
Sudah seminggu sejak Asel ditinggal oleh kedua orang tuanya, kondisinya kini masih belum stabil. Selama dua hari ia hanya bangun lalu pingsan saat ingat orang tuanya telah tiada. Lalu, di hari ketiga dan keempat kerjaannya hanya menangis dan mengurung diri di kamar. Beruntung di hari kelima sampai sekarang Asel sudah mau keluar kamar meski tatapannya kadang kosong.
Fevi selaku sepupunya merasa kasihan melihat kondisi Asel sekarang yang masih menyedihkan. Disuruh untuk makan pun susah sekali, tak heran jika badannya kini telah disulap bak tengkorak berkulit. Ditambah lagi beberapa tetangga yang malah memperburuk menyebarkan rumor jika orang tua Asel bunuh diri karena dikejar-kejar rentenir. Orang tua Asel sengaja menabrakkan diri ke pembatas jalan saat pihak rentenir mengejarnya.
Fevi tahu jika orang tua Asel terlibat hutang dengan rentenir yang nilainya tak sedikit. Meski sudah dibayarkan oleh ibunya untuk dua bulan, tapi tetap saja hutangnya tak bisa langsung lunas karena bunga yang membengkak dan jangka waktu yang diambil cukup panjang. Ia menolak percaya jika memang orang tua Asel bunuh diri, saat ibunya mengatakan hasil laporan dari kepolisian tentang kondisi mobil orang tua Asel yang dalam kondisi baik. Bahkan Fevi memohon ibunya untuk merahasiakannya agar sepupunya tak semakin sedih.
"Sel, cobain deh bolu pisang buatan ibuku, rasanya enak loh!" tawar Fevi sembari meletakkan piring berisi potongan kue di atas meja belajar Asel.
"Kamu enak, ya. Kamu masih punya orang tua," lirih Asel dengan nada sedih.
Fevi terdiam, niat hatinya ingin menghibur sepupunya, tapi malah membuatnya sedih karena harus ingat orang tuanya yang sudah tiada.
"Maaf, Sel." Fevi langsung memeluk Asel yang kembali terisak. "Kamu harus kuat, kamu nggak boleh gini terus, Sel! Orang tuamu pasti sedih kalau kamu terus-terusan kaya gini."
"Aku ... aku masih sulit---"
"Sstt ... kamu nggak boleh gini terus. Sekarang saatnya kamu harus bangkit. Udah cukup kamu terus-terusan bersedih." Fevi mengusap-usap bahu saudaranya. "Kamu tahu kan kalau aku harus pulang nanti, jadi kamu harus bisa berjuang dan nggak boleh nyerah!" peringatnya.
Kesedihan memang boleh, namun jika sampai larut dalam kesedihan tanpa ujung, itu sama saja dengan bunuh diri. Memang terasa berat bagi Asel untuk bangkit dari keterpurukan yang cukup menyakitkan, namun siapapun pasti punya masalah, dan pilihannya adalah bangkit atau mau tetap jalan di tempat.
Situasi yang mengharuskan Asel untuk kembali bertahan, kewarasannya perlahan sudah kembali setelah beberapa kali ia ingin mengakhiri hidupnya. Ia sadar jika ia menyusul orang tuanya, ia hanya akan membuat beban bibinya semakin berat. Perkataan pamannya tempo lalu yang secara diam-diam benar-benar membuatnya tertampar cukup keras.
"Heh, bocah! Kau nggak sadar kalau udah nyusahin paman sama bibimu terus? Kau itu jadi manusia harus berguna sedikit, jangan kaya orang tuamu yang kabur dari tanggung jawab dengan jalan mati," ucapan yang terucap pelan itu begitu terasa begitu menusuk hingga ke bagian jantung yang paling dalam. Memberikan rasa sesak dalam dada bersama air mata yang kembali mengalir.
"Kalau kau sampai coba-coba mau mati, berarti kau lebih buruk dari orang tuamu yang nggak berguna itu! Kerjaannya cuma ngutang dan jadi pengecut pas ditagih!" Kalimat pamungkas yang membuat dada Asel bergemuruh ingin marah. Ingin rasanya ia membalas ucapan pamannya yang menyakitkan itu, tapi daripada itu, ia akan membuktikan secara langsung jika dirinya tak seperti orang tuanya dan ia tak akan menyusahkan pamannya lagi.
Saat bibinya pergi, ia dititipi sebuah kartu ATM dengan sandi untuk digunakan jika ada keperluan mendesak, tentu saja Asel tak terima, tapi akhirnya menerima karena sudah didesak. Jujur saja, sekalipun ia merasa banyak tekanan dalam hidupnya, tapi merepotkan terus bibinya juga membuatnya tak nyaman. Apalagi pamannya terang-terangan seakan merasa terbebani olehnya. Makanya waktu ia ditawari untuk tinggal bersama keluarga Fevi, ia menolak.
