Marriage Agreement With You

Marriage Agreement With You
Salah Paham


__ADS_3

...PERINGATAN: BAB INI MENGANDUNG UNSUR YANG BERSIFAT SENSITIF, PEMBACA HARAP BIJAK MENANGGAPI....


Hari yang melelahkan di hari pertama Asel bekerja. Kasur menjadi saksi bisu tubuh yang sudah kecapekan itu  beristirahat di atasnya. Untuk mandi saja rasanya ia enggan, hanya ingin tidur sejenak baru kemudian mandi. Namun sayangnya realita membangunkannya di pagi hari.


Beruntungnya hari ini ia sedang ada uji coba untuk kerja shif malam, jadi selama pagi hingga sore nanti ia bisa bersantai ria selayaknya pengangguran. Tapi karena belum mandi dari kemarin malam, Asel memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.


Usai badanya menjadi lebih segar karena mandi, niat untuk bersantai ria menjadi menguap entah kemana. Ia malah iseng membuat kue bolu kesukaan ibunya dulu. Bolu pisang.


Awalnya dibuat untuk dimakan, tapi setelah jadi malah hanya ia pandangi saja. Potongan memori saat ibunya tersenyum sembari memakan kue membuat dadanya kembali sesak. Semakin sesak saat gambaran ia bersama keluarganya bercanda tawa saat menikmati kue tersebut. Ayah yang gemar merebut kue miliknya lalu akan dimarahin oleh ibu karena berani mengganggu anak kesayangannya.


Asel tertawa sembari menangis. Ia menertawakan sekaligus menangisi kehidupannya yang sekarang ia alami. Rasanya takdir seperti sedang mempermainkannya dalam hidup yang penuh dengan derita. Tapi apa juga yang bisa ia lakukan selain harus bertahan dan berjuang? Mengadu pada langit atau ingin memaki takdir juga tak ada gunanya.


Foto keluarga yang ia pajang kini telah ada dalam dekapannya. Dipeluknya erat dengan mata terpejam. Membayangkan diri tengah memeluk keluarga yang kini meninggalkannya. Saling bertemu dalam balutan rindu, membuncah dari kalbu dan menguraikan segala rasa yang selama ini membelenggu.


Puas menangis, rasa lapar akhirnya menggoda Asel untuk mencomot kue buatannya. Rasanya tak jauh beda dengan buatan ibunya, tapi Asel lebih suka jika yang membuat ibunya. Sekarang ia harus terbiasa dengan kehampaan yang ada. Mencoba menikmati hidup yang seperti black mocca. Awalnya pahit, namun akan ada rasa manis dibagian akhirnya. Ya, setidaknya itu lebih baik ketimbang menelan pil pahit tanpa ada efek sampingnya.


Tanpa terasa waktu terus berjalan hingga akhirnya menggiring Asel pada malam hari yang sudah menyapa. Ia sudah berusaha untuk bekerja sebaik mungkin dengan bantuan senior yang membimbingnya. Beruntung seniornya bukan salah satu dari manusia-manusia yang menggosipkannya kemarin.


Jam sudah menujukkan pukul 11 malam, rasa sakit perut untuk pergi ke kamar mandi mulai terasa, tapi ada satu kamar yang harus ia cek terlebih dahulu. Seniornya meminta untuk memastikan apakah sudah rapi atau belum kamar yang dimaksudnya. Dengan setengah berlari ia menyusuri lorong yang cukup sepi dan mendadak menujukkan kesan horor. Tepat saat ia melewati salah satu kamar, ia malah bertabrakan dengan seorang perempuan yang terlihat sangat modis dari penampilannya, tapi entah kenapa sebuah handuk olahraga malah bertengger di lehernya.


"Maaf, Kak. Tadi saya tidak melihat karena buru-buru!" ucap Asel seraya menakupkan kedua tangan di depan dada dengan pandangan menghadap ke bawah sebagai bentuk penyesalan.


"Nggak papa. Saya juga minta maaf, karena saya juga buru-buru," jawab perempuan itu yang langsung melesat pergi berlawanan arah dengan Asel.


Karena insiden tabrakan, ia hampir lupa tujuan utamanya. Baru selangkah Asel hendak pergi, tangannya sudah dicekal oleh orang lain. Saat menoleh, ia nyaris berteriak karena malah bertemu dengan anak dari pemilik hotel, alias kakak Rival Ciloknya. Yang membuatnya berteriak bukan hanya melihat siapa orangnya, tapi orang itu hanya mengenakan celana setinghi lutut tanpa baju.


"Masuk, bantu aku dulu!" titannya pada Asel tanpa mau adanya penolakan, sampai-sampai tangan Asel ditarik paksa untuk memasuki kamar yang disewanya.


