
“aku ingin hidup seperti bintang nieotron, agar gaya gravitasi bisa mengikat ku padanya” seru semangat darinya, mungkin membuat orang yang mendengarnya tak mengeti apa maksud dari perkatanya.
“kau selalu berbicara seoalah kau ini ilmuan nasa” kata temanya dengan guyonan. Mereka tertawa begitu gembira sembari mengoda ahmad, mungkin perkataanya begitu lucu namun ia ingin seperti bintang neotron walau pun kecil tapi gaya gravitasinya lebih besar dari matahari. Yang bisa menarik benda mendekatinya. “aku ingin seperti itu, agar aku bisa menariknya untuk selalu dekat dari ku” gumam dalam hati dengan semangat membara.
“dear, ahmad saat aku menuliskan surat untuk mu aku selalu duduk di bawah pohon yang cukup rindang, aku terkejut saat membaca surat mu. Kau bilang setiap kali kau membaca surat ku kau selalu duduk dibawah rindangnya pohon dengan ditemani merdunya suara burung. Mungkin lebih banyak lagi kesamaan yang kita buat namun. Tak terlihat karena ruang yang begitu jauh”.
Ombak bekejar-kejaran menujuh pasir pantai. Angin berhembus begitu menyegarkan anugrah yang ia berikan begitu nyata dalam tatapan mata.
“dalam hidupku, aku pernah terhenti oleh waktu dengan tubuh utuh, dengan nafas masih berhembus, dalam waktu itu disekelilingku berwarna putih, huh... namun. Begitu hampa dalam sunyi, aku tau bahwa aku dialam lain, aku terus berjalan tanpa henti walau, aku tak mengerakan kakiku” ahmad terhenti sejenak sebelum memulai ceritanya, “aku mendengar isak tangis dari mereka, mereka berkata bangun ahmad kami menunggu mu setiap saat, namun begitu aku ingin kembali, dinding penghalang menghalangi langkah kaki ku. Setiap hari aku mendengar langkah kaki keputus asaan dari mereka, tangis selalu menyertai setiap kata demi kata yang mereka ucap, aku ingin bangun dari tidurku, namun selalu penghalang menghalangi setiap niat ku, ada suatu masa satu tangisan membuat ku tersentak bangun dalam tidur panjang, namun ketika aku bangun semua nya hilang bagai suatu bayangan.” satu cerita cukup panjang darinya, tak terasa mata mulai mengeluarkan air mata, tak terbendung tangis pun terisak darinya, tak kala mengingat kembali masa itu “ibu, ayah aku harap kalian bahagia disana” derai demi deraian air mata menetes melewati pipi, diseka nya air mata itu agar tak keluar lagi, namun kesedihan masih menyelimuti dirinya, “semua ini tak lah sepenuhnya salah, kau tak harus larut dalam penyesalan” hibur ia kepada ahmad. “aku tak menyesal, namun aku menangis karena aku begitu kesepian tanpa, nasihat orang tua, tanpa hiburan dari mereka saat aku terjatuh dijalan kehidupan”.
Alam semesta tanpak diam namun sebenarnya ia terus mengembang, entah sampai kapan alam semesta berhenti mengembang, cahaya bintang nampak terang di gelapanya malam, namun cahaya yang ia lihat, sebenarnya sudah ribuan, jutaan atau pun meliaran tahun yang lalu, namun baru terlihat cahayanya setelah melewati waktu yang begitu jauh.
Gugusan bintang membentuk suatu rasi bintang, ada scorpio, pices, leo dan sebagainya. Sungguh alam semesta begitu penuh keajaiban. Semua begitu indah sampai ia terlelap dalam tidur dimalam gelap dengan berlatar bintang berbinar-binar.
“dear ahmad satu minggu cukup lama bagi ku menanti semua itu, bisakah kau mempercepat waktu, mungkin kedengarannya cukup konyol. Namun aku ingin selalu konyol di hadapan mu biar kau bisa memarahiku, karena aku cukup senang bila kau marah pada ku, mungkin aku berpikir bahwa semua itu adalah sikap keromantisan dari mu”.
Dunia selalu berputar pada porosnya menyebabkan siang dan malam, ia menunggu dengan melhat jam tangan sembari kaki tak henti melangkah kesana kemari, menunggu suatu datang sembari melihat keujung jalan, kepala seakan menjulur begitu panjang rasa tak sabar menghantui dirinya.
__ADS_1
“sudah lama menunggu?”
