Marry The Enemy

Marry The Enemy
Chapter 5


__ADS_3

Astara masih terus melihat ku dengan duduk di atas kasurku dan menaikkan kedua kakinya.


Biarlah dia tidur di atas kasur, kasurku juga sudah ternodai semenjak ia diam diam tidur di samping ku kemarin malam.


Astara mencolek bagian lenganku, aku merespon dengan gerakan dan suara resah.


"Apa sih! Tidur kek udah malem, ganggu aja." Ucap ku tegas terhadap nya dan memperbaiki tidur ku.


"Yang... masa gak tau sih harus ngapain malam ini." Ucap Astara membuat suara imutnya.


Apakah aku mengerti? Tentu saja tidak. Entah apa yang ia maksud, namun aku tetap menjawab nya "Kalau malam harus tidur, Batman sendiri yang gak tidur di malam hari. Biar ku peringati... jangan memanggilku dengan sebutan alay begitu..." Aku beranjak dari tidurku dan menatap nya, menunjuk wajahnya mengancam "...kalau mulut mu masih ingin berbicara." Ucapku geram dengan nya.


Tubuh Astara langsung mundur dan berpura pura mengambil Hp untuk scroll tiktok.


Beberapa detik setelah itu, Astara beranjak dari duduknya dan mengambil gelas membawanya ke tempat cuci piring.


Setelah ia kembali, aku sudah menyiapkan pembatas.


Lebar kasurku 2 meter. Aku membuat nya seimbang, untukku aku ambil 1,5m dan untuk Astara sisanya. Aku membatasi nya dengan bantal guling cadangan yang ada di dalam lemariku.


Wajah Astara bingung ketika langsung melihat ku membuat pembatas.


"Itu untuk apa say....." Kalimat nya tidak di terus kan, sebab ia melihat ku memandangi nya dengan penuh tatapan membunuh. Astara menelan ludahnya dan wajahnya terlihat ketakutan.


".....itu untuk apa Aulia." Astara mengulang kembali kalimat nya, dengan sedikit perubahan.


"Untung kau ingat. Kalau tidak, kau tidak bisa mengulang kalimat mu tadi." Aku menyeringai melihat Astara.


"Ini pembatas, kau tidur yang sempit ini dan aku yang luas ini, adil kan? Jika kau melewati nya, siap siap saja di tanya 'man rabbuka'." Balasku, selesai aku mengatur pembatasnya.


"I...iya deh..." Respon Astara, seperti tidak terima.


"Kalau gak terima, bobok aja sana Ama mertua lu." Ucap ku dan langsung menutup diriku dengan selimut.

__ADS_1


Aku merasakan ada sesuatu yang aneh menimpa tubuhku, aku tidak melihatnya Karen tertutup oleh selimut.


Aku keluar dari dalam selimut dan melihat Astara melewati batas yang sudah aku buat. Ya, yang aku rasakan adalah pelukannya.


Tanpa berpikir panjang, aku bangkit dan menarik Astara keluar dari kamar. Aku membawa selimut dan bantal guling nya.


Segera aku ingin masu ke kamar, tetapi sepertinya ada yang aku lupa. Aku pergi memakai selop ku dan kembali ke Astara. Sepatah kata pun aku tak mengungkapnya, langsung saja aku tendang Astara pas di mukanya.


Aku tidak tau, dia berdarah atau tidak.


Dubraakkk!!!


Aku masuk ke dalam kamar, dengan kesal membanting pintu ku dengan keras. Aku melompat ke kasurku dan membuang bantal bekas Astara.


Entah apa yang terjadi dengan Astara? Aku tidak peduli. Ketika aku ingin tidur dan segera menutup mataku, aku kembali mengingat. Mataku terbuka lagi dan beranjak dari tidurku. Aku pergi mengunci kamar dan selesai.


Setelah itu aku tertidur nyenyak sudah tidak tau apa-apa lagi.


***


Tanpa mandi, aku memakai Hoodie dan celana olahraga ku waktu aku masih SMA. Aku keluar dari rumah, niatnya mau jalan-jalan pagi. Padahal aku sampai di pasaran, tempat bescam kelompok premanku.


