
Dua pekan berlalu dengan dua kali surat datang kepadanya. Membaca, dan membalas surat dari alfia, ia ahmad selalu saja tak bosan akan hal itu. Langit silih berganti warna selama itu, biru menjadi hitam dan sebaliknya. Bertabur bintang, atau pun dengan awan yang berjalan lambat. Kaca-kaca jendela rumah-rumah memantulkan cahaya matahari, yang menyilaukan mata.
Ia ahmad selalu menjalani rutinitasnya sebagai pelajar menuntut ilmu agar kelak jalan kehidupan penuh dengan cahaya yang terang.
Alam semesta pun tak berhenti mengembang, mungkin ledakan supernova terjadi namun belum dapat dilihat dalam waktu dekat. Mungkin saja setelah seribu tahun kematianya, mungkin saja.
Galaksi bertaburan, planet-planet yang selalu mengitari bintang induknya, bumi tak berhenti berotasi atau pun be'revolusi.
Orang-orang selalu berjalan silih berganti waktu, dengan baju kerja. Kendaraan selalu saja membunyikan klason yang memekakan telinga.
Adakah ini semua berhenti sejenak. Begitu tenang? Mungkin itu mustahil adanya.
Ahmad, bangun kan pagi menyiapkan diri, berangkat sekolah.
Pulang dalam keadaan sore mulai datang, mentari seakan ingin beristirahat di peraduanya. Seolah melambaikan tanganya, dan memberi isyarat bahwa esok ia akan datang lagi.
Bergelud dengan keadaan di sekolah dengan begitu banyak jenis kepala manusia. Dengan pikiran berbeda-beda, kadang ia ikut andil dalam permasalahan teman nya. Meleraikan teman nya yang beradu pukulan, atau menghentikan tindakan pembully an. Cukup dewasa bukan.
__ADS_1
Namun ada kala ia diam kan semua itu, mungkin ia sudah muak, bosan, dengan tingkah temannya. Yang begitu keras kepala dan tak mau mengalah.
“kesehatan mu mulai menurun, aku khawatir dengan semua ini, harusnya kau tak begitu cemas memikirkan semua ini”. Kata dokter itu memberi saran padanya. “mimpi itu selalu datang pada ku” kata ia menundukan kepala, dengan wajah yang tak begitu senang, merasa cemas, akan kondisi tubuhnya.
Ia berjalan dengan pikiran entah kemana, memikirkan semua itu. Adalah kata sembuh di dirinya. Jalan begitu berat baginya, mungkinkah sebabnya adalah waktu itu.
Ke esokan harinya, semua kembali seperti biasanya, dengan ia sebagai pelajar.
Menuntut ilmu, dengan bersekolah, mengistirahatkan tubuh dirindangnya pepohonan, dengan pikiran melayang entah kemana, melihat langit tak bertiang, melihat awan yang begitu putih. Lalu kembali lagi kekelas nya, namun langkah terhenti tak kala ia melihat ada yang mencurigakan dari gerak-grik teman kelasnya, “apa yang kau lakukan?” tanya amhad, melihat ahmad yang sudah berada dibelakang nya temanya itu pun terkejut, salah tingkah dan hendak berlari namun, dengan cepat ia mengengam tangan temanya itu, “uang siapa itu?”. Kata ahmad lalu di ambilnya uang itu.
Temannya hanya diam, sambil berpikir. Lalu tak lama air matanya mengalir deras, “kau benar aku hanya terlalu cemas memikirkan semua ini”. Kata temannya disela tengisan.
Ahmad hanya tersenyum sembari menutup kedua matanya.
Sebuah kerja keras tak lah sia-sia, hanya saja kita terlalu Cemas memikirkan orang yang kita angap saingan sebagi tolak ukur dari hasil kerja keras yang kita ingin capai.
Dalam hidup kadang ada rasa tak puas akan satu hal saja, dan ingin lebih dari itu, begitu lah hidup.