“tak begitu lama, dimana ayah dan ibu mu”
“mereka pergi kerumah paman edo”
Untuk kedua kali nya dalam taun ini mereka bertemu dalam nuansa liburan semester “apakah kau naik kelas”, “nilai mu bagus?” sambung alfia ditengah-tengah perjalanan, ahmad hanya menganguk-anguk dengan begitu sombongnya, yang membuat alfia tertawa kecil oleh sikap sombongnya itu.
Mereka berjalan dikeramai’an dalam hiruk pikuk suara-suara, hentakan demi hentakan tapak kaki mengiringi setiap langkah mereka, saling bergandengan tangan alfia senderkan kepala dibahu ahmad sunggu membuat iri setiap orang yang melihat mereka, rambut lurus terurai wajah cantik, cantik alami tampa rias, cahaya lampu kendaraan seakan menerangi setiap perjalanan mereka, “kau datang terlambat” kata ahmad padanya. “sesuatu terjadi?” tanya nya kepada alfia. “Cuma masalah sepele”.
Angin malam mulai dingin, terasa dingin dikulit. Mereka beranjak kan diri untuk pulang, melangkahkan kaki menujuh jalan pulang, berjalan, terus berjalan.
“kalian sudah pulang? Masuk lah mereka menunggu didalam” kata paman edo pada mereka dan menyuruh mereka masuk kedalam. Duduk ditemani secangkir teh hangat mereka ber’enam menyeruput teh itu dengan nikmat, sembari bercakap-cakap. Untuk menghangatkan suasana yang mulai dingin.
“besok kami ingin pergi kemakam orang tua mu, bisakah kau antarkan kami” kata orang tua alfia sembari meminta tolong kepadanya agar bisa mengantarkan mereka ke makam orang tuanya. “tentu, ayah dan ibu akan sangat senang”. Kata ahmad sembari menyeruput segelas teh.
Ayah dan ibu alfia adalah teman baik mendiang orang tua ahmad, mereka berteman sudah lama sebelum ahmad dan alfia lahir, saat kematian kedua orang tua ahmad mereka sudah terlebih dahulu pindah kekota lain, akibat dari semua itu mereka lambat mengetahui tentang kematian keduanya, mereka cukup terkejut mendengar kabar kematian keduanya, mereka tak mengira bahwa keduanya begitu cepat menemui sang pencipta. Namun siapa yang tau tentang kedatangnya, tak ada istilah tua, muda, sakit sehat. Atau kaya, miskin. Semua itu tak ada guna dimatanya.
__ADS_1
“kalian sudah tenang disana, maaf kami baru sempat berkunjung disini, namun anak kami sudah terlebih dahulu mengunjungi kalian” kata orang tua alfia dengan mata sembab menahan tangis, mungkin karena malu dilihat oleh ahmad dan alfia, lalu mereka berdoa untuk keduanya.
“sungguh! Seperti baru kemarin aku bertemu dengan ayah dan ibumu, aku tak menyangka semua cepat berlalu” kata ayah alfia lalu menepuk-nepuk pundak ahmad sembari menyemangati nya.
“ayah dan ibu tak bisa berlama-lama karena ada suatu yang harus diurus, jadi.” Terhenti sejenak lalu ayah alfia mendekati ahmad lalu berbisik padanya “jaga ia, aku sangat percaya pada mu jangan hancurkan kepercayaan kami”.
Mereka pun pergi dengan mengendarai mobil pribadi, lambaian tangan dari keduanya mengiringi kepergian mereka, terus menjauh, dan terus menjauh hingga tak terlihat lagi silauan lampu mobil mereka.
Alfia pun diantarkan nya untuk pulang kerumah paman edo, dijalan pulang tak banyak kata yang mereka ucapkan, selain memandangi langit penuh bintang, dan diterangi cahaya lampu jalan.
“da da” lambaian tangan menyertai langkah ahmad, alfia lambaikan tangan dari kejauhan sembari tersenyum lepas pada ahmad.
Hari yang melelahkan namun begitu menyenangkan mereka lewati dengan penuh kebahagian, lalu terlelap dalam bunga mimpi.
“kau bodoh, sungguh bodoh. Hentikan waktu agar kau tak merasa kan dunia yang kejam ini. Bodoh bodoh bodoh...!”
“agk” seketika ahmad terperanjat dan terbangun dari tidurnya. “ah... sudah lama aku tak memimpikan itu”.
__ADS_1