Marriage Agreement With You

Marriage Agreement With You
Gamon


__ADS_3

Bunyi wajan beradu dengan sendok sayur menggema di area dapur. Ada tumisan sawi yang sudah hampir masak, tinggal beberapa kali dibalik dan proses pencicipan rasa, maka masakan sudah jadi. Setelah dirasa pas, Asel mematikan kompor dan menyalin sayurnya ke dalam mangkuk.


Tempe yang masih teronggok di atas meja tanpa perhatian kini ia hampiri untuk mengeksekusinya. Sekelebat ingatan tentang kejadian tadi sore membuat mood-nya mendadak jadi jelek. Hal ini berpengaruh dengan gaya mempotong tempe yang menjadi serampangan, dah hasil potongannya pun menjadi tak rapi dan terkesan "yang penting sudah terpotong".


Kekesalan yang nyata sangat ia curahkan pada rival ciloknya. Bagaiamana tidak, ia sempat dituduh sebagai penjahat karena ingin memeras harta neneknya dengan kedok menolong. Dan parahnya lagi Asel sampai dibuat nyaris emosi karena anak itu membawa-bawa kata orang tua. Jikalau sang nenek tidak memberi wejangan, mungkin Asel akan tendang "masa depannya".


Dalam hati Asel, ia tidak mau lagi berurusan dengan manusia macam itu. Sudahlah mulutnya kelewatan pedas, tingkahnya pun bikin orang gemas ingin menaboknya pakai raket nyamuk. Biarlah jadi gosong-gosong mantap.


Kesal karena harus mengingat kejadian menjengkelkan itu, Asel memilih untuk mencari ponselnya dan memutar lagu sebagai penghibur sekaligus pengusir rasa jengkelnya. Sampai tempenya selesai ia gorengkan pun ia berhasil menguasai dirinya untuk tidak uring-uringan lagi.


Tepat saat hendak menyuapkan nasi ke mulut, bunyi ketukan pintu dari arah ruang tamu membuatnya langsung bergerak ke arah sana. Tapi langkah kakinya seketika terhenti kala mendengar suara yang tak asing di telinganya.


"Sel! Buka pintunya dong!" teriak seseorang dari luar dengan suara ketukan yang terus menggema di dalam rumah.


"Sabar dikit napa, sih! Nggak sabar ya ketemu sama ayank bebeb?" ledek suara yang lain.


Asel langsung tercekat, ia tahu persis siapa saja pemilik suara tersebut. Tapi ia benar-benar tak ingin bertemu dengan keduanya lagi. Sudah ia putuskan untuk tidak lagi berkomunikasi lagi dengan orang-orang di SMA-nya. Tak mau lagi jika masalah itu harus diungkit, karena tak mungkin kedua temannya itu tidak mendengar rumor yang beredar tentang kedua orang tuanya. Malu dan takut sudah menghantuinya lebih dulu untuk tetap memilih diam di tempat.


Pintu masih diketuk tapi Asel tak juga menujukkan jati dirinya. Ia tak sanggup lagi untuk melihat Dina maupun Faisal. Biarlah kedua temannya itu pergi dam melupakannya, itu lebih baik sepertinya.


"Nyari siapa, Mbak sama Masnya? Nyari Asel, ya?" tanya seseorang yang Asel kenal sebagai tetangganya.


"Iya, Bu. Apa Ibu tahu dia kemana?" tanya Dina penasaran.


"Halah kalau Asel sih sekarang jadi anti sosial. Kalau dinasehatin nggak mau jawab. Lewat aja nggak mau nyapa. Sombong banget, padahal udah yatim piatu gitu. Tapi wajar aja, orang tuanya juga dulu kaya gitu, sombong setengah mati---"

__ADS_1


"Cukup, Bu. Saya nggak butuh informasi itu, saya cuma tanya keberadaan Asel," tukas Faisal.


"Oh iya, pasti gosip orang tua Asel yang bunuh diri karena nggak sanggup bayar hutang itu cepat menyebar. Apa kalian juga punya hutang sama dia?"


"Bu, jawab saja apa yang saya tanyakan!"


Asel yang di dalam langsung memilih kabur untuk kabur ke kamar tanpa menutup pintu kamarnya. Sengaja, agar kedua temannya tak tahu jika dirinya sedang ada di dalam rumah. Ia langsung menelungkupkan dirinya di atas kasur. Hatinya terasa sesak mendengar ucapan tetangganya barusan. Ingin sekali ia protes tapi apalah daya diri.


Ia tahu betul apa yang menyebabkan dirinya disebut sombong oleh tetangganya. Kejadian ini terjadi beberapa hari yang lalu, tepatnya selepas bibinya pergi untuk pulang ke kotanya.


"Asel kamu sekarang sendirian?" tanya tetangga Asel saat lewat pulang dari warung membeli telur.


Merasa disapa oleh tetangganya, Asel tak enak jika tak merespon. Ia menghentikan langkah kakinya lalu melihat ke arah lawan bicaranya. "Iya, Bu. Soalnya bibi sudah balik ke kotanya," tanggapanya seadanya.


"Jadi bayar hutang orang tuanya sendirian, nih?"


"Ohh ... kalau gitu jangan sampai 'jual diri', ya?"


Ia masih cukup waras untuk tahu mana batasan yang harus ia lakukan saat dirinya mencari uang. Meski nasihat itu baik, entah mengapa kata-kata itu terasa menyakitkan. Seakan dalam kalimat tadi terdapat kawat duri berkarat yang langsung menghujam jantungnya.


"Ya enggaklah, Bu," jawabnya sopan.


