Kevin bisa sebahagia ini jika dekat dengan Hari apalagi jika melihat wanita ini tersenyum.
_Bersambung_