Mafia Tampan Itu Suamiku!

Mafia Tampan Itu Suamiku!
Mual dan Pusing.


__ADS_3

* * *


Aku sudah siap dengan dres warna peach sepaha, karena Kevin akan mengajak ku ke acara pernikahan teman sekantornya, saat ini kita sedang dalam perjalanan, tak membutuhkan waktu lama aku dan Kevin sudah sampai di gedung, setelah memarkirkan mobil kita berjalan masuk kedalam gedung dengan aku yang tak lupa menggandeng tangan Kevin.


Memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai, tak lupa menyimpan kado yang dibawa untuk pengantin, Kevin mengajak aku untuk menikmati makanan lalu kita duduk berhadapan di meja bulat ini, saat kita asik makan terlihat Ina mendekat dengan menatap sinis ke arah ku.


"Hai Kevin kamu ada disini, aku mencari mu dari tadi, kenapa kamu natap aku seperti itu, apa kamu lupa satu malam kebersamaan kita, sampai kamu melupakan istri mu ini, oh iya aku mau ngembaliin jam tangan mu yang ketinggalan di apartemen ku," senyum Ina dengan menyimpan jam tangan di tangan Kevin.


"Apa-apaan ini!" Ucap ku tak suka.


Kevin memegang tangan ku seperti akan menjelaskan tentang ucapan Ina.


"Har, aku.." ucapan Kevin terpotong.


"Jadi kakak udah bohongin aku, kakak bilang nginep di rumah Aska tapi nyatanya kakak nginep di rumah dia," tunjuk aku ke arah Ina dengan penuh emosi.


"Loh kamu kan nginep di rumah aku, iya kan Kev," sepertinya Ina sengaja memanas-manasi aku.


"Ayo Har kita pulang, aku jelasin semuanya di rumah," Kevin menarik tangan ku keluar dari gedung.


Dalam perjalanan pulang Kevin menyetir dan terus memandangi aku.


"Ada hubungan apa kakak sama dia?" tanya ku dengan meneteskan air mata.


"Harusnya aku yang nanya sama kamu, kenapa kamu masih bertemu dengan pacar mu, aku nginep di rumah Ina itu gara-gara kamu, aku hanya ingin menenangkan pikiran ku, karena aku liat kamu pelukan sama pacar kamu di restoran," jelas Kevin dengan memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Jadi kamu ada disana waktu itu?"


"Iya, aku kecewa sama kamu Har,"


"Harusnya kamu liat setelahnya, aku ajak Leon ketemu di restoran untuk memutuskan hubungan ku dengannya karena aku udah nikah sama kamu," jelas ku dengan penuh emosi.


Kevin diam karena mendengar perkataan ku.


"Emang dari dulu aku tuh selalu salah di mata kamu, kamu gak pernah percaya sama ucapan aku, sekarang terserah kamu mau percaya apa enggak yang jelas aku cape sama jalan pikiran kamu, harusnya kamu nanya sama aku bukan malah pergi dan nginep di rumah Ina, inget kamu tuh udah punya istri," lanjut aku keluar dari mobil.


Kevin hanya diam.


Kevin berlari masuk ke dalam mencari Hari ke setiap sudut rumah, kalo bukan macet di jalan tadi mungkin Kevin tidak akan kehilangan jejak Hari, Kanglim menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar Hari, dilihatnya sang istri sedang merapihkan baju-bajunya kedalam koper, dengan ngos-ngosan karena cape berlari, Kevin pun mendekat.


"Apaan sih, masukin lagi semua baju kamu," Kevin menyimpan baju-baju Hari kedalam lemari.


"Aku mau pulang ke rumah orang tua ku,"


"Gak boleh, kamu harus disini sama aku!" ucap Kevin dengan tatapannya.


"Untuk apa aku tinggal disini tapi aku sama sekali gak pernah di hargai," Hari kembali menangis.