Selama dua hari selepas kepergian bibinya ia masih di rumah saja, memutar beberapa ceramah dari beberapa tokoh agama untuk menga
utakan batinnya. Setidaknya dengan cara itu, keinginnya untuk menyerah dan mati bisa ia tendang jauh-jauh. Seperti kata yang pernah ia dengar, berjuangalah untuk tetap hidup, karena hidup penuh perjuangan. Jadi, ia harus tetap berjuang untuk melanjutkan hidupnya agar tak menjadi kesia-siaan untuknya.
__ADS_1
Beberapa barang yang bisa dijual pun sudah Asel jual untuk dijadikan pundi-pundi rupiah untuk melunasi beberapa hutang orang tuanya di tempat lain, dengan jumlah tak banyak. Setidaknya dengan berkurangnya barang di rumah, ia bisa menjual rumahnya dan menyewa kontrakan yang lebih murah. Soal rentenir, mau ia pindah kemana pun pasti akan diketahui, jadi tak ada ceritanya ia bisa kabur dari hutang.
Diliriknya ponsel kartu telepon yang sengaja ia lepas karena malas berhubungan dengan teman-temannya. Karena dorongan rasa penasaran akhirnya ia pasang juga. Beberapa notifikasi langsung muncul di layar bagian atas. Paling banyak notif dari aplikasi chatting. Ada beberapa temannya yang berbela sungkawa, tapi ada juga yang malah kepo dan menanyakan perihal kaitan meninggal dan hutang orang tuanya. Jujur, itu membuat hatinya kembali sakit.
Malas menambah rasa sakitnya, ia memilih untuk melepas kembali kartu perdananya dan langsung ia patahkan, kemudia melayang cantik ke arah tong sampah. Ia sudah bertekad untuk memulai harinya dari awal, tak akan ia biarkan masa lalunya mengungkit-ungkit hal yang ingin ia simpan rapat. Bahkan rencana pindahnya juga ada campur tangan dari tetangganya yang bermulut tajam.
Seolah punya buku tentang aib orang lain, para tetangga gemar merumpi dan membeberkan aib orang tua Asel. Hampir tiap hari mendengar ocehan yang memuakan itu, membuatnya benar-benar merasa malas untuk tetap tinggal di rumah. Maka pindah dan jauh dari orang-orang yang menyebalkan itu rasanya lebih baik. Toh, tetangga barunya nanti tidak tahu masa lalunya.
Hari ini ia berencana untuk mencari kontrakan yang bisa ia tempati untuk sementara waktu, sembari ia juga mencari uang agar hutang orang tuanya bisa segera dilunasi. Bermodalkan dengan motor second yang dibelinya, ia mulai mencari lokasi yang sedikit jauh dari area tempat tinggalnya sekarang.
Beberapa kali ******* rasa lelah lolos begitu saja dari bibirnya. Hidup memang kadang sulit ditebak dan penuh kejutan. Kemarin ia bisa bermanja ria dengan orang tuanya, mana tahu jika hari mendatang ia harus berjuang sendirian. Cita-citanya harus kandas. Masa bahagianya juga sudah kandas dan hanya menyisakan puing-puing harapan yang entah akan terwujud atau tidak. Sederhana saja, harapannya hanya ingin hutang orang tuanya lunas secepatnya.
Setelah berhasil mendapatkan satu buah kontrakan kosong, Asel akhirnya bisa bernapas lega. Harga yang dipatok juga tak terlalu mahal, sehingga cita-citanya untuk hidup hemat mudah terwujud. Setidaknya sebelum ia menemukan sebuah penjual cilok di pinggir jalan. Hemat pun menjadi angan-angan saja.
Pembelinya yang tak banyak menjadi pertimbangannya untuk membeli jajan anak sekolah yang ramah di kantong itu. Lagipula sesekali jajan rasanya tak ada salahnya, alibinya.
"Bang, mau---"
"Saya duluan!" sela seseorang sembari menyenggol bahunya cukup keras. "Beli ciloknya dua puluh ribu!" imbuhnya dengan gaya petantang petenteng sok keren.
"Saya duluan, Bang. Saya kan sampai lebih dulu," protes Asel sedikit tak terima.
Bukankah ada budaya mengantri? Lantas mengapa orang di sampingnya ini berlagak seolanh tukang cilok ini adalah bawahannya yang bisa seenakanya ia suruh.
"Woi! Gue duluan yang sampai, jadi lo mundur aja!" titah si lelaki tengil dengan seenakanya.