__ADS_1
Laut hari ini tak begitu berombak, ahmad sedari tadi duduk dipembatas antara laut dan pingiran jalan, melihat kearah hamparan laut dengan angin menghembuskan tubuh, ia termenung memikirkan sesuatu, “apakah bila ia tau, ia akan menjahui ku?” tanya ahmad menerka-nerka. Ia berpikir bila alfia mengetahui semua tentang nya akan kah alfia masih mau bersama dengan nya, atau sebaliknya. Dengan kondisi tubuh mulai menurun ia hawatir akan semua ini. Apakah waktu itu akan terulang lagi, tidur dalam kondisi itu dan begitu lamanya. Atau kah ia tak kan bisa bangun lagi, Dan tidur untuk selamanya, meninggal kan dunia tanpa bisa kembali lagi.
“hu...” keluh nafas yang ia hembuskan sesaat menyudahi pertanyaan demi pertanyaan dalam benak nya, “tak usah dipikirkan, cukup jalani saja” kata ia lalu bangkit dan menatap lurus kearah lautan bebas. Kini ia sedikit tersenyum dengan tangan direngangakan.
“dear ahmad, waktu cukup cepat berlalu. Aku tak mengira selama itu kita tak pernah bertemu, bertatap muka, atau pun tertawa bersama, aku berharap ada sela waktu untuk kita bersama, aku selalu menunggu tanggal berganti, libur panjang menanti. Apakah kau juga sama seperti ku?.”
Malam terus datang, angin malam menyibak rambut, dingin malam begitu menusuk kehati, sepi tanpa ada yang bisa menemani, termenung dalam malam yang penuh bintang. Memandangi langit berwarna hitam. Menghayal tentang yang disana, sang gadis yang ia cintai. Sambil tersenyum kecil ia menghayalkan semua itu. Namun kebahagian dalam hayalnya berubah menjadi kesedihan saat ia beralih pikiran memikirkan tentang dirinya, namun semua tergantung pada yang diatas. Begitu lah pikirnya.
Terik manta hari menyengat tubuh, kulit tubuh seakan berteriak kepanasan. Menanti jam pelajaran berikutnya dimulai ahmad berteduh dibawah pohon yang biasa, rindang, ssejuk menyejukan diri. Burung-burung dengan suara kicauwan yang merdu di dengar, desiran angin mengelitik kulit. Langit begitu cerah dengan cahaya matahari menyilaukan mata. Lonceng berbunyi, pertanda jam pelajaran berikutnya dimulai. Memperhatikan guru yang didepan yang sedang menerangi pelajaran, dengan rumitnya rumus-rumus matematika, murid seakan mengerti padahal tidak sama sekali. Mencatat dan mengerjakan latihan yang diberikan guru. Atau pun Cuma mencontek pada teman yang diangap pintar.
Pulang-pulang sekolah otak letih, tubuh pun letih. Menyegarkan tubuh dengan siraman air, atau pun merebahkan badan di kasur yang empuk, memasak mie atau pun membeli lauk masak dirumah makan, menyedu teh hangat, sambil menatap langit.
“ayah, ibu. Sudah lama aku tak kesini lagi, apakah kalian bahagia disana, aku harap begitu”. Kata ahmad sambil menuang sebotol air ketanah kuburan ayah dan ibunya yang bersebelahan, lalu membaca doa dan sesekali bercerita tentang pengalaman hidupnya kepada keduanya yang sudah tenang tidur disana. “aku tak tau, aku harus sedih atau gembira ayah, ibu”. Dengan mengelus-elus sisi nisan yang bertuliskan nama orang tuanya, ia begitu sedih namun ia tahankan semuanya.
“karena...” ahmad tak bisa melanjutkan katanya, ia menagis tersedu-sedu. “karena mungkin aku juga akan cepat menyusul kalian”. Ahmad menagis tersedu-sedu dalam keheningan disekitarnya. “aku selalu mendoakan kalian, agar kelak kita bisa berkumpul bersama ditempat yang telah dijanjikan oleh tuhan pada kita.”
owh ya apakah kakak pernah kesini juga, tapi aku yakin ia terlalu sibuk dengan pekerjaan nya sebagai dokter.” Lalu ahmad berpamitan kepada kedua orang tuanya yang terbaring disana.
__ADS_1