"Maaf, saya itu masih banyak kerjaan, Pak!" Asel hendak meraih gagang pintu lagi. Ia harus ke toilet terlebih dahulu karena sakit perut yang sedari tadi ia tahan.


"Eeets! Kamu mau dipecat!"


Asel terdiam. Ia kesal dan benci saat keadaan yang genting seperti ini ia malah mendapat ancaman. Padahal sudah berniat tak ingin bertemu dengan atasannya, tapi sekarang malah harus terjebak dengannya dalam kamar.


"Kalau begitu, izinkan saya ke toilet dulu," mohon Asel yang tetap berusaha untuk bersikap sopan. Ini hanya alibinya untuk bisa kabur, dari kamar yang mungkin saja sangat berbahaya untuknya.


"Oh, silahkan. Tapi jangan lama-lama."

__ADS_1


Baru selengkah hendak kabur keluar dari kamar, tapi niatnya kembali urung karena interupsi dari orang yang ada di belakangnya.


"Mau ke mana?" tanyanya dengan nada curiga.


Asel lantas membalikkan badannya, tak sopan jika ia berbicara menghadap ke arah lain. "Toilet, Pak," jawabnya kalem.


"Kamu pikir di sini nggak ada toilet juga?" tunjuk Marsel pada sebuah pintu yang ada di kamar.


Dengan wajah pasrah akhirnya Asel menurut. Tapi dalam benaknya masih bertanya-tanya juga alasan kenapa harus dirinya yang disuruh membantunya. Bukankah karyawan di sini cukup banyak? Dan lagi, bukankah kamar ini adalah tempat keluarnya perempuan yang tak sengaja ia tabrak tadi?


Bulu kuduk Asel meremang, ia jadi takut jika atasanya akan melakukan hal yang tidak-tidak. Ditambah lagi ia tahu jika dirinya sedang butuh uang untuk membayar hutang. Apakah beliau berniat untuk ....


Asel langsung menggeleng cepat berusaha untuk mengenyahkan pikiran-pikiran negatif yang sempat bersarang di otaknya. Ia harus tetap berpikir tenang dan mencari hal positif yang akan dilakukan oleh atasannya. Ia berusaha yakin jika atasannya bukan pedofil.


Urusan perutnya sejujurnya sudah selesai, tapi ia malah berlama-lama karena ketakutan yang melandanya. Mau sekeras apa pun beepikir positif, pikiran negatif juga tak bisa langsung pergi begitu saja. Malah pikirannya semakin parah karena teringat kejahatan seksual yang cukup banyak terjadi.


"Woi! Kamu mati apa semedi?" teriak orang dari arah luar kamar mandi.


Asel tersentak, entah sudah berapa lama ia di sini, tapi jika ia tak keluar dari sini tentu saja bisa disangka mati karena tak kunjung keluar. Dengan memantapkan hatinya dan berdoa semoga semua baik-baik saja, Asel akhirnya keluar.


Marsel menatap tajam pegawainya itu. "Cepat bantu beres-beres kamar ini!" titahnya.


Selimut berserakan di lantai, bantal yang susunannya tak beraturan, lalu di lantai ada dua buah botol minuman alkohol dengan bau tak sedap, bekas makanan cepat saji, botol bekas air mineral dan ada beberapa butir obat yang Asel sendiri tak tahu jenis obat apa itu. Pikirannya hanya memungkinkan jika atasannya itu menggunakan obat terlarang. Semua sampah sudah ia masukkan ke dalam plastik hitam untuk siap ia buang secepatnya.


Marsel sedikit bercerita jika dirinya akan diinspeksi oleh ayahnya yang mendadak datang. Makanya ia harus segera menyingkirkan barang-barang yang berbau negatif itu secepatnya. Sebagai pegawai di hotel, Asel harus menuruti permintaan atasannya, jika ingin berumur panjang dengan pekerjaannya. 


Saat hendak keluar, netra Asel membulat mendapati orang yang tak asing baginya. Ia pernah melihat paras orang itu di foto dekat meja resepsionis. Orang itulah pemilik dari hotel tempat ia bekerja, yang artinya ayah dari kakak Rival Cilok. Spontan ia menutup kembali pintu dan mendapati atasannya tengah mengenakan kemejanya.


"Pak, ayah Bapak ada di depan," ucap asel yang jadi ikutan panik, genggaman tangannya di plastik menjadi semakin erat karena beracampur perasaan cemas.


"Apa?" Marsel terlihat tak kalah panik. Ia langsung meminta plastik tersebut untuk disembunyikan di bawah tempat tidur, sementara Asel diminta untuk berjongkok dengan sedikit membungkuk di dekat koper, setelahnya Marsel menutup tubuhnya dengan jas.


