Makna Cinta

Makna Cinta
Bab 5


__ADS_3

Bintang tak terlihat dimalam ini, tampaknya langit mendung. Terasa hawa begitu dingin, rintik air hujan pun mulai turun, yang kemudian disusul derasanya guyuran hujan, ia tadahkan tangan di cucuran air hujan. Dingin, terasa dingin di telapak tangan.


Andai air hujan bisa membersikan dirinya. Mungkin ia tak kan seperti ini sekarang.


Pagi menyingsing, namun ia masih terkumbus oleh tebalnya selimut. Maklum saja malam tadi hujan turun, jadi dingin masih terasa menusuk hingga ketulangnya. Namun tidurnya tak berlangsung lama tak kala alaram yang ia pasang berbunyi begitu nyaring. “woah... ! aku masih ngantuk” ia terbangun dari tidur dengan mata metap lekat kearah jam. “Aaaaa....!” ia terkejut melihat jam yang menunjuk angka 6:45. Mungkin nanti ia akan dihukum oleh satpam sekolah, Mungkin saja.


“capek?”, kata teman’nya mengejek dirinya.


“ah... aku ngatuk” lalu ia berlalu begitu saja meninggalkan temannya, ia duduk dibawah pohon yang rindang, menyandarkan tubuh, lalu perlahan-lahan matanya mulai tertutup. Angin menghembuskan daun-daun, ia terlelap dibawah rindangnya pohon. Sejuk, menyejukan diri. Menunggu hari melelahkan ini berakhir.


Alam begitu indah, nampak indah untuk dipandang oleh mata, birunya lautan, hijaunya daun-daun, putihnya awan, ditambah warna jinga mentari senja. Sebuah lukisan yang diciptakan oleh tuhan begitu indah dan penuh ke kaguman untuk siapa saja yang menikmatinya.


“dear ahmad, desember telah tiba. Akhir tahun ini aku berharap kita bisa bertemu lagi, dalam meriahnya suara- suara terompet bersautan dan indahnya warna-warna cahaya kembang api . aku berharap ditahun baru, aku bisa bergandengan tangan denganmu. Mudah-mudahan saja semua itu terwujud”.


“ya tak lama lagi” sembari tanganya meletakan surat dari alfia di atas meja, “hah... aku harap bisa��� melihat malam dengan bintang bertaburan dilangit hitam. Dengan pikiran melayang-layang entah kemana.


“anak-anak kerjakan soal halaman 57, essy. Kalau sudah selesai kumpul dimeja ibu”. Semua murid kelas itu mengerjakan soal dengan serius, yang mula nya kelas itu berisik kini diam hanya ada suara gesekan pulpen diatas kertas, berpokus pada apa yang ditanyakan di dalam soal itu, mereka jawab semampu mereka.


“hah... kepalaku hampir mau meledak” kata ahmad dengan sedikit mengoyangkan kepalanya, wajar saja, yang mereka pelajari adalah mata pelajaran fisika yang masih ada bau-bau perhitungan didalamnya.


Jam menunjukan pukul 2:00 para siswa-siswi bersiap-siap untuk pulang, mengucapkan salam pada guru, berdoa sejenak lalu langkahkan kaki menujuh rumah masing-masing, hari ini lelah mendera sekujur tubuhnya, “masak duluh ah” kata ia sembari menyiapkan bahan-bahan masakan. Ia memasak tumis kangkung hanya ini saja tak mewah namun bisa mengisi perut yang mulai berontak karena lapar.


“kau tak tidur ahmad?”. Tanya teman sekostan nya. “masih belum ngantuk” lalu temannya itu pun duduk dan menemaninya melihat malam dengan ditemani teh hangat, mereka mengobrol santai sesekali tertawa kecil karena ada yang lucu.


“jika hidup mu telah ditentukan, masa hidup mu kamu gunakan untuk apa?” tanya ia menjurus dengan kata yang ambigu.


“akan aku gunakan sebaiknya itu saja sih” jawab temannya dengan senyum diwajah.


“betul.”


Pagi datang lagi menyapa setiap orang, memberikan secercah harapan bagi semua orang. Agar menjalani hidup dengan senyuman. Ia datang tanpa terhenti menyapa setiap orang walau pun kadang sapa’annya tak ditangapi dengan senyuman, fajar begitulah kata lain dari matahari pagi. Laut biru, dengan ombak mengulung, mengulung setiap waktu. Angin terus berhembus tampa henti. Hari ini langit cukup cerah secerah harapan yang dibawa ahmad. Berlari-lari kecil, sambil menyandang tas, ia lihat jam ditangan. Senyum kan orang-orang dengan sesekali menyapa walau tak kenal.

__ADS_1


“selamat pagi teman-teman” sapa ia kepada teman sekelasnya, lalu menaruh kan tas di tempat duduknya, mengobrol sebentar sebelum pelajaran hari ini dimulai.


Hari itu, guru mata pelajaran semuanya hadir. Memberikan pengajaran pada mereka. Hari itu, tugas-tugas begitu banyak diberikan. Hari itu, ia berharap cepat berlalu. Jam terus berputar walau lambat namun pasti. Siang itu tak ada yang spesial selain mencatat tugas yang diberikan guru di lembaran buku tulis. Waktu berlalu, jam berganti. Matahari mulai turun. Namun langit tetap biru, lonceng berbunyi pertanda sekolah hari ini berakhir. Mengakhiri hari yang melelahkan.


