
Seragam putih abu-abu yang biasanya digunakan setiap hari Senin dan selalu dijaga kebersihannya agar tetap bersih, kini telah disulap menjadi kenangan penuh warna. Coretan random dari berbagai warna sudah menyatu dalam serat kain seragam tersebut. Tanda tangan dengan spidol hitam dari semua siswa yang ikut serta dalam pesta kelulusan menjadi ukiran khas yang tak boleh tertinggal.
Arak-arakan siswa yang sudah mendapat kemenanangan berupa kelulusan itu tengah menuju salah satu pinggiran pantai yang tak terlalu banyak peminatnya bahkan memang bukan objek wisata. Tujuannya hanya satu, agar mereka bisa bebas bersenang-senang tanpa ada orang lain yang bukan bagian dari mereka ikut. Bendera warna putih dengan penuh coretan dengan tulisan asli "XII IIS 4 LULUS" menjadi bendera kebanggan rombongan itu.
Setibanya di lokasi yang dituju, tim bagian pendukung acara langsung menyiapkan tikar agar semuanya bisa duduk. Sementara tim konsumsi langsung menyiapkan makanan yang sudah dibawanya dari rumah. Tentu saja hasil makanan yang dibawa adalah kerja keras seluruh anggota kelas yang harus menginap agar bisa ikut masak bersama, sembari mengukir kebersamaan yang sebentar lagi lenyap. Tak lupa tim dokumentasi langsung mengeluarkan ponsel untuk membuat video momen terakhir kebersamaan ini, dan ada yang hanya sekadar memfoto yang rencananya dokumentasi ini akan dibuat dalam bentuk album foto.
"Sel, lihat sini!" teriak seseorang yang menjadi tim dokumentasi.
Perempuan yang merasa dipanggil lantas mendongak sembari tersenyum lebar. Ikan bakar yang sedang ditatanya ia angkat dan ia tunjukkan ke arah kamera dengan pose mengacungkan jari jempol.
"Woi, Sal! Asel terus yang di foto, mentang-mentang dia cantik. Aku juga mau difoto dong!" celetuk salah satu siswi yang mengangkat dua timun selayaknya light stick untuk fangirling. Dia adalah Medyna sahabat Asel yang akrab dipanggil Dina.
Asel hanya tertawa melihat sahabatnya itu. Perempuan yang sudah ia anggap sebagai saudara itu memang kerap menggodanya dengan teman sekelasnya yang bernama Faisal. Usut punya usut lelaki itu diam-diam menyukai Asel, hanya saja gadis itu tak percaya dan tetap memilih dalam zona berteman. Bagi Asel, masa-masa SMA adalah masa untuk belajar agar kelak bisa masuk ke universitas favorit dengan jalur prestasi. Walau kenyataannya ia tak mendapatkan kesempatan itu.
Di kelas Asel, hanya ada 5 siswa yang bisa masuk universitas menggunakan jalur prestasi. Selebihnya harus berjuang dengan mengikuti ujian tes bersama. Tak mengapa, anggap saja berkompetensi secara langsung itu berguna untuk menantang diri agar berani bersaing dengan ratusan, bahkan ribuan calon mahasiswa lainnya.
Kembali lagi pada momen pesta kelulusan, usai semua makanan sudah disiapkan, semua siswa XII IIS 4 langsung menyantap menu makan siang bersama dengan menggunakan daun pisang sebagai alasnya dan jari tangan untuk pengganti sendok. Di tengah kegiatan makan, masih ada beberapa siswa yang sempat menyorot acara makan bersama ini untuk kebutuhan insta story masing-masing. Tim dokumentasi yang terdiri dari 4 siswa saling bergantian untuk menyorot dan ikut kegiatan makan.
Setelah perut terisi, beberapa siswa berpencar untuk bermain di pantai, ada yang berfoto-foto, dan ada yang memilih untuk tetap duduk di tempat semula sembari mengobrol. Di sini Asel sendirian memilih duduk di bawah pohon kelapa sembari melihat ombak dari atas tebing. Sahabatnya sedang turun ke bawah untuk bermain dengan ombak bersama yang lain.
