
“dear, ahmad Suratmu sudah aku baca, kau bilang disana sudah memasuki musim panas, namun disini hujan masih turun menguyur kota dengan hawa dingin menusuk kulit, owh ya aku mau bilang padamu mungkin bulan depan aku berencana kekota mu, sudah lama aku tak berkunjung kesana. jadi, jangan lupa menjemput aku di halte bus ya”.
Lalu ia masuki lagi surat itu didalam amplop berwarna putih, sudah lama semenjak hari itu ia tak pernah bertemu denganya.
Bermain dipantai, berlari-larian dipasir putih pantai, duduk sembari melihat mentari senja yang mulai terbenam.
“dear, ahmad hari ini begitu panas disini saat aku menuliskan surat ini wajah ku penuh dengan keringat, oh ya apa kamu menunggu setiap tanggal berganti. Aku harap begitu mungkin wajah mu sedikit berubah”.
Laut dengan ombak mengulung saling berkejaran angin sepoi-sepoi menghantam tubuh, angin itu hangat terasa hangat ditubuh dalam benak ahmad selalu menunggu hari berganti.
Berjalan dalam langkah yang begitu ringan, daun-daun berjatuhan, jatuh ketubuh ahmad lalu ia ambil sembari tersentum sunging dibibir.
“apakah kau sudah lama menunggu?”sapa dan tanya seorang gadis yang ia kenal “kau?” dengan tangan menunjuk kearah gadis itu, seketika dipeluknya tubuh gadis itu dengan erat. “kau tak pernah berubah” kata ahmad dengan tetap memeluk erat gadis itu.
Jalan kota penuh dengan kendaraan berlalu lalang sembari membunyikan kelakson dengan suara bising memekak kan telinga. Mereka berjalan menyusuri setiap jalanan. Awal yang indah di musim yang indah, hari mulai gelap, malam mulai datang, langit hitam berlatar cahaya bitang. Mereka duduk dibangku taman bermandikan cahaya lampu taman, yang cahayanya temaram. “sudah lama sejak kepindahan mu. Aku tak pernah bertemu dengan mu” kata ahmad, namun kini ia telah bertemu denganya yang ia rindukan sejak lama, menatap lekat wajaj gadis itu, cantik sunguh cantik mungkin begitulah kata yang terbesit dalam pikiranya.
__ADS_1
Teman masa kecil, bahkan cinta pertama dalam hidupnya. “kau sunguh cantik” gumam kecilnya pada gadis itu tanpa ragu ia katakan perasaanya. Gadis itu hanya tersenyum padanya, ia beranikan diri mendekati wajah gadis itu, begitu dekat, mendekat kan bibir nya kebibir gadis itu, “cup” kecupan hangat menambah cerita dimalam itu.
Sungguh kenangan yang indah yang pernah terukir dalam hidupnya, seperti sapuan kuas di sebuah kanvas begitu indah dilukiskan sampai-sampai tak bisa mulut berucap.
Liburan semester itu mereka manfaatkan untuk kebersamaan dalam sebuah keromantisan. Bermandikan air laut yang asin, bermain pasir pantai, berlari sembari berkejar-kejaran, tertawa riang, bahagia nampak tergurat diwajah mereka.
Hujan melanda kota, guyuran'nya menghantam atap, bunyi bising dihasilkanya, hawa dingin menerpa kulit. ia hangatkan tubuh gadis itu dengan jeketnya, sembari tangan memegangi tangan gadis itu. Sunyi, begitu sunyi disana kendaraan jarang lewat apalagi pejalan kaki. “aku berpikir hujan adalah suatu anugrah” kata ahmad sembari menatap hujan. tangan ditadahkan dicucuran hujan sembari mata terpejam merasakan dinginya air hujan. Cukup lama hujan menguyur kota, kini jalanan mulai tergenang oleh air hujan yang terus menguyur. “kau kedinginan” kata ia cemas, mencemas kan keadaan gadis itu dengan tubuh yang mulai mengigil.
Ia tak tau apa yang harus ia lakukan, selain menunggu hujan redah. Senja datang, hujan berhenti, digantikan hangatnya mentari senja menghangatkan tubuh. Udara segar selepas hujan dihirupnya dalam-dalam, mereka berjalan ditengah keramaian sembari tangan bergandengan.