“coba kamu pulang kerumah, mungkin jawaban yang kamu inginkan ada disana”.


“aku pergi dari rumah itu karena aku ingin agar sakit yang aku alami tak bertambah parah”. Kata ahmad lalu ia berlalu dengan secarik kertas resep obat. Ditengah pintu ia berhenti dan berkata pada dokter itu, “jika yang kau pikirkan adalah itu, aku tak kan melakukan apa yang kau saran sarankan”.


Sebenarnya apa yang ia pikirkan, mungkinkah ini ada hubunganya. Semua pasti ada hubungannya,


“dear ahmad. aku punya kabar gembira untuk mu. Ayah dan ibu mengizinkan ku, untuk berlibur ke kota mu selama liburan tahun baru, walau hanya 3 hari saja yang mereka berikan. Namun aku sangat senang. Jadi, jangan lupa menjemput aku ya”.


Lagi-lagi sepucuk surat dari nya, membuat ahmad melupakan sejenak kesedihan yang ia alami. Mengantikan dengan kebahagian, pikir melayang membayangkan ia dan alfia bergandengan tangan, bermain ditaman hiburan, menaiki kincir ria. Memakan eskrim dan masih banyang yang ia bayang kan.


Hujan terus menguyur kota dalam beberapa hari ini, langit mendung. Dengan suhu yang makin dingin terasa oleh kulit, waktu menunjukan pukul 2:30. Ia menunggu disini duduk dibangku, memakai jeket tebal berwarna hitam, payung yang tersender di sampingnya. Rasa cemas menghantui sembari tetap menunggu.


“sudah lama?” tanya alfia dengan senyum dibibir manisnya.


“kau ingin menaiki bianglala itu?” kata ahmad padanya. Dan dibalas angukan dari alfia, ya ahmad sudah tau apa yang alfia pikirkan. Mereka pun menaiki bianglala itu, perlahan namun pasti bianglala itu berputar, “alfia! Apakah kamu tau aku sungguh mencintai mu”.


“aku tau itu ahmad, kau sangat mencintai ku”. Jawab alfia dengan tangannya mengengam tangan ahmad.


“kau tau, sebentar malam pergantian tahun baru. Apa yang kau harapkan ditahun berikutnya?” pertanyaan terlontar dari mulut ahmad, alfia hanya tersenyum manis padanya, dan berkata, hanya ingin terus bersama ahmad. Ahmad tersipu malu, mukanya memerah. Alfia hanya tersenyum sambil mengejek ahmad. Namun kini semua itu hening, lalu tak lama mereka pun turun.


“apakah kita akan melihat kembang api?” ahmad bertanya pada alfia,


“tentu”. jawab alfia


menunggu terus menunggu detik-detik pergantian tahun, mereka duduk dibangku taman, Sembari menunggu jam pergantian tahun dimalam itu.


Waktu pergentian tahun pun dimulai setiap orang disana bersorak, sembari menghitung mundur 3,2,1. Dan diiringi suara terompet yang begitu nyaring ditelingga.

__ADS_1


Lalu ditambah lagi dengan suara kembang api meluncur deras ke angkasa. Penuh warna. Langit malam yang gelap kini menjadi berwarna.


“indah nya...”, dengan menatap kembang api, alfia begitu menikmati setiap warna yang dihasilkan kembang api itu.


“ya, indah”, ahmad mengengam tangan alfia, dan menatap wajah alfia, nampak raut bahagia terpancar dari wajah alfia.


“namun, sangat disayangkan. Kembang api hanya bisa dinikmati sesaat saja”. Kata ahmad padanya.


“namun kebahagian yang saat ini kita rasakan... aku tak kan melupakan nya”. Kata ia menoleh ke arah alfia yang sedang menatap kembang api.


Bisakah seperti ini sebentar, mungkin begitulah pikir ahmad. Dalam dirinya ia merasa sedih dan kecewa. Akan kah bisa, lagi-lagi ia bertanya pada dirinya sendiri.


Mereka malam itu, menghabiskan malam dengan mencoba segala yang ada disana. Puas? Tentu saja, senyum pun nampak terlihat dari keduanya.


“mari pulang” ajak ahmad pada alfia, hujan memang sudah berhenti. Walau rasa dingin masih terasa, ditambah dengan hawa dingin malam, seolah-olah ingin membekukan keduanya.


Bintang kini mulai nampak dilangit malam, mengantikan awan mendung. Mereka bergandengan tangan, sembari berjalan pulang. Dengan ditemani lampu jalan, sayup-sayup suara menambah cerita dimalam itu.


“3 hari?” tanya ahmad pada alfia.


“em...”


“besok mau kemana?” tanya ia lagi.


“emzz... ke pantai?” dengan menatap ahmad.


“tentu”.


Sesudah mengantar alfia pulang kerumah paman’nya, ahmad pun segera pulang dan berniat untuk secepatnya mengistirahatkan diri, dalam indahnya mimpi. Namun sebelum niatnya terlaksana, ia sempatkan diri merenung dalam malam yang gelap di temani secangkir teh hangat, menghangat kan tubuh.


Memandangi langit penuh bintang, yang seakan diam di disana. Memikirkan kemungkinan yang terjadi pada dirinya. jam menujukan pukul 2 pagi, ahmad pun segera tidur.

__ADS_1


__ADS_2