
Auliani Tamrin, sosoknya berambut pendek dan sedikit melengkung, mempunyai sedikit pirang di rambut. Jika di damping kan dengan Astara Sambo, dia hanya setinggi keteknya.
Astara Sambo, sosoknya berambut pendek tentunya dan sedikit acak-acakan. Walaupun dia orang kaya, dia tidak peduli masalah gaya. Tingginya kira kira 179-180.
...----------------...
Dubrak!!!
Suara pintu depan rumah, aku memperhatikan itu adalah ayahku yang masuk kelelahan.
Sudah jam2 dan Astara masih di sofa sebelahku. Aku pergi ke kamar dan ganti baju. Astara kulihat masih di tempat dan syukur juga dia tidak ikut. Aku mengunci kamarku ketika aku masuk.
Aku berganti baju kaos putih dan Hoodie dan celana training. Aku malas pake Levi's.
tok! tok!
"Aulia! Buatkan dulu kopi ayah nak!!" Ucap ayahku di luar pintu sambil mengetuk ngetuk pintu dengan keras.
Itu mengganggu, aku menjawabnya singkat "iya" Dengan raut wajah sebel. Astara kan ada di depan TV, kenapa aku yang disuruh.
Aku keluar menuju ke dapur, membuat kan kopi untuk ayahku dan memberikannya yang sedang berada di depan TV sambil ngobrol dengan Astara. Aku meletakkan nya dan menuju ke pintu keluar.
Tegas ayahku menghentikan ku memegang gagang pintu "Untuk suami mu mana!!?"
"Dia mandiri kok yah! Kamu bisa kan .... yang." Aku membuat suara bucin melihat Astara untuk membuat dia mengangguk,uoek! aku ingin muntah ketika membuat kata bucin itu ke musuhku sendiri. Tapi dia tidak berbicara dan tidak mengangguk, hanya melihat ku entah tatapan apa itu.
"Bisakah kau membuat kopi untukku, sebagai seorang istri harus menuruti perkataan suami kan." Ucap Astara ketika aku sedang memegang gagang pintu dan ingin memutarnya, aargh! menyebalkan, untung saja ayahku ada disana. Aku menghentakkan kaki sekali ketika bergerak menuju ke dapur.
Ide cemerlang muncul di kepala ku, ketika sedang mengaduk kopi. Aku mencampurinya dengan obat tidur aja, aku dapat ide ini dari sinetron.
Aku menyajikannya ke Astara, "Kok kopi hitam, aku kan masih muda sayang. Kopi susu dong." Aku ingin muntah ketika kata itu muncul di mulut Astara. Aku menahannya memegang mulutku dan menjawab "Kopi susu sudah habis." Aku pergi keluar dari rumah menuju ke bescam yang ada di pasar menaiki motor trail milik Astara. Aku hanya ingin memakai Motor keren saja, tapi aku masih cinta dengan motor Supra ku yang sering melintasi gunung dan lembah.
Siapa yang tau, aku juga tidak tau. Astara mengikuti sampai disini dan mengajakku pulang lagi dengan mobilnya.
Dia bersama Reyand, aagh!! aku mengalami darah tinggi ketika dia muncul di depanku dan mengambil kunci motorku dan memakainya. Aku tidak tau kapan dia mengambilnya dari kantung ku.
Terpaksa aku naik saja, tapi kali ini aku yang menyetir.
Di dalam mobil, aku berpikir. Kenapa obat itu tidak bereaksi?
Yang benar saja, ketika aku memikirkan nya Astara langsung tidur di mobil.
Aku pun balik arah dan menuju ke Indomarco, supermarket terkenal akan harganya yang murah dan barang yang berkualitas. Aku meninggalkan Astara dengan mobilnya disana, sebab biaya parkir disana sangat mahal dari yang lain.
__ADS_1
Aku berlari tapi bertemu dengan Reyand, yang sedang membawa motor Astara. Dia menghampiri ku, tapi aku tetap berlari dari kejarannya. Karena bosnya atau Astara menginginkan istrinya ini pulang ke rumah dan tidak keluyuran kemana mana.
Aku berlari sampai ke pinggir sungai, astaga aku tidak bisa berenang. Jadi aku mengikuti arus sungai saja, aku lari dari kejaran Reyand lagi.
Argh!! Kenapa sih dia ngejar gua. Gua mau hidup tenang bentar kenapa gk bisa!!!
Sialnya, di depan aku terbentur oleh ranting pohon dan tergeletak di bawah pohon. Aku sudah tidak tau apa yang terjadi selanjutnya.
Ketika aku sadar dan membuka pelan-pelan mataku, aku sudah ada di bawah pohon bersandar sambil diikat dengan tali.
