Marry The Enemy

Marry The Enemy
Chapter 2


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pengantin baru sudah bangun pagi-pagi, siapa lagi kalau bukan kami. Auliani Tamrin dan Astara Sambo sudah resmi menjadi suami istri kemarin.


Ketika aku bangun, aku terkejut ketika pandangan di pagi hari malah melihat Astara di depanku. Padahal sudah aku suruh untuk tidur di atas lantai! Sialan!


Seketika aku terkejut dan langsung bangun. Aku pukuli Astara dengan guling, meski tak terlalu sakit untuk nya aku puas mengenai wajahnya.


Matanya perlahan terbuka dan melihatku malas dan berbalik lagi untuk memperbaiki tidurnya.


Aku bertanya padanya "Apa yang kau lakukan....di kasur ku!!" Teriakku kepadanya seperti monster yang mengaum, haha iya aku mengejek diriku sendiri karena itu fakta haha.


Dia tidak mempedulikan ku dan menutup kepalanya dengan bantal ku yang aku pakai ketika tidur.


Aku tak mau dia berlama-lama di sini, aku menendang nya dengan kaki kiri ku dan tergeletak di lantai.


Dia seketika bangun dan menatapku tajam, tentu saja aku kaget ketika dia bangun, seperti monster yang tak tau rasa sakit.


"Itu sakit tau." Ucap Astara lirih dan keluar dengan selimutnya, tak mempermasalah kan ku.


"Hah...kasurku sudah tidak perawan lagi.." Aku sedih dan memeluk kasurku.


Aku juga tak mau berlama-lama di kasur, aku mengambil dua handuk kecil dan masuk ke kamar mandi. Kamar mandi itu berada di dalam kamar ku, jadi tidak ada yang akan mengintip.


***


Sebagai cewek yang teliti, sampai sekarang aku belum keluar dan masih memakai shampo di dalam kamar mandi.


tuk! tuk! tuk!

__ADS_1


Suara hentakan kaki yang terlihat marah dari luar dan mendobrak pintu kamarku, aku mendengar nya dengan jelas.


tuk!! tuk!!


Dua hentakan kaki masuk ke kamarku, ku kira jika orang yang marah akan memanggil ku dengan keras, tapi ini tidak. Dia masuk sebentar dan keluar kembali menutup pintu nya lagi. Aku tidak tahu siapa dia, yang aku pikirkan mungkin ayahku karena melihat Astara tidur di luar.


Selesai aku mandi, aku mengikat handuk kecil di tubuh ku mulai dari atas dada sampai di atas paha saja yang tertutup, namanya juga handuk kecil.


Aku membuka pintu dan keluar dari kamar mandi. Aku menuju ke lemari bajuku di depan kasurku dan membukanya.


Krek!


Suara gagang pintu ingin terbuka, Sialan! Astara yang membuka pintu itu dan melihatku hanya memakai handuk dan kelihatan paha dan kaki ramping ku ini.


Dia terbelalak melihat ku, kupikir itu tatapan mesumnya. Tapi dia kembali lagi berjalan menuju ke kasurku.


Aku ingin melarang nya, tapi ketika melihat alasan dia ke kasurku aku berhenti, aku melihatnya mengambil HP nya dan keluar lagi dari kamar.


"Mana aku mau tedong!" Tegas ku menghentakkan kaki.


Aku memasang BH dan CD ku terlebih dahulu, kemudian memasang baju kaos dan celana sepak bola. Itu lebih nyaman untukku. Sebelum keluar dari kamar, aku akan mengeringkan rambut ku.


Selesai mengeringkan rambut, aku keluar ke dapur melihat Astara memasak sesuatu, ini...bau tumisan daun Bombay lalu dia memasukkan cabe rawit yang dia sudah ulek sehingga aromanya sangat harum.


Aku penasaran apa yang dia masak, aku mendekati nya dan menanyakan nya "Apa yang kau masak?" Aku bersedekap tangan dan mengintip masakannya.


Astara mengaduk aduk tumisan itu "Nasi goreng, kau suka pedas?" Jawabnya masih mengaduk.


Aku menjawabnya masih di posisi mengintip dan bersedekap tangan "Iya" Jawabku singkat.