Perasaan Asel terasa tak nyaman, kebahagiaan yang ia rasakan kini seakan tak sempurna karena perasaan aneh yang ia rasakan. Hasrat ingin pulangnya begitu menggebu, tapi kesadarannya tak mengizinkan meninggalkan momen penting ini. Alhasil ia hanya bisa galau dengan perasaannya sendiri.
"Sel, kok kamu nggak turun?" tanya Faisal yang tiba-tiba sudah berdiri tak jauh dari posisinya duduk. Sejujurnya sudah sedari tadi berdiri tapi butuh waktu yang tak sebentar untuk mengumpulkan nyali menyapa langsung sang gebetan di situasi berdua seperti ini.
Asel hanya tersenyum lalu menggeleng. "Aku lagi males main air," alibinya.
Padahal memang dirinya tak bisa ikut karena dirinya sedang mendapat jatah bulanan. Sebenarnya masih bisa bermain air, tapi teman-temannya yang kadang suka rusuh, takutnya ada yang menceburkannya ke air. Bukan bagian perisakan, tapi memang dominan temannya kalau berbuat yang berbau jail suka kelewat batas.
__ADS_1
"Kulihat-lihat kamu kaya lagi mikirin sesuatu? Emang lagi ada masalah, ya?" terka Faisal. Cukup bagus untuk dijadikan topik awal sekaligus mengusir rasa penasaran yang bersemayam di hatinya sejak tadi.
"Ah. Enggak, kok!" Asel langsung menggeleng cepat. "Emangnya mukaku kaya orang lagi ada masalah?" tanyanya seraya tertawa.
"Kaya sedih gitu ... tapi, emang beneran ada masalah?" Kini Faisal bertanya serius, berharap Asel mau membagi sedikit cerita tersebut padanya.
Asel mendesah. "Aku nggak tahu, Sal. Perasaanku dari tadi nggak enak," jujurnya.
"Mungkin karena kita bentar lagi bakal pisah, Sel. Tapi kalau kamu nikmatin waktu ini sebaik mungkin, semua akan lebih baik kok," nasihat Faisal sekaligus memberi semangat.
"Makasih, Sal!" Asel mencoba untuk menujukkan senyum lebarnya, berusaha menghilangkan rasa anomali yang mengusiknya.
Tampak Faisal melirik ke arah sekitar lalu merogoh sesuatu dari dalam sakunya, membuat Asel yang melihat mengutarakan tanda tanya dalam hatinya. Namun segera terjawab ketika sebatang cokelat dengan sepucuk surat warna pink terulur ke arah Asel. Tak ada niatan untuk menerima, Asel malah melayangkan tanda tanya yang lain pada Faisal.
"Kenapa ngulurin ke aku cokelat? Ini kan bukan valentine?" tanyanya.
"Cepetan ambil dulu, nanti takut ada yang lihat kalau kelamaan!" desak Faisal yang kepalanya masih celingukan memantau keadaan.
"Sel, aku mau jujur sama kamu. Sebenarnya ... aku suka sama kamu," jujur Faisal lalu menghadap ke arah lain. Malu tentu saja kini mendominasi perasaannya.
Asel tersentak. Kabar dan isu itu memang tak asing di telinganya. Tapi Asel yakin jika itu hanya gosip murahan yang dibesar-besarkan agar ada yang bisa dijadikan bahan candaan. Bukankah meledek dengan memasangkan teman sekelas sudah menjadi tradisi yang tak bisa dihapus begitu saja dari era anak sekolah.
"Sal, aku---"
"Jangan jawab, Sel. Kamu terima aja cokelatnya. Aku nggak minta kamu terima apa gak, yang penting aku udah jujur sama kamu," sela Faisal cepat tanpa melihat ke arah Asel sedikitpun.
"Woi, woi! Kalian berdua kenapa malah berduaan di sini! Temen yang lain mau buat video sekelas tapi kalian malah pada mencar-mencar!" celetuk salah satu siswa yang bernama Itang, ia salah satu siswa yang diminta untuk mengajak siswa yang masih di atas untuk turun ke pantai. "Tahu nggak kalau ada laki-laki dan perempuan berdua-duaan, yang ketiga itu setan!" nasihatnya dengan nada penuh kebijakan.
