Marry The Enemy

Marry The Enemy
Chapter 4


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Reyand di temukan oleh seorang pemancing. Ia ingin mancing di sungai, bukan memancing amarah.


Pria itu melihat Reyand tergeletak penuh darah dan menghubungi rumah sakit untuk mengirim ambulance.


Sedangkan aku dan Astara pulang memakai mobil Astara.


Di dalam mobil, aku dan Astara terlibat percakapan yang menurut ku mengganggu.


Astara sedang fokus ke jalanan, karena ia tidak ingin tertidur lagi jadi dia yang menyetir mobil.


"Apa benar tidak ada luka di tubuh mu?" Tanyanya sambil fokus ke jalan depan.


"Jangan memaksa untuk bertanya, kau sedikit mengantuk. Fokus saja ke jalan." Balasku melihat ke luar dari dalam kaca mobil.


"Apa salahnya menjawab pertanyaan ku tadi?" Astara bertanya dan menoleh melihatku yang sedang sibuk memperhatikan jalanan di luar.


Ketika ia bertanya, aku menoleh juga melihat mukanya. Dengan wajah datar dan menaikkan alis kiriku pelan. Dia paham yang aku maksud atau tidak? Itu urusannya.


Aku kembali menolehkan kepala, menghadap ke jalanan melihat pengendara motor melaju kencang berlawanan arah, jadi dia mengarah ke kami.


"Astar awas!!!"


Aku berteriak.


Seketika Astara menoleh dan membanting stir nya ke kiri.


Ban mobil berasap, ternyata dia menginjak rem mobil.


Aku mendorong Astara ke belakang. Sabuk pengamannya rusak gara-gara tidak ku perhatikan dan langsung saja mendorong nya.


Aku mengambil alih stir, dan membanting stir nya ke kanan. Seketika mesin mobil mati dan kita selamat, dari kecelakaan.


Arah mobil jadi salah ke arah tujuan.


Astara keras kepala kalau dibilangin.


Aku ingin menyetir mobil tapi dia malah melarangku. Mestinya aku yang melarangnya kan?


Terjadi perdebatan singkat dan akhirnya dia yang menyetir.


"Kalau sampai seperti tadi, siap siap nyawamu ku sisakan satu." Ucap ku menajamkan tatapan ku menatap nya.


"Emangnya aku kucing apa singa ?" Balas Astara.


"Yang benar 'Anjing' Jalankan mobilnya cepat."


Muka Astara heran, beberapa detik baru dia paham dan merasa jijik.


Dia mulai menyalakan mobil dan membanting stir, membuat mobil berjalan ke arah rumahku.


***


Perjalanan yang singkat.


Sejak hampir kecelakaan Astara terus fokus ke jalanan. Sampai di rumah ku, kami mendiamkan diri di mobil, seperti suasana kuburan. Aku tidak masalah jika diam begitu, malahan itu lebih bagus.


Sampai di rumah, pak satpam membukakan pintu gerbang rumah. Astara memasukkan mobilnya terus masuk ke garasi.

__ADS_1


Belum masuk ke garasi, aku membuka pintu mobil dan Astara ngerem tiba-tiba.


"Cus, lanjut kan." Ucapku sedari turun dari mobil.


Tanpa menutup pintunya, aku langsung masuk ke dalam rumah.


Entah bagaimana ekspresi Astara waktu itu. Mungkin dia kesal? Atau marah padaku.


Setelah masuk ke dalam rumah, aku langsung duduk di ruang keluarga dan menyalakan TV.


Selanjutnya, aku memindahkan siarannya ke RTV. Dimana acara Rainbow Ruby berada.


Sebenarnya, aku sedang membuang waktu untuk menunggu acara detektif Conan mulai di Net.


Tidak lama, Astara masuk ke dalam rumah.


Aku yang sedang asiknya nonton, dia malah mindahin siaran Tv nya.


Entah kenapa, wajahku tidak memasang wajah marah.


Aku mengangkat tangan kananku dan membuat kepalan. Aku meninju muka Astara sampai terpental ke belakang.


Terpental nya, hanya kepalanya saja yang gerak ke belakang. Seperti mendongakkan kepalanya secara tiba-tiba.


Hidung nya mengeluarkan darah. Dia mengusap nya dengan jari telunjuk nya.


Matanya terbelalak dan pingsan mengarah ke pangkuan ku.


Aku mendorong nya cepat sampai jatuh ke bawah lantai.


"Oh tidak, apa dia mati? Jadi... selama ini dia tersisa satu nyawa." Batin ku menatap tubuh Astara tergeletak di lantai.


"Normal nya, manusia hanya punya satu nyawa. Itu saja tidak tau... jangan-jangan kau manusia kucing!?" Ucap Astara.