Tak terlaku mengkagetkan jika perilaku anak tersebut jauh dari sopan santun. Dari sekali lihat Asel juga tahu jika tampangnya yang sangar dengan rambut yang acakan-acakan dan baju yang tak ada rapi-rapinya itu bukan manusia berkategori baik-baik. Julukan senagai preman jalanan lebih cocok disematkan padanya. Justru kalau lelaki itu malah bertutur kata lembut, Asel bisa pingsan ditempat saking kagetnya.
Malas beribut, Asel memilih mengalah. Tipikal manusia yang tak mau mengalah seperti itu memang bagusnya diawetkan menjadi balokan es di Antartika. Luamayan 'kan untuk pajangan beruang kutub di dalam guanya.
"Oi, Dek! Ngalah dikit sama cewek tuh!" celetuk orang lain. "Bang, cewek yang unyil ini aja duluan," titahnya pada pedagang cilok.
__ADS_1
"Eh? Cewek unyil?" batin Asel setengah kesal. Dia tidak kecil, tetapi malah seenaknya dikatain unyil.
"Apaan sih, Kak! Kan gue---"
"Mau Kakak bilangin sama Mama kalau kamu jajan terus di pinggir jalan!" sanggah sang kakak telak.
Asel tak mempedulikan lagi ocehakan kakak beradik yang sedang beradu argumen itu, yang terpenting pesanannya sudah dibuatkan. Tak sampai satu menit pun pesanannya sudah jadi. Ia juga hanya membeli jajanan tersebut lima ribu, jadi isinya juga hanya 10 biji cilok.
Asel nyaris melupakan satu hal, ia harus berterimakasih dengan kakak dari manusia yang minus adab tadi. Selain sudah membuatnya mendapat giliran lebih awal, perdebatannya dengan sang adik membuatnya tak terganggu saat membeli.
"Makasih, Om!" ucap Asel pada lelaki yang statusnya kakak dari orang menyebalkan itu.
Terdengar suara tawa yang cukup keras dari orang yang menyebalkan itu. Niatnya memang berterimakasih, tetapi menyebut dirinya unyil juga tak bisa ia terima begitu saja. Toh, orang yang membantunya juga cocok di panggil Om. Umurnya mungkin sudah 26 tahun.
Sembari berjalan menuju motor yang terparkir ia memakan sebuah cilok miliknya. Ia memacu kendaraannya menuju pasar. Ada beberapa sayuran yang harus dibelinya untuk makan nanti malam.
Karena memang pasar buka nyaris 24 jam, jadi persediaan sayuran meski sudah siang begini masih banyak. Ia hanya membeli satu ikat sayur sawi dan bayam. Lalu untuk lauknya hanya membeli tempe dan tahu.
Di parkiran ia melihat sosok wanita tua dengan baju sederhana membawa sebuah tas belanja berisi sayuran. Perempuan yang sudah layak dipanggil nenek itu berdiri di pinggiran toko yang panas. Wajar, karena yang teduh digunakan untuk tempat berjualan. Padahal nenek itu sudah di sana sejak Asel masuk, tapi sampai sekarang belum pulang juga. Ia lantas mendekat ke arah wanita tua itu.
"Misi, Nek. Nenek mau pulang sendirian atau lagi nunggu jemputan?" tanya Asel sopan.
"Nunggu cucu saya jemput, tapi nggak tau ini kok belum dijemput-jemput," jawabnya sembari mengusap peluh yang sedari tadi membanjiri wajahnya.
"Rumah nenek di mana? Boleh saya antar?"
Setelah menujukkan alamat sang nenek yang tinggal di daerah perumahan Permata Indah Jaya, nenek tersebut setuju untuk diantarkan. Beliau bercerita jika ia sudah menunggu nyaris satu jam lebih, tapi cucunya tak kunjung pulang. Hal ini membuat keinginan Asel untuk mengantar sang nenek lebih besar. Ia takut jika nenek tersebut sengaja di buang, mengingat rumah dan pasar jaraknya cukup jauh, dan perumahan tersebut banyak dihuni para konglomerat. Setidaknya itu yang ia tahu dari sahabatnya, Dina.
Asel cukup terkagum-kagum saat menyasikan deretan rumah mewah yang ia lewati sepanjang kompleks perumahan. Sebuah mobil menyalip dan langsung berhenti di depannya, membuatnya kaget dan melakukan pengereman mendadak. Beruntung tak sampai jatuh.
Dua orang lelaki keluar dari mobil dan langsung menghadang di belakang mobil, tangannya bersedekap dada. Sok keren sekali, batin Asel.
__ADS_1
"Woi, turunin nenek yang di belakangmu!" titah si lelaki menyebalkan yang tak lain adalah rival ciloknya tadi.
"Mereka ini tukang culik anggota keluarga orang kaya, ya?" gumamnya pelan.