Melodi Patah Hati

Melodi Patah Hati
Chapter 3 - Pertemuan yang Tak Terduga


__ADS_3

Hingga sekarang kejadian buruk terus menghantui Verlin. Meskipun begitu, dia terus berusaha menjalani hidup dengan penuh ketabahan.


Saat ini, Verlin sedang berjalan di trotoar yang dingin. Suasana membuatnya menyesal tidak memakai sarung tangan untuk melindungi tangannya dari rasa dingin yang menusuk. Dia menggelengkan kepala sambil berpikir bahwa hal sepele seperti itu bisa memberikan dampak yang cukup terasa.


Tiba-tiba, seorang gadis berambut panjang dan di ikat, menyapanya dengan ramah, “Pagi Verlin! Hari ini dingin sekali ya?”


Verlin mengangguk pelan, mencoba mengingat nama gadis itu. Dia yakin namanya Nana, tapi dia lupa marganya. Meskipun begitu, Verlin tidak merasa perlu menjawab sapaan gadis itu dan melanjutkan langkahnya.


Di dalam kelas, Nana terus berusaha mendekati Verlin. Setiap kali jam istirahat tiba, dia selalu mengajak Verlin berbicara. Verlin merasa heran, “Kenapa dia selalu mencari kesempatan untuk berbicara denganku saat istirahat?”


Saat itu teman-teman Nana memanggilnya dengan penuh kekhawatiran. Mereka memberi peringatan pada Nana, “Hati-hati, Nana. Jangan terlalu dekat dengannya. Apakah kau tidak tahu rumor buruk tentangnya?”


“Itu benar kau mungkin akan di tipu atau di serang olehnya!”


Nana mencoba menenangkan teman-temannya dengan berkata, “Tenang saja. Verlin bukanlah orang seperti itu, kok! Aku yakin dia orang baik.”


Pada malam hari, ponsel Verlin berdering menandakan adanya pesan masuk. Ternyata pesan itu berasal dari Nana. Isi pesannya seperti berikut:


“Hey, akhir pekan ini ayo karaokean!”


“Boleh tidak aku mengajak teman ku juga?” tanya Nana.


Verlin membaca pesan tersebut dan memikirkannya sejenak. Karaoke, sebuah aktivitas di dalam ruangan tertutup. Verlin merasa ragu, tetapi kemudian berpikir, “Tapi kalau ada temannya ikut, mungkin tidak masalah?”


Setelah tiba di tempat tujuan, Verlin mendapati bahwa hanya ada dua orang lelaki di sana. Mereka dengan sinis dan mencemoohnya.


“Jadi, kau adalah orang yang didekati Nana? Nolep, ya? Sungguh menjijikkan!” ucap salah satu dari mereka.


“Nana? Apakah kau serius berpikir dia akan datang?” sela yang lain dengan nada mengejek.


“Hahaha, sekarang keluarkan seluruh barang yang ada di tas-mu. Kamu mau bersenang-senang” kata salah satu dari mereka dengan tegas.


“Hahaha, konyol sekali!” Mereka berdua kemudian tertawa dengan nada merendahkan.


Verlin merasa terpojok dan putus asa. Dia merasa tidak ada jalan keluar dari situasi ini. Merasa tak berdaya, Verlin mematuhi permintaan mereka dan mengeluarkan semua barang dari tasnya. Kedua lelaki itu tampak senang dengan apa yang mereka lakukan.


Verlin merasa terhina dan hancur. Dia merenung tentang kehidupannya selama ini, di mana ia terus mengalami pengkhianatan dan kesulitan. Dalam hatinya, Verlin mulai membenci dirinya sendiri karena merasa selalu melakukan kesalahan yang sama.


Setelah kejadian itu, Verlin merasa semakin terisolasi dan kesepian. Masa SMP-nya berakhir dengan penuh kesedihan dan kekosongan.


Saat Verlin bersiap untuk pulang dan mengambil sepatunya dari loker sekolah, tiba-tiba ada seorang gadis yang menyapanya.

__ADS_1


“Hai Verlin!” sapa gadis itu dengan riang.


Verlin mengenali suaranya. Itu adalah Kayla Melly, gadis yang telah merusak hidupnya dan membuatnya menderita.


“Lama tidak berjumpa!” seru Kayla dengan antusias. “Hey, ayo kita pulang bersama!”


Verlin merasa bingung dengan sikap Kayla. “Padahal dia tidak pernah mau mengajakku bicara selama kita masih di SMP, tapi kenapa sekarang tiba-tiba dia...”


Tapi entah mengapa, Verlin mencatat bahwa semua gadis yang pernah mengkhianatinya di masa lalu, termasuk Kayla, sekarang masuk ke SMA yang sama dengannya. Hal ini membuat Verlin merasa curiga dan waspada terhadap mereka.