"CK! Bangun! pura pura lagi, kok bisa tau sih apa yang ada di batin gue." Ucap ku bersandar kembali ke sofa.


"Tebakan jitu. Kamu kan sering gitu." Jawab Astara bangun dari lantai, mengusap darah nya yang terus keluar dari hidung nya.


"Sakit tau, pukulan lu. Berdarah lagi nih." Ucap Astara dan pergi dari hadapan ku, ia mau pergi ke kamar mandi untuk mencuci hidungnya yang berdarah.


"Sialan." Balasku lirih, menatap nya sinis menjauh dari hadapan ku.


Aku lanjut menonton Ruby yang sedang bersih bersih desa pelangi.


Aku berpikir, bagaimana kalau aku juga bersih bersih rumah?


Ibuku yang lewat memberitahu ku "Kagak usah, semuanya sudah bersih. Kamu akan membuat nya menjadi kotor seperti kuburan nantinya, jadi diam lebih bagus kan?" Ucap ibuku dan mengambil penggaruk punggung yang ada di depan TV.


"Hah! Bagaimana ibu bisa tau isi batinku?" Ucap terheran heran. Tadi Astara juga gitu, gak mungkin cuman nebak doang kan.


"Tebakan jitu, hahaha. Gerak gerik mu terlihat jelas sejak nonton ini.." Ibuku menunjuk Ruby yang yang sedang membersihkan desa pelangi nya.


Kalau begitu yaudah, memang benar yang dikatakan ibuku. Jadi diam lebih bagus. Entah apa maksudnya itu, tapi... sepertinya aku paham.


Aku menganggukkan kepalaku, menatap ibuku yang masuk ke dalam.


'Heran?' Batinku yang masih memikirkan bagaimana cara nya mereka tau isi batinku.

__ADS_1


'Pertama, Astara. Kedua Ibu dan Ketiga....'


Ketika aku berpikir, tiba-tiba ayahku langsung menghampiri ku.


"Ada apa yah?" Ucapku menatap ayahku heran.


Ayahku tidak berkata apa-apa, ia mengambil salonpas di depan TV, lalu pergi. Sempat berkontak mata dengan nya, dalam batin ku panik 'Apa ini? ke-kenapa ayah menatap ku, apa aku ada salah' Batinku terbata bata.


Tidak lama setelah itu, acara Rainbow Ruby sudah habis dan pas juga Astara menghampiri ku setelah dari kamar mandi mencuci hidungnya yang berdarah, karena aku pukul.


"Bagaimana hidungmu?" Ucapku, bukannya aku khawatir dengan hidupnya.


"Tidak apa-apa, cuman bengkok sedikit." Jawab Astara mengambil tissu yang ada di meja dan mengelap tangannya yang basah.


"Oh, aku kira hidup mu akan berakhir disini." Balasku dan pergi meninggalkan nya.


"Heey, baru aku duduk." Ucap Astara, menarik dalam dalam nafasnya dan menghembuskan nya "Punya bini gini amat."


•••


Malam sudah larut.


Selesai aku mandi, aku lekas memakai baju dan celana ku.


Kemudian, Astara masuk dengan dua gelas berisikan susu hangat di tangannya.


Ia meletakkan di atas laci kecil, dekat dengan kasur ku.


"Untukku?" Tanyaku dengan menunjuk diriku sendiri.


"Bukan, ini punya ku semua." Jawab Astara dengan raut wajah jailnya.


"Serakah.." Balasku, aku mengambil Hp dan segera ingin keluar. Niatku ingin membuat susu hangat juga untuk ku sendiri dan meminum nya di luar rumah, melihat suasana malam yang gelap tanpa cahaya.


Seketika itu, Astara memberhentikan ku dan memberiku segelas susu hangat.


"Aku hanya bercanda, ini untuk mu." Ucapnya begitu.


Aku menerimanya. Dalam sekejap, susu di gelasku habis tanpa sisa.


"Waah, emangnya gak bisa pelan pelan apa." Respon Astara setelah melihat ku minum.


"Gak" Jawabku singkat, menaruh gelasku di dekat gelasnya Astara, bermaksud dia membawanya kembali ke tempat cuci piring.


Aku duduk di kasurku, bersebrangan dengan Astara yang duduk di sana dekat laci kecil itu.


Astara melihat ku, sedikit bingung. Ia melihat dari bawah sampai atas.


"Kenapa kau memakai baju kaos dan celana training?" Ucapnya.


"Bukan urusanmu." Jawabku dan tiduran di atas kasurku.


"Yaah... Gak ngerti kode suami."


•••••


Bersambung

__ADS_1


Jangan harapkan adegan romantis.


ARIGATHANKS sudah membaca sampai akhir~~•✓


__ADS_2