
Aku, Auliani Tamrin. Seorang wanita yang memimpin sekelompok preman yang kehilangan arah. Terpaksa menikahi musuhku sendiri karena orang tua yang meminta dan jika aku tidak menerimanya dunia pasar akan dihancurkan oleh nya.
Sialan! Kenapa aku harus begini! Apa dia menjebak ku?
Perselisihan kami ketika salah satu preman di jalan aku bantu dan masuk menjadi bawahanku, hehe bodohnya aku tidak menanyai asalnya dulu, apa dia punya kelompok lain atau apa? aku langsung merekrutnya.
Yang ku bantu itu adalah Reyand, anggota musuhku yang sekarat di jalanan. Aku menganggap nya preman karena tampang wajahnya memang seperti preman, berkumis, berjanggut, celana bolong, memiliki tatto dan bekas luka di wajahnya.
Musuhku adalah suamiku yang bernama Astara Sambo, dari keluarga Sambo yang kaya raya. Dia mempunyai geng jalanan yang anggota nya orang MMA semua, jago petarung. Sedangkan kelompok premanku, hanya petani jalanan, ya cabut uang dari dompet orang lain dijalan. Tidak lupa dengan kunci motor nya dan juga jago begal, terlalu jauh dari geng jalanan milik suamiku Astara. Aku memanggilnya Astar, karena namanya terlalu susah, biasanya juga ku panggil 'tedong' yang artinya kerbau.
Karena Reyand ada di kelompok kami, Astara salah paham dan menganggap kami yang membuat nya sekarat dan memiliki luka di wajahnya. Padahal pas ku pungut memang sudah begitu. Dia tidak percaya dan mengotak Atik bescam kami dan hancur. Payah! itu rumah orang woi! di hancurin sama si 'tedong'.
Seperti itu terus menerus, sekali melihat satu orang dari kelompok mereka serasa ingin bertarung dan menciptakan perang dunia geng jalanan pertama.
Satu tahun lamanya kita bertengkar karena hal sekecil itu, dia mengungkapkan perasaannya ke orang tua ku. Tcih! gak berani ngomong di depan orang nya.
Tapi kalau duluan bicara di depanku aku akan langsung tendang kepalanya dan menciptakan perang itu.
Dia bersama ayahnya, Sambo. Orang terkaya di kota ini. Tidak akan ku sebut kan kotaku, mungkin saja kau akan kesini.
Karena ekonomi orang tua ku saat itu kritis, rumah mewah ku hampir di tarik ke perusahaan nya dan aku mau tinggal dimana kalau tidak ada rumah itu? Orang tua ku menerima nya dengan uang Panai 2M.
Wow!! orang kaya gitu loh! Sekali melamar, langsung di terima.
Aku sempat kabur dari rumahku dan berlari ke bescam baru kelompok preman yang ada di dekat pasar. Pasar itu surga bagi kami, bukan karena tempatnya luas atau orang nya yang sangat ketakutan. Justru sebaliknya, orang orang di pasar itu sangat ramah dan sering memberi kami makanan. Premanku terselamatkan karena mereka, orang orang pasar.
Tapi, Astara mengejar ku sampai ke pasar itu dan menarikku keluar dari pasar.
Oi! Kita ini belum sah, main tarik tarik aja.
__ADS_1
Aku menarik kembali tanganku dan menanyakan nya "Apa kau siap untuk membuat perang itu?" Ucapku menatap Astara penuh amarah.
Tapi, Astara tidak menatap ku sebagai musuh. Tidak seperti biasanya, dia menatapku tajam, tak bicara. Entah kenapa tatapan itu sangat beda dari sebelum sebelumnya. Rasanya, ketika dia menatapku begitu, hati ini 'deg deg deg'
Aku geleng geleng kepala berusaha sadar dan menampar wajah Astar agar pandangan ku dengannya tidak saling bersambung lagi.
Aku berteriak. "Aaaahhh!!!!!!"
Dengan cepat, Astar menutup mulut ku dan memepetkan diri ke dinding. Suasana dingin, karena malam menjadi lebih dingin. Aku tidak bisa berpikir jernih saat dia menutup mulut ku. Aku bersandar di dinding karena tidak bisa berdiri dengan baik lagi.
Tubuhnya mendekat mepet di tubuhku bawahku. Aargh!!! aku ingin sekali menendang telur nya. Tapi , apalah daya, dia menjepit kakiku dengan kaki kirinya.
Wajahnya mendekat, semakin mendekat dan... Bo!!
