
Seperti kata-kata yang kerap beredar di media sosial, "Di tidurkan oleh rasa lelah, dibangunkan oleh mencari kerja dan disemangati oleh hutang", itulah kata-kata yang pas untuk Asel saat ini. Perempuan yang memiliki tubuh proporsional itu sudah siap untuk mencari pekerjaan dengan bermodalkan Surat Keterangan Lulus SMA, toh ijazahnya juga belom keluar. Jadi, hanya menggunakan SKL dan surat lamaran itu untuk menjadi modal utamanya mencari kerja seadanya.
Meski banyak hal buruk yang menyapa Asel akhir-akhir ini, tentu saja ada hal baik yang juga akan datang. Seperti saat ini, tanpa Asel duga jika ia menemukan selebaran lowongan kerja untuk tamatan SMA. Ada sebuah hotel mencari tenaga kerja untuk menjadi Cleaning Service . Tentu saja ini kesempatan yang tak boleh ia sia-siakan, sebab apa pun kerjanya, asal halal akan dilakukannya.
Semua berjalan lancar, sampai-sampai Asel tak percaya jika dirinya benar diterima dan boleh langsung bekerja hari ini. Saking senangnya, ia sampai melompat-lompat kecil di ruang ganti. Ia tak menyangka jika akhirnya ia merasa sesemangat ini setelah beberapa hari yang lalu hanya kesedihan yang menaungi dirinya.
Karena tak ada seragam yang baru, Asel menggunakan seragam bekas yang masih cukup layak dipakai. Minusnya hanya satu, kancing paling atas sudah tanggal. Tapi asel punya ide saat melihat ada stapler yang tergeletak di atas meja. Ia berencana untuk menstaples bagia kancing yang hilang dengan stapler karena ia tak punya peniti atau jarum pentul.
Sebagai pegawai baru, Asel ditugaskan untuk membersihkan bagian taman dari hotel yang banyak ditanami pohon dengan kursi-kursi yang tersebar di sekitarnya. Daunnya cukup banyak yang berguguran, membuatnya harus bekerja ekstra agar bisa segera bersih.
Usai beres-beres di bagian luar, Asel ditugaskan untuk membersihkan salah satu kamar hotel yang sudah ditinggalkan oleh orang yang sudah chek out. Lelah, tentu saja ia rasakan, tapi sekarang bukan saatnya untuk mengeluh. Harus semangat dan tetap giat agar bisa gajian adalah motivasinya sekarang, walau masih jauh hari gajiannya.
Karena masih baru, Asel belum bisa mengakrabkan diri dengan yang lainnya. Entahlah, beberapa orang malah seperti tak suka melihatnya tapi ia berusaha untuk abai. Seperti saat makan siang sekarang, ia hanya sendirian makannya.
"Hei, kamu karyawan baru, ya?"
Asel lantas menoleh dan tersenyum saat mendapati ada ibu-ibu yang duduk di sampingnya sekarang. Seragamnya dengan beliau sama, itu artinya beliau juga bekerja sebagai cleaning service.
"Iya, Bu. Ibu udah lama di sini?" tanya Asel sembari menyendok nasinya ke mulut.
"Ya ... sudah 3 tahun." Karena Asel hanya mengangguk saja, membuat ibu itu gemas karena masih ingin mengobrol tetapi lawannya seperti orang pendiam. Ia membuka kotak bekal yang ia bawa sendiri dari rumah lalu menawari apakah Asel hendak mencipi masakannya, tapi langsung mendapat tolakan halus. Sengaja bekal itu dinawanya agar jatah makan siang dari pihak atas digantikan menjadi uang tambahan gajinya.
"Kamu masih muda dan cantik, tapi kenapa kamu mau jadi cleaning service? Biasanya kan anak muda jaman sekarang nggak mau kerja jadi tukang bersih-bersih," tanyanya lagi.
Gerakan makan Asel seketika terhenti, ada kegetiran yang menjalar dalam relung hati, tetapi ia harus kuat. Sebuah senyum ia kembangkan. "Yang penting halal aja sih, Bu. Lagian cari kerja sekarang itu susah."
