
Hari ini adalah tanggal satu januari. Tanggal merah, dimana orang-orang berlibur ketempat wisata walau pun hanya sehari saja, kini terlihat pantai penuh sesak akan orang-orang, baik wisatawan dari luar, atau pun dari daerahnya sendiri.
“yakin?” tanya ia pada alfia. Sesaat melihat begitu banyaknya orang-orang, biasanya tak lah seramai ini.
Ya ia tahu akan hal ini, karena ia selalu melihat pantai ini saat ia pergi atau pulang dari sekolah. Pantai ini memang begitu indah, apa lagi saat menjelang sore, orang-orang akan berburu matahari senja, dikala senja datang.
Bermandikan air laut yang asin, berjemur dibawah terik matahari. Mereka semua sangat menikmati liburan ini, namun ahmad sepertinya terganggu akan hal ini, ia tak begitu menyukai keramaian, walau pun ia sering ketaman hiburan, yang juga selalu ramai saat akhir pekan ataupun hari libur.
3 hari mereka habiskan hanya untuk mengunjungi tempat-tempat wisata. Walau pun singkat, namun bahagia tergores dalam ingatan mereka.
Sebenarnya waktu yang diberikan untuk lburan hanya lah satu hari saja, namun ahmad 2 hari selanjutnya membolos dari sekolah, hanya untuk menemani alfia berlibur.
3 hari sangat lah berarti bagi keduanya, menunggu malam pergantian tahun, menghitung mundur waktu. Sembari ditemani meriahnya suasana dimalam pergantian tahun, cukup membuat sebuah kenangan yang tak terlupakan.
Awal tahun, dimana sebuah harapan dimulai. Mengejar sebuah harapan walau kadang tak pasti, tahun baru, awal yang baru. Dibulan januari ini semua masih tetap sama, tak ada yang begitu beda. Ia nampak seperti biasanya. Bersekolah menimba ilmu seperti kebanyakan anak seusia nya, mengirim surat pada gadis yang ia cintai, atau pun sekadar membaca balasan surat dibawah rindangnya pohon. Tak ada yang sepesial.
Hari-hari berganti dengan cepat, setiap satu pekan ahmad dan alfia selalu mengirimkan surat, mencerita kan apa yang ingin diceritakan selama satu pekan penuh yang mereka jalani, atau hanya memberi kabar. Dalam surat selalu ada cerita.
Tak ada kata jenuh dari mereka walau jarak memisah kan keduanya. Ada kala pikiran menerka-nerka, apa yang ia lakukan di sana, mungkin begitulah terka'an dari keduanya.
Dalam surat itu, ada sebuah cerita cinta dari keduanya. Jarak memisahkan mereka, namun terhubung oleh selembar surat, walau kadang bertemu namun tak banyak pertemuan yang bisa mereka lakukan, hanya menunggu masa liburan panjang baru mereka bertemu. Melepas rindu yang selama ini mereka tahan.
__ADS_1
Laut hari itu bewarna biru terang, jernih sungguh jernih. Bahkan ikan pun dapat terlihat dari permukaan, pantulan sinar matahari ke etalase pertokohan menyilaukan mata. Hari itu langit cerah dan tentunya sangat panas. Jalan-jalan terlihat lengang tak seperti biasanya, tampak di sekolahnya tepatnya di kelasnya semua murid nampak begitu kepanasan. Sembari mengipasi tubuh dengan buku tulis, agar tubuh bisa mendingin.
Hari itu, sungguh membosankan tak banyak yang bisa dilakukan selain. Belajar, mengerjakan tugas dari guru.
“dear ahmad, kau tau. saat aku menuliskan surat ini, hati ku sangat senang. Kau tau kenapa, karena aku memenagkan perlombaan, sungguh itu bagai mimpi bagiku, apakah kau juga ikut bahagia”.
“aku turut bahagia” gumam ahmad, lau memejamkan matanya dan tertidur di bawah pohon. Sembari menunggu lonnceng berbunyi.
Sebenarnya surat ini sudah lama sampai ketanganya, namun mungkin beberapa hari ini ia begitu subuk akan urusan lain
Jadi hari ini ia baru bisa menyempatkan membaca surat dari alfia.