"Iya iya aku minta maaf,"


"Dari cara kamu minta maaf aja, itu tidak menunjukkan kalo kamu punya salah, harusnya kamu bisa menghargai perasaan seseorang dan aku ini istri kamu, kamu emang gak cinta sama aku tapi seenggaknya hargai aku, tolong lah belajar sedikit dewasa," Hari meluapkan semua unek-uneknya.


"Hari," ucap Kevin merasa bersalah.


"Gak mudah untuk aku ada dititik sekarang, aku menerima lamaran orangtua kamu sampai kita menikah, dan aku menikah dengan mu disaat aku punya pacar, dia sangat mencintai ku begitu pun dengan aku, tapi aku memilih kamu dan memutuskan hubungan ku dengan Leon, ini keputusan yang tidak mudah, harus mengakhiri hubungan dengan laki-laki yang begitu sangat mencintai ku," Hari tak bisa mengontrol dirinya.


Kevin duduk di lantai menatap Hari yang duduk di kasur, lalu memegang tangan Hari lembut.


"Aku minta maaf, aku gak tau harus gimana sekarang, maaf mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan agar kamu gak ninggalin aku, plis kamu harus pikirin orangtua kita," ucap Kevin dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Iya aku maafin, tapi kalo sekali lagi kamu melakukan kesalahan yang sama, aku gak tau apa aku harus memikirkan orangtua kita, aku punya perasaan dan aku akan pergi ninggalin kamu," ucap Hari penuh penekanan.


"Iya aku janji, kamu percayakan sama aku,"

__ADS_1


Hari menatap mata Kevin yang terlihat serius.


"Aku percaya,"


Kenapa Hari dengan mudah memaafkan Kevin yang sudah melakukan kesalahan padanya, tentunya Hari melakukan ini karena Hari mencintai Kevin, ini semua ia lakukan demi rumah tangganya yang ingin di pertahankan dan tidak ingin kedua orangtunya kecewa, karena pernikahan ini mereka yang menginginkan.


Saatnya pulang kerja, Kevin merapihkan beberapa map lalu di masukkan kedalam tasnya, saat berjalan keluar seperti biasa semua karyawan menyapanya dan dibalas senyuman oleh Kevin.


"Kevin!" panggil seseorang.


"Ayo pulang bareng aku," ajaknya.


Kevin melirik kearah jam di tangannya yang menunjukan pukul 5 sore.


"Hmm.. maaf Ina kayaknya aku harus pulang deh, Hari pasti nungguin, aku duluan ya," pamit Kevin pergi.


Merasa kesal karena Kevin menolak ajakkannya.


"Gue pikir setelah kejadian itu kalian bakal pisah, eh malah makin deket, kayaknya gue harus rencanakan sesuatu supaya si Hari itu ninggalin Kevin," emosi Ina mengepalkan tangannya dengan menatap punggung Kevin pergi.


Karena rasa hausnya Kevin mampir di mini market untuk membeli air mineral, saat Kevin akan membayar di kasir terlihat anak kecil lucu dengan menikmati es krim sampai cemong.


"Kamu lucu sekali dek," Kevin mengusap rambut anak yang tersenyum padanya.


Setelah membayar Kevin keluar, berdiri di parkiran lalu minum karena tenggorokkannya terasa kering, ia menatap di sebrang sana, orangtua muda dengan anak kecil yang lucu bahkan terlihat sangat bahagia, senyuman terukir di bibirnya yang manis, kenapa Kevin merasa ingin punya anak kecil.


"Ah gila gak mungkin lah," dengan cepat Kevin menepis pikirannya sendiri.


..


Gak seperti biasanya Hari tidak terlihat saat kepulangan Kevin dari kerja, ia mencari Hari di kamar lalu masuk kedalam kamar mandi ternyata benar Hari ada disini, tapi sepertinya Hari sedang muntah.


"Har kamu kenapa?" panik Kevin.


Wajah Hari terlihat pucat.


"Kita ke rumah sakit ya,"


"Gak usah kak, aku gak apa-apa kok, ini cuma masuk angin,"


"Tapi..."