“dear, alfia aku sudah membaca surat mu, tentang liburan semester. Aku juga memantikan liburan semester selanjutnya, apakah kau tau. Bahwa aku sunggu mencintai mu dan berharap bahwa waktu terhenti sejenak agar kita bisa menikmati kebersamaan.” Sepenggal surat singkat selalu mereka tulis, tak ada istimewa selain tulisan anak sma yang cukup pendek tanpa kata penutup, tapi begitu bermakna bagi mereka.
Sepasang kekasih dengan cinta anak muda, tepisah jarak namun dengan cinta yang membara.
sungai mengalir berair jernih ikan tanpak terlihat berenang kesana kemari, riak air menghantam batuan sungai, daun jatuh kesungai berair jernih terbawa arus hingga ke hilir. Berhenti, berputar sejenak, lalu tengelam didasar sungai.
__ADS_1
“bila tak sekarang kapan lagi”, “aku aku... tak bisa” jawab gugup seorang gadis, namun jawabannya membuat teman-temannya begitu kesal. Lalu didorong tubuh gadis itu kearah ahmad yang seketika membuat tubuh gadis itu terjatuh dilantai menimpa tubuh ahmad, sontak saja mengundang perhatian teman-teman kelas. “maaf” hanya itu kata yang terucap, dengan kepala tertunduk kebawah menahan malu karena perbuatan temannya. Ahmad hanya tersenyum sembari mengusap kepala gadis itu, lalu berlalu meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.
“kapan?” tanya teman-temannya yang begitu kesal pada nya yang tak mau mengungkap’kan perasaan’nya “aku gugup” jawab ia yang seketika membuat tangan temanya memukuli kapalanya.
Hani seorang gadis ayu berambut panjang terikat, wanita pendiam. Yang diam-diam menyimpan rasa pada ahmad namun malu mengungkapkanya, ia gadis pintar banyak teman walau ia pendiam.
Jam sekolah usai, semua murid bergas untuk pulang, begitu juga dengan ahmad. Melanngkahkan kaki melewati pintu gerbang, namun langkahnya terhenti tak kala ia mendengar seseorang memangil namanya dari arah belakang. Lalu ia tolehkan kepala, “hani, ada apa?” tanya ia kepada hani yang rupanya sedari tadi mengikuti langkahnya. “boleh kita berbicara sebentar” pinta hani kepada ahmad yang hanya dibalas angukkan.
“maaf aku tak bisa menerima mu” kata ahmad padanya sembari tangan melepaskan gengaman tangan hani. “kenapa?” satu pertanyaan terlontar dari mulutnya dengan tangisan masih tertahan. "ada orang yang telah kucintai”, “siapa?” sekali lagi pertanyaan ia lontarkan dari mulutnya, kini matanya mulai mengeluarkan air mata. Menangis hanya itu yang bisa ia lakukan.
Cinta yang ia pendam selama ini kini sirnah bak selambar kertas yang terbakar oleh api cinta. Hilang tanpa menyisakan abu. Bunga cinta yang ia tanam kini mulai layu dihatinya. Satu kalimat penolakan membuat bunga dihatinya menjadi layu.
Kini ia lebih pendiam dari biasanya tanpa senyum, sikap dingin tanpa banyak bicara, tanpa tawa, tanpa ceria diwajahnya. Tak ada yang tau penyebab perubahan sikapnya, teman-temannya bertanya-tanya mengapa ia bersikap demikian, ia kini sering menyendiri membaca buku di perpustakaan sunyi tanpa kebisingan, tak ada kumpul-kumpul lagi bersama teman, tak ada lagi tertawa bersama.
“kau tak harus begini bukan” kata ahmad menyapa dirinya lalu duduk disebalahnya. “jika aku yang salah mengapa mereka yang harus kau hindari”.
__ADS_1
Ia hanya diam tanpa kata, hanya mentap buku cerita, “aku tak tau, apakah kau bersikap sedemikian. Setiap kau merasa putus asa dari segalanya.” Lalu ahmad berdiri dan melangkahkan kaki namun berhenti sejenak “jangan karena aku kau melupakan teman-taman mu” lalu ia pergi menjahui gadis itu.