“TENDANG...!” teriak anak laki-laki, ya hari ini, tepatnya pagi hari kelasnya ada jam pelajaran penjasorkes. Semua murid kelas itu melakukan olahraga pagi, anak perempuan memainkan permainan bola voli, sedangkan anak laki-laki tentunya tak jauh dari kata sepak bola, tendang sana, tendang sini. Yang penting menendang bola, begitu lah mereka bermain. Peluh keringat mengucur deras, namun nampaknya mereka belum lelah.
Jam olahraga usai semua nya beristirahat, merengangkan otot-otot tubuh. Atau mengisi cairan yang terbuang saat berolahraga tadi, dengan sebotol air.
Terlihat ahmad bercakap-cakap dengan salah satu temannya, seperti biasa ia tak terlalu banyak bicara namun banyak orang menyukai dirinya.
Malam datang. Langit masih saja penuh bintang, mungkin alam semesta sekarang sangat jauh, bintang berkelap-kelip di langit malam.
Malam ini, ahmad bersenandung, dengan tangan memegang sepatula. Ia mengoreng ikan, mungkin karena lapar, atau perutnya tak puas dan selalu ingin makan.
__ADS_1
Mengistirahatkan diri di kasur berselimut kan kain.
“apa yang kau lihat didunia ini, tak ada bukan. Lebih baik kau ulurkan tangan mu, aku akan mengajak mu ketempat dimana semua bisa kau atur”.
Lagi-lagi ia terperanjat, terbangun memimpikan hal yang sama beberapa kali, rasa takut menghantui dirinya tak kala terbangun dipagi hari, apa sebenarnya arti dari mimpnya itu? Tak bisakah mimpi buruk itu hilang, ia ingin sekali saat memejamkan mata memimpikan hal yang indah bukan hal yang buruk dimimpinya.
“aku tak tau” kata dokter itu padanya, sembari memeriksa dirinya. “namun sepertinya ini berdampak pada tubuh mu”.
Hanya itu, tak ada kalimat lain yang keluar dari mulut dokter itu, secarik kertas resep obat di berikan pada ahmad. “coba kau cari tau, dengan pulang kerumah. Siapa tau jawaban nya ada disana”.
“untuk apa pulang, dan lagian sudah ada orang yang mengurusi rumah itu”. Dengan membnting pintu dengan kerasnya ia beranjak pergi dari ruangan itu.
Lagi-lagi cuaca tak menentu, hari ini hujan menguyur disore hari, ahmad berteduh disini, di depan toko sambil menunggu hujan renda. Ia lupa membawa payung karena ia tak mengira haru ini bakal turun hujan, jam sudah menunjukan 4:50. Langit begitu gelap, kini kendaraan menyalakan lampu-lampu depan.
Karena melihat hujan yang tak kunjung reda, ia beranikan diri berlari ditengah guyuran hujan.
Pakaianya kini basa semua, dengan meneteng pelastik obat ia berlari dijalanan yang penuh dengan genangan air, terciprat air dari kendaraan yang berlalu menambah basah pakaianya, rasa kesal ada namun tertahan. Ingin bertiak pada mobil itu namun, mungkin orang di dalam mobil tak kan dapat mendengar teriakan nya.
“hah... akhinya sampai juga”. Kata ia diselah mengatur napasnya, dan segera masuk, lalu membersikan tubuh.
Malam datang langit masih seperti itu, penuh bintang berkerlap-kelip di langit malam, bulan purnama begitu terang, mungkinkah malam itu alam semesta berhenti berkembang, itu terlihat mustahil, lampu-lampu rumah-rumah penduduk perlahan mulai dimatikan oleh pemiliknya masing-masing, pertanda hari sudah larut malam. Ia tentunya beranjak tidur mengistirahatkan diri walau rasa was-was menghantui dirinya, mungkin ia berpikir apakah mimpi itu akan datang lagi, atau siapakah gadis yang ada dalam mimpinya, entah lah. Semua penuh misteri.
__ADS_1
Seperti biasa ia setiap jam istirahat pertama atau kedua ia pasti menyempatkan diri, duduk dibawah pohon sembari membaca surat dari sang kekasih, tersenyum, hati begitu berbunga-bunga walau pun kadang kalimat yang ada dalam surat itu tak terlalu panjang, atau pun hanya memberi kabar. Namun cukup membuatnya begitu bersemangat menjalani hari yang melelahkan.