Jantung Asel tak karuan selama di posisi itu. Ia takut ketahuan dan malah dituduh macam-macam. Padahal ia ingin mencari aman dengan bekerja secara baik-baik, tapi jika di hari kedua sudah seperti ini, harapannya jadi setipis kulit bawang merah.


Bunyi gebrakan pintu yang cukup keras nyaris membuat Asel berteriak kaget. Tapi sebisa mungkin ia mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan berusaha tenang. Jika tubuhnya sampai bergetar karena ketahuan, maka tamat sudah riwayatnya saat itu juga.


Terdengar suara obrolan yang ia duga sebagai pasangan ayah dan anak di dalam kamar, lalu ada suara orang lain yang tak Asel kenal. Ketiganya terlibat interogasi yang berpusat pada Marsel. Tak cukup lama, hanya sekitar lima menit lalu selesai karena ada panggilan darurat untuk orang yang memiliki hotel ini.

__ADS_1


"Sekarang kamu boleh keluar!" ucap Marsel sembari menarik jas yang menutupi Asel.


Asel merasa lega karena akhirnya ia bebas dan melanjutkan pekerjaannya. Tapi ada hal lain yang kini ia cemaskan. Sebelum ia ditarik ke kamar ini, seniornya meminta untuk mengecek salah satu kamar, dan sampai sekarang belum ia lihat sama sekali.


Sembari berjalan ia memikirkan alasan yang tepat karena dirinya yang tak juga memberi konfirmasi. Haruskah ia jujur jika atasannya memintanya untuk membantu membereskan kamar? Atau ia malah berbohong jika sakit perut di toilet sampai setengah jam.


Pintu Asel buka, pikirannya seketika buyar kala mendapati sepasang pantofel yang tak jauh dari tempat ia berdiri sekarang. Yang menjadi masalah bukan sepatunya, tapi pemiliknya. Saat netranya ia edarkan ke atas, jantungnya rasa copot detik itu juga. Dia adalah Arhan Tarihoran, orang yang sama dengan pemilik hotel.


"Kenapa kamu berdiri di sini terus---" Marsel tercekat saat melihat papanya ada di depan pintu kamarnya dengan tatapan menyorot tajam.


"Marsel! Apa yang kamu lakukan dengan cleaning service ini?!" bentak Arhan dengan penuh kemurkaan.


"Dia cuma bantu Marsel yang beresin kamar aja, kok," jawab Masrsel jujur.


"Lalu kenapa kancing bajunya bisa lepas juga? Kamu paksa dia?" tanya Arhan dengan nada lebih tinggi.


Asel spontan meraba kancing bajunya yang terpasang staples. "Bu-bukan, Pak. Ini dari awal memang kancingnya sudah lepas, jadi---"


"Diam kamu!" Arhan membentak yang langsung membuat Asel terdiam dengan wajah ketakuatan. "Kamu dibayar berapa sama anak saya sampai mau menidurinya dan membelanya?!"


Asel hanya diam saja tak berani berucap, lagipula ia memang disuruh diam. Padahal dalam hati ingin nenjawab dengan lantang. "Saya tidak sudi tidur dengan om-om macam dia!"


"Pa, Marsel udah nggak kaya gitu lagi, kok. Dia beneran cuma bantu Marsel beres-beres aja," kekeh Marsel. Karena memang ia melakukan hal itu dengan orang lain, bukan dengan karyawannya. "Soal kancing baju juga emang dari awal udah begitu. Makanya karyawan itu dikasih seragam yang layak," cibir Marsel.


Manajer dari hotel datang membawa salah satu kepala cleaning service, yang tak lain adalah senior dari Asel. "Pak, saya sudah bawa orangnya,"


Asel semakin takut dibuatnya, takut jika akan ada masalah lagi yang menyapanya.


"Oh, bagus." Arhan melirik ke arah senior Asel. "Sekarang saya mau tanya, apa anak ini memang bekerja untuk membereskan kamar 409?"


"Tidak, Pak. Karena sebelumnya saya menginstruksikan untuk mengecek kamar 412. Tapi sekitar setengah jam dia tidak kembali, dan saya baru melihat dia lagi," jawab sang senior dengan jujur.


"Hm ... 30 menit, ya?" Mata Arhan berganti menyorot tajam ke arah Asel. "Cukup lama kalau hanya untuk sekedar membereskan kamar, kan?"


Mati. Rasanya Asel ingin mati saja saat ini, daripada mengahdapi kenyataan yang membuatnya serasa ingin mati.


...***...

__ADS_1


...Terimakasih banyak untuk yang sudah baca 💜...


__ADS_2