"Siapa tahu kan kamu punya keinginan. Soalnya kan kalau jual diri itu lumayan besar bayarannya. Apalagi kamu masih perawan, mungkin malah bisa sekalian lunasin hutang orang tuamu lagi."


Pegangan tanganya dengan kantong plastik mengerat. Ada rasa sesak tak kasat mata yang makin menjalar dalam rongga dadanya. Entah perasaan apa tapi ia benar-benar muak dibuatnya.

__ADS_1


Apakah semua yang ditanggungnya saat ini atas keinginannya sendiri? Tentu saja tidak. Andai dapat memilih, Asel ingin keluarganya masih utuh dan tak terlilit hutang, tidak seperti yang ia alami saat ini. Tapi ia yakin jika semua ini pasti ada hikmahnya.


Ya, Asel tahu. Salah satu hikmahnya adalah tahu bagaimana kelakuan asli tetangganya ini. Selama ini mereka hanya memakai topeng untuk terlihat baik, dan sekarang ia tahu bagaiamana sifat aslinya mereka. Sangat-sangat memuakkan.


"Tapi saya nggak tertarik, Bu." Asel mati-matian menahan diri untuk tidak termakan oleh emosinya sendiri.


"Terus jangan juga jadi pelakor, kasihan istri orang kalau kamu embat suaminya cuma buat mlorotin duitnya!" nasihatnya dengan nada yang terdengar menyebalkan di telinga asel.


"Nggak kok, Bu. Saya permisi dulu, tadi saya rebus air," alibi Asel yang hanya kebohongan semata.


Jika tidak ada yang namanya kesabaran, sudah pasti telur yang ada di dalam kantong plastik akan ia lempar ke wajah tetangganya tadi. Bagaimana bisa memberi nasihat dengan cara yang seperti itu? Bukannya membuat pendengarnya merasa nyaman, tapi malah ingin memaki. Ia masih manusia yang punya hati, akan sakit hatinya jika harus mendengar ocehan tak bermutu semacam itu.


Setelah itu Asel malas berurusan dengan tetangganya lagi. Tak hanya satu, beberapa tetangga yang lain juga kadang menyetopnya hanya untuk menayai apa yang dilakukan dan memastikan jika ia tak melakukan hal buruk, meski kalimatnya seperti sedang menuduhnya. Benar-benar menjengkelkan dan cukup membuatnya ingin menendang mereka satu per satu.


Selesai dengan hari kemarin, hari ini Asel akan mencoba untuk lebih bersemangat karena ia akan pindah. Dan rumahnya yang sekarang akan ia jual, lagipula ia sudah mendapatkan pembelinya dari iklan yang ia buat di media sosial barunya. Tinggal mengatur waktu saja untuk menyerahkan surat-surat dan ia bisa terima uang itu secepatnya.


Jaman yang semakin modern dengan ilmu dan teknologi yang semakin berkembang pesat membuat segalanya menjadi lebih mudah. Hal-hal yang tak ia ketahui pun bisa ia ketahui dengan bantuan internet browser, cara mudah untuk mengetahui dunia yang lebih rumit daripada sekadar mencari jawaban dari rumus phytagoras dan mengitung harga pokok penjualan. Begitupun soal penjualan rumah yang dilakukan oleh Asel, semua hanya modal berguru dengan internet.


Sekarang ia hanya perlu membawa beberapa barang-barangnya untuk ia pindahkan dengan mobil angkutan barang yang sudah ia sewa. Tentu saja kepindahannya menarik perhatian beberapa tangganya, dan tugasnya hanya perlu menjawab secukupnya serta menebalkan telinga jika mereka mulai berbicara hal-hal diluar batas. Karena setelah ini ia tak akan lagi mendengar ucapan mereka lagi, jadi buatlah kesan perpisahan yang baik, setidaknya seperti itulah yang dipikirkan oleh Asel.


Dalam sehari ini ia benar-benar cukup sibuk karena kepindahannya ke kontrakan yang baru dan juga soal jual beli rumah orang tunya yang akhirnya berhasil ia bereskan. Ia sudah merasa benar-benar bebas sekarang. Tak ada lagi tetangga yang menyebalkan untuknya, hanya ada ketenangan karena kontrakanya yang posisinya sedikit jauh dari rumah yang lain.


Ponsel Asel bergetar, ada panggilan dari Fevi saudaranya. Gara-gara ia mematahakan kartunya, ia kini hanya punya nomor telepon Fevi dan beberapa kontak yang tersimpan di telepon. Dan satu-satu orang yang paling dekat adalah Fevi, sepupu satu-satunya yang untungnya tipe manusia yang baik hati.


Beberap obrolan ringan dan aktivas yang dilakukan sehari-hari menjadi topik keduanya. Asel sejujurnya enggan mengobrol untuk menanyakan perkembangan kuliah dari Fevi, tapi ia juga penasaran. Lagipula ia bisa mengesampingkan rasa irinya untuk dapat memperpanjang obrolan keduanya. Sebab, hanya Fevilah tempatnya ia berkeluh kesah saat ini.

__ADS_1


Awalnya Fevi ragu, namun setelah dibujuk oleh Asel, akhirnya ia mau bercerita juga. Meski tak dapat melihat wajah Fevi secara langsung, tapi mendengar sepupunya bercerita dengan antusias, ia tahu jika Fevi bahagia menjalani kehidupannya. Tidak seperti dirinya yang harus menelan kenyataan pahit untuk mengubur cita-cita lamanya. Sebab sekarang cita-citanya hanya melunasi hutang orang tuanya.


__ADS_2