Reyand sedang berdiri di depanku sambil menelpon seseorang. Aku mendengar nya sedikit pembicaraan nya "Tenang saja, tapi jangan kasih tau siapa-siapa ya." Ucapnya begitu dan menutup telponnya.
Reyand berbalik ke arahku "Wow, mengejutkan. Apa kau mendengar pembicaraan ku? Haha." Ucapnya, wajah mendekat dengan ku.
Aku memberontak "Bukannya bosmu menyuruh mu untuk membawaku pulang! Bosmu kan maunya begitu!! Kenapa kau mengikat ku haa!!" Teriakku tegas, gercep Reyand menutup mulut ku dengan tangannya dan berbisik "Sekali lagi kau teriak, jangan salahkan aku jika kau ada apa-apa." Dia mendekati wajahku, semakin dekat serasa dia ingin bersilat lidah. Aku menutup rapat-rapat mulut ku, meskipun dia menutup mulut ku sekarang dengan tangannya.
Fuu!!!
Dia meniup ku, tertawa dan berdiri lagi. Seperti sedang mengejekku. "Hehehahahmm.."
"Sialan kau Reyand!!" Teriakku ke Reyand yang sedang tertawa puas.
Suami sahku aja gak pernah gitu, aku heran kenapa ada orang yang sikapnya begini di bumi?
Reyand mendekat jongkok di depanku, ketika mulut nya mendekat dengan mulutku, aku mengangkat lutut mengenai perutnya, sehingga Reyand berteriak.
Tiba-tiba saja, Astara yang bangun dari tidurnya di mobil menghampiri ku dan melihat anak buahnya yaitu Reyand ingin melakukan hal yang tidak-tidak denganku.
Raut wajah Astara sangat geram, ia mengepalkan tangan kencang kencang dan menerjang Reyand, memukul nya hingga berdarah.
Bukk!!
Pak!!!
Pakk!!!!
Suara penyerangan Astara ke Reyand.
Aku jelas mendengar nya dia menggumam "J..jangan ganggu istriku." Dengan memberat berat kan suaranya.
Mengerikan, tapi seru karena ada banyak darah yang berterbangan dari wajah Reyand.
Wajah Reyand sampai bonyok di pukul oleh Astara. Tangan Astara pun di penuhi dengan darah Reyand.
__ADS_1
Nafas Astara berat, dia ngos-ngosan ketika sudah memukul terus Astara. Aku hanya melihat Astara, keren!!! Dia seperti Levi Ackerman! Beda tinggi nya saja.
Aku menyebut nya keren, bukan berarti aku memaafkan nya. Rasa benci di benakku masih tercentang :Benci✓:
Aku lihat, Astara mencuci tangan nya yang berdarah di sungai, dekat kejadiannya. Dia melangkah ke arahku melepaskan ikatan tali di tangan, perut dan di kaki ku.
Dia memegang pundak ku dan membantu ku berdiri.
Deg!!
Suara dada ku.
Astara memelukku dengan erat, kerah bajuku juga basah, entah karena tangan Astara yang basah.
Aku mendengar suara tersedu sedu di telingaku dan dada Astara juga bergerak terus secara tiba-tiba.
"Maafkan aku, hanya tertidur di dalam mobil." Suara tangisan dari Astara.
Oh iya!! Aku juga kaget tau ketika dia menangis. Cowok dengan badan yang cukup tinggi dan memiliki otot-otot yang lumayan, menangis di pelukan ku.
Sungguh, aku terkejut juga ketika dia memelukku tiba-tiba. Aku terselamatkan olehnya.
Tapi, rasa benci ini masih ada di hatiku, aku tidak bisa memaafkan nya secepat itu. Astara, selama satu tahun ini membuat sakit hati gara-gara masalah kecil.
Iya, masalah kecil. Tapi , penyebab masalah kecil itu sudah terkapar dengan darah di pinggir sungai.
Astara melepaskan pelukannya dan masih memegang pundak ku "Apa kau punya luka? Apa yang sakit?" Ucap Astara mengkhawatirkan ku, mencari cari luka di tubuhku.
Aku mengangkat pundak Astara setinggi ku, "Aku tidak apa-apa, terimakasih. Tapi..."
Plak!!!
Suara tamparan.
Aku menampar wajah Astara dan melanjutkan kalimatku "Jangan memelukku, meskipun kau menyelamatkan ku, aku belum memaafkan mu."
Sebenarnya aku tidak mau mengucapkan atau melakukan hal sekejam itu menurutku. Hanya saja ... dia telah banyak melukai kelompok premanku hanya karena salah paham. Dalam setahun.
Aku pergi, keluar dari hutan dengan Astara yang mengejar ku dari belakang membuat wajah senyum bahagia.
"Sayang!! Tunggu!" Teriak Astara memanggil ku.
Iiiih geli, bulu kudukku berdiri setelah mendengar itu.
__ADS_1