__ADS_1
Asel lantas menatap ke arah Itang, jari telunjuknya ia arahkan ke lelaki berambut cepak itu. "Lah ... berarti kamu ..."
"Woi! Woi! Sembarangan ngatain orang setan!" protes Itang yang tak terima.
"Yang bilang situ setan juga siapa, Tang. GR banget!" balas Asel tak kalah sengit.
"Woi, udah lah, Tang. Inget konsep pasti tentang kehidupan. Perempuan itu selalu benar," ucap Faisal yang sudah merangkul Itang. "Sel, yok ke bawah. Nanti setan di pohon kelapanya nangkep kamu!" canda Faisal pada gebetannya.
Asel buru-buru berdiri usai melepas sebelah sepatunya. "Ngomong apa kamu?" Sepatu itu sudah siap melayang jika Faisal melontarkan kata-kata horor lagi.
"Ada Wewe Gombel di belakangmu!" teriak Faisal lalu kabur bersama Itang.
Asel yang memang tipikal manusia penakut itu langsung lari. Entah betulan atau tidak, tapi ucapan temannya sukses membuat bulu kuduknya meremang. Daripada pikirannya menciptakan gambaran-gambaran makhluk menyeramkan, lebih baik ikut turun dan berkumpul dengan yang lainnya.
Kebersamaan itu harus segera berakhir ketika mentari sudah terus bergerak ke arah barat, mulai menenggelamkan diri dalam pekatnya malam yang akan tiba beberapa saat lagi. Beberapa siswa mulai mengemas barang yang dirasa miliknya untuk dibawa pulang, meski ada beberapa yang ingin tinggal lebih lama sebab ingin menyaksikan fenomena matahari tenggelam. Asel termasuk yang harus segera pulang karena takut mendapat omelan dari orang tuanya.
Jalanan tak terlalu macet untuk kendaraan roda dua, sebab Dina berhasil menerobos jalan dan melalui beberapa gang sempit agar segera sampai di gang rumah Asel. Saat tiba di gang rumah Asel, Dina langsung lanjut pulang karena alasan yang sama dengan dirinya. Takut mendapat omelan dari orang tuanya.
Dalam benak Asel bertanya-tanya siapa gerangan yang meninggal di gangnya, sebab ada bendera kuning yang dipasang pada tiang gapura gang. Sembari terus berjalan akhirnya nampaklah sebuah rumah yang di depannya didirikan tenda, ada bendera kuning lagi yang tersemat di papan tulisan "Hati-hati ada musibah". Kakinya seketika melemas kala sadar rumah siapa yang ada bendera kuning tersebut. Rumahnya sendiri.
Susunan tubuhnya seperti kehilangan kerangka. Kini tubuhnya terduduk. Ada rasa ingin tahu untuk mendekat, tapi tubuhnya terasa membeku di tempat. Kakinya yang seolah kehilangan tulang tak mampu lagi untuk bergerak.
"Kak Asel!" Sosok perempuan yang sebaya dengannya tengah berlari ke arahnya. Asel tahu siapa orang itu. Dia adalah Fevi, anak dari adik ibunya.
Fevi langsung mendekap Asel dengan erat. Air matanya ikut berderai melihat Asel yang kini menangis. Padahal Asel belum tahu apa yang terjadi, tapi rasanya air matanya keluar tanpa permisi.
"Kakak yang sabar, ya. Tante sama Om udah tenang di sana," ucap Fevi dengan lembut.
__ADS_1
Meski lembut tapi sukses mengguncang batin Asel dengan keras. Memporak porandakan jiwanya yang baru saja merasakan rasa bahagia. Dunia bahagia kini sudah runtuh dan musnah, yang tersisa kini hanya puing-puing rasa sakit yang teramat dalam.
Tangis yang sangat keras seketika mengudara beserta pekikan rasa putus asa. Orang tua yang ia sayangi kini telah tiada. Keluarga yang utuh kini hanya tinggal cerita lama. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menangis, menangisi kepergian abadi yang tak akan kembali.