Wiih, ketika aku datang semua menyambut ku dengan hangat. Setelah ketawa ketiwi, suasana pertanyaan pun datang. Satu kelompok premanku yang memiliki bekas jahitan di dahinya bertanya padaku.


"Aku dengar dari orang di sekitar rumahmu, katanya kau sudah menikah ya bos?" Tanyanya tanpa muka rasa bersalah.


Selanjutnya ia bertanya lagi, tanpa memberi nya jawaban. Tentu saja aku sangat resah, apalagi kalau sudah membicarakan tentang pernikahan.


"Suami bos pasti gantengkan?"


Tanyanya dengan cengengesan. Preman yang lain menutup mulutnya dan menyuruhnya diam. Tapi tak mempermasalah kan ini dulu, sebab aku harus menjawabnya dengan jujur.


Dengan wajah yang acuh dariku, aku menjawabnya dan memperhatikan orang pasar yang sedang menyusun barang dagangan nya.

__ADS_1


"Iya aku sudah menikah. Tanpa memberi tau kalian, maaf ya. Masalah nya adalah, yang menjadi suamiku justru adalah musuh kita. Ya si tedong' itu, kalian tau kan."


Ketika aku selesai menjawab pertanyaan nya, semua pada ricuh. Orang pasar pun terkaget dan fokus melihat kami.


"Waah bos, apa yang dia lakuin terhadap tubuh bos! Gak bisa dibiarin ini mah..."


"Iya bos, bos pasti di guna-guna ama dia!!..."


Suara ricuh tentang pendapat premanku itu. Aku berusaha menenangkan mereka, aku teriak "Diam!!"


Meskipun suaraku kecil, namun kelompok premanku bisa mendengarnya dan memberhentikan kericuhan itu. Premanku pun melihat sekitar bahwa mereka sudah menjadi pusat perhatian para orang pasar.


Dengan cengengesan, semua pada minta maaf ke semua orang pasar. Para orang pasar hanya mengangguk dan senyum sambil melanjutkan kegiatannya.


"Jadi begini, aku datang kesini tanpa pemberitahuan dari suamiku. Dan aku dengar kalau kalian membuat keributan dengan geng jalanan Astara. Aku hanya ingin memberitahu kan kalian, jangan campur tangan lagi dengan geng jalanan Astara. Biar aku saja, aku akan membunuh mereka semua tanpa menyentuh nya."


Setelah aku menjelaskan, salah satu premanku berteriak.


"Dan membalaskan orang yang sudah meninggal sebab dibunuh oleh mereka!!! Urraa!!!"


Semuanya bersemangat dan berteriak. Kali ini, para orang pasar tidak memperhatikan kami. Sebab itu adalah keseharian kita, bersemangat di pagi hari.


"Sudah ku duga, aku akan pulang. Ingat yang aku katakan tadi ya." Ucapku setelah memperhatikan mobil Astara menuju kesini.


Aku tidak membuat drama lagi, aku langsung menghampiri mobil Astara dan masuk ke dalam. Aku hanya diam di dalam mobil meski Astara terus mengajakku berbicara.


"Aku terlalu capek untuk mencari mu kau tau. Karena aku sayang padamu, aku mencari mu."


Ocehan Astara di dalam mobil. Namun, aku hanya terdiam tidak menghiraukan nya. Setelah itu dia bergumam, meski tak terdengar jelas aku yakin dia menggumamkan "Aku hanya ingin mengingat nya kembali dan kau mengingatku." Sangat jelas di kepalaku waktu itu. Aku juga terheran heran kenapa dia mengucapkan itu, aku hanya terdiam di dalam mobil.


Terasa bosan, aku mengambil hp ku dan scroll tiktok. Sampai di rumah, aku masuk tak menghiraukan Astara yang sedang mengajakku bergandengan tangan.


•••••

__ADS_1


**Bersambung


ARIGATHANKS sudah membaca sampai akhiirr~~•√**


__ADS_2