"Ibu bangga sama anak muda sepertimu. Semoga betan di sini, ya!"
Asel mengangguk mengamini. Ia berharap bisa tetap bekerja di sini, setidaknya sampai hutangnya lunas. Walau mungkin itu akan memakan waktu yang cukup panjang, mengingat bunga dari hutang yang membuat para peminjamnya terasa semakin hari semakin tercekik.
Ibu tersebut tertawa pelan, membuat Asel bingung karena rasanya tak ada yang lucu di sini. Rupanya ibu tersebut menertawakan dirinya yang tak memperkenalkan diri tetapi malah sudah bertanya macam-macam. Asel sendiri juga tak ada niatan untuk bertanya karena ia pikir ibu itu memang tak ingin akrab dengannya.
__ADS_1
Setelah melalui perkenalan singkat, akhirnya diketahui jika nama ibu tersebut adalah Bu Nosita, akrab di panggil Ita. Asel jadi merasa nyaman karena Bu Ita cukup baik padanya. Rasa rindu kepada sang ibu jadi sedikit terobati karena ia mendapatkan kebaikan beliau.
Disela kegiatan makan, ada beberapa karyawan yang lain malah menggosipkan Asel. Hujatan samar-samar dapat ia tangkap dari orang-orang yang tak menyukai. Ia di cap sebagai perempuan yang sengaja mencari muka untuk mendapat pengakuan dari pihak atasan. Dan yang sedikit memancing emosinya adalah gara-gara staples yang ia kenakan di kancing. Mereka menganggap jika Asel sengaja melepaskan kancing dan menggantinya dengan staples agar bisa digunakan untuk menggoda orang lain.
Gara-gara mendengar tuduhan tersebut Asel sampai harus mengemasi makan siangnya karena selera makannya sudah hilang. Bosan sekali jika harus mendengar ocehan yang tidak mengenakan terus. Sudahlah cukup di rumahnya yang dulu, jangan sampai di tempat kerjanya juga.
Tapi akhirnya Asel melanjutkan makannya di tempat lain dengan ditemani oleh Bu Ita. Beliau juga memberikan nasihat bijak pada Asel untuk tidak terlalu mengindahkan apa yang mereka ucapkan, karena memikirkan apa yang mereka ucapkan hanya akan melukai diri sendiri. Alangkah lebih baik untuk melupakan dan fokus pada tujuan utama dari kerja itu sendiri.
Asel merasa senang karena masih ada yang peduli dengannya. Setidaknya dengan mendengar ucapan dari Bu Iya membuat mood-nya menjadi bagus lagi. Ia harus lebih fokus pada tujuannya bekerja di sini, bukan memfokuskan diri untuk mendengar omongan orang yang tak menyukainya. Setidaknya perasaan bagus itu bertahan sedikit lama sebelum akhirnya harus melihat presensi orang asing yang tak terlalu asing.
Dari kejauhan pun Asel tahu jika orang yang sedang menelepon sambil berjalan itu adalah kakak dari Rival Ciloknya. Sengaja disebut "Rival Cilok" karena memang pertemuan pertama dengan orang yang seusia dengannya karena berebut cilok, dan orang yang kini tengah menelepon dengan setelan baju jas rapi itu adalah kakaknya. Jika sudah ada kakaknya di sini, tak menutup kemungkinan jika Rival Ciloknya juga ada di sini sekaang. Ini sesuai dengan hasil dari dua kali pertemuan yang selalu bersama.
Saat netranya bertemu dengan netra kakak Rival Cilok, spontan Asel langsung menelungkupkan wajahnya di atas kedua tangan yang ia letakkan di atas meja. Jantungnya jadi berdebar-debar, takut jika orang itu mungkin akan mengatakan dengan Rival Cilok dan akan ada keributan lagi. Ia sangat berharap jika orang di sampingnya sekarang bukan bagian dari keluarga Rival Cilok, jadi ia bisa tenang bekerja di sini.
"Sel, kamu kenapa?" tanya Bu Ita yang bingung dengan gelagat Asel yang tiba-tiba berubah.