“Entah apa penyebabnya, tapi sepertinya aku lebih baik tidak terlibat dengan mereka,” pikir Verlin. “Mereka tidak memiliki urusan dengan hidupku dan masa depanku.”


“Ah...” ucap Kayla saat Verlin melewatinya tanpa mengatakan sepatah kalimat kepada-nya.


Verlin memutuskan untuk menjaga jarak dengan mereka dan fokus pada perjalanan hidupnya sendiri. Dia tidak ingin terulang lagi pengalaman pahit yang pernah dialaminya di masa lalu.


Verlin merasa terjepit dalam situasi yang tidak nyaman saat Kayla tetap mengikutinya pulang dan terus mengoceh. Meskipun Verlin berusaha untuk menjaga jarak, Kayla terus saja mengajak bicara dan berusaha menjadi temannya.


“Ngomong-ngomong, kau sekarang jadi muram, ya?” ucap Kayla sambil melanjutkan ocehannya. “Oh iya, kau tidak punya teman, jadi kurasa apa boleh buat.”


Mendengar ocehan Kayla, Verlin merasa semakin ingin cepat masuk ke rumahnya. Dia merasa tersinggung oleh perkataan Kayla yang sepertinya menghina dan meremehkannya.


“Kalau begitu, aku tidak keberatan untuk jadi temanmu loh,” ucap Kayla dengan nada santai. Namun, perkataannya membuat Verlin semakin tersinggung. Dia merasa Kayla hanya memanfaatkannya karena Verlin tidak memiliki teman.


“Aku merasa telah banyak hal yang terjadi, tapi sebaiknya tidak usah dipikirkan!” ucap Kayla dengan sedikit ketus.


“Waktu itu juga aku mengira kau yang mendorongku,” ujar Kayla tanpa menutupi kecurigaannya.


Verlin dalam hati berpikir, “Perbedaan persepsi ya? Apakah kehidupan sekolah yang kulihat berbeda dengan kehidupan sekolah yang dilihat oleh Kayla?”


“Ada banyak rumor buruk tentangmu yang beredar, tapi aku tidak mempercayainya!” ujar Kayla dengan tegas.


"Karena... aku percaya padamu," tambah Kayla.


Verlin merasa bingung, “Kenapa baru sekarang?” pikirnya dalam hati.


“Jangan cuma diam saja, ayo kita lakukan hal konyol seperti dulu!” ucap Kayla dengan semangat.


“Napa...” ujar Verlin, masih terombang-ambing antara kepercayaan dan keraguannya.


“Hm?” tanya Kayla, penasaran dengan reaksi Verlin.

__ADS_1


Verlin akhirnya mengekspresikan kebingungannya, “Kenapa baru sekarang?”


Kayla menatap Verlin dengan serius, lalu tersenyum lembut. “Ahh, apa kau marah karena aku tidak pernah bicara denganmu sebelumnya?” ujar Kayla dengan nada memelas.


Kayla menatap Verlin dengan penuh empati, “Dan juga, aku minta maaf atas kejadian waktu itu. Saat itu... aku merasa takut dan tidak tahu bagaimana menghadapimu.”


“Tapi sekarang, aku berpikir untuk berubah saat memasuki SMA! Aku ingin mengeluarkan semua keberanianku dan membuka lembaran baru...”


“Jadi begitu... ini juga sama seperti itu,” pikir Verlin dalam hati, teringat akan kejadian-kejadian sebelumnya.


“Sebab aku...” Kayla hendak melanjutkan ucapannya, namun Verlin segera memotongnya dengan ungkapan yang tegas, “Maaf, tolong jangan berhubungan denganku lagi.”


Perkataan Verlin membuat suasana menjadi tegang. Raut wajah Kayla terlihat kebingungan dan terkejut.


“Eh? Jangan berhubungan denganmu lagi? Kenapa? Bukankah kamu menyukai aku, Verlin?” ujar Kayla dengan kebingungan, sambil memegang pergelangan tangan Verlin.


Verlin menatap Kayla dengan ekspresi menyesal, “Maaf, aku yang salah.”


Kayla menegaskan, “Hei, jangan mengatakannya hal yang aneh.”


Verlin kembali mengulangi permintaan berhenti berhubungan dengannya sambil membungkuk, “Tolong, berhentilah berhubungan denganku.”


“Demi apapun, aku benar-benar minta maaf,” ujar Verlin dengan nada penyesalan.


Kayla menatap Verlin dengan sedih, Verlin berkata “Walau sekarang kau bilang percaya padaku, semuanya sudah terlambat.”


“Eh? Verlin tunggu,” ujar Kayla dengan suara lirih, berharap agar Verlin mendengarnya. Namun, Verlin tidak menghiraukannya dan dengan cepat masuk ke dalam rumah, meninggalkan Kayla sendirian di luar dengan hati yang terluka.


Bersambung...







Jangan lupa setelah membaca tekan like dan komentar terimakasih

__ADS_1


__ADS_2