Dia melepaskan tangannya dari mulut ku dan menarikku masuk ke mobilnya. "Kau adalah milikku." Ucapnya ketika kami sedang menaiki mobil.
Mobil bergerak dan menuju ke rumahku yang masih ada ayahnya, Sambo menunggu di rumahku.
Aku menjawabnya "Iya" untuk apa aku menyembunyikan nya, karena sudah jelas aku kabur dari rumah menuju ke bescam.
"Jika kau menolak, pasar itu akan hancur." Terdengar jelas aku mendengar dia bergumam yang masih fokus kepada jalan.
Sialan! Tanpa aba-aba dia mengelus kepalaku, tidak izin lagi! Seketika niatku di dalam mobil ingin menarik setirnya ke kiri agar terbentur dan aku kabur lagi dari sana.
Aku mencoba nya, tapi dia cukup waspada. Memegang tangan ku, menariknya ke wajahnya. "Lembut.." Gumamnya.
Ih!! jijik, serasa aku ingin muntah! Aku menarik kembali tanganku dan diam di mobil lebih terbaik.
Sesampainya di rumah ku, Sambo sudah berdiri di depan rumahku dan kedua orang tua ku juga berdiri disana, entah apa yang dia bicarakan. Ketika kami tiba, pembicaraan nya seketika berhenti.
__ADS_1
Kami turun dari mobil dan aku berdiri berdampingan dengan Astar.
"Sepertinya kalian sudah baikan, sykurlah." Ucap Ibuku menyentuh dadanya sebagai tanda syukur nya.
"Tentu saja Tante, lihat..." Ucap Astar di sampingku.
Dia memegang pundak ku dan membalikkan badanku mengarah ke arahnya.
Aku merasakan nya, kepala terdorong kebelakang. Dia mengecup dahi ku untuk memperlihatkan kebucinan kami, Munafik!
Sepertinya aku berubah pikiran semenjak itu terjadi, aku ingin berteriak ke ibuku untuk tidak menikahkan kami. Tapi, ayahku akan marah jika aku berteriak dan mengatakan bahwa pernikahan akan dibatalkan. Aku sangat tau sikap ayahku.
Acara pernikahan sudah tiba. Argh! hari itu seperti neraka bagiku. Teman teman SMA datang dan mengolok-olok ku.Ya. Meskipun Astara cukup tampan, tapi aku tidak menyukai nya. Para mantan pacarnya juga menghampiri pernikahan kami dan menggoda Astara untuk membuat ku cemburu. Aku ingin mengatakan 'Tenanglah para wanita, kau bisa mengeluarkan gonggonganmu untuk nya jangan pedulikan aku..' Batinku memutar bola mataku malas dan melihat ke arah anak-anak kecil yang sedang bermain dengan teman temannya.
Aku jadi ingat, saat waktu kecil. Aku pernah mengalami yang namanya cinta monyet, oleh seorang anak laki-laki yang sangat tampan. Aku sudah mengikat janji dengannya, 'ketika besar nanti, kita akan menjadi suami istri'
Tapi, aku tidak tahu dia kemana sekarang. Cukup untuk mencari nya dan mencari pekerjaan yang halal dan sekarang aku terjebak di ikatan janji suci dengan musuhku, yang sedang duduk berdampingan dengan ku di pelaminan.
'Mendokuse! Aku maunya om Levi! bukan kau tedong' Batinku ketika aku berbalik melihatnya sedang berbicara dengan tamu perempuan lainnya, para mantan pacarnya tadi sudah pergi karena melihat ku cuek.
Ketika pernikahan sudah selesai, di malam harinya. Pengantin baru ini sedang tidur dikamar mempelai wanitanya, siapa lagi kalau bukan kamar ku.
Aku ingin menyuruh untuk tidur di luar di atas Sofa, tapi ibu tadi bilang padaku bahwa "Tidak ada sofa di depan TV, jadi kau tidak bisa menyuruh suamimu tidur di luar kamar, hohohoho" Dengan tawa jahat dia pergi ke dapur untuk minum.
Sialan! Astara membuat hidup resah. Untuk tidur di malam hari, aku menyuruh nya tidur di bawah dengan modal selimut dan bantal saja.
Tidak sesuai ekspektasi ku, dia menurut dan tidur di atas lantai.
Aku bernafas lega, untung lah kasurku masih perawan belum menyentuh tubuh laki-laki.
__ADS_1
Bersambung.
ARIGATHANKS sudah membaca sampai akhir~~•✓