"Ibu lihat ada orang berjas biru dongker yang lagi telvonan di dekat taman nggak?" balas Asel yang malah menanyakan hal lain, bukannya menjawab apa yang ditanyakan oleh Bu Ita.
Asel nyaris saja memprotes keras karena pertanyaan Bu Ita yang terdengar ngawur. Mana mungkin dirinya mau pacaran dengan orang yang pantas disebut om itu, dan mana mungkin orang berkedudukan seperti itu mau pacaran dengan orang sepertinya. Itu adalah kemustahilan yang mutlak dan tak dapat diganggu gugat lagi.
"Bukan, Bu. Saya cuma pernah ada pertemuan tidak mengenakan dengan adiknya," jawab Asel jujur dengan tetap mempertahankan posisinya.
"Eh, Pak Marsel berjalan ke arah sini," balas Bu Ita yang jadi ikut berbisik.
Jantung Asel makin tak karuan, rasa takutnya pun kian menjadi. Takut jika Marsel mengenalinya tadi dan yang paling tidak bisa ia bayangkan adalah jika ia langsung dipecat di hari pertama kerja karena adiknya dijadikan alibi.
"Bu Ita, kenapa temannya?" tanya Marsel melirik sekilas ke arah Asel yang masih setia dengan posisi awalnya.
"Ah, ini Pak. Dia lagi punya masalah hutang, sekarang lagi sedih karena tidak punya tempat untuk meminjam uang," jawab Bu Ita asal tapi tetap berusaha untuk terlihat meyakinkan di mata atasannya itu.
Asel yang masih menelungkupkan wajahnya dibuat kaget karen jawaban Bu Ita malah seperti tahu apa yang tengah ia rasakan, bedanya ia tak lagi mencari tempat meminjam uang. Ia hanya butuh uang banyak agar hutangnya dapat segera lunas tanpa harus berhutang lagi. Jika masih berhutang, itu namanya gali lubang tutup lubang.
__ADS_1
Marsel mengangguk paham. "Ya sudah, kalau begitu bilang saja, suruh kerja yang rajin di sini, siapa tahu bisa dapat kenaikan gaji."
Dalam diam Asel mendumel atas sikap sok baik atasannya itu, tapi ia juga punya keinginan agar orang itu tak ada di tempat ia kerja sekarang. Rasanya tak nyaman karena ada bayang-bayang Rival Ciloknya.
"Baik, Pak. Terimakasih banyak sarannya."
Marcel hanya mengangguk lalu melanjutkan perjalananya yang sempat ia tunda.
"Wah, Pak Marsel memang calon suami idaman dan pengertian. Rasanya Ibu mau jadi fansnya aja," kelakar Bu Ita setengah serius. Serius mengatakan pengertiannya namun tak ada niatan sungguh untuk menjadi fansnya.
Asel langsung menegakkan kembali tubuhnya. Sedari tadi dalam posisi seperti itu membuatnya bosan karena hanya melihat meja yang gelap. Ia menoleh ke arah belakang untuk memastikan jika orang yang ia hindari sudah tak ada lagi. "Jangan gitu, Bu. Orang rumahnya mau dikemanain," balas Asel bercanda.
"Eh, kamu cemburu, ya?" goda Bu Ita sembari menyenggol-nyenggol siku Asel.
Mata Asel membola. Tuduhan macam apa itu. "Apaan sih, Bu? Laki-laki banyak, masa saya milih yang model begituan." Asel lalu membereskan bekas makannya saat sadar jam istirahat sudah hampir berakhir. "Saya mau siap-siap kerja lagi, Bu. Kalau ngobrol sama Ibu terus nanti otak saya tercemar sama Pak Marsel," candanya lalu berjalan lebih dulu.
Bu Ita hanya tertawa saja melihat Asel yang pergi lebih dahulu. Bercanda dengan anak muda ternyata juga cukup seru. Seperti bercanda bersama dengan anaknya sendiri.
***
Haaaahh ... 😧
Walau nggak ada yang baca tapi aku berusaha untuk tetap semangat 😊
Jika ada yang baca sampai sini, jangan lupa tinggalin like dan komentar ...
Terimakasih
Salam💜
Auhor Ter-Entahlah (wkwk)
__ADS_1