"Udah, sekarang aku siapin makanan dulu ya untuk kakak,"


"Kamu kan lagi sakit, jadi sekarang kamu istirahat ya," Kevin menggendong Hari lalu di rebahkan di atas kasur.


Hari merasa kaget karena sikap Kevin.


"Aku ke kamar dulu ya mau mandi, nanti aku siapin makanan buat kamu, oh iya, jangan turun dari kasur sebelum aku kembali!" tegas Kevin pergi.


Beberapa menit kemudian pintu kamar terbuka, Kevin masuk dengan membawa makanan dan segelas air putih.


"Ayo makan dulu,"


"Aku bisa makan sendiri kak,"


"Hari ini kamu aku suapin, kamu kan lagi sakit," dengan perhatiannya Kevin menyuapi Hari.


"Maaf ya kak, aku gak bisa siapin makanan tadi," cemberut Hari.


"Eh, sakit siapa yang tau, ini udah jadi tugas aku, kamu udah terlalu baik sama aku, jadi apa aku tega biarin kamu dalam keadaan sakit,"


* * *

__ADS_1


Duduk santai di apartemen Ghea dengan menikmati teh hangat dan beberapa cemilan yang sudah di masak bersama Ghea barusan.


"Oh iya, kemarin gue kayak liat suami lo di sekitaran apartemen ini deh Har, tapi gak tau masuk apartemen siapa," ucap Ghea.


"Masa sih!" Hari menatap Ghea dengan cepat.


"Udah tiga kali sih gue liat, apa cuma mirip sama suami lo atau gue salah liat kali ya," ucap Ghea lagi dengan santai.


Hari sedikit mengingat ucapan Ghea barusan, Siapa seseorang yang membuat Kevin datang kesini.


..


Hari mengaduk bubur manis yang sedang di buatnya, Kevin menuruni anak tangga dan terlihat sedang menelpon seseorang.


📲📲


"Iya pak, nanti kita rencanakan bisnis baru kita, seperti biasa tempatnya bapak yang tentukan,"


"..... ...."


"Oh baiklah, di apartemen yang biasa, kalo begitu selamat bertemu besok pak,"


Lalu Kevin menutup sambungan telponnya dan mendekat ke arah Hari di dapur.


'Kayaknya kak Kevin pergi ke apartemen untuk meeting, gue gak boleh curiga apalagi mikir aneh-aneh, kak Kevin gak mungkin ketemu sama cewe lain disana, pokoknya gue harus buang jauh-jauh pikiran negatif gue,' batin Hari.


Melihat Hari yang hanya diam dan melamun, saat Kevin bicara membuat Kevin mengerutkan keningnya bingung.


"Hari, bubur kamu gosong loh," ucapan Kevin membuat Hari tersadar dari lamunannya.


"Eh iya kak," ucapnya dengan mengaduk.


"Kamu melamun, mikirin apa?" tanya Kevin.


"Aku.. aku lagi mikirin adik aku Hara, kangen sama dia," jawab Hari bohong.


"Yaudah nanti kalo aku libur panjang, kita pulang ke rumah orang tua kamu ya," senyum Kevin.


"Kakak serius?" Kevin mengangguk dengan cepat.


"Makasih ya kak," senang Hari.


"Iya, udah belum masaknya aku laper nih," cemberut Kevin.


"Ini udah mateng kok," senyum Hari.


Merasa ada yang aneh dengan badannya, baru beberapa suapan namun Hari merasa perutnya sakit dan ingin muntah, dengan cepat ia berlari ke kamar mandi.


"Hari kamu kenapa?" Kevin mengikuti Hari namun pintu kamar mandinya di kunci membuat Kevin tidak bisa masuk kedalam, beberapa kali ia mengetuk pintu karena merasa khawatir dengan istrinya.


"Aku gak apa-apa kok," ucap Hari di dalam.


"Ayo kita ke dokter," teriak Kevin.


Hari keluar dengan meremas perutnya.


"Kamu yakin gak mau ke dokter?" khawatir Kevin.


"Enggak kak, aku mau ke kamar aja,"


"Yaudah, ayo aku bantu," Kevin merangkul Hari.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2