__ADS_1


"Benarkah! Kau sudah banyak berubah." Ucap Astara tertawa kecil dan masih mengaduk aduk. Astara mengambil nasi dua porsi dan memasukkannya ke dalam tumisan tadi dengan minyak dan mengaduk aduk nya ala chef, sampai berapi api.


Keren...ketika apinya muncul tanpa korek atau bensin.


Aku tersadar dalam mengagumi nya dan mengingat ucapannya tadi, aku menggeleng geleng kan kepala dan membalas ucapannya "Tidak juga." Aku berbalik dan pergi dari sana ke ruang keluarga di depan TV.


Aku sedikit heran, kata ibuku sofa di depan TV tidak ada. Ketika aku melihat ini malah ada, ibu ku membodohi ku lagi.


Iya, ibuku. Namanya adalah Fauzia putri indah, teman-temannya memanggil nya Zia. Dulu dia juara pencak silat tingkat kabupaten, sikap ibuku sama seperti ku. Sedikit laki-laki alias tomboi.


Ibuku juga jago menipu dan dia ahlinya teknologi di rumah di bandingkan ayahku, pernah aku kehilangan akun game yang sudah jutaan rupiah aku beri modal ke akun itu, ibuku menemukan akunku di suatu server yang ada mengambil nya. Ibuku mengambil kembali akun game ku itu dan menjualnya.Ya, dia jago hacker. Tapi sekarang sepertinya agak berubah ketika aku mengikuti jalannya,ya membangun kelompok preman. Ibuku juga pernah waktu muda dan wakilnya adalah ayahku.


Ayahku, dia bernama Tamrin. Ibuku pernah menceritakan tentang ayahku sedikit, dulu dia culun. Gara gara ibuku naksir dengan sikap polosnya, dia melatihnya dan jadi setegas sekarang. Meskipun dulu culun dan polos, ayahku jago berbisnis. Tapi karena kita tertipu, rumah kami hampir di tarik dan ekonomi semakin sulit. Sehingga aku terjebak dengan musuhku. Itu saja yang aku tau tentang ayahku.


Aku duduk di atas sofa dan menyalakan TV menonton siaran Spongebob Squarepants.


Aku tertawa terbahak bahak melihat tingkah Patrick star dan Spongebob Squarepants ketika membuat wajah konyol sehingga tidak bisa mengubah kembali wajahnya. Tuan Crab sudah memperingatinya supaya tidak melakukan terlalu sering, namun mereka tetap tidak peduli dan mendapatkan karmanya. Haha! Itu lucu sekali, sekaligus mendapatkan pelajaran bahwa kita tidak bisa membantah perintah orang tua, ya seperti aku ini hampir saja menjadi patung, syukurlah.


Aroma yang sangat harum sekali dari dapur, aroma itu semakin mendekat padahal aku tidak bergerak sama sekali.


Tiba-tiba saja di depanku terlihat dua piring dengan nasi goreng berwarna merah merona. Aku bangun dan melihat ke sisi kiri ku, dia Astara yang menghidangkan nasi goreng itu. Dia duduk di dekatku dan membaca doa.


Aku pun juga ikut baca doa dan langsung menyantap nasi goreng pedas itu. Enak! Tapi pedas! Uuu luar biasa, aku menghabiskan nya dalam beberapa menit mendahului Astara yang masih menyisakan banyak nasi gorengnya.


Aku sedikit kenyang dan menyuruh Astara mengambil kan aku air minum.


Wah!! Tidak ku sangka dia menurut, dia pergi mengambil dua gelas air minum. Aku meminum dua gelas air itu dan menaruh piring kotorku di dekatnya.


Dia menoleh ke kanan, menatapku "Apa? Jangan pikir kau bertingkah baik begini bisa meluluhkan ku, aku masih tak sudi. Tapi kau berguna sedikit, cocok menjadi babu. Ingat! Kita belum baikan, camkan itu." Ucapku tegas dan kembali menonton TV sambil tertawa terbahak bahak, seperti wanita yang tidak tau sopan santun, haha. Tapi aku tetap cantik kan, Auliani Tamrin gitu loh.

__ADS_1


**BERSAMBUNG


ARIGATHANKS sudah membaca sampai akhir ~~•✓**


__ADS_2